Headlines News :
Home » , » Menyoal Anak Berbakat

Menyoal Anak Berbakat

Written By Pewarta News on Sabtu, 25 Mei 2019 | 09.00

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Pada umumnya setiap orang tua bangga, jika anaknya hebat, berbakat. Mereka juga bersyukur, karena tidak jarang mereka mengangkat derajat orang tua. Apakah hebat, bakat di bidang akademik, seni, olahraga, atau bidang-bidang lainnya. Jika anak punya potensi unggul, orang tua mengetahuinya dan ada harta, pasti mereka mengupayakan anak-anaknya dapat bimbingan dan binaan sedini dan sebaik  mungkin, sehingga potensinya dapat diwujudkan secara optimal. Tetapi tidak sedikit orang tua yang memiliki keterbatasan harta, mereka hanya membiarkan anaknya yang hebat itu tumbuh dan berkembang secara alamiah. Beruntunglah jika di sekolah atau lingkungannya memberikan perhatian khusus kepada anak berbakat. Ingat bahwa kehadiran anak berbakat di semua bidang bisa setiap tahun, setiap jaman, bahkan lintas jaman.

Keberadaan anak berbakat itu juga tidak bisa dilepaskan dari tingkat kemajuan negaranya. Jika anak berbakat itu berada di negara maju, mereka mendapatkan perhatian khusus dan pembinaan khusus pula, sehingga potensinya dapat diaktualisasikan secara optimal, tanpa memandang mereka dari keluarga berada atau tidak berada. Di samping itu masa depannya juga terjamin, sehingga selepas dari puncak prestasinya, kehidupan mereka tetap terjaga kesejahteraannya hingga akhir usia senja, bahkan akhir hayat. Menyadari kejelasan masa depannya, maka tidaklah sia-sia investasi anak berbakat pada waktu mudanya untuk belajar, berlatih, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, karena pada akhirnya ada jaminan hidupnya.

Sebaliknya anak berbakat di negara berkembang menghadapi persoalan lain. Orang tualah yang berusaha keras, dengan dukungan sekolah dan pemerintah sesuai dengan kemampuannya,  memberikan perhatian dan fasilitasi dalam pertumbuhan dan perkembangan keberbakatan anak. Dengan begitu hanya anak berbakat yang berada di lingkungan beruntung, kondusif dan suportif yang dapat mengaktualisasikan bakatnya. Selanjutnya masa depan karier dan hidupnya juga belum menentu. Jangankan yang belum berprestasi cemerlang, yang sudah juara nasional dan dunia pun belum ada jaminan kariernya ke depan dan hidupnya mendatang dapat jaminan yang memadai dan menggembirakan. Padahal anak-anak berbakat ini sudah menginvestasikan waktu, pikiran dan tenaga, bahkan harta untuk mewujudkan bakatnya. Tidak sedikit atlet  dan seniman berbakat dan berprestasi, karier dan hidupnya kurang membahagiakan. Bahkan untuk menyambung hidupnya, dengan terpaksa menjual piala atau medali yang telah lama disimpan menjadi kebanggaan harus dilepas hanya untuk sejumlah uang. Ironis sekali menyaksikan kondisi ini, walau beberapa saat yang lalu sudah ada gerakan untuk perhatikan “nasib” mantan atlet berprestasi.

Inilah dilema anak berbakat, bahwa masa depannya belum jelas, tetapi mereka dengan potensinya itu tidak jarang menjadi tumpuan untuk mengangkat reputasi institusi, daerah dan atau negara melalui prestasinya. Karena itulah mereka harus ikuti latihan sejak usia dini dengan tuntutan disiplin yang keras. Sementara teman yang seusia banyak habiskan waktunya untuk main-main atau kegiatan sia-sia saja. Dewasa ini anak berbakat akademik yang kurang beruntung secara ekonomis sangat diuntungkan dengan adanya beasiswa dari S1 sampai dengan S3 di dalam atau di luar negeri. Jika sudah selesai studinya, bisa berkarya dan meniti karier sampai tua tergantung pada kesungguhannya. Sementara itu yang berbakat olahraga, karena jaminan masa depannya belum jelas dan proses pembinaan bakat membutuhkan dana yang banyak, tidak sedikit para atlet yang tergoda “uang”, sehingga terganggu sportivitasnya. Akhirnya terdampar di tengah jalan. Demikian anak berbakat seni, cukup banyak  yang berhasil melejit prestasinya di usia muda, namun karena tidak kuat menghadapi “godaan” tidak sedikit di antara mereka terjebak penggunaan obat. Semua anak berbakat potensial menghadapi masalah, menurut hemat kami dapat disebabkan, di antaranya kurang bersyukur, kurang berintegritas, kurang sabar dan kurang kuat agamanya. Jika empat hal ini dapat dijaga, insya Allah keberbakatan itu pasti menjadi karunia dan berkah, bukan menjadi malapetaka atau fitnah.

Apa pun alasannya bahwa anak berbakat itu perlu mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang sesuai, karena mereka memiliki potensi yang lebih daripada temannya yang seusia. Hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang sesuai sebagai konsekuensi dari demokratisasi pendidikan. Dengan pendidikan yang sesuai untuk anak berbakat, diharapkan sekali dapat memuaskan anak berbakat sendiri, karena lebih banyak kebutuhan mereka  yang dapat dipenuhi, di samping mereka terpuaskan dapat wujudkan penampilan yang sesuai dengan potensinya. Yang juga tidak kalah pentingnya diyakini bahwa pendidikan bagi anak berbakat yang sesuai diharapkan dapat menjadikan anak berbakat mampu berkarya dan berinovasi secara produktif yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.

Memang ada sejumlah mitos terkait dengan anak berbakat. Audrey Breen (2016) dan Todd Stanley (2018) memperkenalkan sejumlah mitos yang dapat dicermati satu persatu, di antaranya : (1) Gifted students will do fine on their own, (2) Gifted programs are elitist, (3) Gifted students are perfect students, (4) Gifted Children are role models, (5) Gifted children don’t need help, (6) Gifted children are happy and well-adjusted, (7) Gifted children don’t have disabilities, (8) Gifted children don’t struggle, (9) Gifted children will succeed in life no matter what, (10) Gifted children love school and get high grades, (11) Gifted children are good at everything they do, (12) Gifted children have trouble socially at school fitting it, (13) Gifted children tend to be more mature than other kids their age, (14) Gifted children are always well-adjusted and compliant, (15) Gifted children’s innate curiosity causes them to be self-directed., (16) All children are gifted, (17) All gifted children are quirky, and (18) Special education children cannot be gifted.

Mitos-mitos ini memiliki makna tersendiri, karena keyakinan terhadap mitos yang berlebihan akhirnya perlakuan terhadap anak berbakat tidak seperti yang diharapkan atau yang seharusnya. Ada kecenderungan bahwa sekolah mengabaikan anak berbakat sebagai aset umat dan bangsa merupakan suatu kerugian besar. Hal ini dibuktikan, bahwa Pemerintah Indonesia belakangan ini telah meniadakan layanan khusus bagi anak berbakat, terutama anak berbakat akademik. Padahal kewajiban layanan pendidikan anak berbakat secara konstitusional telah dijamin oleh UUSPN tahun 2003 pasal 5 ayat 4. Kita dalam  memandang anak berbakat harus akurat, tidak hanya secara konstitusional saja, melainkan juga secara konseptual dan religius,  sehingga memiliki alasan yang tepat untuk memperlakukan dan memberikan layanan pendidikan yang seusai. Apabila perspektif terhadap anak berbakat tepat, yang diuntungkan terutama sekali adalah anak berbakat sendiri, orang tua, sekolah, masyarakat, dan bangsa.


Yogyakarta, 30 April 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website