Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Sekolah yang Aman dan Ramah

    PEWARTAnews.com -- Sekolah yang eksis dan fungsional selalu dirindukan oleh semua. Sekolah yang dicari, bukan sekolah yang dihindari. Sekolah yang memberikan kepuasan, bukan sekolah yang mengecewakan. Sekolah yang menyenangkan, bukan sekolah yang menakutkan. Yang demikian itu disebut sekolah yang aman dan ramah, bukan sekolah yang mengkhawatirkan dan tidak ramah.

    Kita bisa menyaksikan bahwa belakangan ini masih dijumpai cukup banyak sekolah yang belum memberikan jaminan aman dan ramah bagi semua anak, terutama anak berkebutuhan khusus, tak beruntung secara ekonomis, tak beruntung secara sosio kultural, tak beruntung secara geografis dan sebagainya. Kondisi inilah yang membuat sekolah belum bisa menjadi suatu lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, personal, intelektual, dan sosial anak.

    Untuk menciptakan sekolah yang aman dan ramah, guru merupakan salah satu faktor penting. Karena gurulah yang sangat menentukan model manajemen kelas yang mampu menciptakan lingkungan kondusif, sehingga tercipta kondisi aman dari berbagai kekerasan fisik, psikis, dan verbal. Siswa merasa terjamin aksesibilitasnya, sehingga terbantu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

    Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan sekolah aman, di antaranya (1) menegakkan kebijakan sekolah yang jelas dan memberikan penguatan pada pencapaian tujuan, (2) menilai sekolah, kelas dan dirimu sendiri, sehingga ada kesesuaian dengan kebutuhan sendiri dan visi sekolah, (3) mengusahakan sekolah aman untuk siapapun yang datang di sekolah, (4) mendorong siapa saja untuk melaporkan apa saja kejadian di sekolah, (5) perlu pendekatan yang lebih kepada anak, sehingga memungkinkan anak lebih terbuka dengan orang dewasa tentang dirinya di sekolah, (6) mengajarkan kepada tentang bias baik lewat isi kurikulum, bahan pembelajaran, maupun lingkungan belajar yang anti bias, (7) melibatkan orangtua, anggota keluarga dan masyarakat dalam mengawal keamanan sekolah, dan (8) memberikan bantuan bagi anak yang menjadi kenakalan. (ADL:2019)

    Selanjutnya dalam rangka mengupayakan sekolah yang ramah, maka sekolah seharusnya dapat mengorientasikan kepada kuantitas (aksesibilitas) dan kualitas (mutu dan rilevando). Terkait dengan kuantitas, sekolah wajib menfasilitasi aksesibilitas fasilitas akademik dan nonakademik. Terkait dengan kualitas, sekolah perlu menjadikan siswa berkualitas (sehat dan siap belajar), isi yang berkualitas (kurikulum dan bahan ajar), proses pembelajaran berkualitas (pendekatan pembelajaran yang tepat), lingkungan belajar berkualitas (fasilitas dan layanan), dan hasil pendidikan berkualitas(pengetahuan, sikap, keterampilan). Selain daripada itu sekolah juga harus ramah dengan bias gender, akses IT, akses ibadah, dan sebagainya.

    Dengan memperhatikan kondisi dewasa ini jumlah sekolah yang kurang aman dan ramah secara hipotetis semakin meningkat. Hal ini disebabkan adanya keterbukaan informasi dan pengaruh budaya bullying yang tidak mudah di-filter. Di samping pengawasan orangtua yang berkurang akibat kesibukan. Juga kurangnya kepedulian masyarakat terhadap penanganan kenakalan anak, karena semakin meningkatnya sikap individualis. Sementara itu anak sendiri memang berpotensi masalah sosial akibat dari posisinya di masa transisi. Kita tidak bisa biarkan kondisi yang demikian, karena kita harus lindungan dan selamatkan generasi emas.

    Kendatipun kondisi semua sekolah belum mampu tunjukkan dirinya sebagai tempat yang aman dan ramah untuk belajar, ke depan semua sekolah diharapkan mampu ciptakan sebagai tempat yang aman dan ramah, bahkan menyenangkan untuk bejar. Tempat yang sangat kondusif untuk tumbuh dan kembang anak. Untuk itu upaya melengkapi semua fasilitas akademik dan penunjang harus menjadi concern. Tidak ada keraguan sedikitpun bagi orangtua terhadap sekolah tertentu tempat anaknya belajar. Semoga.


    Yogyakarta, 19 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Menulis Merupakan Kerja Keabadian

    PEWARTAnews.com -- Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)

    Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Jika hal itu diselami lebih dalam, tentu tak hanya sekedar kata-kata biasa akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, yakni “menulis”).

    Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Karena menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya.

    Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Demikian halnya, tulisan dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Penulis seperti Fahd Pahdepie, Ahmad Fuadi, Tere liye, Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Fazlur Rachman, Prof. Komarudin Hidayat, Dr. Ahmad Gaus, Dr. Zainal Arifin, dengan  melalui karya-karya nya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal tersebut akan menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

    Oleh karena itu, seorang penulis disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya (Mukaromah, 2018). Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga boleh tiada, namun kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno dll yang mana pemikiran (karya) mereka “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.

    Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan, melalui spirit Membaca. Spirit itulah yang kemudian menjadi pijakan untuk melanggengkan karya, yakni menjadi nafas dan inspirasi untuk melahirkan tulisan. Sehingga, antara membaca dan menulis erat kaitannya. Tulisan akan lebih berkualitas, berbobot dan bernas manakala ditopang oleh wacana yang luas. Hal demikian, menunjukkan bahwa hidup tidak hanya sekedar hidup, namun juga mengoptimalkan segala potensi yang telah Allah anugerahkan untuk terus belajar dan haus akan ilmu pengetahuan.

    Sebagaimana Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat Nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan Islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah. Data UNESCO dan IPM mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis di semua kalangan

    Akhirnya, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban yang lebih baik dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis Untuk Keabadian ! “Jika kau Bukan Anak Raja pun juga bukan anak Ulama’ terkenal, maka menulislah (Imam Ghazali).


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menghadapi Kecemasan

    PEWARTAnews.com -- Hari-hari belakangan ini kecemasan membayangi kehidupan rakyat Indonesia, terlebih-lebih menghadapi 22 Mei, saat KPU RI menetapkan hasil Pilpres 2019. Fenomena yang muncul, ada yang saling mengklaim kemenangan, isu kecurangan, dan people power (menuntut kedaulatan rakyat). Kondisi ini membuat sikap masyarakat beragam, ada yang yakin tidak masalah, aman-aman saja, ada yang acuh dan tidak mau peduli, dan yang merasa cemas sekali terjadi chaos.

    Kita semua berharap bahwa KPU RI bisa bekerja profesional dan konstitusional, sehingga cenderung bisa memuaskan banyak pihak, walau diakui bahwa masih saja ada yang tidak merasa puas. Sebaliknya jika KPU tidak bekerja secara tepat, bisa jadi menimbulkan chaos. Karena hingga kini masih fivety-fivety, maka tidak bisa dihindari adanya kecemasan di antara kita. Tentang proporsi yang mengalami kecemasan itu relatif, tergantung kondisi masing-masing individu.

    Kecemasan tidak bisa dibiarkan, betapapun tingkat beban psikologisnya. Karena itu perlu ditangani sedini mungkin, sehingga tidak semakin berat. Apapun untuk mengatasi kecemasan, dapat dilakukan dengan cara (1) Ambil waktu istirahat, (2) Bikin hidup rileks (dengar musik, lihat TV, baca koran, dan), (3) Menghindar dari persoalan yang bikin stress, (4) Makan dengan gizi yang seimbang, (5) Jaga kesehatan dengan  ajeg, (6) Hilangkan dan batasi minim yang mengandung alkohol dan kopi, (7) Usahakan tidur cukup, (8) Upayakan latihan olahraga hingga merasa baik dan sehat, (9) Latihan pernapasan secara  rutin, (10) Usahakan selalu bekerja yang terbaik, tidak harus sempurna, (11) Jagalah sikap positif kepada siapapun, terutama yang menyebabkan stress, (12) Jika mungkin pelajari apa yang menyebabkan stress, terus berusaha memahaminya, dan (13) Usahakan berbicara dengan orang lain (terapis, konselor, psicologi klinis, psikiatris) yang dapat dipercaya untuk membantu mengatasi stress. (ADAA, 2010-2018).

    Upaya penanganan kecemasan yang masih ringan bisa dilakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Yang penting ada ikhtiar yang sungguh-sungguh. Ikhtiar lahiriah memang penting tetapi lebih efektif jika dibarengi dengan ikhtiar batiniah. Dengan banyak membaca kalimat thoyyibah, atau banyak dzikir. Ingat dengan banyak dzikir akan bisa tenangkan hati. Sebagaimana Firman Allah swt, yang berbunyi, “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub”, (Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (QS. Ar Ra’du : 28). Jika tenang hati, insya Allah akan terjadi proses recovery kecemasan secara berangsur-angsur.

    Sekompleks apapun yang membuat kita menjadi cemas, namun kondisi psikologis kita terbangun dengan baik, insya Allah kita bisa terhindar dari terjadinya stress. Jika kita sudah terrena stress, dengan membangun kekuatan iman dan integritàs pribadi solid, insya Allah secara perlahan-lahan stress akan berkurang hingga mendekati titik 0.


    Yogyakarta, 18 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pengaruh Modernisasi Terhadap Perubahan Gaya Berpakaian Mahasiswa

    PEWARTAnews.com -- Perubahan sosial merupakan gejala umum yang terjadi di setiap masyarakat di manapun juga. Perubahan sosial juga merupakan gejala sosial yang terjadi sepanjang masa, tidak ada masyarakat di dunia ini yang tidak mengalami perubahan. Perubahan terjadi sesuai hakikat dan sifat dasar manusia itu sendiri. Karena sifat manusia yang selalu aktif, kreatif, inovatif, agresif, selalu berkembang dan responsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sosial.

    Perubahan sosial yang kini dialami manusia sering disebut dengan era modernisasi. Secara umum modernisasi adalah proses menjadi masyarakat modern, perubahan dari tradisional menjadi masyarakat modern. Di era modernisasi tidak bisa lepas dari adanya westernisasi, di mana segala bentuk gaya hidup mengikuti atau meniru bangsa Barat. Mulai dari gaya hidup, gaya berpakaian, konsumerisme dan glamorisme, dan lain-lain. (Suharni, 2015).

    Perubahan gaya berpakaian mahasiswa misalnya nilai-nilai atau cara berpakaian yang lama tidak sesuai dengan zaman, hilang dan diganti dengan nilai-nilai atau cara berpakaian baru. Nilai tradisional diganti dengan modern, salah satunya contohnya adalah batik. Sekarang ini batik mulai tergeser posisinya akibat adanya kebudayaan luar yang lebih menarik. Bahkan batik dianggap sebagai sesuatu hal yang kuno, norak, bahkan ketinggalan zaman dan tidak layak untuk diikuti lagi.

    Sebagian besar mahasiswa sekarang ini berubah gaya berpakaiannya mengikuti era modernisasi di mana pada era ini gaya berpakaian cenderung mengikuti orang Barat. Mulai dari cara berpakaian mahasiswi yang bermewah-mewahan, memakai make-up kebarat-baratan seperti soflents, blush on, eye liner, mascara, dan lain-lain. Selain mahasiswi juga terjadi pada mahasiswa, sepeti style rambut kepirang-pirangan, celana sobek-sobek, dan lain-lain. Hal itu termasuk gaya hidup orang Barat yang ditiru oleh sebagian besar mahasiswa sekarang ini.

    Perubahan gaya berpakaian mahasiswa biasanya terlihat ketika masih menjadi mahasiswa baru, awalnya pakaian cenderung sederhana, tetapi setelah waktu perkuliahan berjalan satu semester banyak terjadi perubahan pada mahasiswa secara drastis. Perubahan yang terjadi pada mahasiswa tersebut berdasarkan pada modernisasi saat ini (Inkeles dalam Weiner, 1976).

    Modernisasi dan perubahan sosial merupakan dua hal yang saling berkaitan. Modernisasi pada hakikatnya mencakup bidang-bidang di mana yang akan diutamakan oleh masyarakat tergantung dari kebijakan pengasa yang memimpin masyarakat tersebut. Di mana teori modernisasi muncul pada pasca perang dunia kedua. Asumsi dasar teori modernisasi mencakup:
    (1) Bertolak dari dua kutub dikotomis yaitu antara masyarakat modern dan masyarakat tradisional; (2) Peranan Negara-negara maju sangat dominan dan dianggap positif, yaitu dengan menularkan nilai-nilai modern di samping memberikan bantuan modal dan teknologi (Budiman dalam Frank, 1984).

    Teori modernisasi yang merupakan sumbangan dari Daniel Lerner (1958), Neil Smelser (1959), Everett Hagen (1962), Parsons (1966), Marion Levy (1966), David Apter (1968), dan Eisenstadt (1973). Teori ini berasumsi:
    Pertama, Perubahan adalah unilier. Karena itu masyarakat yang kurang maju harus mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh masyarakat yang lebih maju, mengikuti langkah yang sama, atau berdiri lebih rendah di eskalator yang sama.

    Kedua, Proses perubahan melalui tahapan-tahapan berurutan dan tak satu tahap pun dapat dilompati, misalnya: tradisional-tradisional-modern; tradisional-mencapai syarat tinggal landas-tinggal landas untuk tumbuh terus-dewas-mencapai tingkat konsumsi massa.

    Ketiga, Mengajarkan progresivisme, keyakinan bahwa proses modernisasi menciptakan perbaikan kehidupan sosial universal, dan meningkatkan taraf hidup (Sztompka, 2004).

    Teori modernisasi ini berupa kemampuan yang semakin besar untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, berkembangnya kemajuan, bebas dari kekuasaan tradisional, terbuka dengan hal-hal baru, dan beraspirasi tinggi. Baik dalam hal sosial, budaya dan pengetahuan. Oleh karena itu, dengan adanya pengaruh modernisasi terhadap cara berpakaian mahasiswa yang sudah sebagian besar mahasiswi saat ini mengalaminya. Perlunya diri masing-masing untuk bisa terus menyaring segala bentuk perkembangan dan perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita, setidaknya kita terutama mahasiswa tentunya pemuda harus tetap membudayakan kebudayaan tradisional misalnya batik. Karena corak batik sekarang ini tidak juga ketinggalan zaman dengan adanya motif batik modern yang sangat menarik jika dipakai oleh berbagai kalangan dari orangtua bahkan anak muda di zaman modern saat ini.


    Penulis: Sonia Okta Alfira
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

    Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, dan Akhlaqul Karimah

    PEWARTAnews.com -- Ilmu amaliah, amal ilmiah, dan akhlaqul karimah sangatlah penting dalam kehidupan kita. Karena ketiga hal ini sangat diperlukan untuk kehidupan manusia di atas bumi, sehingga bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak bisa hanya fokus pada satu atau dua hal saja. Kita memerlukan ketiganya, karena ketiganya saling melengkapi dan mensupport, sehingga hidup kita relatif menuju sempurna, sesuai dengan fitrahnya.

    Kita hidup dunia ini untuk survaif dan bahagia, tidak bisa lepas dari ilmu. Tanpa ilmu kita sebagai insan tidak berarti dan tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ditegaskan juga oleh Rosulullah, bahwa barang siapa yang menghendaki (sukses/bahagia) dunia maka dengan dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki (bahagia) akhirat, maka dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki (sukses/bahagia) keduanya, maka dengan ilmu juga. Karena itu ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam kehidupan manusia. Bahkan Allah swt mengangkat derajatnya sejajar dengan orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah swt (QS Al Mujadilah:11), yang berbunyi  “yarfa’illaahul ladziina aamanuu minkum walladziina uutul’ilma darajaat, yang artinya Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Tetapi mengapa ada orang yang berilmu, sudah meraih gelar sarjana, master, bahkan doktor juga tidak bisa sukses hidupnya di dunia, bahkan menganggur. Inilah suatu persoalan yang patut ditelusuri. Jangan-jangan waktu menuntut ilmu niatnya salah dan usahanya kurang sungguh-sungguh.

    Begitu pentingnya ilmu, firman pertama dari Allah swt untuk Rasulullah saw mengandung pesan dan misi pentingnya menuntut ilmu. Bakan Rasulullah saw melalui sabdanya “Thalabul ‘ilmi fariidzatun ‘alaa kullio muslimin wa muslimatin”, yang artinya “Menuntut ilmu diwajibakan bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan (HR Ibnu Majjah). Bahkan begitu pentingnya, beliau berabda lagi, “uithlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”, yang artinya “Tuntutlah ilmu dari buaian ibu dampai ke liang lahat” (Mahfudzat). Hal ini menggambarkan bertap menuntuk ilmu wajib begi menjaga kehidupan. Memang belajar atau menuntut ilmu di sini tidak seharusnya dibatasi pada belajar akademik, melaionkan belajar kehidupan. Karena itu belajar atau menuntut ilmu bukan hanya meningkatkan pengetahuan, melainkan juga keterampilan, dan yang lebih penting adalah mendewasakan dan mematngkan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Yang semuanya itu sifatnya integratif.

    Ilmu yang kita pelajari dan kuasai tidaklah semata-mata untuk membuat kita pintar saja, melainkan ilmu yang kita pelajari baru berarti banyak, jika ilmu itu diamalkan untuk bisa memperbaiki kehidupan klita sendiri dan bermanfaat bagi kebaikan orang lain. Rasulullah bersabda , “Al ‘ilmu bilaa ‘amalin kasy syajari bilaa tsamarin”, yang artinya “Bahwa ilmu itu bila tidak diamalkan, sama saja dengan pohon yang tiada berbuah” (Mahfudzot). Ilmu yang sedikit akan segera musnah jika tidak diamalkan, sebaliknya ilmu banyak akan menjadi beban jika tidak diamalkan. Bahkan bisa diumpamakan, seekor keledai yang mengangkut banyak kitab, hanya menjadi beban, karena tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi keledai.

    Amal yang kita lakukan setiap hari, apakah terkait dengan ibadah khas maupun ibadah aam atau kehidupan pada umumnya baru berarti apabila dilandasi dengan ilmu yang jelas. Rasululullah saw bersabda, “Ad diinu huwal ‘aqlu, laa diina liman ‘aqla lahu”, artinya taka da agama bagi yang tak berakal.  Betapa pentingnya dalam amaliah agama itu didasari oleh pengetahuan tentang amaliah itu. Karena itu kita tidak boleh taqlid, ikut-ikutan orang lain beribadah. Setidak-tidaknya ya ittiba’, menjalankan ibadah mengikuti ijtihad para ulama’ dan kita mengetahui dalil naqlinya. Idealnya kita bisa berijtihad sendiri. Karena hasil ijtihad sendiri bila benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala. Namun untuk melakukan ijtihad tidaklah mudah, karena harus menguasai Bahasa Al Qur-an (Bahasa Arab), menguasai asbaabun nuzzul (sejarah turunnya ayat-ayat Al Qur-an), menguasai Asbaabul Wurud (sejarah turunnya Hadits), Mengetahui Nasakh Mansukh, dan seterusnya.

    Akhlaq merupakan akian kita dalam kehidupan sehari yang membuat kita menjadi manusioa yang baik. Perhatikan sabda Rasulullah saw, yaitu “Inna min khiyaarikum ahsanuhum khuluqa”, yang artinya bahwa “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang berakhlaq. Karena itulah Allah swt selain membekali ilmu kepada Rasulullah saw, juga membangkitkan Muhammad di atas bumi, semata-mata untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Saat itu kehidupan kaum Quraisy benar dalam kejahiliyahan, kebodohan dari sisi akhlaq, walaupun dari sisi ilmu dan sastra, mereka sangat unggul. Rasululllah saw hadir benar-benar dimakudkan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju ke alam yang terang benderang, yang penuh cahaya kehidupan dan keislaman. Dengan akhlaq mulia (akhlaqul karimah), diharapkan kehidupan kitra lebih bermartabat. Kehidupan yang dihiasi dengan dengan akhaq terpuji (akhlaq mahmudah) dan dijauhkan dari akhlaq tercela (akhlaq madzmumah).

    Setelah melakukan penelaahan tentang ilmu, amal, dan akhlaq dalam kehidupan kita, kini di momentum Ramadan, saat yang tepat untuk menyegarkan kembali dan melanjutkan untuk masa-masa berikutnya, dengan meneguhkan ilmu amaliah, amal ilmiah, dan akhlaqul karimah, sehingga maqam kita semakin baik dari waktu ke waktu. Ikhtiar perlu terus dilakukan, walau sekecil apapun, yang penting tetap istiqamah untuk menjaga p[ikiran, sikap, dan perilaku kita untuk tetap di jalan yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah swt. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, bukan golongan orang-orang yang merugi. Sekompleks apapun dunia yang di sekitar kita, sepanjang kita teguh menjaga Iman, Islam dan Ihsan, insya Allah, kita tetap dalam lindungan oleh-Nya. Aamiin.


    Yogyakarta, 14 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pengaruh Pemuda dalam Perubahan Sosial

    PEWARTAnews.com -- Peran mahasiswa yang terwujud dalam gerakan mahasiswa merupakan kegiatan atau aktivitas mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan berorganisasi dan mengasah kepandaian mereka dalam kepemimpinan. Semua itu telah terbukti dalam lembaran sejarah Indonesia. Pemuda merupakan unsur yang menarik dan esensial dalam suatu gerakan perubahan, maka menarik untuk dikaji. Karena di dalam jiwa pemuda terdapat kerelaan berkorban demi cita-cita. Di dalam pemuda terdapat api idealisme yang tidak menuntut balasan, baik berupa uang atau kedudukan. Di dalam pemuda terdapat semangat yang selalu membara. Bersama pemuda kita menentang segala kekuasaan yang sewenang-wenang. Bersama pemuda Indonesia akan ditentukan maju, diam atau tenggelam.

    Pemuda merupakan salah satu komponen dalam masyarakat. Munculnya gerakan baru atau kelompok umur muda sangat erat dengan perubahan sosial. Perubahan tidak selamanya berdampak baik tetapi juga bisa berdampak buruk. Mereka adalah golongan yang mempunyai banyak kesempatan dalam pembentukan individu dalam kehidupan bermasyarakat (Abdillah, 1994). Setiap perilaku masyarakat yang terjadi akan berdampingan dengan dampak baik maupun buruk. Beberapa dampak adanya perubahan sosial antara lain, seperti yang penulis sebutkan dibawah ini.

    Pertama, Perubahan yang diterima masyarakat kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan. Hal ini karena setiap orang memiliki gagasan mengenai perubahan yang mereka anggap baik sehingga perubahan yang terjadi dapat ditafsirkan bermacam-macam, sesuai dengan nilai-nilai sosial yang mereka miliki.

    Kedua, Perubahan mengancam kepentingan pihak yang sudah mapan. Hak istimewa yang diterima dari masyarakat akan berkurang atau menghilang sehingga perubahan dianggapnya akan mengancangkan berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegahnya, setiap perubahan harus dihindari dan ditentang karena tidak sesuai kepentingan kelompok masyarakat tertentu.

    Ketiga, Perubahan dianggap sebagai suatu kemajuan sehingga setiap perubahan harus diikuti tanpa dilihat untung ruginya bagi kehidupan. Perubahan juga dianggap membawa nilai-niali yang modern.

    Keempat, Ketidaktahuan pada perubahan yang terjadi. Hal ini mengakibatkan seseorang ketinggalan informasi tentang perkembangan dunia.

    Kelima, Masa bodoh terhadap perubahan. Hal itu disebabkan berubahan sosial yang terjadi dianggap tidsak akan menimbulkan pengaruh bagi dirinya.

    Keenam, Ketidaksiapan menghadapi perubahan. Pengetahuan dan kemampuan seseorang terbatas, dampak perubahan sosial yang terjadi ia tidak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perybahan yang terjadi.

    Berdasarkan uraian tersebut tentang penjelasan pemuda, perubahan sosial dan dampaknya maka didapat ada 3 indikator menurut Taufik Abdillah dalam “Pemuda dan Perubahan Sosial” dan Budiman dalam “Teori Pembangunan Dunia Ketiga” yang menjadi tolak ukur Pemuda sebagai Agent of Change, sebagai berikut:
    (a) Agent of Change dalam proses kehidupan adalah para individu yang mempunyai kualitas jiwa pikiran atau mentalitas positif dalam proses sosialnya (Budiman, 1995); (b) Pemuda merupakan satu fase dalam kehidupan; (c) Agent of Change ialah pemuda elite. Elite dalam hal ini bukanlah orang yang mempunyai kekayaan yang berlebihan dengan hartanya. Namun orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan hasil drai pendidikan yang dilaui di lembaga pendidikan formal (Budiman, 1995).

    Pemerintah dalam hal ini dituntut untuk menerapkan strategi jitu untuk mengoptimalkan peran anak muda dalam melakukan perubahan yang tidak lain adalah untuk mengangkat keterpurukan bangsa Indonesia, yang menjadi permasalah saat ini tidak sepenuhnya ada pada instrumen yang diberlakukan oleh pemerintah melainkan pada cara pandang atau perspektif kaum muda Indonesia yang masih jauh dari kesan positif, masih banyak kaum muda Indonesia yang mengkritisi kebijakan pemerintah secara anarkis dan terlalu mengedepankan arogansi mungkin hal tersebut bukan hal yang baru ditelinga kita belum lagi menyinggung gaya hidup kaum muda Indonesia yang telah jauh dari jati diri bangsa Indonesia prilaku westernisasi (kebarat-baratan), hendonisme serta sikap materialistik telah menjadi trend di kaum muda Indonesia hal ini tentu akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa dan negara meskipun tidak selamanya dampak globalisasi membawa pengaruh negatif bagi bangsa Indonesia tentunya dalam menyikapi proses globalisasi yang merupakan kelanjutan dari modernisasi perlu kebijaksanaan serta kematangan dalam mengambil kebijakan. Di sisi lain perhatian yang dilakukan pemerintah masih jauh dari kesan memuaskan hal ini dapat kita lihat diberbagai daerah terpencil di Indonesia khususnya wilayah timur Indonesia yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, serta berbagai sarana penunjang lainnya, perhatian penulis mungkin tertuju pada pengembagan intelektual kaum muda Indonesia yang masih sangat minim padahal pendidikan merupakan syarat penting yang harus dimiliki oleh kaum muda Indonesia dalam membangun bangsa dan negara yang maju (Amin, 2016).

    Pemerintah disibukkan dengan pembanguan fisik dan melupakan pembangunan mental masyarakatnya. Bukankah sudah jelas dalam naskah W.R Supratman dalam lirik lagu Indonesia Raya telah mengumandangakan konsep pembangunan “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya”. Artinya negara harus berfikir tentang pembangunan pola kehidupan dan mentalitas masyarakat mempersiapkan diri menghadapi kemajuan sebagai skala prioritas utama, selain menggencarkan pembangunan gedung dan jalan raya. Dengan demikian kjadi kesimpulannya adalah peran pemuda sebagai agent of change menjadi kecil dampaknya jika tidak dibarengi dengan dukungan fasilitas pembangunan mental dari pemerintah. Di akhir tulisan ini mungkin kita bisa belajar dari semboyan yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Toludo Ing Madyo Mangungkarso Tut Wuri Handayani, yang berarti pemuda harus berada pada barisan paling depan dalam melakukan perubahan sosial sebagai penggerak atau kreator perubahan, memaknai lebih jauh semboyan ini ada keharusan sikap tumpang tindih dan semangat berjiabaku dalam mengupayakan cita-cita mulia bangsa Indonesia. Jika semboyan ini di reaktualisasi niscaya masalah atau bahkan tantangan sesulit apapun akan mudah diatasi oleh kaum muda Indonesia (Amin, 2016).


    Penulis: Rizki Kurniasih
    Mahasiswa Sosiologi 4A UIN Walisongo Semarang - NIM: 1706026110

    Membangun Entrepreneurial University

    PEWARTAnews.com -- Di Era Revolusi Industri 4.0, perubahan sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah cepat, yang analog dengan deret ukur, sementara itu perkembangan dan kemajuan pendidikan analog dengan deret hitung. Kini yang dihasilkan universitas tidak hanya masyarakat pengetahuan (knowledge society), melainkan juga masyarakat inovasi (innovation society). Oleh karena itu orientasi universitas seharusnya tidak lagi cukup dengan teaching university dan research university, melainkan juga entrepreneurial university. Universitas dewasa ini tidak cukup dengan mengorientasikan programnya untuk merespom ekonomi pengetahuan, melainkan juga harus merubah program, kurikulum, dan pendekatannya untuk mengatasi tantangan nasional dan global yang lebih entreprenial.

    Ramjugernath (Karen Macgregor, 2015) mengemukan ada 6 komponen penting dalam membangun entrepreneurial university, (1) kepemimpinan dan pengelolaan (leadership and governance), (2)  Insentif (incentives), (3) pembelajaran (teaching and learning), (4) budaya kewirausahaan (a culture of entrepreneurship), (5) hubungan dan kemitraan (relationship and partnership), and (6) internasionalisasi (internationalization). Pertama, kepemimpinan dan pengelolaan, artinya bahwa inovasi dan kewirausaan selama ini hanya sebagai wacana,  menjadi bagian yang tak terpisahkan di semua unit kepemimpinan dan pengelolaan. Menjadi bagian penting dari program studi, departemen, fakultas, unit-unit pendukung lainnya serta universitas. Mereka semua berkepentingan untuk menggerakkan semangat inovasi dan enterprenership.

    Kedua, insentif. Dewasa ini kinerja universitas diukur konerjanya berdasarkan produk riset yang didiseminasikan lewat artikel, baik pada jurnal maupun pertemuan ilmiah. Yang seharusnya dilakukan universitas selain itu adalah memberikan insentif terhadap inovasi dan perilaku entrepreneul. dan Demikian juga perlu tersedia dukungan anggaran dan sumber daya lainnya untuk pemberian insentif terhadap inovasi dan perilaku entrepreneul. Program dan upaya inovasi dan pengembangan perilaku entrepreneul bisa dibuat dengan jangka pendek, menengah dan panjang. Untuk investasi jangka pendek, insentif perlu disiapkan terlebih dahulu sehingga bisa dirasakan cepat dampaknya. Sedangkan untuk invenstasi jangka menengah dan panjang, inovasi dan perilaku entrepreneul dapat menghasilkan keuntungan yang sebagiannya dapaty dimanfaatkan untuk insentif.

    Ketiga,  pembelajaran (teaching and learning). Kita harus mengembangkan mindset dan keterampilan entrepreneul. Kita sudah seharusnya menggunakan pendekatan yang inovatif. Karena itu kita tidak lagi hanya learning by doing, but also learning by making. Pembelajaran harus lebih inovatif dan lebih entrepreneul. Pembelajaran inovatif dan entrepreneual perlu berkolaborasi dengan berbagai stakeholders, sehingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori yang cukup, melainkan juga praktek yang relevan. Lebih baik  jika ada dosen atau teaga kependidikan yang memang terjun dalam dunia entrepreneul, sehingga benar-benar menghayati dan bisa sharing pengalaman nyatanya.

    Keempat, budaya kewirausahaan (a culture of entrepreneurship). Universitas harus membangun kesadaran pentingnya entrepreneurship, mendorong secara aktif individu-invidu untuk menjadi entrepreneur, memberikan kesempatan pengalaman entrepreneurship, mendorong untuk bergerak dari ide ke aksi dan implementasi. Seharusnya juga dada mentoring dari akademisi dan praktisi dari industry dan dunia usaha. Semua universitas seharusnya memiliki departemen sain, teknologi dan inovasi dan fasilitas inkubasi bisnis yang mensupport berbagai usaha dengan berbagai cara sampai ke pemasaran.

    Kelima,  hubungan dan kemitraan (relationship and partnership). Hubungan stakeholders dan kemitraan bisnis strategic adalah kunci untukn menggerakkan inovasi dan kewirausahaan. Universiotas seharusnya berkomitmen untuk kolaborasi dan pertukaran pengetahiuan dengan industry, masyarakat, dan sektor public  serta kemitraan dan hubungan dengan seluruh rentangan para stakeholders. Harius ada hubungan yang kuat dan pertukaran dinamis dengan incubator bisni, sain pakrs dan inisiatif lainnya yang berkaitan dengan innovasi dan kewirausahaan, dan aktivitas entreprenial yang meibatkan staf dan mahasiswa dengan industry dan bisnis. Sehjarusnya ada mobilitas dosen, mahasiswa, pemerintah, dan persoanlia industry denagn aktivitas yang terkait dengan ekosistem pengetahuan.

    Keenam,  internasionalisasi (internationalization). Internasionalisasi merupakan aspek kunci  strategi entrepreneruship universitas, yang mencakup mobilitas internasiopnal mahasiswa, dosen, dan staf; menarik staf internasional dan entrepreneurship; mendemontrasikan internasionalisasi yang terkait dengan pengajaran dan berpartisipasi dan jaringan internasional. Tanpa internasionalsasi, kita tidak dapat mendorong agenda inovasi dan entrepreneurship. Adalah penting universitas memiliki program mobilitas, yang tidak hanya pertukaran mahasiswa dan dosen, melainkan juga pertukaran tenaga kependidikan serta pertukaran budaya.

    Dengan menggelorakan semangat inovasi dan entrepreneurship pada universitas untuk menghadapi tantangan sosio-ekonomik, universitas seyogyanya mampu mengatasi pengangguran, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi rendah dan kesenjangan penghasilan. Untuk mensukseskan bangunan universitas entrepreneurial, kiranya universitas perlu memasukkan spirit inovasi dan kewirausahaan dalam pembelajaran, kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat.  Disamping seluruh sivitas akademika yang perlu tertlibat langsung atau tidak langsung,  para stakeholders dengan berbagai ragam bidang dan keahliannya perlu terlibat juga dalam mengembangkan inovasi dan kewirausahaan.

    Untuk menjadi Entrepreneurial University yang ideal memang tidaklah mudah. Di antara 4700-an universitas di Indonesia, baru segelintir universitas  di Indonesia yang berani mendeklarasikan diri sebagai universitas entrepreneurial. Walaupun belum ideal, secara berangsur-angsur universitas  di Indonesia terus berproses menuju universitas entrepreneurial sesuasi dengan core business-nya masing-masing, baik bidang keteknikan, pertanian, eklonomi, pendidikan, seni, dan sebagainya.


    Yogyakarta, 13 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Gelar Sarasehan, F-KAMMAI Ajak Santri Jadi Solusi Kemelut Bangsa

    Suasana saat sarasehan berlangsung.
    Sumenep, PEWARTAnews.com -- Forum Komunikasi Mahasiswa Mathali’ul Anwar Indonesia (F-KAMMAI) mengadakan kegiatan Sarasehan Santri dengan tema “Santri, Ayo Jadi Solusi” yang bertempat di Graha STKIP PGRI Sumenep pada hari Senin, 10 Juni 2019. Agenda ini menghadirkan dua pemateri kunci yakni Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Bantul KH. Kuswaidi Syafi’i (Cak Kus) dan Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep Madura Dr. Fathurrosyid, M.Th.I.

    Agenda yang cukup meriah, hampir seratus peserta yang hadir memadati acara ini, yang terdiri dari santri, mahasiswa dan masyarakat umum.

    Tampak hadir Ketua Umum dan Sekretaris IKAMA (Ikatan Alumni Mathali’ul Anwar) dan Keluarga Pengasuh PP. Pesantren Mathali’ul Anwar, Gus Saifa Ibadilah (Gus Ibad).

    Terkait kegiatan tersebut, Gus Ibad mengapresiasi acara Sarasehan Santri ini yang konsep acaranya sederhana tapi mempunyai kesan mendalam.

    Acara ini dilatarbelakangi oleh pembacaan teman-teman F-KAMMAI diseluruh Indonesia terhadap fenomena Kebangsaan kita yang tiap hari disuguhi Konflik. “Ditengah gejolak kebangsaan yang sampai mengakibatkan perpecahan dan pertengkaran. Maka santri harus hadir dan menjadi solusi," kata Ketua Panitia Ainun Najib Taqi dalam sambutannya.

    Lanjut Najib, santri seharusnya jadi solusi dari kemelut bangsa yang terjadi akhir-akhir ini. "Saya akui itu memang sulit tapi kalau kita bergerak bersama-sama maka itu akan terasa mudah, maka saya tekankan kepada kita semua sebagai santri, ayo jadi solusi,” ajaknya.

    KH. Kuswaidi Syafi’i sebagai Pemateri pertama mengatakan bahwa sebelum kita hadir menjadi solusi atas kemelut bangsa, terlebih dahulu kita semestinya bisa menjadi solusi atas diri sendiri. “Sebelum santri menjadi solusi bagi orang lain, bangsa dan negara. Terlebih dahulu dia harus mampu menjadi solusi bagi diri dia sendiri. Bagaimana dia mampu menjadi solusi bagi bangsa dan negara kalau terhadap diri dia sendiri tidak mampu menjadi solusi," ujar Kyai yang dikenal luas dengan sebutan Cak Kus itu.

    Sementara saat tampil pemateri kedua dalam menyampaikan materinya Dr. Fathurrosyid M.Th.I mengatakan bahwasannya seorang santri harus kuat nulis, agar gagasan-gagasan brilian yang dihasilkan santri bisa menjadi solusi bagi masyarakat maupun bangsa dan negara. “Yang harus dilakukan oleh seorang santri agar dia menjadi sosok yang solutif, Santri harus menciptakan peradaban teks, dalam artian santri punya karya yang mampu menjadi rujukan ummat disemua bidang," tutupnya. (PEWARTAnews)

    Syarat Berhasilnya Menuntut Ilmu

    PEWARTAnews.com -- “Alaa laatanaalul ‘ilma illaa bisittatin, saunbika ‘an majmu’ihaa bibayanin. Dzukaain wakhirshin washthibaarin wabulghatin, wairsyaadzi ustaadzin wathuuli zamaanin”.

    Ilmu adalah cahaya (Al ‘ilmu Nuurun) yang sangat diperlukan setiap individu dalam mengarungi kehidupan. Karena itulah menjadi wajib bagi setiap muslim pria dan muslim wanita, dengan kata lain bahwa menuntut ilmu bukan pilihan. Walaupun kewajiban, seharusnya menuntut ilmu tidak sekedar formalit├ás, melainkan harus berhasil. Untuk berhasilnya menuntut ilmu ada sejumlah sarat.

    Berdasarkan buku Alala Tanalul ‘Ilma yang diterbitkan dari Ponpes Lirboyo Kediri, bahkan materi ini juga masuk dalam buku Ta’limul Muta’allim, ada enam sarat untuk berhasilnya menuntut ilmu, di antaranya: kecerdasan, motivasi,  kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama. Pertama, kecerdasan, yang dimaksudkan di sini bukan berarti setiap individu harus ber-IQ tinggi, tetapi kemampuan yang ada harus diasah secara kontinyu, sehingga bisa tampil dan berprestasi secara optimal. Ber-IQ tinggi tetapi tidak pernah dijaga, jadinya potensi unggul menjadi tumpul.

    Kedua, motivasi, motivasi sangatlah penting untuk belajar ilmu agama, karena itu jika tindakan sungguh-sungguh, maka tidak mendapatkan apa-apa. Motivasi sebagai faktor non intelektual telah terbukti memberikan kontribusi cukup besar terhadap kebehasilan menuntut ilmu.  Dalam bahasa McLelland, need of achievement sangat penting untuk keberhasilan studi. Pada prakteknys bahwa ada beberapa kasus yang dapat dijumpai bahwa individu yang cerdas tidak didukung dengan komitmen akan tugas yang tinggi, maka akhirnya menjadi DO.

    Ketiga, kesabaran, selama menuntut ilmu biasanya dijumpai berbagai ujian dan hambatan. Terlebih-lebih belajar ilmu agama yang tidak hanya untuk menghadapi ilmu saja, tetapi harus mengamalkannya. Untuk itulah dibutuhkan kesabaran selama menuntut ilmu. Jika tidak ada kesabaran, maka diduga keberhasilan hanya menjadi impian. Kita sering mengetahui, bahwa individu yang tidak siap menghadapi koreksi terhadap draft tugasnya, cenderung menjadi frustasi. Padahal dengan sabar dalam menghadapi koreksi dan kritik dapat betujung dengan akhir yang baik, sukses.

    Keempat, biaya, bahwa biaya untuk menuntut ilmu itu memang diperlukan. Namun biaya tinggi bukanlah Janina’s untuk sukses. Memang biaya yang tiggi dapat memenuhi segala kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud bukanlah tergantung pada tingginya biaya, tetapi adanya biaya yang dapat mencukupi kebutuhan secara minimal. Biaya menuntut ilmu memang kini tidak tergantung pada diri sendiri atau orangtua/wali, boleh jadi biaya bisa dari beasiswa. Yang penting ada dana yang tersedia secara minimal untuk kesuksesan menuntut ilmu.

    Kelima, bimbingan guru. Bimbingan dan petunjuk guru dalam menuntut ilmu itu penting sekali. Dalam belajar ilmu agama harus jelas sanadnya. Untuk menjadikan ilmu yang kita pelajari itu bermanfaat dan barakah, maka harus jelas kebenaran substansi yang dipelajari. Dalam kondisi seperti ini bimbingan dan petunjuk guru sangat penting. Karena ini sebagai guru/ustadz/kiai yang ingin menjamin ilmunya berkah, hampir tidak pernah lupa kiai itu berdoa untuk santrinya. Betapa mulia ilmu yang ada di santri/muridnya. Jika belajar ilmu tanpa bimbingan guru, maka secara tidak langsung dapat bimbingan dari pihak lain yang membuat ilmunya bisa menyesatkan. Karena syaitan tidak suka manusia itu belajar agama secara benar. Sungguh berarti bimbingan atau petunjuk guru. Dalam konteks ilmu umum, posisi sanad penyampai ilmu dari Rasulullah sampai penuntut ilmu. Dalam konteks ilmu posisi sanad dapat digantikan dengan sistem pengutipan untuk menghindari praktek plagiarisme.

    Keenam, waktu yang lama. Untuk sukses menuntut ilmu sangat dibutuhkan waktu yang lama.  Bukanlah dengan cara instan. Bahkan ada salah satu ciri pekerjaan profesional yaitu dibutuhkan waktu yang lama studinya. Waktu yang lama bukanlah sekedar formalitas, tetapi waktu yang digunakan untuk belajar dengan sungguh-sungguh yang tidak hanya belajar bidang akademik, melainkan juga belajar kehidupan.

    Keenam sarat untuk sukses menuntut ilmu ini awalnya dimaksudkan untuk ilmu agama, namun pada hakekatnya bisa bermanfaat untuk belajar ilmu umum. Menurut hemat saya semuanya sangat dibutuhkan juga untuk menuntut ilmu umum. Walaupun untuk konteks sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa pembelajar perlu mengusai kompetensi Abad-21, tanpa memandang bidang keilmuannya.


    Yogyakarta, 6 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Ama Rasa

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Ama rasa adalah julukan yang diberikan kepada seseorang yang memimpin suatu desa. Julukan ini biasanya dikenal di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Melirik pemaknaan dalam bahasa Indonesia, ama rasa merupakan kepala desa. Kalau berbicara kepala berarti seseorang yang menjadi tuta (kepala) bagi setiap orang yang ada di desa tersebut. Kepala bagi anak kecil sampai orang tua, kepala bagi makhluk yang melata sampai yang terbang. Kepala bagi semua makhluk di bumi sampai yang menggantungkan hidupnya di langit, dan kepala untuk semua urusan dunia maupun akhirat.

    Ada beberapa komponen yang harus kita penuhi dalam memahami 'ama rasa' atau kepala desa. Pertama, Kompleksitas makna dari kata 'ama rasa'. Kedua, Apa dan siapa saja yang akan dipimpin oleh 'ama rasa'. Ketiga, Syarat supaya dikatakan sebagai 'ama rasa'. Keempat, Tugas dan fungsi dari 'ama rasa'.

    Ama rasa terdiri dari dua kata yaitu kata ama dan rasa. Ama dalam bahasa Indonesia adalah bapak sedangkan rasa adalah desa. Kenapa dikatakan ama, dan kenapa desa dikatakan rasa. Bukankah dalam bahasa Indonesia ada kata rasa, yang dimana rasa itu berkaitan dengan perasaan. Kenapa bisa begitu. Tentu hal ini tidak serta merta terjadi begitu saja tampa ada alasan historis dan filofis yang mendalam.

    Mari menjelajah bersama. Tulisan selanjutknya kita akan coba untuk menela'ah lebih jauh dari beberapa komponen di atas. Kenapa kita harus bangun suatu pondasi dan syarat dalam memahami 'ama rasa', Supaya kita semua tidak merasa pantas untuk memimpin. Kalau kita tidak merasa pantas untuk memimpin maka akan berlaku rumus untuk memantaskan diri terlebih dahulu (pantas menurut orang lain, bukan layak menurut diri sendiri).

    Bersambung.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum / Pemuda Pemerhati Daerah

    Jombang untuk Indonesia dan Dunia

    PEWARTAnews.com -- Jombang adalah nama kota kecil terletak di wilayah Jawa Timur, merupakan batas barat Lokasi Kerajaan Mojopahit, salah satu kerajaan besar jauh sebelumnya Republik Indonesia merdeka, sekitar 80 km sebelah barat kota Surabaya. Nama Jombang merupakan gabungan Ijo (Hijau) dan Abang (Merah). Ijo (Hijau) menggambarkan religiusitas/Islam, sedangkan Merah menggambarkan abangan/nasionalis. Karena itu tokoh dari Jombang selalu berjuang berdasarkan bidang masing-masing-masing memadukan orientasi religiusme dan nasionalisme. Jombang ditakdirkan Allah sebagai tempat lahir, hidup, dan makam 3 pahlawan dan beberapa tokoh yang berkontribusi dari Jombang, untuk Indonesia dan Dunia dalam beberapa aspek kehidupan.

    Sejumlah orang yang dikenal oleh publik, (1) KH Hasyim Asy’ari, (2) KH Abdul Wahab Hasbullah, (3) KH Abd Wahid Hasyim, (4) KH Abdurahman.aaaa Wahid, (5) Prof. Dr. Nurkholis Madjid, (6) Emha Ainun Najib, dan (7) Gombloh. Penentuan 7 orang yang diambil dari 100-an Tokoh dari Jombang, bidang pahlawan nasional, tokoh sosial dan politik, tokoh tokoh agama-tarekat,, tokoh militer dan polri bukan tanpa alasan. Yang jelas 7 tokoh ini relatif merepresentasikan bidangnya masing-masing-masing.

    Pertama, Hadratusy Syaikh KH.Hasyim Asy'ari (April 10, 1871– July 25, 1947), ulama Indonesia, pendiri (mu’ssis) Nahdlatul Ulama (NU), lahir di Jombang, besar di beberapa pesantren di Indonesia, dan di Makkah, sehingga menjadi Ahli Hadits dengan menguasai Kutubus Sittah, yang berhak mendapat gelar Hadratusy Syeikh. Beliau mendirikan dan membesarkan NU, sebagai Rais Akbar. Beliau sebagai pemuka agama nasionalis yang ikut melawan penjajahan Belanda, bahwa fardhu ain bagi santrinya untuk memerangi orang kafir yang menjajah, dan mati syahid dalam peperangan merebut dan pertahankan kemerdekaan. Untuk itu beliau keluarkan fatwa Jihad bersama santri yang berbasis di Ponpes Tebuireng dan Surabaya untuk perjuangkan NKRI. Keberhasilan beliau dalam perjuangkan persatuan nasional. Dikukuhkan sebagai pahlawa sejak tahun 1962. Selain itu melalui NU teguhkan Islam rahmatan lil ‘aalamiin.

    Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dan pengabdiannya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964, Pemerintah RI menganugerahi Kiai Hasyim Asy’ari gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama.

    Kedua, KH Abdul Wahab Hasbullah (lahir di Jombang, 31 Maret 1888 – meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun) adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama. dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” at.q au Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Beliau mendirikan dan membesarkan ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Beliau juga belajar di banyak pesantren di Jawa dan Makkah. Beliau ciptakan Mars NU Yalal Wathan yang belakangan ini semarak dinyanyikan setiap ada event NU di manapun berada. Beliau juga perintis Halal bi Halal di tanah air yang tidak terjadi di negara Islam lainnya. HBH sangat bermanfaat untuk menjaga ukhuwwah (islamiyyah,  wathaniyyah, basariyah).
    Beliau merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu beliau membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.

    Atas jasa beliau untuk bangsa dan negara dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

    Ketiga, KH Abdul Wahid Hasjim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Mohammad Hasyim Asy'ari, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

    Beliau mulai aktif di bidang agama, politik, pendidikan, sosial, dan kemsyarakan. Beliau anggota MIAI, Ketua Masumi, Anggota BPUPKI, PPKI, dan menduduki beberapa Anggota kabinet untuk beberapa kenenterian.   Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden RI No. 206 tahun 1964 tanggal 24 Agustus 1964 menganugerahi KH Abdul Wahid Hasyim gelar Pahlawan Nasional.

    Keempat, KH Abdurahman Wahid
    Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lair nang Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – seda nang Jakarta, 30 Desember 2009 dong umure 69 tahun adalah tokoh Muslim Indonesia dan  pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat mulai pada tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

    Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership. Wahid dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.
    Beliau mendapat penghargaan dari Simon Wiesenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Pada 21 Juli 2010, meskipun telah meninggal, ia memperoleh Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010.

    Kelima, Prof Dr Nurcholis Madjid
    Prof. Dr. Nurcholish Madjid (lahir di Jombang, 17 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 29 Agustus 2005 pada umur 66 tahun) atau populer dipanggil Cak Nur, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. Pada masa mudanya sebagai aktivis & kemudian Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menjadi satu-satunya tokoh yang pernah menjabat sebagai ketua Umum HMI selama dua periode. Ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005.
    Ide dan Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatif) pada sumber ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Alquran dan As-sunnah. Gagasan Cak Nur yang paling kontroversial adalah saat dia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1960-an, sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam.

    Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata meskipun merupakan warga sipil karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara, sebagai penerima Bintang Mahaputra.

    Keenam, Emha Ainun Nadjib
    Muhammad Ainun Nadjibatau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, 27 Mei 1953; umur 66 tahun) adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora patheken". Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menu larkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
    Bulan Maret 2011, Emha memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si penerima memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

    Ketujuh, Gombloh adalah Musikus legendaris Indonesia. (lahir di Jombang, 14 Juli 1948 – meninggal di Surabaya, 9 Januari 1988 pada umur 39 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia dilahirkan dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono di Jombang. Gombloh adalah pencipta lagu balada sejati. Ia bergabung dengan grup beraliran art rock/orchestral rock bernama Lemon Tree's Anno '69, yang musiknya mendapat pengaruh ELP dan Genesis. Kehidupan sehari-hari rakyat kecil banyak digambarkan dalam lagu-lagunya, seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku. Lirik-liriknya puitis dan misterius. Beliau memiliki tema khas yaitu nasionalisme di dalam lagu-lagunya, seperti Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, dan BK, lagu yang bertutur tentang Bung Karno, sang proklamator. Lagunya Kebyar Kebyar banyak dinyanyikan pada masa perjuangan menuntut Reformasi.
    Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Beliau mendapat penghargaan yang berupa  patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI.

    Tokoh-tokoh ini yang kepopulerannya insya Allah tidak diragukan lagi oleh warga dan bangsa Indonesia. Karena beliau-beliau telah tunjukkan dedikasi dan sumbangannya untuk Indonesia berjuang, Indonesia merdeka, Indonesia berkarakter,’Indonesia berilmu dan berperadaban, Indonesia berbudaya, Indonesia maju, Indonesia sejahtera, Indonesia tercerahkan, Indonesia aman dan harmoni.

    Menghadirkan tokoh-tokoh ini, diharapkan bisa menginspirasi semua warga dunia, khususnya warga Jombang dan Indonesia yang ingin meraih sukses dan bermanfaat hidupnya untuk agama, ummat dan kemanusiaan. Tokoh-tokoh lain juga didoakan semoga bisa emban amanah dengan baik, sehingga bisa menjadi teladan bagi semua. Jombang dan kota atau daerah lainnya tidak hanya lahirkan anak manusia yang jauh dari kebaikan, melainkan harus mampu berkontribusi dalam membangun kedamaian dan kesatuan ummat. Atas kesadaran kolektif (collective awareness) kita harus malu mengatasnamakan warga Jombang jika tidak mampu tunjukkan perilaku  beretika yang ramah dan friendly serta kontributif.


    Yogyakarta, 7 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia Yang Hanif

    PEWARTAnews.com -- Menukilkan pesan hikmah dan inspirasi kehidupan dari panutan sekaligus guru saya, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag saat saya mengikuti Kuliah beliau dalam Mata Kuliah Ma’anil Qur’an di IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta beberapa semester yang lalu bahwa redaksi ayat “Rabbana laa tuakhidznaa in nasiinaa au akhta’na mengandung esensi yang sangat dalam. Faktanya, manusia sering berbuat salah dan lupa. Namun, Allah berkenan membesarkan hati manusia seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang diperbuat karena kesalahan atau kelupaan manusia sehingga redaksi ayat tersebut menggunakan "au" bukan "wa" (Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag)

    Dalam ayat lain, pada redaksi fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah/lupa) akan tetapi disisi lain manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al-Qur'an mengatakan manusia dengan ahsanu taqwim yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
    1. Potensi beragama (+)
    2. Potensi akal (+)
    3. Potensi fisik (+)
    4. potensi Nafsu (+ dan -)

    Potensi nafsu memiliki sisi positif dan negatif . Pertama, Muthmainnah yakni nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan berusaha menjadi yang terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dalam hati, diri sendiri maupun orang lain. Demikian halnya, hatinya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan mengingat Allah, maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus termaniestasikan dalam tindakan kongkrit sebagai wujud Ketaqwaan kepada-Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dan lain-lain. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika manusia mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insya Allah hati akan merasa tenang dan nyaman.

    Kedua adalah nafsu Waswasah yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisan nya. Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah lisan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Jika tidak bisa berbicara baik, maka diam lah”. Diam merupakan kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan bersama. Seringkali kekecewaan, permusahan, dengki dan iri hati berawal dari lisan. Maka, sebaik-baik orang adalah yang mampu menjaga dan mengendalikan lisannya.

    Ketiga adalah nafsu Lawwamah yakni Nafsu yang mendorong manusia berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindari nya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsu nya dengan baik.

    Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dari segala aspek dan dimensi nya dengan mengaungrahinya akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia memiliki titik pembeda dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Berbeda dengan manusia yang hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah menuju kehadirat Nya dengan jalan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al-Qur'an.

    Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi. Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman Nya : "wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna" (Qs. Al A’raf ayat 79).

    Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam mengarungi kehidupan. Allah memberikan hati, agar manusia peka terhadap realitas sosial dengan dapat memahami dan merasakan psikologi sesamanya. Dengan mata, manusia mampu melihat karunia dan ciptaan Nya yang luar biasa, lalu menuntunnya untuk terus bersyukur atas ni’mat-Nya.  Dan dengan telinga, agar mampu mendengar jerit tangis kaum mustadh’afin. Dengan telinga pula, manusia seharusnya menjadi insan yang inklusif (menerima kritikan, masukan, maupun curhatan dari sesamanya).

    Seusai bulan Ramadhan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada manusia untuk berzakat. Mensucikan diri dari segala kotoran baik dzahir maupun batin. Serta mengasah kepedulian terhadap sesama dengan menyantuni fakir miskin, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama makhluk Tuhan, tanpa terkecuali.

    Dengan demikian, mari kembalikan diri kepada Fitrah-nya yang suci nan hanif untuk menuju insan paripurna dengan melepas segala hal yang membelenggu dalam hati, jiwa dan akal pikiran. Harus disadari bahwa seperti apapun manusia, tentu pernah berbuat salah dan khilaf kepada sesama makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sehingga harus saling memohon maaf dan memaafkan. Kerena kedua hal tersebut merupakan wujud kasih sayang dan manifestasi hati yang mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, dengan terus berupaya untuk sadar bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa. Sebagaimana innal insana mahaalul khata'i wa nisyan. Tak lain karena manusia ialah human being.

    Akhirnya, saya harus mengatakan “Mukaromah yang belum berkeluarga, pasti banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan, entah yang sirr/pun jahr (disengaja/tidak), dengan kerendahan hati, jiwa dan pikiran, saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya dzahir maupun bathin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 2019, kita saling mendoakan yang terbaik. Semoga rahmat, kasih sayang, hidayah dan maghfirah-Nya senantiasa menyelimuti kita, serta dipermudah segala hal baik urusan dunia maupun akhirat dan pada akhirnya husnul khatimah segalanya. Tolong jangan sampai salah sebut ya, Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Bukan Mohon Nafkah lahir Batin. Hehehe.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Indahnya Silaturahim

    PEWARTAnews.com -- Silaturahim  pada hakekatnya merupakan tindakan yang menjadi bagian penting dari kesempurnaan orang beriman dan berislam. Karena tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak pernah melakukan atau membiasakan silaturahim. Memang silaturahim hadir tidak boleh semata-mata karena diwajibkan Allah swt, melainkan harus menjadi kebutuhan kita dalam berhikmat kepada Allah swt. Begitu indahnya silaturahim bagi ummat Islam.

    Berbagai fenomena silaturahim yang biasa terjadi dalam kehidupan kita. Berkunjung dan sowan ke orangtua, bertamu ke rumah kerabat, kumpul-kumpul semua anggota keluarga besar, dan sebagainya. Sulaturahim tidak hanya memiliki landasan dalil naqli, melainkan juga dalil aqli. Silaturahim pada hakekatnya suatu aktivitas yang indah dan memiliki banyak keutamaan.

    Pertama, silaturahim dapat memperkuat keimanan dan keislaman kita. Allah SWT berfirman: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21). Silaturahmi sebagai wujud keimanan, dan menjaganya adalah wujud ketaqwaan kepada Allah, seperti juga sabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”. Atas dasar inilah, maka Silaturahmi itu indah sekali dalam mewarnai kehidupan. (HR Bukhary dan Muslim)

    Kedua, silaturahim dapat memperpanjang umur dan meluaskan rizqi. Orang yang suka mengunjungi sanak saudaranya serta menjalin silaturhami akan dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya. Sebagaimana hadist Rasullullah SAW yang artinya  berbunyi “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Ketiga, silaturahim bisa menyebabkan masuk syurga dan menjauhkan dari neraka. Rasulullah Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi saw bersabda : “Engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim). Balasan orang yang menyambung tali silaturahmi adalah didekatkan dengan surga dan dijauhkan dari api neraka. Ini artinya bahwa silaturahim memiliki nilai porspektif dan tembus waktu kehidupan.

    Keempat, silaturahim merupakan bentuk ketaatan kepada Allah swt. Allah swt berfirman: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21).  Menyambung tali silaturahmi adalah salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah SWT maka dengan menjalankan perintahnya maka kita taat kepada Allah SWT. Menjalin silaturahmi juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak terpuji. Betapa berharganya nilai silaturahim di mata Allah swt.

    Kelima, pahalanya seperti memerdekakan budak. Sebuah hadist meriwayatkan bahwa dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.”

    Keenam. Bersedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain. Rasulullah saw mendefinisikan silaturahim sbb: “Laysa al-muwashil bil mukafi walakin al-muwashil an tashila man qatha’aka”, yang artinya: “Bukanlah yang bersilaturahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambungkan apa yang putus” (HR Bukhari). Mengunjungi sanak saudara dan bersedekah adalah salah satu perbuatan mulia dan memiliki faedah yang besar. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan daripada bersedekah kepada orang lain dan bisa menghindari dari perbuatan riya. Bersedekah kepada keluarga dan orang lain kemudian menceritakannya atau riya adalah salah satu dari hal-hal yang menghapus amal ibadah sedekah tersebut.

    Ketujuh, silaturahim dapat menambah kekuatan dan kesatuan Islam. Firman Allah swt “Berpeganglah dengan tali Allah secara menyeluruh dan janganlah bercerai berai...” (QS, Ali Imran:3). Dalam kacamata Islam, Rasulullah saw sering kali menyuruh umat Islam untuk saling bersatu agar tidak bercerai berai. Tentu saja efek silaturahim kekuatan umat Islam bisa bersatu dan saling membahu. Andai umat Islam hidup individualistis dan tidak saling membantu, maka umat Islam bisa bercerai berai dan kesatuan Islam akan terancam. Untuk itu dibutuhkan saling bersilaturahim.

    Sungguh indah kehidupan ini jika kita memuliakan Allah SWT dan memuliakan sesama umat manusia, nikmat yang luar biasa bisa kita peroleh dengan menguatkan ikatan silaturahim. Silaturahim yang paling utama adalah kepada kedua orang tua kita terlebih dahulu, kemudian kakak dan adik kandung, saudara sepupu, ipar dan juga saudara-saudara yang masih ada garis keturunan.

    Hampir sebagian besar ummat Islam merasakan nikmatnya dan indahnya silaturahim, karena jauh lebih banyak mashlahat dan keutamaan, daripada madharat dan ketidakutamaannya. Jika ke tidakutamaannya itu potensial muncul, di antaranya berbiaya tinggi dan resiko kecelakaannya. Berbiaya tinggi bisa ditekan dengan berbelanja dengan prioritas dan pengeluaran yang terjangkau. Rawan kecelakaan dapat diatasi dengan keharuan-hatian penyediaan transportasi, kehatia-hatian dan sabar di perjalanan. Kendalikan kecepatan, istirahat yang cukup. Dengan demikian bisa berikan jaminan keselamatan. Tentu tak lupa kepada Allah swt untuk keselamatan semuanya.

    Begitu banyak keutamaan yang masih digali dari silaturahim yang menjadi agenda utama kita sejak awal bulan Juni, yang dikuatkan dengan tanggal 5 Juni 2019 yang bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri 1440 H. Kita benar-benar bisa rasakan kebahagiaan dan kesenangan bersama keluarga besar di tempat kelahiran kita dan pasangan kita. Semoga semakin menguatkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita serta diberkahi Allah swt. Aamiin.


    Yogyakarta, 8 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Mengenang TGKH. A. Latief H. Idris dan Pesan Suci untuk Dua Murid Terbaiknya

    PEWARTAnews.com -- Sejak tahun 2014, setelah kami (Mujahidin, S.Pd., M.Pd. dan Samrin, S.Pd., M.Pd.) menyelesaikan studi S1 di Universitas Hamzanwadi Lombok Timur, kami kembali menjadi Guru di SMA Al-Hidayah Kota Bima dan bisa kembali bersama beliau --Tuan Guru Kyai Haji (TGKH.) A. Latief H. Idris-- untuk menjadi Guru untuk murid-murid siswa SMA Al-Hidayah. Selama berada di SMA Al-Hidayah, banyak pesan dan tanggung jawab yang kemudian di titipkan oleh beliau kepada kami berdua, terutama untuk meneruskan perjuangan beliau agar tetap mengkokohkan Nahdatul Ulama (NU) di Bima bersama orang-orang kepercayaan beliau, kamipun memegang erat dan mengemban pesan itu sampai detik ini.

    Setelah satu tahun kemudian kami mengabdi di SMA Al-Hidayah, kamipun meminta ijin kepada beliau untuk melanjutkan Studi S2 di Jakarta dan beliau sangat mendukung rencana kami dengan semangat kami untuk menuntut Ilmu, hingga tahun 2018-2019 Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan Studi kami di Universitas INDRA PRASTA PGRI Jakarta.

    Setelah kami Lulus S2 di UNINDRA PGRI Jakarta, sahabat saya Saudara Samrin memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan bertemu dengan beliau
    TGKH. A. Latief H. Idris untuk bersama beliau, kehadiran muridnya membuat semangat beliau semakin bulat terhadap apa yang direncanakannya kedepan dan beliau menanyakan kabar tentang muridnya yang satu yakni saudara Mujahidin. "Bagaimana kabar muridku yang satunya, Mujahidin?," sebut TGKH. A. Latief H. Idris menanyakan kabar muridnya.

    Samrin menjelaskan kepada beliau, bahwa Mujahidin metitip salam untuk beliau dan menceritakan bahwa muridnya yang satu akan kembali untuk beberapa tahun kedepan. "Ketika saya masih di Jakarta hendak pulang ke Bima, Mujahidin berpesan untuk menyampaikan salam rindu kepada Bapak. Insya Allah dalam beberapa tahun lagi Mujahidin akan balik juga ke Bima untuk sama-sama melanjutkan perjuangan yang diamanahkan bapak," sebut Samrin.

    Sejak tahun 2014, ketika kami masih bersama-sama di SMA Al-Hidayah kami sering duduk bertiga untuk mendengarkan nasehat dari beliau TGKH. A. Latief H. Idris tentang rencana sebuah perjuangan baik yang sudah dilewati oleh beliau maupun segala macam rencana untuk kedepannya.

    Dan nasehat beliau yang penuh dengan tetesan air mata, sangat menggugah semangat kami atas pesan-pesan yang di titipkan kepada kami.

    "Kalian berdua adalah murid kebanggaanku yang akan melanjutkan perjuanganku dengan orang-orang yang saya percayai setelah saya tiada," begitu ucap TGKH. A. Latief H. Idris pada dua murid kesayangannya.

    Selamat jalan Guru Besar kami TGKH. A. Latief H. Idris, jasa-jasamu akan selalu dikenang sepanjang masa.


    Penulis: Mujahidin, S.Pd., M.Pd.
    Murid TGKH. A. Latief H. Idris / Alumni SMA Al-Hidayah Kota Bima

    Ied Mubaarak

    PEWARTAnews.com -- Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil hamdu,

    Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat Allah swt, berupa sehat jasmani dan ruhani serta hidayah Allah, pada hari ini kita semua ummat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri 1440 H bersama seluruh ummat Islam sedunia. Walaupun ada yang jatuh kemarin.

    Pada hakekatnya hari raya Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas godaan nafsu selama Ramadhan. Setelah berhasill mengalahkan godaan nafsu, kita dapat kembali ke fitrah, kembali ke asal kejadian. Yang suci bersih seperti waktu lahir, tiada dosa. Rasulullah saw bersabda, “kullu mauludun yuuladu ‘alal fithrah, fainnamaa yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi”, yang artinya bahwa “Setiap kelahiran itu adalah fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan (anak-anak mereka) Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi." Diharapkan sekali semua anak dari lahir fitrah, selama proses hidupnya direfresh untuk fitrah dan kembali ke rahmatullah kapanpun tetap fitrah, yang disimbolkan dengan kain kafan, berwarna putih.

    Jika kita bisa menjadi salah seorang yang kembali fitrah, berarti kita berhasil menjadi pemenangnya setelah berjihad memerangi hawa nafsi, yang jauh lebih berat daripada memerangi musuh di medan laga. Kita mendapat ampunan dan rahmat-Nya. Dengan begitu kita patut mendapatkan hari raya yang kita tunggu. Ingat bahwa pada dasarnya ada beberapa hari raya.

    Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sahabat Anas bin Malik, bahwa “Bagi seorang mukmin terdapat lima hari raya. Pertama, setiap hari yang berlalu tanpa perbuatan dosa yang dilakukannya. Kedua, hari dimana seseorang meninggalkan dunia fana dengan membawa iman dan persaksian, serta terjaga dari tipu daya syaitan. Ketiga, hari di mana seseorang berhasil melewati shirat, terhindar dari kesusahan di hari kiamat, selamat dari gugatan-gugatan dan tuntutan malaikat Zabaniyah. Keempat, hari di mana seseorang memasuki surga dan selamat dari siksa neraka. Dan kelima, adalah hari di mana seorang bisa menghadap Allah”.

    Jika kita perhatikan Hadits tersebut di atas, bahwa di antara 5 hari raya, selama hidup di di dunia kita hanya bisa merasakan satu hari raya saja, yaitu suatu hari yang berlalu tanpa melakukan perbuatan dosa. Hari ini yang umumnya orang meng-claim sebagai hari raya bisa dibenarkan selama hari ini kita bebas perbuatan dosa. Bahkan kita bisa merasakan hari raya setiap Hari, atau sebanyak hari yang kita bisa bebas dari dosa. Beruntung sekali jika sepanjang tahun kita bisa bebas dari dosa, sehingga kita bisa merasakan terus menerus.

    Selain kita bebas dari dosa, yang kita peroleh dari puasa Ramadhan, kita meningkat taqwanya (QS Al Baqarah:183). Pada ayat ini tertulis TATTAQUUN. Jenis kata yang digunakan adalah kata kerja aktif (ing form). Karena itu taqwa tidaklah sebagai label saja, tapi menuntut tindakan taqwa yang terus menerus. Taqwa harus dijaga dan ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari di manapun dan kapanpun. Perilaku taqwa bisa diwujudkan baik dalam bentuk peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah (hablum minallah) dan muamalah (hablum minannaas).

    Ibadah sebagai media relasi vertikal dan transendental bisa kita lakukan dengan mengikuti hukum syar’i, terutama ibadah khas. Ibadah khas pun tidak selalu otomatis bisa berterima, karena tergantung pada benarnya dan bersihnya niat. Bahkan ibadah aam kuncinya tergantung pada niatnya. Kelihatan tindakan biasa, misalnya meminggirkan di jalan yang diniati mengharapkan ridlo Allah swt. Maka perilaku ini pun punya makna bagi kehidupan kita. Diharapkan sekali untuk masa-masa selanjutnya ibadah kita menjadi meningkat.

    Muamalah adalah sebuah hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri. Dalam hubungan dengan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban. Dalam arti luas muamalah merupakan aturan Allah untuk manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya dalam berinteraksi.

    Bergaul dan berjamaah merupakan kebutuhan kita dalam berjamaah (QSAl Imran:3). Bahkan kita sebagai orang beriman itu bersaudara, harus terus aktif membangun kedamaian (QS Al Hujurat:10). Atas dasar itulah kini dan seterusnya perlu saling memaafkan. Karena manusia itu tempat bersalah dan lupa. Kita harus posisikan ukhuwah di atas kepentingan yang lebih kecil, personal. Dengan demikian, mari momentum saling memaafkan dan upaya rekonsiliasi secara sehat terus kita upayakan baik secara langsung dengan bersalaman melalui anjang sana dan acara halal bihalal, maupun kirim ucapan Ied Mubarak lewat medsos, semoga tidak mengurangi ke bermaknanya.

    Demikian renungan ini dibuat untuk menyapa semua sahabat pembaca yang sedang mudik dan bercengkerama dengan orangtua, kerabat, dan teman-teman main dan sekolah waktu kecil dan remaja. Semoga banyak manfaat yang bisa kita  petik, untuk mengisi dan menjaga fitrah kita. Dengan kita terus bisa meng-update atau me-refresh ibadah dan muamalah, sehingga hidup kita diridloi-Nya. Aamiin.


    Yogyakarta, 5 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Ketua PCNU Kabupaten Bima A. Latief H. Idris Tutup Usia

    Ucapan belasungkawa dari PWNU NTB untuk almarhum Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Bima Drs. KH. A. Latief H. Idris.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bima Drs. KH. A. Latief H. Idris meninggal dunia pada Hari Rabu, 5 Juni 2019 Pukul 07.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA), di Kota Bima.

    Atas meninggalnya beliau, PWNU NTB pun ikut berbela sungkawa. "Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU NTB) turut berbela sungkawa atas wafatnya Drs. TGH. Latief (Ketua PCNU Kabupaten Bima)," bunyi poster ucapan di grup WhatsApp "Halaqoh KBNU NTB" yang dibagikan oleh Tokoh Muda IPNU Lombok rekan Samsul.

    Salahsatu tokoh muda NU Kabupaten Bima Samrin, S.Pd., M.Pd. juga turut mengenang kepergian almarhum. "Innalillahi Wainnailaihiroojiun. Selamat Jalan Ayahnda dan Guru kami Drs. H. A. Latief H. Idris Ketua Dewan Tanfidziah PCNU Kabupaten Bima. Semoga khusnul Khotimah, dan Do'a kami selalu menyertaimu," ucap
    Samrin yang juga kini mengabdi jadi Guru di Yayasan Pendidikan Al-Hidayah MTs Alhidayah Kota Bima ini.

    Samrin saat silaturrahim beberapa waktu lalu ketika kondisi fisik almarhum TGH. Latief sehat walafiat.

    Almarhum merupakan tokoh sentral NU di Kabupaten Bima. Beliau juga sempat menjadi guru dan juga Kepala Sekolah SMA Alihidayah Kota Bima.

    Banyak yang mengenang kepergian almarhum, terutama orang-orang yang pernah menjadi murid beliau. "Innalillahi Wainna Illahi Roziun. Semoga Beliau Khusnul Khotimah. Drs. KH. A. Latif H. Idris, telah berpulang kerahmatullah dihari yang mulia ini sekitar Pukul 07.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA), di Kota Bima. Rabu, 5 Juni 2019, bertepatan dengan Hari ditetapkannya Sholat Idul Fitri, 1 Syawal 1440 H," sebut Mujahidin, S.Pd., M.Pd. yang juga merupakan mantan murid almarhum.

    Lebih lanjut Mujahidin menyebutkan, banyak pelajaran berharga yang telah tergores dari hasil didikan almarhum. "Banyak educasi yang bernilai membangun, yang diwariskan oleh beliau kepada kami sebagai generasi yang dekat dengan beliau. Beliau mengajarkan Kami; (1) Agar menjadi Orang-orang hebat, yang senantiasa menuntun Ilmu, baik untuk dunia maupun akhirat. (2) Agar bisa menjadi contoh teladan yang baik untuk orang lain. (3) Mengajarkan kami tentang cara mendidik dan melakukan pendekatan dengan setiap orang dengan latar belakang karakter apapun dan belajar untuk hidup mandiri," kenang Mujahidin.

    Beliau, kata Mujahidin, adalah orang hebat dan berjasa kepada generasi-generasi, baik yang berada dari Kota Bima maupun Kabupaten Bima. "Terimakasih atas jasa-jasamu, dan do'a kami akan selalu menyertaimu. Saya atas nama murid beliau, mewakili semua teman-teman saya yang pernah berguru kepada beliau, berbangga menjadi murid beliau dan semoga beliau tenang di alam sana. Aamiin. Alfatihah," tambahnya. (PEWARTAnews)

    Keteladanan Umar Bin Khattab

    PEWARTAnews.com -- Umar bin Khattab adalah Khalifah kedua setelah Abu Bakar Ashshidiq. Umar yang semula hidupnya sebagai pimpinan Kafir Quraisy  yang selalu menghalangi dan mengganggu Rasulullah saw dalam syiarkan Islam, akhirnya dengan hidayatullah, Umar bin Khathab menjadi muaalaf. Karena karakter dan sifat kepribadiannya, Umar diterima dengan sangat baik oleh  Rasulullah saw sebagai Sahabat untuk perjuangkan Islam. Bahkan setelah Rasulullah saw wafat, Umar terus ikut mengawal gerak dan siar Islam hingga beliau diamanati sebagai Khalifah kedua, setelah Abu Bakar Ashshidiqi wafat.

    Untuk menghadapi tantangan jaman yang semakin kompleks, kiranya sudah sepatutnyalah berbagai kebaikan yang ada pada Khalifah Umar bin Khattab dapat diteladani, yang di antaranya:

    1) Pemberani
    Umar bin Khattab merupakan sosok yang 
    sangat pemberani. Beliau pemberani menegakkan kebenaran yang diyakini, ketika menjadi salah satu pimpinan Kaum Quraisy, terus menjadi sahabat Rasulullah, hingga sampai pada waktu Umar bin  Khattab menjadi Khalifah. Pada saat menjadi sahabat Rasulullah, syiar dan dakwah Islam menjadi terbuka, tidak sembunyi-sembunyi, bahkan dengan terang-terangan. Dengan demikian diharapkan sekali, semua ummat Islam berani menegakkan kebenaran.

    2) Sederhana
    Umar bin Khottab adalah sosok pemimpin yang memiliki sikap sederhana. Walau beliau sudah menjadi pemimpin,  hidup beliau dan keluarganya masih tetap sederhana. Umar tidak pernah tinggal di sebuah istana, rumah mentereng ataupun gedung yang tinggi, tapi beliau tinggal di sebuah bangunan sederhana dekat masjid, dan lebih sering berada di masjid,  bahkan beliau lebih sering tidur di atas pelepah kurma daripada kasur yang empuk. Atau ketika beliau tidak melebihkan harta rampasan (ghanimah) yang dibagikan diantara kaum muslimin. Beliau benar-benar membatasi penggunaan fasilitas negara.

    3) Adil
    Umar bin Khattab bersikap fair dalam mengawal tugas pemerintahan. Meskipun beliau seorang pemimpin namun beliau tetap adil terhadap rakyat dan keluarganya, jika keluarganya bersalah, beliau tetap menghukumnya sebagaimana jika rakyatnya bersalah. Bahkan terhadap keluarganya yang bersalah diberi hukuman yang lebih berat.
    Jika orang berbicara tentang keadilan yang murni tanpa cacat, orang akan teringat pada keadilan Umar.

    4) Gemar Musyawarah
    Umar bin Khattab adalah sosok pimpinan yang ketika menjabat gemar bermusyawarah. Banyak kita jumpai pada saat sekarang ini para pemimpin yang tidak mau bermusyawarah dengan rakyatnya terkait kebijakan yang hendak dilakukan.

    Beliau adalah sosok yang tidak pernah memposisikan dirinya sebagai seorang penguasa. Akan tetapi, beliau beranggapan bahwasanya memiliki kedudukan yang sama dengan anggota musyawarah lainnya. Beliau tidak pernah merasa paling tahu dan semena-mena. Beliau senantiasa menanamkan perasaan bahwa rakyatnya adalah guru yang akan menunjukkan jalan kebaikan, menyelamatkannya dari kesengsaraan hisab di akhirat kelak.

    5) Membedakan yang haq dan bathil.
    Umar bin Khattab adalah sosok pimpinan yang berani dan bisa bedakan yang iman dan kafir. Membedakan yang haq dan bathil Berjuang hidup dalam kebenaran dan mati dalam kebenaran. Dengan komitmen Umar bin Khattab dalam menegakkan kebenaran, gigih perjuangkan antara yang haq dan yang batil. Dalam kapasitas inilah Umar bin Khattab mendapat julukan Al-Faruuq.

    Dalam kehidupan yang semakin kompleks dewasa ini, baik dalam kehidupan di keluarga, kantor/tempat kerja, maupun masyarakat, kita dapat implementasikan keteladanan Umar bin Khattab. Cara hidup yang baik yang sangat bermanfaat untuk membangun keluarga yang baik, terutama tugas kekhalifahan di manapun berada. Bahkan spirit Umar sangat tepat untuk memberesi praktek KKN secara tuntas di Indonesia yang hingga kini masih menggurita.



    Yogyakarta, 12 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Kecil-Kecil Cabe Rawit

    (Kecerdasan dan keshalehan anak tidak hanya bergantung pada pola dan strategi pendidikan yang diterapkan dalam keluarga, melainkan karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya, Mukaromah, 2019)

    Ada satu hal yang membedakan khataman tadarus kampung tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni pada kiyai yang mengisi mau’idzah hasanah. Biasanya kiyai yang sudah sepuh (tua) atau bapak-bapak, namun tahun ini yang mengisi adalah Kiyai kecil yang masih sangat belia, kelas 5 SD. MasyaAllah, usia memang tergolong sangat muda, tapi tutur kata dan paradigma berpikir sudah melebihi bahkan jauh hebat dan matang dari usianya. Tak henti-hentinya saya menaruh kagum kepada anak-anak semacam ini. Saat menonton Hafiz Indonesia pun juga demikian, sembari berpikir dan terus mencari tahu “sejak kapan, bagaimana dan seperti apa orangtuanya”.

    Karena memang, ketika saya melihat orang hebat, pasti yang pertama saya lihat adalah siapa sajakah orang-orang yang dibelakangnya. Dalam konteks anak, siapakah dan bagaimanakah orangtuanya. Baru yang kedua, bagaimana pola dan strategi mendidiknya. Kapan-kapan saya akan membahas ini dalam pendekatan empirik, berdasar pada anak-anak dan  berbagai macam keluarga yang saya temui. Saya ingin “Menjadi pengamat dan peneliti terhadap hal-hal yang harus diamati dan diteliti, sebelum pada akhirnya dipraktikkan”.

    Gus Azka Wonokromo.

    Sampai detik ini, saya terus mengamati dan memperdalam keluarga yang berhasil mendidik putra putrinya yang tidak hanya hebat secara intelektual, namun juga shalih serta cerdas dzahir bathin dengan mensinergikan IQ, EQ dan SQ, bahkan menjadi khadim Agama, masyarakat, bangsa, maupun Ilmu Pengetahuan diusianya yang masih sangat belia, salah satu diantara anak-anak yang saya maksud adalah Gus Azka Wonokromo.

    Mempunyai putra-putri yang shalih dan shalihah serta cerdas iman, pikiran dan tindakan merupakan cita-cita semua orang, yang sadar hakikat hidup dan kehidupan setelah ketiadaan. Berbagai macam cara dan proses ditempuh oleh mereka, demi anak-anaknya menjadi permata yang elok nan bijaksana. Tak hanya cerdas dan sukses dalam urusan dunia, namun sekaligus menjadi investasi di akhirat kelak, dengan membekalinya ilmu Agama sejak dini.

    Ada banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan dan keshalihan anak, selain daripada metode, strategi dan pola asuh yang dilakukan, diantaranya adalah (1) Cara, etika, niat dan kemantaban hati kedua orangtuanya saat berjima’ yang harus didasarkan pada kerelaan, keikhlasan dan cinta kasih diantara keduanya. Karena ternyata hal demikian, energi yang kedua orangtua miliki akan menyalur ke anak. Saat hal demikian dilakukan dengan penuh cinta dan kasih, maka anak yang terlahir juga akan demikian. (2) Faktor yang lain juga berkaitan dengan ketepatan hati orgtuanya dalam menempatkan diri dihadapan Allah dan orang-orang sekitar, (3) Keshalihan dan kejernihan hati dan pikiran orangtuanya, (4) Makanan yang masuk ke dalam perut anak. Pastikan makanan tersebut benar-benar yang halal 100%. Halal dari segi wujud serta cara mendapatkan, (5) Pekerjaan/profesi yang digeluti. Karena tak dipungkiri bahwa profesi menentukan income/pemasukan dalam keluarga yang tentu berimplikasi pada anak. Jika makanan yang diberikan kepada anak adalah hasil dari pekerjaan yang halal dan jelas, biasanya anak tersebut tumbuh menjadi anak yang cerdas. Bukan karena sedikit atau banyak-nya yang diterima. Melainkan keberkahan suatu hal. Barangkali orangtuanya biasa-biasa saja, namun anak-anaknya luar biasa. Karena Berkah itu ziyadatul khair dan inilah inti dari kehidupan dengan menjadikan Allah selalu hadir dalam setiap hal, termasuk dalam mencari nafkah, (6) Tergantung pula dari “Tirakat” yang orantuanya lakukan.

    Allahumma Shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website