Headlines News :
Home » , » Menghadapi Underachiever

Menghadapi Underachiever

Written By Pewarta News on Jumat, 24 Mei 2019 | 09.00

PEWARTAnews.com -- Pada umumnya orangtua dan guru menghendaki anak-anaknya atau siswa-siswanya mampu berprestasi sebagaimana potensinya. Pada prakteknya, mereka ada yang bisa berprestasi sebagaimana yang diharapkan, sebaliknya ada juga yang berprestasi di bawah potensinya. Mereka itulah yang disebut dengan underachiever. Anak underachiever yang diketahui pada usia dini sebaiknya tidak dibiarkan, melainkan harus ditangani sedini mungkin, sehingga nereka bisa berhasil studinya, bahkan lebih jauh lagi berhasil karir dan hidupnya.

Semula orangtua merasa senang menyaksikan anaknya yang sudah diketahui pintar dan cakap pada waktu usia dininya. Begitu masuk sekolah, berangsur-angsur diketahui bahwa anak-anak itu tidak semangat belajar, tidak rajin belajar, malas mengerjakan tugas, tidak memiliki catatan yang rapi, dan utamanya mereka itu tidak disiplin dalam beberapa hal. Anak-anak yang demikian tidak hanya mengecewakan orangtua, melainkan juga guru. Anak-anak inilah yag pada akhir tahun ajaran deketahui melalui tes akhir semester tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan, karena mereka berprestasi di bawah potensinya (underachiever).

Kita sangat  menyadari bahwa anak-anak untuk sukses dalam studi dan hidupnya, tidak bisa mengabaikan karakteristik utamanya yang menggambarkan nilai kualitas hidupnya. Michael D. Whitley (2001) dalam bukunya berjudul Bright Minds, Poor Grades, menguraikan nilai-nilai karakter anak-anak sukses, di antaranya : self-discipline, commitment to goals, the ability to sacrifice momentary pleasures for the greater rewards of tomorrow, independence in motivation, moral responsibility, cooperative effort, trust, the capacity to govern oneself, and abiding commitment to family and development of one’s own talent. Sifat-sifat ini harus ada pada anak-anak, utamanya anak berbakat (gifted). Jika mereka tidak memiliki sifat-sifat ini, maka mereka akan menjadi anak underachiever.

Untuk mengetahui dan mengidentifikasi lebih mudah anak underachiever, marilah kita perhatikan pandangan University of Coonecticut sebagai Center of Gifted Education tentang ciri-cirinya sebagai berikut: (1) konsep diri rendah, (2) hidupnya lebih berorientasi pada yang bersifat sosial daripada akedemik, (3) suka menggunakan mekanisme pertahanan diri, (4) sering perilakunya tidak menunjukkan berorientasi pada tujuan, (5) menolak kompetisi, (6) cenderung pasif-agresif, (7) takut akan sukses, (8) lemah dalam keterampilan mengatasi masalah, (9)  memiliki sikap negatif terhadap sekolah, dan (10) menolak situasi yang menantang untuk melindungi image dirinya.

Kehadiran underachiever dapat disebabkan oleh berbagai factor, di antaranya (1) factor pribadi: problem perilakun dan soal disiplin, problem waktu yang tak terstruktur, harapan yang tak realistis, (2) factor keluarga : disdungsi keluarga, hubungan anggota keluarga yang tegang, problem dengan sudara kandung, monitoring, bimbingan dan harapan keluarg a yang minimal, (3) factor sekolah : ketidaksesuaian  kurikulum pada SD, tidak adanya kesempatan untukn mengembangkan kebiasaan kerja, interaksi negatif dengan guru.

Untuk dapat menyelamatkan anak underachiever dapat diupayakan beberapa  hal, di antaranya : (1) Mengembangkan ketepatgunaan diri (self-efficacy): Adanya kepercayaan terhadap kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu, (2) Mengembangkan strategi regulasi diri : personal, perilaku, dan lingkungan, (3) Melatih keahlian metodologi menetapkan tujuan, (4) Mengoreksi berpikir yang terdistorsi, (5) Melibatkan orangtua untuk pekerjaan rumah atau tugas  dengan duduk sebentar waktu malam., dan (6) Membangun hubungan positif dengan guru.

Demikianlah beberapa hal yang terkait dengan mengenali anak underachiever yang banyak kita jumpai di sekitar kita. Yang pada umumnya kita tidak pernah peduli. Pada hal mereka itu social capital yang sangat berharga. Yang sangat berarti tidak hanya bagi dirinya, melainkan  juga bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Sebagai wujud tanggung jawab kita adalah ikut memberikan perhatian kepada mereka dan menfasiltasinya untuk bisa mengaktualisasikan dirinya, serhingga mereka terhindar dari underachiever.


Yogyakarta, 29 April 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website