Headlines News :
Home » , » Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia Yang Hanif

Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia Yang Hanif

Written By Pewarta News on Minggu, 09 Juni 2019 | 17.28

PEWARTAnews.com -- Menukilkan pesan hikmah dan inspirasi kehidupan dari panutan sekaligus guru saya, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag saat saya mengikuti Kuliah beliau dalam Mata Kuliah Ma’anil Qur’an di IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta beberapa semester yang lalu bahwa redaksi ayat “Rabbana laa tuakhidznaa in nasiinaa au akhta’na mengandung esensi yang sangat dalam. Faktanya, manusia sering berbuat salah dan lupa. Namun, Allah berkenan membesarkan hati manusia seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang diperbuat karena kesalahan atau kelupaan manusia sehingga redaksi ayat tersebut menggunakan "au" bukan "wa" (Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag)

Dalam ayat lain, pada redaksi fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah/lupa) akan tetapi disisi lain manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al-Qur'an mengatakan manusia dengan ahsanu taqwim yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
1. Potensi beragama (+)
2. Potensi akal (+)
3. Potensi fisik (+)
4. potensi Nafsu (+ dan -)

Potensi nafsu memiliki sisi positif dan negatif . Pertama, Muthmainnah yakni nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan berusaha menjadi yang terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dalam hati, diri sendiri maupun orang lain. Demikian halnya, hatinya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan mengingat Allah, maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus termaniestasikan dalam tindakan kongkrit sebagai wujud Ketaqwaan kepada-Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dan lain-lain. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika manusia mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insya Allah hati akan merasa tenang dan nyaman.

Kedua adalah nafsu Waswasah yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisan nya. Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah lisan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Jika tidak bisa berbicara baik, maka diam lah”. Diam merupakan kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan bersama. Seringkali kekecewaan, permusahan, dengki dan iri hati berawal dari lisan. Maka, sebaik-baik orang adalah yang mampu menjaga dan mengendalikan lisannya.

Ketiga adalah nafsu Lawwamah yakni Nafsu yang mendorong manusia berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindari nya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsu nya dengan baik.

Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dari segala aspek dan dimensi nya dengan mengaungrahinya akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia memiliki titik pembeda dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Berbeda dengan manusia yang hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah menuju kehadirat Nya dengan jalan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al-Qur'an.

Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi. Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman Nya : "wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna" (Qs. Al A’raf ayat 79).

Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam mengarungi kehidupan. Allah memberikan hati, agar manusia peka terhadap realitas sosial dengan dapat memahami dan merasakan psikologi sesamanya. Dengan mata, manusia mampu melihat karunia dan ciptaan Nya yang luar biasa, lalu menuntunnya untuk terus bersyukur atas ni’mat-Nya.  Dan dengan telinga, agar mampu mendengar jerit tangis kaum mustadh’afin. Dengan telinga pula, manusia seharusnya menjadi insan yang inklusif (menerima kritikan, masukan, maupun curhatan dari sesamanya).

Seusai bulan Ramadhan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada manusia untuk berzakat. Mensucikan diri dari segala kotoran baik dzahir maupun batin. Serta mengasah kepedulian terhadap sesama dengan menyantuni fakir miskin, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama makhluk Tuhan, tanpa terkecuali.

Dengan demikian, mari kembalikan diri kepada Fitrah-nya yang suci nan hanif untuk menuju insan paripurna dengan melepas segala hal yang membelenggu dalam hati, jiwa dan akal pikiran. Harus disadari bahwa seperti apapun manusia, tentu pernah berbuat salah dan khilaf kepada sesama makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sehingga harus saling memohon maaf dan memaafkan. Kerena kedua hal tersebut merupakan wujud kasih sayang dan manifestasi hati yang mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, dengan terus berupaya untuk sadar bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa. Sebagaimana innal insana mahaalul khata'i wa nisyan. Tak lain karena manusia ialah human being.

Akhirnya, saya harus mengatakan “Mukaromah yang belum berkeluarga, pasti banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan, entah yang sirr/pun jahr (disengaja/tidak), dengan kerendahan hati, jiwa dan pikiran, saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya dzahir maupun bathin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 2019, kita saling mendoakan yang terbaik. Semoga rahmat, kasih sayang, hidayah dan maghfirah-Nya senantiasa menyelimuti kita, serta dipermudah segala hal baik urusan dunia maupun akhirat dan pada akhirnya husnul khatimah segalanya. Tolong jangan sampai salah sebut ya, Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Bukan Mohon Nafkah lahir Batin. Hehehe.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website