Headlines News :
Home » , » Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 13.37

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Bangsa Indonesia patut berintrospeksi terhadap Global Competitiveness Index (GCI) tahun 2017, yang berada pada ranking 36, pada tahun 2018  turun cukup berarti  menjadi ranking 45. Yang menarik bahwa penurunan GDI ini relatif terabaikan. Ada apa dengan Indonesia? Menurut hemat saya, ada kejadian yang tidak konsisten. Di satu sisi, kita sedang bekerja keras untuk siap-siap berkompetisi, di sisi lain kita tidak merasa terkagetkan oleh penurunan ranking GCI. Semoga dengan momentum Hardiknas tahun 2019 ini, kita berangsur-angsur bangkit dengan spirit tema Hardiknas 2019, yaitu Menguatkan Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan. Padahal penurunan GCI ini bisa berdampak meluas, yang tidak hanya mengena internal  institusi pendidikan atau institusi yang mengurus birokrasi pendidikan, melainkan juga mengena masyarakat dan bangsa.

Mari kita memahami tema ini dengan cermat dan kritis. Menguatkan pendidikan dapat dimaknai dengan menguatkan pendidikan keluarga (informal), pendidikan persekolahan (formal), dan pendidikan luar sekolah atau masyarakat (non formal). Ketiga jalur pendidikan harus dikelola dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa berkontribusi secara signifikan terhadap pembentukan individu sebagai wholistic person. Ketiga jalur pendidikan bisa saling melengkapi dan bersinergi dalam proses pendidikan, sehingga bisa saling menguatkan. 

Dalam konteks pendidikan formal, sangat diperlukan penguatan dari 8 standar pendidikan (Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses Pendidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian, dan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan).  Walaupun belakangan ini wacana tentang 8 standar kurang menarik. Kiranya patut diduga bahwa persoalan penilaian yang menjadi parameter kualitas pendidikan tidak terlalu dianggap penting dan strategis, sehingga upaya untuk memperjuangkan semua standar menjadi melemah. Konsekuensinya gairah membangun kualitas pendidikan menjadi menurun. Ini tanda-tanda cukup memprihatinkan untuk generasi mendatang. Karena itu upaya penguatan pendidikan perlu dilakukan secara intensif.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan digital, kiranya di antara 8 standar itu ada beberapa standar yang perlu mendapat prioritas penguatan tanpa memperhatikan standar lainnya, di antaranya standar isi, proses, penilaian, kompetensi lulusan, pengelolaan, dan pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang ada,  standar isi dan proses pendidikan perlu terus dilakukan adjustment, sehingga isinya relevan dengan kebutuhan individu, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan masyarakat, terutama untuk generasi millennial. Untuk menjamin kompetensi dan kualitas  lulusan setiap jenjang pendidikan, sangat diperlukan penyesuaian standar kompetensi lulusan dan penilaian, sehingga produk pendidikan memiliki bargaining position yang kuat. Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan, maka intervensi politik seharusnya dijauhkan sedemikian rupa, sehingga kepemimpinan akademik lebih menonjol. Dengan begitu Manajemen Berbasis Sekolah dapat dilaksanakan tanpa ada gangguan yang berarti. Selanjutnya, untuk membangun sekolah efektif sangat tergantung terutama pada kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Untuk itu perlu ada jaminan bahwa kepala sekolah dan guru harus menegakkan profesionalismenya sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Ingat bahwa adanya sinyalemen tidak ada bedanya kinerja guru yang bersertifikat pendidikan dan tidak bersertifikat  pendidikak harus dikoreksi. 

Kebudayaan Indonesia yang adi luhung harus dijaga, bahkan ada upaya kuat untuk memajukan kebudayaan. Di samping ada nilai-nilai yang sama (common culture) di antara bangsa Indonesia, kita juga memiliki local wisdom yang harus kita konservasi dan kembngkan, sehingga memiliki relevansi yang tinggi. Kita patut bersyukur bahwa berkat orang-orang, terutama budayawan dan seniman, serta tokoh nasional  kreatif, mampu menkonservasi nilai-nilai dan budaya bangsa dan daerah, di samping mengembangkan dengann kreasi barunya, sehingga tidak kehilangan identitas.

Memajukan kebudayaan seyogyanya, tidak hanya dilihat dari perilaku dan produk budaya saja, melainkann juga dicerahkan dengan kemampuan mencipta dan dilandasai dengan nilai budaya local dan nilai-nilaim religiusitas. Dengan begitu diharapkan mampu menfilter budaya-budaya asing yang tidak sejalan dengan budaya Indonesia dan daerah. Untuk memajukan kebudayaan Indonesia seharusnya dapat dilakukan melalui pendidikan di semua jalur. Demikian juga bisa dikemas melalui program kurikuler, kokurikuler, dan esktra kurikuler.  Dalam konteks kurikuler, memajukan kebudayaan tidak hanya melalui separated curriculum dalam bentuk suatu pelajaran tertentu, melainklan juga bisa melalui integrated curriculum dalam bentuk internalisasi nilai-nilai dan substansi budaya dalam mata pelajaran lainnya. Selain memajukan kebudayaan lewat pendidikan, bisa juga lewat sektor lainnya, misalnya lewat pariwisata, kesenian, industri kreatif, multimedia, dan sebagainya. Yang jelas bahwa dalam rangka memajukan kebudayaan, perlu sekali mempertimbangkan nilai-nilain edukatif, sehingga kebudayaan kita tidak kering nilai.

Demikianlah sekedar refleksi terhadap Hardiknas 2019, semoga penggiat pendidikan dapat berikhtiar secara optimal dalam penguatan pendidikan dengan menjadikan nilai-nilai karakter dan religi menjadai kata kunci dlam membangun 8 standar. Merujuk kepada 8 standar tidak berarti membelenggu pikiran kita, melainkan sangat terbuka untuk ide-ide baru yang bisa menguatkan pendidikan, sehingga maqam pendidikan tetap terjaga yang mampu menghasilkan insan berkarakter, berperadaban dan berbudaya. Selanjutnya diharapkan penggiat kebudayaan diharpkan terus bisa berikhtiar memajukan kebudayaan, yang sarat dengan nilai-nilai edukatif dan moral atau religiusitas. Karena itu perlu terus secara kreatif  dan produktif berkarya dan mengeksposenya dengan tetap mengedepankan nilai-nilai budaya bangsa yang berkarakter dan berperadaban.


Yogyakarta, 2 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website