Headlines News :
Home » , » Menulis Merupakan Kerja Keabadian

Menulis Merupakan Kerja Keabadian

Written By Pewarta News on Rabu, 19 Juni 2019 | 03.28

PEWARTAnews.com -- Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)

Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Jika hal itu diselami lebih dalam, tentu tak hanya sekedar kata-kata biasa akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, yakni “menulis”).

Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Karena menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya.

Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Demikian halnya, tulisan dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Penulis seperti Fahd Pahdepie, Ahmad Fuadi, Tere liye, Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Fazlur Rachman, Prof. Komarudin Hidayat, Dr. Ahmad Gaus, Dr. Zainal Arifin, dengan  melalui karya-karya nya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal tersebut akan menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Oleh karena itu, seorang penulis disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya (Mukaromah, 2018). Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga boleh tiada, namun kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno dll yang mana pemikiran (karya) mereka “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.

Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan, melalui spirit Membaca. Spirit itulah yang kemudian menjadi pijakan untuk melanggengkan karya, yakni menjadi nafas dan inspirasi untuk melahirkan tulisan. Sehingga, antara membaca dan menulis erat kaitannya. Tulisan akan lebih berkualitas, berbobot dan bernas manakala ditopang oleh wacana yang luas. Hal demikian, menunjukkan bahwa hidup tidak hanya sekedar hidup, namun juga mengoptimalkan segala potensi yang telah Allah anugerahkan untuk terus belajar dan haus akan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat Nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan Islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah. Data UNESCO dan IPM mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis di semua kalangan

Akhirnya, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban yang lebih baik dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis Untuk Keabadian ! “Jika kau Bukan Anak Raja pun juga bukan anak Ulama’ terkenal, maka menulislah (Imam Ghazali).


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website