Headlines News :
Home » , » Jombang untuk Indonesia dan Dunia

Jombang untuk Indonesia dan Dunia

Written By Pewarta News on Minggu, 09 Juni 2019 | 17.47

PEWARTAnews.com -- Jombang adalah nama kota kecil terletak di wilayah Jawa Timur, merupakan batas barat Lokasi Kerajaan Mojopahit, salah satu kerajaan besar jauh sebelumnya Republik Indonesia merdeka, sekitar 80 km sebelah barat kota Surabaya. Nama Jombang merupakan gabungan Ijo (Hijau) dan Abang (Merah). Ijo (Hijau) menggambarkan religiusitas/Islam, sedangkan Merah menggambarkan abangan/nasionalis. Karena itu tokoh dari Jombang selalu berjuang berdasarkan bidang masing-masing-masing memadukan orientasi religiusme dan nasionalisme. Jombang ditakdirkan Allah sebagai tempat lahir, hidup, dan makam 3 pahlawan dan beberapa tokoh yang berkontribusi dari Jombang, untuk Indonesia dan Dunia dalam beberapa aspek kehidupan.

Sejumlah orang yang dikenal oleh publik, (1) KH Hasyim Asy’ari, (2) KH Abdul Wahab Hasbullah, (3) KH Abd Wahid Hasyim, (4) KH Abdurahman.aaaa Wahid, (5) Prof. Dr. Nurkholis Madjid, (6) Emha Ainun Najib, dan (7) Gombloh. Penentuan 7 orang yang diambil dari 100-an Tokoh dari Jombang, bidang pahlawan nasional, tokoh sosial dan politik, tokoh tokoh agama-tarekat,, tokoh militer dan polri bukan tanpa alasan. Yang jelas 7 tokoh ini relatif merepresentasikan bidangnya masing-masing-masing.

Pertama, Hadratusy Syaikh KH.Hasyim Asy'ari (April 10, 1871– July 25, 1947), ulama Indonesia, pendiri (mu’ssis) Nahdlatul Ulama (NU), lahir di Jombang, besar di beberapa pesantren di Indonesia, dan di Makkah, sehingga menjadi Ahli Hadits dengan menguasai Kutubus Sittah, yang berhak mendapat gelar Hadratusy Syeikh. Beliau mendirikan dan membesarkan NU, sebagai Rais Akbar. Beliau sebagai pemuka agama nasionalis yang ikut melawan penjajahan Belanda, bahwa fardhu ain bagi santrinya untuk memerangi orang kafir yang menjajah, dan mati syahid dalam peperangan merebut dan pertahankan kemerdekaan. Untuk itu beliau keluarkan fatwa Jihad bersama santri yang berbasis di Ponpes Tebuireng dan Surabaya untuk perjuangkan NKRI. Keberhasilan beliau dalam perjuangkan persatuan nasional. Dikukuhkan sebagai pahlawa sejak tahun 1962. Selain itu melalui NU teguhkan Islam rahmatan lil ‘aalamiin.

Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dan pengabdiannya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964, Pemerintah RI menganugerahi Kiai Hasyim Asy’ari gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama.

Kedua, KH Abdul Wahab Hasbullah (lahir di Jombang, 31 Maret 1888 – meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun) adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama. dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” at.q au Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Beliau mendirikan dan membesarkan ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Beliau juga belajar di banyak pesantren di Jawa dan Makkah. Beliau ciptakan Mars NU Yalal Wathan yang belakangan ini semarak dinyanyikan setiap ada event NU di manapun berada. Beliau juga perintis Halal bi Halal di tanah air yang tidak terjadi di negara Islam lainnya. HBH sangat bermanfaat untuk menjaga ukhuwwah (islamiyyah,  wathaniyyah, basariyah).
Beliau merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu beliau membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.

Atas jasa beliau untuk bangsa dan negara dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

Ketiga, KH Abdul Wahid Hasjim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Mohammad Hasyim Asy'ari, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Beliau mulai aktif di bidang agama, politik, pendidikan, sosial, dan kemsyarakan. Beliau anggota MIAI, Ketua Masumi, Anggota BPUPKI, PPKI, dan menduduki beberapa Anggota kabinet untuk beberapa kenenterian.   Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden RI No. 206 tahun 1964 tanggal 24 Agustus 1964 menganugerahi KH Abdul Wahid Hasyim gelar Pahlawan Nasional.

Keempat, KH Abdurahman Wahid
Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lair nang Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – seda nang Jakarta, 30 Desember 2009 dong umure 69 tahun adalah tokoh Muslim Indonesia dan  pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat mulai pada tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership. Wahid dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.
Beliau mendapat penghargaan dari Simon Wiesenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Pada 21 Juli 2010, meskipun telah meninggal, ia memperoleh Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010.

Kelima, Prof Dr Nurcholis Madjid
Prof. Dr. Nurcholish Madjid (lahir di Jombang, 17 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 29 Agustus 2005 pada umur 66 tahun) atau populer dipanggil Cak Nur, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. Pada masa mudanya sebagai aktivis & kemudian Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menjadi satu-satunya tokoh yang pernah menjabat sebagai ketua Umum HMI selama dua periode. Ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005.
Ide dan Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatif) pada sumber ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Alquran dan As-sunnah. Gagasan Cak Nur yang paling kontroversial adalah saat dia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1960-an, sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam.

Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata meskipun merupakan warga sipil karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara, sebagai penerima Bintang Mahaputra.

Keenam, Emha Ainun Nadjib
Muhammad Ainun Nadjibatau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, 27 Mei 1953; umur 66 tahun) adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora patheken". Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menu larkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
Bulan Maret 2011, Emha memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si penerima memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Ketujuh, Gombloh adalah Musikus legendaris Indonesia. (lahir di Jombang, 14 Juli 1948 – meninggal di Surabaya, 9 Januari 1988 pada umur 39 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia dilahirkan dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono di Jombang. Gombloh adalah pencipta lagu balada sejati. Ia bergabung dengan grup beraliran art rock/orchestral rock bernama Lemon Tree's Anno '69, yang musiknya mendapat pengaruh ELP dan Genesis. Kehidupan sehari-hari rakyat kecil banyak digambarkan dalam lagu-lagunya, seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku. Lirik-liriknya puitis dan misterius. Beliau memiliki tema khas yaitu nasionalisme di dalam lagu-lagunya, seperti Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, dan BK, lagu yang bertutur tentang Bung Karno, sang proklamator. Lagunya Kebyar Kebyar banyak dinyanyikan pada masa perjuangan menuntut Reformasi.
Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Beliau mendapat penghargaan yang berupa  patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI.

Tokoh-tokoh ini yang kepopulerannya insya Allah tidak diragukan lagi oleh warga dan bangsa Indonesia. Karena beliau-beliau telah tunjukkan dedikasi dan sumbangannya untuk Indonesia berjuang, Indonesia merdeka, Indonesia berkarakter,’Indonesia berilmu dan berperadaban, Indonesia berbudaya, Indonesia maju, Indonesia sejahtera, Indonesia tercerahkan, Indonesia aman dan harmoni.

Menghadirkan tokoh-tokoh ini, diharapkan bisa menginspirasi semua warga dunia, khususnya warga Jombang dan Indonesia yang ingin meraih sukses dan bermanfaat hidupnya untuk agama, ummat dan kemanusiaan. Tokoh-tokoh lain juga didoakan semoga bisa emban amanah dengan baik, sehingga bisa menjadi teladan bagi semua. Jombang dan kota atau daerah lainnya tidak hanya lahirkan anak manusia yang jauh dari kebaikan, melainkan harus mampu berkontribusi dalam membangun kedamaian dan kesatuan ummat. Atas kesadaran kolektif (collective awareness) kita harus malu mengatasnamakan warga Jombang jika tidak mampu tunjukkan perilaku  beretika yang ramah dan friendly serta kontributif.


Yogyakarta, 7 Juni 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website