Headlines News :
Home » » Obrolan di Amparan Warung Pecel Lele

Obrolan di Amparan Warung Pecel Lele

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 15.03

"Silaturrahmi harus dijaga, dirawat dan dipupuk, karena kemudahan, keberkahan, kemurahan, rahmat dan kasih sayang yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya, tergantung dari ketepatan hati hamba tersebut dalam menempatkan dirinya dihadapan Allah dan orang-orang sekitar" (Mukaromah, 2019).

“Eh sampean kok selalu bahagia sih”? Sapaan pembuka yang kawanku lontarkan kepadaku, setelah kami tak bersua selama setahun. Hahahaha, saya hanya tertawa lepas. Sebelum ku lanjutkan untuk membalas sapaan-nya, dia menyahut “Sepertinya sekarang sudah ada calon, ya”? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sebenarnya menjadi jawaban atas “curhatan” ia kepadaku. Kadang ketika aku mendengarkan curhatan-curhatan kawan, mereka sendiri –lah yang justru sudah mengetahui jawaban atas segala persoalan, kepelikan, bahkan masalah dalam hidupnya. Teringat kata dosen ku, Dr. Muqowim saat LVE (Living Vales Education), “jadilah pendengar” setia. Orang curhat bukan berarti ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, serta bagaimana mengatasi persoalannya. Namun sebenarnya ia hanya butuh untuk didengarkan. Just it.

Adakalanya butuh masukan, itu hanyalah sebagai bentuk penguatan atas konsep dan problem solver-nya sendiri. Mayoritas orang terburu-buru untuk memberikan klaim, justifikasi, bahkan masukan yang terkesan “membijaki”, yang sebenarnya si pencurhat tidak terlalu membutuhkannya.
Posisikan diri secara tepat dengan tidak gegabah untuk menyela pembicaraan, karena akan menghancurkan mood si pencurhat, bahkan akan mengacaukan jalan pikiran si pencurhat yang menyebabkan lupa apa yang akan dibicarakan. Dengan demikian, semua hal ada ilmunya, ada caranya, ada triknya, ada step-nya termasuk seni dalam berbicara dan mendengar. Untuk itulah, ku dengarkan curhatan kawanku ini dari A-Z, dan tidak akan pernah mungkin saya tulis dimanapun, karena hal tersebut merupakan privasi orang yang harus dijaga. Teringat pesan hikmah yang selalu dilontarkan senior sekaligus guru rohani-ku, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) kepada para Jama’ah Maiyah. Beliau mengatakan “Jadilah orang yang dapat membuat orang lain merasa aman ada dirimu dan mempercayakan segalanya kepadamu”. Pesan singkat itu, yang sampai detik ini masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

Setelah ia selesai curhat, lalu ia bilang. Mengapa sampean diam? Aku hanya menyahut, karena sampean sudah mengetahui jawaban, nasihat bahkan hal apa yang harus sampean lakukan untuk mengatasi pesoalan itu. Dalam hidup memang selalu diuji dan dicoba Allah dengan berbagai macam hal yang (mungkin) kurang mengenakkan. Kalau menyangkut persoalan ujian dan atau cobaan, penulis selalu berhati-hati, untuk itu ku bedakan orientasi ujian dan cobaan, dengan tidak mengeneralisasikan/menganggap semua hal yang ada dalam hidup ini cobaan saja, atau bahkan ujian saja. Cobaan itu sifatnya sebagai “pengingat, kode, sentilan, atau dalam bahasa rambu-rambu lalu lintas berwarna “kuning” yang Allah berikan kepada hamba-Nya, dapat dibilang sebagai balasan atas kesalahan yang diperbuatnya. Sedangkan ujian lebih kepada peningkatan derajat yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya, untuk terus berusaha dan berproses.

Lalu bagaimana cara membedakan antara ujian dan cobaan? Caranya adalah muhasabatun nafs/bermusahabah diri, dengan flashback ke belakang mengenai ucapan, perbuatan/tindakan yang pernah dilakukan kepada sesamanya. Sekiranya persoalan horizontal telah beres, ya mungkin kesulitan atau bahkan halangan dan  rintangan yang Allah beri itu sebagai ujian yang harus dilalui. Tidak ada sejarah orang hebat dan kuat yang terlahir instan, pasti ia ditempa dengan berbagai hal yang tidak mengenakkan bahkan menguras hati, tenaga, pikiran maupun emosi (perasaan). Segalanya Allah beri yang terbaik kepada hamba-hamba Nya, hanya saja terkadang hamba tersebut yang sok tau dan kurang peka terhadap sentilan Allah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, lambat laun akan sadar bahwa memang itulah yang terbaik untuk dirinya. Tak ada rumus pasti dalam hidup ini, selain daripada “legowo” (ikhlas dan ridho), bersyukur dan yakin. Jika dapat menggenggam 3 hal itu, ku yakin sepelik apapun persoalan hidup, dapat teratasi dengan baik.

Kadangkala yang membuat diri terpuruk adalah sulit untuk menerima kenyataan bahwa realita tidak sesuai dengan ekspektasi dan orientasi hidup yang didasarkan pada menang-kalah, cepat-lambat. Hal semacam itulah, yang membuat diri terbelenggu karena sering “melihat, membandingkan, mencari kelemahan diri” dengan melihat kehidupan orang lain. Lalu penulis hubungkan sapaan ia mengenai 2 hal tadi kepadaku, mengapa selalu bahagia padahal bapak telah tiada dan butuh berapa bulan untuk bangkit? Sudah ada calon/pendamping hidup kah? Jawaban saya hanya simple, yakni hidup hanya sekali, rugi lah kalau isinya cuma dramatis dan melow-melow gitu? Hahaha. Makanya harus bahagia lahir dan bathin, dengan cara diciptakan bukan dicari. Hal tersebut hanya dapat terwujud jika benar-benar bersyukur atas segala nikmat dan anugrah-Nya. Lalu yang kedua, terkait dengan calon pendamping hidup, jawaban saya cuma bukan tidak dan iya, namun dengan kata-kata “yang penting yakin saja sama Gusti Allah”. Yakin bagiku melampaui rasio yang tak terdefinisi oleh kata-kata. Hanya ada satu kekuatan, pada saatnya nanti dipertemukan dan disatukan, itu karena frekuensi yang berbicara. Manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihannya dengan memantaskan diri sebaik mungkin, namun tetap Allah yang meng-ACC. Dan ACC Allah tidak terlepas dari doa, niat dan tujuan yang baik, restu orangtua dan benih cinta dan sayang yang Allah sematkan pada kedua insan tersebut. Namun andaikata sekarang belum diberi, itu artinya Allah masih ingin melihat kita berusaha untuk menyelesaikan segala urusan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.

Yakin itulah yang akan mengantarkan manusia pada rasa optimis, penuh harap/raja’ yang hanya disandarkan kepada-Nya dan tidak akan menaruh sedikitpun rasa khawatir dan takut atas segala skenario kehidupan. Begitu halnya dengan curhatan ia, yang jika semua ku simpulkan, hanyalah butuh Ke-YAKIN-an yang kuat kepada Nya, percaya dan mempercayakan segalanya kepada Allah SWT. Obrolan ku tutup dengan “selamanya, kita seduluran, jangan sampai putus silaturrahmi”. Begitulah hidup, Silaturrahmi harus dijaga, dirawat dan dipupuk, karena kemudahan, keberkahan, kemurahan, rahmat dan kasih sayang yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya, tergantung dari ketepatan hati hamba tersebut dalam menempatkan dirinya dihadapan Allah dan orang-orang sekitar.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website