Headlines News :
Home » , » Kekayaan dalam Islam

Kekayaan dalam Islam

Written By Pewarta News on Selasa, 25 Juni 2019 | 08.44

PEWARTAnews.com -- Umumnya setiap orang sangat menginginkan dapat meraih kekayaan. Kondisi ini merupakan suatu kewajaran. Sebab, mencari rizki atau meraih kekayaan menjadi kebutuhan bagi orang-orang yang ingin hidupnya lebih baik. Apalagi meraih kekayaan juga disyariatkan oleh Islam, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al Jumu’ah:10, yaitu,  “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan cari karunia Allah”. Ayat ini memperjelas bahwa untuk mencari kekayaan sangatlah dianjurkan.

Di ayat lain, juga disebutkan, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”(QS. Al Mulk: 15). Di sini mempertegas bahwa kita diberikan kebebasan di bumi (di daratan, di lautan, atau dan di udara) untuk mencari rizki yang halal dan dengan cara yang halal pula, yang rambu-tambunya telah ditetapkan dalam dalil naqli, baik Al Kitaab (Al Qur-an) maupun As Sunnah (Al Hadits).

Kekayaan yang difahami secara material tidak sedikit dapat menipu banyak orang, sehingga harus menghalalkan berbagai cara, apakah dengan berbuat curang dalam menimbang, menyuap untuk lamaran kerja atau promisi jabatan, melakukan korupsi, dan sampai main dukun atau pesugihan dan lain-lain. Singkat kata, yang penting kaya, tidak mau tahu cara yang ditempuh. Bahkan kekayaan yang diperoleh menjadikan mereka bermegah-megahan. Sampai-sampai Allah swt mengingatkan “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. kamu masuk dalam kubur.” (QS at-Takatsur:1-2). Betapa ruginya orang yang meraih kekayaan dengan cara yang jauh diridlo Allah, sehingga mereka lupa diri sampai kematian menjemputnya.

Perlu difahami benar bahwa meraih kekayaan itu juga perlu dan sangat dianjurkan sepanjang kita dapat mengelola dengan baik, membersihkannya dengan membayar zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqah, serta untuk kepentingan sosial. Kekayaan juga bisa bermanfaat untuk tunaikan ibadah Haji dan Umrah, menjadi orangtua asuh untuk siswa dan mahasiswa, membangun tempat ibadah, tempat pendidikan atau pesantren dan sebagainya. Yang jelas kekayaan tidak digunakan untuk berpoya-poya atau maksiyat.

Selain daripada itu yang sangat penting difahami salah satu hadits Raulullah saw, yaitu “Laisal Ghina an Katsratil Aradli, walakinnal Ghinaa Ghinan Nafsi”, yang artinya  “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa." (HR, Bukhari dan Muslim). Dengan memperhatikan lebih terhadap substansi daripada bentuk, maka yang dipandang Rasulullah tentang kekayaaan adalah kaya jiwa/hati  itu lebih berarti daripada kaya harta.

Adapun Ghinan Nafsi dapat diartikan sebagai  kaya hati. Inilah kekayaan yang sesungguhnya. Bahwa insan yang telah ridla terhadap pemberian rizqi dari Allah swt, bahkan mampu menunjukkan sifat qanaahnya. Dalam kondisi  yang demikian, insan tidak seharusnya menampakkan sifat tamaknya atau hausnya terhadap harta dan jabatan. Atau sebaliknya tidak terlalu merasa down karena ketiadaan harta, sehingga dengan mudahnya menengadahkan tangan, tidak mau berjuang keras untuk mendapatkan nafkah. Justru merasa sedih dan terhina ketika belum bisa menunjukkan ketaatannya kepada Allah swt, sementata sudah diberi rizeki yang sangat cukup.

Seyogyanya setiap insan tahu posisinya, ketika menjabat utamakan berbuat adil, ketika kaya membayar zakat, infaq dan shaqahnya melebihi dari nishabnya, ketika miskin tunjukkan kesabaran, ketika berposisi sebagai ustadz/kiai beramar ma’ruf nahi munkar, ketika berilmu mengamalkan ilmunya seprofesional mungkin, dan ketika menjadi pelajar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Semua orang dengan posisinya berbeda dapat beramal sholeh sesuai bidangnya akan membuat kaya hati.

Khususnya bagi yang dalam kemiskinan, mereka tidak mudah berkeluh kesabaran. Sebab mereka ridlo terhadap apa yang telah diberikan kepadanya, bahkan mereka puas. Rasulullah saw bersabda “Dan puaslah akan bagian yang telah Allah berikan untukmu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya” (Hr.Bukhari). Betapa tingginya nilai orang-orang yang sabar menerima pemberian dari-Nya.

Agama Islam tidak melarang para pemeluknya untuk meraih kekayaan, namun memberikan pembelajaran bahwa harta bukan segalanya untuk mencapai kemuliaan. Kemuliaan tidak terletak pada orang itu kaya atau bukan. Tapi kemulian ada dalam jiwa-jiwa yang mempunyai  iman dan taqwa kepada Allah swt. Ada suatu mahfudzat, yaitu : “Aadaabul mar-i khairun min dzahabihi”, yang artinya “Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.” Menjadi perhatian kita, memperbaiki akhlaq dapat memperkaya hati dan kaya hati jauh lebih berarti daripada kaya harta. Padahal sebenarnya kaya hati jauh lebih muah diraih daripada kaya harta, walau prakteknya tidak mudah bagi setiap orang, karena membutuhkan kesungguhan. Semoga Allah swt membimbing kita. Aamiin.


Cengkaren, 14 Juni 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website