Headlines News :
Home » , » Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam Paradigma Mahasiswa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam Paradigma Mahasiswa

Written By Pewarta News on Sabtu, 29 Juni 2019 | 16.42

PEWARTAnews.com – Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh setiap mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tak suka, mau tak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (Kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.

Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (Kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.

Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/pemasukan. Semestinya memang, bagi mahasiswa tipe ini harus sudah prepare tabungan sejak beberapa bulan sebelum KKN. Hal demikian-lah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar dll) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah salah satu bentuk jihad dan pengabdian akademik.

Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, karena dua bulan bersama. Cukup untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter serta sifat individu satu dengan yang lain. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kawan dan kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tersno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya.

Tak hanya itu, KKN juga merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis diorganisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi tidak untuk masyarakat atau dalam bahasa jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik atau tidak, itu yang paling dibutuhkan. Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan.

Pun demikian bagi perempuan, seperti apapun (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun tipe karier) juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun Mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

Selamat KKN bagi Civitas akademika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2016, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama ! Jadi, santai saja. Tidak usah sepaneng.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website