Headlines News :
Home » , » Menyikapi Kekalahan

Menyikapi Kekalahan

Written By Pewarta News on Jumat, 31 Mei 2019 | 19.33

PEWARTAnews.com -- Kekalahan pada dasarnya lebih bersifat kepastian. Kekalahan merupakan suatu kemenangan yang tertunda. Kekalahan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjuangan menuju kemenangan. Kekalahan merupakan sesuatu yang harus kita terima, untuk dijadikan media refleksi untuk menemukan jalan menuju kemenangan.

Kekalahan bisa lebih berharga karena bisa dekatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, daripada kemenangan yang bisa menjadikan sombong dan takabbur, sehingga perlancar menuju Kuffaar. Kekalahan harus menjadikan lebih tegar dan bangga jika dilakukan dengan sportif daripada kemenangan yang diraih dengan cara yang tidak sportif.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menghadapi kekalahan (Chad Howard (2014), di antaranya: (1) Menerima alasan kekalahan, (2) Merasa bahagia, puas dengan tidak memperoleh penghasilan hidup dari usaha sendiri, walau bisa sedih bagi yang idealis,  (3) Selalu ada pilihan untuk jalan yang mudah menuju sukses, (4) Mencoba untuk mencari sukses secepatnya, (5) Hindari gossip tentang kekalahan, karena tidak menguntungkan, (6) Complain jika punya alasan untuk melakukannya, (7) Yakini dengan sungguh-sungguh bahwa kita berhak mendapat kesempatan istirahat, (8) Memikirkan bayangan tertentu adalah segala-galanya (jangan sampai kita dikendalikan oleh orang lain tentang ukuran kemenangan, karena dengan kita sudah berbuat sesuatu itu sudah bisa disebut sukses/menang), (9) Bandingkan diri kita dengan orang lain, (10) Yakinilah bahwa ketika dilahirkan di dunia kita berhak mendapat kebahagiaan dan kesuksesan.

Jika kita perhatikan benar tentang kekalahan, maka hampir semua orang akan menghadapinya, bisa hari ini, besuk, atau minggu, bulan atau tahun depan dan seterusnya, karena sehebat apapun pada akhirnya juga kalah. Karena itu harus selalu   belajar menerima kekalahan, terlebih-lebih jika tidak ada kesalahan atau pelanggaran dalam proses dan penentuan hasil secara berarti.

Ingat bahwa kekalahan yang sifanya duniawiyah, bukanlah segala-galanya, boleh jadi di mata Tuhan, justru menjadi pemenangnya. Karena itu dalam berbagai percaturan hidup, kita perlu  bertumpu  pada acuan atau parameter kebenaran yang tertinggi, yaitu kebenaran konstitusional dan transendental. Jika demikian halnya, maka ketika terjadi kekalahan, kita harus terima dengan ikhlas dan menghormati hasilnya.

Kita berdoa, semoga para pihak terkait dengan hajat besar bangsa, terutama Agenda Pemilu 2019 dalam setiap membuat keputusan seharusnya selalu comply dengan peraturan dan perundang-undangan dan prinsip-prinsip keadilan. Allah swt berfirman untuk kita  berbuat adil, yaitu  “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah:8).

Jika dalam menentukan kemenangan dan kekalahan itu bertumpu rasa keadilan sebagaimana Allah swt,  insya Allah kekalahan bisa diterima dengan ikhlas dan baik. Jika terjadi sebaliknya, makes dibutuhkan solusi lain yang membuat pihak-pihak terkait bisa menerima dengan ikhlas. Artinya bisa jadi dibutuhkan pengorbanan besar untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. Jangan sampai mengakibatkan korban yang tak perlu.

Perlu dimaklumi bahwa bicara soal kekalahan dan kemenangan itu bisa didekati secara akademik, politik, atau hukum. Idealnya ketiga-tiganya sama, tapi itu tidak mudah. Lihat konteksnya, untuk persoalan tertentu bisa pertimbangan politik lebih dominan, persoalan yang lain bisa pertimbangan Hukum atau Akademik. Semuanya dihitung berdasarkan masalahah dan madzaratnya. Bagaimana menurut Anda?


Yogyakarta, 17 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website