Headlines News :
Home » , » Menegakkan Kebenaran

Menegakkan Kebenaran

Written By Pewarta News on Minggu, 05 Mei 2019 | 23.53

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com – Rakyat Indonesia dewasa ini dihadapkan ujian yang tidak ringan. Ujian itu adalah menegakkan kebenaran. Untuk bisa menyikapi ujian itu, setidak-tidaknya ada 4 kebenaran. Kebenaran ilahiyah (transendental) , kebenaran akademik, kebenaran konstitusional, dan kebenaran kelompok.

Kebenaran ilahiyah (transendental) adalah kebenaran mutlak, yang tidak bisa diragukan sedikitpun kebenarannya. Firman Allah swt , dalam QS Al Baqarah:147 yang berbunyi:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

Alhaqqu mir rabbika falaa takuunanna minal mumtariiin
"Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu”.

Untuk bisa menerima kebenaran ilahiyah (transendental) adalah iman. Tanpa iman yang benar dan bersih, tidak bisa dengan mudah kebenaran ilahiyah (transendental) ditemukan, diraih, dan diterima. Ingat bahwa prinsip kebenaran ilahiyah (transendental) adalah “Believing is Seing”. Apabila kita beriman terhadap hidup sesudah mati dan hidup di akhirat, maka kita akan melihatnya. Tidak bisa untuk hal ini kita melihat dulu baru percaya. Kunci utama kebenaran ilahiyah (transendental) adalah dimiliki dan diresapinya iman.

Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa kebathilan itu akan lenyap jika kebenaran ilahiyah (transendental) datang. Allah swt berfirman dalam QS Al Isra:81, yaitu :

وَقُلْ جَآءَ اْلحَقُّ وَزَهَقَ اْلبَاطِلْ إِنَّ اْلبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Waqul jaa-al haqqu wazahaqol baathil innal baathila kaana zahuuqaa
Artinya “...Dan katakanlah : Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya segala yang batil itu pasti musnah”

Apapun kebatilan di atas bumi akan lenyap, karena itu sebagai orang beriman harus benar-benar memegang kebenaran ilahiyah (teansendental) berdasarkan dalil naqli. Berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg bahwa kebenaran ilahiyah (transendental) itu berada pada level 6, posisi tertinggi.

Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang bersifat tentatif, empiris, faktual dan obyektif. Karena bersifat tentatif, maka sangat terbuka teori yang bersandar pada kebenaran ilmiah dapat dikoreksi dengan teori baru dan seterusnya. Karena bersifat empiris dan faktual, maka prinsip kebenaran ilmiah adalah “Seing is Believing”. Kita bisa menerima sebagai kebenaran ilmiah, jika sudah bisa dibuktikan secara empiris. Walaupun demikian kekuatan kebenaran ilmiah pada akhirnya pada puncaknya bisa menemukan kebenaran hakiki, yang merupakan kebenaran ilahiyah. Tidak sedikit orang yang mendalami ilmunya pada akhirnya menemukan Dzat yang menjadi sumber kebenaran. Kedudukan kebenaran ilmiah itu berada pada posisi setelah kebenaran berdasarkan pengalaman dan otoritas.

Kebenaran konstitusional adalah suatu kebenaran yang bertumpu pada konstitusi yang ada. Kita menyadari bahwa berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg bahwa peraturan yang dibuat oleh penguasa (presiden) itu berada pada level 4, dan undang-undang, UUD, dan Ketetapan MPR itu berada pada level 5. Jika persoalan bangsa itu diselesaikan berdasarkan konstitusi undang-undang dan ke atasnya, maka kebenaran itu bisa diterima oleh warga bangsa bukan kelompok rezimnya saja.

Kebenaran kelompok adalah suatu kebenaran yang bertumpu pada kebenaran yang dibangun oleh kelompok. Bagaimana dibangunnya kebenaran itu dibangun tergantung pada integritas dan objektivitas dalam membangun kebenaran. Kebenaran kelompok berdasarkan teori Kohlberg berada pada level 3.

Persoalan yang kita hadapi sekarang terkait dengan hasil pilpres, bahwa di antara dua kubu meng-claim sebagai pemenang. Tentu pada akhirnya bahwa pemenangnya itu satu di antara dua kubu. Bisa 01 atau 02. Mari kita cermati dari sisi substansialnya, bukan sisi formalitasnya. Jika kubu 01 mengklaim sebagai pemenangnya yang didasarkan pada hasil quick count dari 8 lembaga survai yang “kredibel” yang telah disahkan oleh KPU itu dapat diterima, sepanjang KPU dalam kerjanya itu profesional, fair, dan independen atau bersih dari intervensi. Dalam prakteknya, ternyata publik mempersoalkan independensi KPU. Bahkan termasuk kinerjanya terkait dengan hasil real count-nya. Ini yang perlu dibuktikan oleh kinerja KPU. Jika KPU bisa membuktikan independensinya, maka semua bisa mempertimbangkan untuk menerima hasil kinerja yang terkait dengan KPU. Namun jika tidak demikian, maka bisa dimaklumi jika ada yang mempertanyakan, bahkan menolaknya.

Jika kubu 02 meng-claim sebagai pemenangnya yang didasarkan pada hasil quick count dari sejumlah lembaga survai dan real count yang dilakukan oleh BPN, maka hasilnya cukup bisa diterima oleh kelompoknya saja dan belum bisa diterima oleh kelompok lainnya. Namun jika cara kerja lembaga survainya dan BPN telah benar-benar melakukan tugas bertumpu pada metode ilmiah yang didasarkan sikap ilmiah, tidak ada manipulasi, bertumpu pada peraturan perundang-undangan yang ada, dan dalil-dalil naqli, maka hasilnya patut dipertimbangkan.

Bahwa era keterbukaan sekarang ini bisa menjadi jalan keluar yang terbaik untuk selesaikan masalah terumit sekalipun, sepanjang semua bekerja dengan jujur, adil, profesional, dan amanah. Polemik belakangan ini harus segera disikapi dengan sungguh-sungguh. Insya Allah dengan begitu, hasil kebenaran yang ditemukan tidak hanya sesuai dengan kebenaran berdasarkan otoritas, tapi juga kebenaran akademik, kebenaran konstitusional, dan kebenaran ilahiyah (transendental). Dengan begitu KPU akan bisa landing dengan husnul khatimah. Semua bisa legowo dan ikhlas serta hasilnya bisa menjadi modal utama untuk menjadikan Indonesia jaya, maju dan menang yang diridloi oleh Allah swt.


Yogyakarta, 23 April 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website