Headlines News :
Home » » Menulis dan Kesedihan

Menulis dan Kesedihan

Written By Pewarta News on Jumat, 28 Juni 2019 | 10.24

PEWARTANEWS.COM -- Nurwahidah Saleh (25) sapaan Ida merupakan penulis pemula  kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Novel pertamanya diterbitkan oleh Kaki Kata Yogyakarta. Novel tersebut berjudul "Oleh Sebab Perjanjian Kakekmu".

Ida juga pernah menjuarai lomba baca puisi di Batam.

Meski hanya meraih juara 4 tapi itu tak membuat hatinya goyah untuk tetap jadi penikmat puisi.

Selain novel, kumpulan puisi telah dimuat koran Go Cakrawala Makassar, dan cerita pendek dimuat dikoran Tanjungpinang Pos Batam. Serta puisinya dimuat dibeberapa media online, seperti www.pewartanews.com, edunews.com, suaralidik.com, dan Kompasiana.com.

 Ida sempat mengenyam pendidikan di Yogyakarta, yaitu di Akademi Manajemen Adminitrasi Yogyakarta, Jurusan Manajemen Administrasi Obat dan Farmasi.

Sekarang Ida tinggal di Kabupaten Bantaeng Sulsel. Kesibukannya saat ini adalah menjadi wartawan Tribunbantaeng.com.

Dari segi jurusan semasa kuliah dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakoni saat ini, memang jauh berbeda. Seharusnya ia bekerja di Instansi kesehatan atau dikantoran.

Memang sudah dicoba yakni jadi karyawan di  RSBK Batam, tapi itu tak membuatnya betah akhirnya memilih risegn dan meninggalkan kota yang dekat dengan Singapure itu.

Sebelumnya Ida pernah berkelana di Kalimantan Timur tepatnya di Sanggata. Selama tiga bulan ia memasukkan lamaran tapi tak ada satupun Rumah sakit atau perusahaan yang menerimanya.

Untuk bertahan hidup dirantau ia rela bekerja di tempat minuman dan jual baju. Meski hanya diberi upah Rp 500 ribu perbulan. Uang itu digunakan bayar kosan  dan beli nasi. Ia harus memaksa diri untuk hemat.  Untuk penampilan pakaian dan make up tak penting baginya.  Hanya tampil sedehana.

Tapi penderitaanya tak sampai disitu bahkan pernah ke kota Samarinda selama dua pekan, dengan seorang diri hanya bermodalkan keberanian dan nekad tinggal di kosan kayu, hampir dirubuh dimakan usia.

Dikosan inilah ia harus menahan lapar  dan haus karena kehabisan uang. Untung saja Tuhan masih kasihan dengannya sehingga ada tetangga, selalu memberikan makan gratis. Meski Ida harus membalas degan cuci piring dan menyapu.

Hanya tenaga dan kesabaran yang ia punya saat itu. Jika mengandalkan ijazah untuk bekerja ternyata belum terwujud.

Jelang tiga pekan Ida mencari pekerjaan di Samarinda, tak ada hasil. Akhirnya membuatkan tekad untuk kembali di rumah orang tua dikampung.

Sangat berat hatinya saat itu meninggalkan Samarinda sebab sebelum pamit kepada ibunya, Ida pernah berjanji bahwa tak pulang jika tak sukses. Namun ia tega membehongi orang tua sendiri.

Tiba di Kampung tepatnya di Kecamatan Kindang, Bulukumba, Sulsel, bukan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya, tapi rasa malu sampai menusuk-nusuk jantung.  Cibiran tetangga tak pernah usai saat itu.

"Masa  sarjana jadi pengangguran," kata tetangga.

Hati Ida seperti disiram air panas, hampir tiap saat  menyeka hidung, bola matanya selalu memerah. Tapi itu semua disembunyikan di dapan sang ibu.  Cukuplah ia sendiri menanggung air matanya bagai bah yang terus -menerus mengalir. 

Dua bulan jadi pengangguran dikampung. Kesibukan  tiap harinya cuci piring, bersihkan rumah kadang kekebun bantu sang ibu mencangkul. 

Sejak Ida jadi anak yatim, ibunya sibuk mengurus kebun seperti menyiram cangkeh jika musim kemarau, memetik merica, dan menanam padi. Bahkan ibunya pun sibuk jadi penjual beras literan di Pasar.

Itulah pekerjaan ibunya yang tak lulusan SD.  Tidak ada pilihan pekerjaan lain. Jarang sekali ibunya ada dirumah jika ingin bertamu maka datanglah pada pagi atau malam hari.

Saat ini usia ibunya semakin menua, rambut ubannya pun hampir memenuhi kepalanya. Kadang kambuh asam uratnya.  Untuk itu sudah mengurangi aktivitas berat seperti ke kebun.

Inilah salah satu motivasi Ida untuk semangat bekerja walau keliling  di rantau biar meski jatuh bangun dan biar rasaian gimana susahnya cari uang.


Bantaeng, 26 Juni 2019
Penulis: Nurwahidah Saleh
Alumni Akademi Manajemen Adminitrasi Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website