Headlines News :
Home » , » Buku, Mahar, dan Upaya Membentuk Regenerasi Cinta Literasi

Buku, Mahar, dan Upaya Membentuk Regenerasi Cinta Literasi

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 14.32

Buku.
PEWARTAnews.com -- Beberapa hari yang lalu, saat sama-sama menunggu DPS, penulis ngobrol dengan salah satu mahasiswi Pascasarjana asli Sulawesi Selatan. Obrolan kian menarik, saat penulis bertanya tentang kuantitas mahar disana. Pasalnya, penulis sering mendengar bahwa untuk mempersunting gadis Sulawesi itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mungkin sedikit atau banyaknya itu tergantung dari diri individu (latar belakangnya),  namun biasanya hal demikian sering disamakan dengan kondisi/tradisi disetiap daerah. Sebagai contoh, di Jawa untuk mempersunting tidak ada patokan tertentu, harus ini itu, persyaratannya begini begitu dan lain-lain. Namun berdasar pada info yang penulis dapatkan dari berbagai kalangan, baik diskusi maupun obrolan biasa dengan banyak orang, baik melalui guyonan atau pembelajaran formal di dalam kelas, di luar Jawa khususnya Sulawesi ada perbedaan mengenai mahar. Sehingga hal tersebut menyebabkan orang Jawa memberikan claim atau perspektif tersendiri terhadap orang Sulawesi.

Bahkan tak jarang klaim dan perspektif tersebut akan berimplikasi pada cara pandang dan sikap dalam bertindak, seperti misalnya restu orangtua. Biasanya (orangtua) lelaki asli Jawa akan mikir 2x manakala anak lelakinya akan menikahi gadis Sulawesi, dengan dalih alasan mahar. Sebenarnya tidak hanya di Sulawesi, namun juga berlaku di daerah luar Jawa yang terkenal mematok harga tinggi untuk Mahar. Untuk itulah, penulis pengin mendapat komentar dari mahasiswi tersebut. Apakah kabar yang mematok mahar dengan kuantitas tertentu, benar adanya atau kah hanya sekedar tradisi yang sebenarnya dapat diubah dengan sama-sama saling legowo (tanpa patakon/batasan tertentu berdasar pada musyawarah dan kerelaan hati) ? Mahasiswi tersebut mengungkapkan bahwa sebenarnya memang begitu. Semakin tinggi pendidikan dan skill yang dimiliki oleh kaum perempuan, maka akan semakin tinggi pula daya jualnya (dalam bahasa kasar seperti itu), namun tetap hal semacam itu bukanlah sesuatu yang mapan, tapi dapat diubah dengan bersama-sama musyawarah. Mahasiswi tersebut memberikan contoh kongkrit, sebenarnya tidak hanya mahar mbak, namun juga ewuh (resepsi, biaya pesta) itu juga ditanggung oleh pihak lelaki. Namun sebenarnya, bisa kok kalau mau ditawar. Yang penting, cerdas saja dalam berkomunikasi dan meyakinkan orangtua si gadis, agar mantap dan yakin bahwa anaknya bersama dengan lelaki yang tepat. Karena tak bisa dipungkiri, pastilah setiap orangtua menginginkan anak nya tercukupi dari segi materi, agar hidupnya tidak nelangsa. Begitu penjelasannya.

Kemudian, mahasiswi tersebut berbalik bertanya. Lalu bagaimana mbak dengan konteks di Jogja terkait dengan mahar? Ya biasa mbak, di Jawa itu tidak terlalu rumit dan tidak terlalu mahal-mahal amat. Hanya bermodal seperangkat alat shalat dan Al Qur’an saja sudah sah kok mbak. Simple kan. Ini sebenarnya yang menjadi persoalan, terkadang mahar hanya di lihat dari segi simbol, tanpa memaknai esensi yang terkandung didalam simbol tersebut. Betapa banyak suami yang menjadikan mahar seperangkat alat shalat dan Al-Qur’an tersebut sebagai bukti cinta dan keseriusan dalam membangun mahligai rumah tangga, namun lalai dalam mendidik isterinya untuk shalat bahkan mengkaji agama, demikian sebaliknya. Maka, mahar jangan hanya bernilai simbol, namun yang jauh lebih esensi daripada itu ialah value, aksiologi dan maknanya. Bahkan penulis rasa, jika memang kedua mempelai telah sama-sama kuat agama dan spiritualnya, maka mahar buku (buku bacaan dan atau Kitab Tafsir Al Misbah, Al Kasyaf, Al Maraghi, Al Ibriz, dll) malah lebih baik. Sehingga, kedua mempelai bisa mensinergikan pikiran dan hati, serta jiwa raga untuk bersama-sama menghidupkan tradisi intelektualitas dan spiritualitas melalui diskusi dan belajar bersama.

Berdasar pada pengamatan empirik-ku, di daerah Bantul belum ada orang yang berani mahar buku dan atau Kitab, kecuali guru rohani dan literasi-ku, Pak Ahmad Lutfian Antoni (alm) yang pada saat itu beliau memberikan mahar Kitab Tafsir kepada isteri tercintanya. Seandainya, orang memahami mahar dengan substansial, tentu tidak akan pernah menjadikan sesuatu hanya bernilai simbol belaka, namun ada makna, inspirasi, amanah dan tanggungjawab yang dipikul atas mahar yang diberikan.

Di Jawa juga masih sangat langka menjumpai orang yang mahar buku hasil tulisan bersama dengan pasangan-nya. Mungkin ada, namun hanya beberapa. Tentu hal demikian, akan membentuk milieu dan habit yang secara tidak langsung akan berimplikasi pada anak-nya (regenerasinya). Dengan melihat orangtuanya yang sering membaca dan menulis, maka anak akan mempunyai semangat melakukan hal yang sama, karena anak merupakan peniru hebat. Begitu halnya saat melihat karya kedua orangtuanya, ah pastilah penuh sejarah.

Selain ikhtiar diatas, bagi kalangan single yang belum bertemu dengan jodohnya, mungkin bisa mengaplikasikan do'a dan jurus jitu saat memasuki toko buku. Saat melangkahkan kaki, selalu libatkan niat dan do'a agar suatu saat nanti dianugrahi Allah dengan memiliki pasangan hidup dan regenerasi yang cinta literasi. Biar bagaimana pun, tradisi intelektualitas dan spiritualitas harus sinergi. Karena sesungguhnya tugas hidup manusia hanyalah sederhana, yakni Beriman, Berilmu dan Beramal (Nurcholish Madjid). Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, dan Sampaikan dengan Amal.

Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yunin.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website