Headlines News :
Home » , » Peran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri Rohmatal Lil Alamin

Peran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri Rohmatal Lil Alamin

Written By Pewarta News on Senin, 24 Juni 2019 | 12.52

Salahsatu Kegiatan Pondok Pesantren.
PEWARTAnews.com -- Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ajaran Islam sesuai dengan syari’at Islam. Pondok pesantren berfungsi untuk membentuk karekter seseorang menjadi karakter yang baik. Pondok pesantren mulai berkembang setelah abad ke 16, dimana dalam pondok pesantren tersebut mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi dan tasawuf.

Pondok pesantren memiliki beberapa unsur yang ada didalamnya, diantaranya: a. kyai; b. santri; c. adanya bangunan; d. masjid; e. adanya kitab. Adapun metode pengajaran dalam pondok pesantren itu ada dua, yakni: a. bandongan; b. sorogan. Bandongan sendiri adalah proses pembelajaran yang dimana sang kyai membacakan atau dalam bahasa jawanya maknani kitab, semantara santrinya mendengarkan sambil mencatat isi dari kitab. Sementara sorogan adalah proses pembelajaran yang dimana santri membaca, sedangkan sang kyai mendengarkan sambil mengoreksi kalau ada salah dalam membaca (Haedari, dkk, 2004).

Peran pondok pesantren bagi santri sangatlah besar, karena di pondok pesantren mengajarkan santri untuk bisa berkontribusi dalam melakukan berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya itu, pondok pesantren bisa menjadikan santri menjadi seorang santri yang berkarakter yang baik.

Pengkajian pondok pesantren memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter. Tujuan umum dari pendidikan di pondok pesantren adalah untuk membimbing para santri agar menjadi manusia yang memiliki pribadi yang baik sesuai yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW. Tujuan khususnya adalah untuk mempersiapkan santri menjadi orang alim dan mendalam sisi ilmu agamanya serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, tujuan terpenting pendidikan pesantren adalah membangun moralitas agama santri dengan pengamalannya.

Menanamkan dan membentuk karakter santri pastilah tidak mudah. Dari berbagai macam karakter yang diterapkan di pondok pesantren salah satunya adalah karakter tanggung jawab. Tanggung jawab bukan hanya milik para santri, namun hal tersebut menjadi milik setiap individu yang ada di dunia ini. Tanggung jawab menjadi sangat penting, agar seseorang tidak lupa akan tugas dan kewajibannya.

Salah satu nilai yang menonjol di pesantren adalah karakter tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, lingkungan, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Para kyai dan ustadz bertanggung jawab memberikan pendidikan keagamaan kepada para santri, baik melalui kajian kitab maupun teladan nyata. Sementara para santri bertanggung jawab untuk belajar dan mengaji secara sungguh-sungguh serta mengamalkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan karena ilmu tanpa diamalkan itu seperti tanaman yang tidak berbuah. Dan ada ungkapan بلغوا عني ولو اية ( sampaikanlah padaku walau satu ayat atau huruf).

Dalam pendidikan yang berkenaan dengan perkembangan dan perubahan pada santri dalam pesantren, pendidikan sangat berhubungan erat dengan pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan aspek-aspek kelakuan lainnya. Pada hakikatnya sikap manusia bersikap sosial yakni dapat mempelajari interaksi antar sesama manusia lainnya dan hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakam hasil hubungan kita dengan orang lain.

Ada sebuah syi’ir tentang mencari ilmu, didalam kitab  تعليم المثعلم  di sebutkan :

الا لا ثنا ل العلم الا بستة # ساءنبيك مجموعها ببيان
ذكاء وحرص وصطبار وبلغة # وارشاد استاذ وطول زمان
“Ingatlah, sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan 6 perkara yang aku terangkas secara ringkas, yaitu : 1. Cerdas 2. Rajin 3. sabar 4. Mempunyai bekal 5. Petunjuk guru (rasa takdim kepada kyai) 6. waktu yang panjang(Noor Aufa, hal 21).

ثم لا بد من الجد والموا ظبة و الملا زمة

Bagi orang yang mencari ilmu itu ada 3 syarat : a. rajin; b. besungguh-sungguh; c. tetap (istiqomah).



Penulis: Muhammad Hanif Mahzumi
Mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo Semarang

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website