Headlines News :
Home » , » Cintalah yang Abadi, Bukan Pemilu

Cintalah yang Abadi, Bukan Pemilu

Written By Pewarta News on Jumat, 31 Mei 2019 | 18.53

Dedi Purwanto, S.H.
PEWARTAnews.com -- Teman-teman yang budiman, salah satu hal yang paling membuat kita menjadi human error (manusia yang mengalami kelalaian) telah kita lewati bersama. Pesta yang kehilangan esensi kebahagiaannya tinggal menunggu petugas yang berwenang untuk mengumumkan hasilnya, tidak lain petugas itu adalah komisi pemilihan umum (KPU). Oleh karena itu, semua yang akan terjadi berkaitan dengan Pemilu, kita serahkan kepada lembaga yang berwajib untuk memutuskan. Sembari menunggu, pengawasan ketat dari para calonpun harus dimasifkan terhadap kinerja KPU. Kalau ada ketidakpuasan dalam putusan KPU maka silahkan ambil jalur hukum untuk menyelesaikannya ke lembaga negara, dalam hal ini lembaga Mahkamah Konstitusi (MK). Semua syarat dan sistem dalam prosedur sudah dipersiapkan oleh pemerintah, maka kita harus mulai menerima bahwa Pemilu sudah berakhir, keputusan sahnya masih kita tunggu, tetapi cinta kita kepada sesama tidak boleh terkubur bersama setiap kegagalan yang kita alami dari Pemilu.

Setelah Pemilu sebenarnya kita disambut oleh bulan yang sangat baik yaitu bulan puasa, bulan ini sengaja di siapkan oleh Tuhan untuk memompa setiap kita supaya hidup dalam dimensi pemaafan, metode ini digunakan apabila selama berlangsungnya pemilu atau dalam konteks yang lain, terjadi hal-hal yang kurang berkenan dalam hubungan kemanusiaan kita.

Kenapa kita harus memperbaiki kembali hubungan kemanusiaan kita?

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa hasil dari pemilu ini hanya untuk sebagian orang, bukan untuk semua orang. Karena pemilu hanya untuk sebagian orang, maka tidak wajib bagi kita yang karena beda pilihan mengalami keretakkan dalam hubungan kemanusiaan. Apalagi sampai ada diantara kita yang sengaja melakukan tindakan disharmonis kepada yang lain. Kita putus dengan pacar kita karena beda pilihan, kita renggang dengan istri, tetangga dan keluarga kita karena beda orang yang kita pilih. Keadaan semacam ini perlu kita renungi kembali, sebab semakin kita rawat keretakkan itu maka akan semakin jauh diri kita dari rasa simpati dan empati sebagai makhluk sosial. Selain itu,  Tidak boleh suatu sistem berada atau terletak di atas manusia, baiknya sistem harus kita letakkan dibawah manusia. Dalam arti, pemilu merupakan suatu sistem yang di bangun oleh negara untuk memupuk kekayaan bagi sebagian orang tetapi yang lain tetap mengalami keterbelakangan yang serius. Ketika level pemilu masih pada point tersebut, maka pemilu tidak boleh menjarah akal sehat dan kemurnian nurani diantara kita. Karena nilai dari manusia tetap lebih utama bila dibandingkan dengan sistem pemilu yang kita lewati itu.

Siapa yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan luka sosial ini?

Menyelesaikan apa yang telah kita perbuat bersama merupakan tugas yang berat. Untuk menyuci dendam Pemilu yang terjadi dibutuhkan kesiapan masing-masing dari kita yang memulai. Bukan negara, pemerintah ataupun birokrasi. Tetapi keikhlasan dan kerendahan hati kita semua yang terlibat dan melibatkan diri dalam Pemilu, bertanggung jawab untuk merajut kembali setiap benang kehidupan yang terputus selama proses pemilu. Orang-orang yang menang dalam pemilu hanya bertanggung jawab untuk merawat mereka yang telah memilihnya, sedangkan yang tidak memilih, kemungkinan akan dibiarkan bahkan tidak dihiraukan. Kenyataan ini harus membuat kita berfikir keras, bahwa merelakan diri sebagai orang yang kalah menjadi keharusan, sebab bukan orang lain yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan luka itu, tapi kita sendirilah yang bisa melakukannya. Maka memaafkan dan dimaafkan menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai formula untuk membunuh virus sosial tersebut.

Kenapa hubungan kemanusiaan ini tetap kita jalin.?

Dalam buku  sejarah manapun menjelaskan bahwa kita sebenarnya dilahirkan oleh akar historis yang sama, manusia yang sama, dan kompleksitas diri sebagai manusia yang sama. Memiliki orang tua, kelaurga dan beberapa anak. Pernah melukai dan juga dilukai, pernah memiliki dan mengalami kehilangan, pernah marah dan bersabar, pernah berjuang lalu memang, ataupun kalah saat bertarung. Semua rasa yang terjadi dalam diri kita sesungguhnya juga pernah terjadi pada orang lain. Tidak ada yang berhak mengklaim bahwa rasa sakit yang di alami oleh dirinya merupakan rasa sakit yang begitu berat bila dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami oleh orang lain. Kita semua pernah mengalami rasa sakit dengan cara hidup kita masing-masing. Oleh karena itu, kalau kita bisa merasakan setiap orang pernah mengalami apapun yang kita alami, maka setiap kejadian yang menimpa kita tidak dapat meruntuhkan hubungan kemanusiaan kita dengan orang lain. Sebab kita mengerti bagaimana rasanya jika tidak ditegur, dikhianati, dibenci, disayangi ataupun dijauhi. Untuk semua nyawa yang ada dalam dirimu adalah nyawaku juga, nyawanya, nyawa dia, nyawa mereka, dan nyawa kita semua.

Maka, Biarkan yang tumbuh dengan subur adalah rasa cinta kasih, bukan dendam dan benci.

Selamat menunaikan ibadah puasa.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pengamat Hukum Tata Negara / Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website