Headlines News :
Home » , » Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, dan Akhlaqul Karimah

Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, dan Akhlaqul Karimah

Written By Pewarta News on Selasa, 18 Juni 2019 | 16.37

PEWARTAnews.com -- Ilmu amaliah, amal ilmiah, dan akhlaqul karimah sangatlah penting dalam kehidupan kita. Karena ketiga hal ini sangat diperlukan untuk kehidupan manusia di atas bumi, sehingga bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak bisa hanya fokus pada satu atau dua hal saja. Kita memerlukan ketiganya, karena ketiganya saling melengkapi dan mensupport, sehingga hidup kita relatif menuju sempurna, sesuai dengan fitrahnya.

Kita hidup dunia ini untuk survaif dan bahagia, tidak bisa lepas dari ilmu. Tanpa ilmu kita sebagai insan tidak berarti dan tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ditegaskan juga oleh Rosulullah, bahwa barang siapa yang menghendaki (sukses/bahagia) dunia maka dengan dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki (bahagia) akhirat, maka dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki (sukses/bahagia) keduanya, maka dengan ilmu juga. Karena itu ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam kehidupan manusia. Bahkan Allah swt mengangkat derajatnya sejajar dengan orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah swt (QS Al Mujadilah:11), yang berbunyi  “yarfa’illaahul ladziina aamanuu minkum walladziina uutul’ilma darajaat, yang artinya Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Tetapi mengapa ada orang yang berilmu, sudah meraih gelar sarjana, master, bahkan doktor juga tidak bisa sukses hidupnya di dunia, bahkan menganggur. Inilah suatu persoalan yang patut ditelusuri. Jangan-jangan waktu menuntut ilmu niatnya salah dan usahanya kurang sungguh-sungguh.

Begitu pentingnya ilmu, firman pertama dari Allah swt untuk Rasulullah saw mengandung pesan dan misi pentingnya menuntut ilmu. Bakan Rasulullah saw melalui sabdanya “Thalabul ‘ilmi fariidzatun ‘alaa kullio muslimin wa muslimatin”, yang artinya “Menuntut ilmu diwajibakan bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan (HR Ibnu Majjah). Bahkan begitu pentingnya, beliau berabda lagi, “uithlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”, yang artinya “Tuntutlah ilmu dari buaian ibu dampai ke liang lahat” (Mahfudzat). Hal ini menggambarkan bertap menuntuk ilmu wajib begi menjaga kehidupan. Memang belajar atau menuntut ilmu di sini tidak seharusnya dibatasi pada belajar akademik, melaionkan belajar kehidupan. Karena itu belajar atau menuntut ilmu bukan hanya meningkatkan pengetahuan, melainkan juga keterampilan, dan yang lebih penting adalah mendewasakan dan mematngkan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Yang semuanya itu sifatnya integratif.

Ilmu yang kita pelajari dan kuasai tidaklah semata-mata untuk membuat kita pintar saja, melainkan ilmu yang kita pelajari baru berarti banyak, jika ilmu itu diamalkan untuk bisa memperbaiki kehidupan klita sendiri dan bermanfaat bagi kebaikan orang lain. Rasulullah bersabda , “Al ‘ilmu bilaa ‘amalin kasy syajari bilaa tsamarin”, yang artinya “Bahwa ilmu itu bila tidak diamalkan, sama saja dengan pohon yang tiada berbuah” (Mahfudzot). Ilmu yang sedikit akan segera musnah jika tidak diamalkan, sebaliknya ilmu banyak akan menjadi beban jika tidak diamalkan. Bahkan bisa diumpamakan, seekor keledai yang mengangkut banyak kitab, hanya menjadi beban, karena tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi keledai.

Amal yang kita lakukan setiap hari, apakah terkait dengan ibadah khas maupun ibadah aam atau kehidupan pada umumnya baru berarti apabila dilandasi dengan ilmu yang jelas. Rasululullah saw bersabda, “Ad diinu huwal ‘aqlu, laa diina liman ‘aqla lahu”, artinya taka da agama bagi yang tak berakal.  Betapa pentingnya dalam amaliah agama itu didasari oleh pengetahuan tentang amaliah itu. Karena itu kita tidak boleh taqlid, ikut-ikutan orang lain beribadah. Setidak-tidaknya ya ittiba’, menjalankan ibadah mengikuti ijtihad para ulama’ dan kita mengetahui dalil naqlinya. Idealnya kita bisa berijtihad sendiri. Karena hasil ijtihad sendiri bila benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala. Namun untuk melakukan ijtihad tidaklah mudah, karena harus menguasai Bahasa Al Qur-an (Bahasa Arab), menguasai asbaabun nuzzul (sejarah turunnya ayat-ayat Al Qur-an), menguasai Asbaabul Wurud (sejarah turunnya Hadits), Mengetahui Nasakh Mansukh, dan seterusnya.

Akhlaq merupakan akian kita dalam kehidupan sehari yang membuat kita menjadi manusioa yang baik. Perhatikan sabda Rasulullah saw, yaitu “Inna min khiyaarikum ahsanuhum khuluqa”, yang artinya bahwa “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang berakhlaq. Karena itulah Allah swt selain membekali ilmu kepada Rasulullah saw, juga membangkitkan Muhammad di atas bumi, semata-mata untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Saat itu kehidupan kaum Quraisy benar dalam kejahiliyahan, kebodohan dari sisi akhlaq, walaupun dari sisi ilmu dan sastra, mereka sangat unggul. Rasululllah saw hadir benar-benar dimakudkan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju ke alam yang terang benderang, yang penuh cahaya kehidupan dan keislaman. Dengan akhlaq mulia (akhlaqul karimah), diharapkan kehidupan kitra lebih bermartabat. Kehidupan yang dihiasi dengan dengan akhaq terpuji (akhlaq mahmudah) dan dijauhkan dari akhlaq tercela (akhlaq madzmumah).

Setelah melakukan penelaahan tentang ilmu, amal, dan akhlaq dalam kehidupan kita, kini di momentum Ramadan, saat yang tepat untuk menyegarkan kembali dan melanjutkan untuk masa-masa berikutnya, dengan meneguhkan ilmu amaliah, amal ilmiah, dan akhlaqul karimah, sehingga maqam kita semakin baik dari waktu ke waktu. Ikhtiar perlu terus dilakukan, walau sekecil apapun, yang penting tetap istiqamah untuk menjaga p[ikiran, sikap, dan perilaku kita untuk tetap di jalan yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah swt. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, bukan golongan orang-orang yang merugi. Sekompleks apapun dunia yang di sekitar kita, sepanjang kita teguh menjaga Iman, Islam dan Ihsan, insya Allah, kita tetap dalam lindungan oleh-Nya. Aamiin.


Yogyakarta, 14 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website