Headlines News :
Home » , » Indahnya Silaturahim

Indahnya Silaturahim

Written By Pewarta News on Sabtu, 08 Juni 2019 | 13.00

PEWARTAnews.com -- Silaturahim  pada hakekatnya merupakan tindakan yang menjadi bagian penting dari kesempurnaan orang beriman dan berislam. Karena tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak pernah melakukan atau membiasakan silaturahim. Memang silaturahim hadir tidak boleh semata-mata karena diwajibkan Allah swt, melainkan harus menjadi kebutuhan kita dalam berhikmat kepada Allah swt. Begitu indahnya silaturahim bagi ummat Islam.

Berbagai fenomena silaturahim yang biasa terjadi dalam kehidupan kita. Berkunjung dan sowan ke orangtua, bertamu ke rumah kerabat, kumpul-kumpul semua anggota keluarga besar, dan sebagainya. Sulaturahim tidak hanya memiliki landasan dalil naqli, melainkan juga dalil aqli. Silaturahim pada hakekatnya suatu aktivitas yang indah dan memiliki banyak keutamaan.

Pertama, silaturahim dapat memperkuat keimanan dan keislaman kita. Allah SWT berfirman: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21). Silaturahmi sebagai wujud keimanan, dan menjaganya adalah wujud ketaqwaan kepada Allah, seperti juga sabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”. Atas dasar inilah, maka Silaturahmi itu indah sekali dalam mewarnai kehidupan. (HR Bukhary dan Muslim)

Kedua, silaturahim dapat memperpanjang umur dan meluaskan rizqi. Orang yang suka mengunjungi sanak saudaranya serta menjalin silaturhami akan dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya. Sebagaimana hadist Rasullullah SAW yang artinya  berbunyi “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, silaturahim bisa menyebabkan masuk syurga dan menjauhkan dari neraka. Rasulullah Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi saw bersabda : “Engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim). Balasan orang yang menyambung tali silaturahmi adalah didekatkan dengan surga dan dijauhkan dari api neraka. Ini artinya bahwa silaturahim memiliki nilai porspektif dan tembus waktu kehidupan.

Keempat, silaturahim merupakan bentuk ketaatan kepada Allah swt. Allah swt berfirman: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21).  Menyambung tali silaturahmi adalah salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah SWT maka dengan menjalankan perintahnya maka kita taat kepada Allah SWT. Menjalin silaturahmi juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak terpuji. Betapa berharganya nilai silaturahim di mata Allah swt.

Kelima, pahalanya seperti memerdekakan budak. Sebuah hadist meriwayatkan bahwa dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.”

Keenam. Bersedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain. Rasulullah saw mendefinisikan silaturahim sbb: “Laysa al-muwashil bil mukafi walakin al-muwashil an tashila man qatha’aka”, yang artinya: “Bukanlah yang bersilaturahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambungkan apa yang putus” (HR Bukhari). Mengunjungi sanak saudara dan bersedekah adalah salah satu perbuatan mulia dan memiliki faedah yang besar. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan daripada bersedekah kepada orang lain dan bisa menghindari dari perbuatan riya. Bersedekah kepada keluarga dan orang lain kemudian menceritakannya atau riya adalah salah satu dari hal-hal yang menghapus amal ibadah sedekah tersebut.

Ketujuh, silaturahim dapat menambah kekuatan dan kesatuan Islam. Firman Allah swt “Berpeganglah dengan tali Allah secara menyeluruh dan janganlah bercerai berai...” (QS, Ali Imran:3). Dalam kacamata Islam, Rasulullah saw sering kali menyuruh umat Islam untuk saling bersatu agar tidak bercerai berai. Tentu saja efek silaturahim kekuatan umat Islam bisa bersatu dan saling membahu. Andai umat Islam hidup individualistis dan tidak saling membantu, maka umat Islam bisa bercerai berai dan kesatuan Islam akan terancam. Untuk itu dibutuhkan saling bersilaturahim.

Sungguh indah kehidupan ini jika kita memuliakan Allah SWT dan memuliakan sesama umat manusia, nikmat yang luar biasa bisa kita peroleh dengan menguatkan ikatan silaturahim. Silaturahim yang paling utama adalah kepada kedua orang tua kita terlebih dahulu, kemudian kakak dan adik kandung, saudara sepupu, ipar dan juga saudara-saudara yang masih ada garis keturunan.

Hampir sebagian besar ummat Islam merasakan nikmatnya dan indahnya silaturahim, karena jauh lebih banyak mashlahat dan keutamaan, daripada madharat dan ketidakutamaannya. Jika ke tidakutamaannya itu potensial muncul, di antaranya berbiaya tinggi dan resiko kecelakaannya. Berbiaya tinggi bisa ditekan dengan berbelanja dengan prioritas dan pengeluaran yang terjangkau. Rawan kecelakaan dapat diatasi dengan keharuan-hatian penyediaan transportasi, kehatia-hatian dan sabar di perjalanan. Kendalikan kecepatan, istirahat yang cukup. Dengan demikian bisa berikan jaminan keselamatan. Tentu tak lupa kepada Allah swt untuk keselamatan semuanya.

Begitu banyak keutamaan yang masih digali dari silaturahim yang menjadi agenda utama kita sejak awal bulan Juni, yang dikuatkan dengan tanggal 5 Juni 2019 yang bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri 1440 H. Kita benar-benar bisa rasakan kebahagiaan dan kesenangan bersama keluarga besar di tempat kelahiran kita dan pasangan kita. Semoga semakin menguatkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita serta diberkahi Allah swt. Aamiin.


Yogyakarta, 8 Juni 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website