Headlines News :
Home » , » Pengaruh Pemuda dalam Perubahan Sosial

Pengaruh Pemuda dalam Perubahan Sosial

Written By Pewarta News on Selasa, 18 Juni 2019 | 14.58

PEWARTAnews.com -- Peran mahasiswa yang terwujud dalam gerakan mahasiswa merupakan kegiatan atau aktivitas mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan berorganisasi dan mengasah kepandaian mereka dalam kepemimpinan. Semua itu telah terbukti dalam lembaran sejarah Indonesia. Pemuda merupakan unsur yang menarik dan esensial dalam suatu gerakan perubahan, maka menarik untuk dikaji. Karena di dalam jiwa pemuda terdapat kerelaan berkorban demi cita-cita. Di dalam pemuda terdapat api idealisme yang tidak menuntut balasan, baik berupa uang atau kedudukan. Di dalam pemuda terdapat semangat yang selalu membara. Bersama pemuda kita menentang segala kekuasaan yang sewenang-wenang. Bersama pemuda Indonesia akan ditentukan maju, diam atau tenggelam.

Pemuda merupakan salah satu komponen dalam masyarakat. Munculnya gerakan baru atau kelompok umur muda sangat erat dengan perubahan sosial. Perubahan tidak selamanya berdampak baik tetapi juga bisa berdampak buruk. Mereka adalah golongan yang mempunyai banyak kesempatan dalam pembentukan individu dalam kehidupan bermasyarakat (Abdillah, 1994). Setiap perilaku masyarakat yang terjadi akan berdampingan dengan dampak baik maupun buruk. Beberapa dampak adanya perubahan sosial antara lain, seperti yang penulis sebutkan dibawah ini.

Pertama, Perubahan yang diterima masyarakat kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan. Hal ini karena setiap orang memiliki gagasan mengenai perubahan yang mereka anggap baik sehingga perubahan yang terjadi dapat ditafsirkan bermacam-macam, sesuai dengan nilai-nilai sosial yang mereka miliki.

Kedua, Perubahan mengancam kepentingan pihak yang sudah mapan. Hak istimewa yang diterima dari masyarakat akan berkurang atau menghilang sehingga perubahan dianggapnya akan mengancangkan berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegahnya, setiap perubahan harus dihindari dan ditentang karena tidak sesuai kepentingan kelompok masyarakat tertentu.

Ketiga, Perubahan dianggap sebagai suatu kemajuan sehingga setiap perubahan harus diikuti tanpa dilihat untung ruginya bagi kehidupan. Perubahan juga dianggap membawa nilai-niali yang modern.

Keempat, Ketidaktahuan pada perubahan yang terjadi. Hal ini mengakibatkan seseorang ketinggalan informasi tentang perkembangan dunia.

Kelima, Masa bodoh terhadap perubahan. Hal itu disebabkan berubahan sosial yang terjadi dianggap tidsak akan menimbulkan pengaruh bagi dirinya.

Keenam, Ketidaksiapan menghadapi perubahan. Pengetahuan dan kemampuan seseorang terbatas, dampak perubahan sosial yang terjadi ia tidak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perybahan yang terjadi.

Berdasarkan uraian tersebut tentang penjelasan pemuda, perubahan sosial dan dampaknya maka didapat ada 3 indikator menurut Taufik Abdillah dalam “Pemuda dan Perubahan Sosial” dan Budiman dalam “Teori Pembangunan Dunia Ketiga” yang menjadi tolak ukur Pemuda sebagai Agent of Change, sebagai berikut:
(a) Agent of Change dalam proses kehidupan adalah para individu yang mempunyai kualitas jiwa pikiran atau mentalitas positif dalam proses sosialnya (Budiman, 1995); (b) Pemuda merupakan satu fase dalam kehidupan; (c) Agent of Change ialah pemuda elite. Elite dalam hal ini bukanlah orang yang mempunyai kekayaan yang berlebihan dengan hartanya. Namun orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan hasil drai pendidikan yang dilaui di lembaga pendidikan formal (Budiman, 1995).

Pemerintah dalam hal ini dituntut untuk menerapkan strategi jitu untuk mengoptimalkan peran anak muda dalam melakukan perubahan yang tidak lain adalah untuk mengangkat keterpurukan bangsa Indonesia, yang menjadi permasalah saat ini tidak sepenuhnya ada pada instrumen yang diberlakukan oleh pemerintah melainkan pada cara pandang atau perspektif kaum muda Indonesia yang masih jauh dari kesan positif, masih banyak kaum muda Indonesia yang mengkritisi kebijakan pemerintah secara anarkis dan terlalu mengedepankan arogansi mungkin hal tersebut bukan hal yang baru ditelinga kita belum lagi menyinggung gaya hidup kaum muda Indonesia yang telah jauh dari jati diri bangsa Indonesia prilaku westernisasi (kebarat-baratan), hendonisme serta sikap materialistik telah menjadi trend di kaum muda Indonesia hal ini tentu akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa dan negara meskipun tidak selamanya dampak globalisasi membawa pengaruh negatif bagi bangsa Indonesia tentunya dalam menyikapi proses globalisasi yang merupakan kelanjutan dari modernisasi perlu kebijaksanaan serta kematangan dalam mengambil kebijakan. Di sisi lain perhatian yang dilakukan pemerintah masih jauh dari kesan memuaskan hal ini dapat kita lihat diberbagai daerah terpencil di Indonesia khususnya wilayah timur Indonesia yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, serta berbagai sarana penunjang lainnya, perhatian penulis mungkin tertuju pada pengembagan intelektual kaum muda Indonesia yang masih sangat minim padahal pendidikan merupakan syarat penting yang harus dimiliki oleh kaum muda Indonesia dalam membangun bangsa dan negara yang maju (Amin, 2016).

Pemerintah disibukkan dengan pembanguan fisik dan melupakan pembangunan mental masyarakatnya. Bukankah sudah jelas dalam naskah W.R Supratman dalam lirik lagu Indonesia Raya telah mengumandangakan konsep pembangunan “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya”. Artinya negara harus berfikir tentang pembangunan pola kehidupan dan mentalitas masyarakat mempersiapkan diri menghadapi kemajuan sebagai skala prioritas utama, selain menggencarkan pembangunan gedung dan jalan raya. Dengan demikian kjadi kesimpulannya adalah peran pemuda sebagai agent of change menjadi kecil dampaknya jika tidak dibarengi dengan dukungan fasilitas pembangunan mental dari pemerintah. Di akhir tulisan ini mungkin kita bisa belajar dari semboyan yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Toludo Ing Madyo Mangungkarso Tut Wuri Handayani, yang berarti pemuda harus berada pada barisan paling depan dalam melakukan perubahan sosial sebagai penggerak atau kreator perubahan, memaknai lebih jauh semboyan ini ada keharusan sikap tumpang tindih dan semangat berjiabaku dalam mengupayakan cita-cita mulia bangsa Indonesia. Jika semboyan ini di reaktualisasi niscaya masalah atau bahkan tantangan sesulit apapun akan mudah diatasi oleh kaum muda Indonesia (Amin, 2016).


Penulis: Rizki Kurniasih
Mahasiswa Sosiologi 4A UIN Walisongo Semarang - NIM: 1706026110

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website