Headlines News :
Home » , » Pendidikan Perdamaian (Part 2)

Pendidikan Perdamaian (Part 2)

Written By Pewarta News on Sabtu, 29 Juni 2019 | 15.14

PEWARTAnews.com – Hidup itu pada hakekatnya tidak bisa lepas dari kepentingan. Kepentingan bisa bersifat individual, bisa bersifat kolektif, atau bisa bersifat institusional. Kepentingan hadir dalam kehidupan kita bisa tampil dalam kesamaan, tapi ada juga yang tampil dalam perbedaan. Perbedaan yang bisa dimanaj dengan baik bisa menghasilkan rahmat dan karunia, sebaliknya perbedaan yang tidak bisa dimanaj dengan baik menimbulkan konflik. Konflik bisa menimbulkan malapetaka. Untuk menghindari kerugian dari konflik, maka sangatlah dibutuhkan Pendidikan Perdamaian.

Pendidikan perdamaian merupakan proses mendapatkan nilai dan pengetahuan serta mengembangkan sikap, keterampilan dan perilaku untuk hidup secara harmoni terkait dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka ide pokok pendidikan perdamaian itu sangatlah penting. Karena pendidikan perdamaian dapat mempromosikan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang akan membantu orang-orang, sehingga mereka mampu mencegah terjadinya konflik, menyelesaikan konflik, dan menciptakan kondisi sosial yang kondusif menuju perdamaian. Nilai inti dari antikekerasan dan keadilan sosial adalah sentral pendidikan perdamaian.

Pendidikan perdamaian dimaksudkan untuk memotivasi siswa bertanggung jawab terhadap perilaku dan tindakannya sendiri, mengatasi resolusi konflik, dan membuat pilihan keberlanjutan hidup yang baik dalam lingkungan kesehariannya yang dapat memperkaya koeksistensi dengan penuh kedamaian.

Pendidikan perdamaian merupakan kunci untuk menegakkan suatu perdamaian yang disepakati dan memeliharanya untuk selanjutnya. David W Johnson (2005) menegaskan ada lima elemen penting dalam membangun perdamaian melalui pendidikan. Pertama, sistem pendidikan umum harus didirikan yang memiliki peserta wajib untuk semua anak dan pemuda, yang berasal dari kelompok yang konflik untuk bisa berinteraksi antara satu dan lainnya dan memiliki kesempatan untuk membangun suatu hubungan yang positif antara satu dan lainnya. Kedua, rasa kebutuhan bersama perlu ditegakkan yang melandasi perumusan tujuan bersama, pendistribusian keuntungan dari pencapaian tujuan, dan adanya suatu identitas bersama.

Ketiga, siswa harus diajari suatu prosedur kontroversi yang konstruktif yang menjamin mereka tahu caranya membuat suatu keputusan dan melekat dalam wacana politik. Keempat, siswa harus diajari cara mengajak suatu negosiasi integratif dan mediasi sebaya untuk memecahkan konflik antar sesama secara konstruktif. Kelima, nilai kekeluargaan harus ditanamkan yang berfokus pada siswa untuk jangka panjang dalam masyarakat yang baik.

Lori Bourne (2005) menyebutkan ada sepuluh cara untuk mengakomodasi perdamaian dalam kurikulum, diantaranya: 1) Mulai dengan mendefinisikan kata “perdamaian” bersama siswa; 2) Deklarasikan ruang kelas sebagai suatu “zona perdamaian”; 3) Ajari anak-anak tentang keterampilan resolusi konflik; 4) Jika ada acara tahunan, apa lomba puisi, pidato, menulis dsb, maka temanya adalah “perdamaian”; 5) Pendidikan perdamaian perlu disesuaikan dengan usianya, atau jenjang pendidikannya; 6) Ajaklah anak-anak berpartisipasi menjaga lingkungan, termasuk binatang dan tumbuhan yg ada di sekitar; 7) Ketika belajar geografi, sejarah, dan budaya, usahakan anak diajak utk respek terhadap keragaman budaya dan tradisi serta lingkungan; 8) Pertimbangkan memiliki sekolah yg diberi nama terkait dengan dunia internasional, sehingga anak dapat mengenal keragaman bangsa dan budaya; 9) Beri contoh yang baik dengan tidak adu mulut dengan pasangan di depan anak-anar. Jangan bikin gossip dan tunjukkanlah sikap yang baik; 10) Bikinlah liburan atau event khusus, yang diisi dengan agenda yang menyenangkan di sekolah atau di rumah. Untuk kegiatan bisa melibatkan semua untuk merencanakan, melaksanakan sampai ke monitoringnya.

Perdamaian adalah suatu yang sangat dirindukan oleh semua. Karena itu semua orang dewasa dan anak-anak harus diajak terlibat dalam proses membangun perdamaian dimanapun adanya atau di permukaan bumi yang fana. Semua dijadikan subjek, terutama anak karena sangat berkentingan untuk mengawal perdamaian di masa mendatang.

Dalam menghadap Indonesia belakangan ini, sangat potensial timbulkan konflik yang lebih besar. Untuk itu dibutuhkan good willingness semua pimpinan pada semua level untuk dapat menegakkan keadilan dan lebih utamakan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi atau kelompok atau golongan. Insya Allah hidup kita akan damai, sejahtera dan makmur.


Yogyakarta, 24 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website