Headlines News :
Home » , » Perspektif Islam terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga

Perspektif Islam terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga

Written By Pewarta News on Sabtu, 29 Juni 2019 | 15.33

Sonia Okta Alfira.
PEWARTAnews.com – Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan suami istri pasti pernah dihadapkan masalah, mulai dari masalah yang sepele hingga masalah yang besar. Salah satu isu sentral dalam problematika rumah tangga suam istri adalah isu kekerasan, atau yang sering disebut dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Pengertian kekerasan dalam rumah tangga yang terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, adalah: Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis dan penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Mengingat Undang-Undang tentang kekerasan dalam rumah tangga merupakan hukum publik yang di dalamnya ada ancaman pidana penjara atau denda bagi yang melanggarnya, maka masyarakat luas khususnya kaum laki-laki, dalam kedudukan sebagai kepala keluarga sebaiknya mengetahui apa itu kekerasan dalam rumah tangga (Saraswati, 2004).

Adapun bentuk kekerasan dalam rumah tangga seperti yang disebut di atas dapat dilakukan suami terhadap anggota keluarganya dalam bentuk diantaranya: (1) Kekerasan fisik, yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat; (2) Kekerasan psikis, yang mengakibatkan rasa ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, dan rasa tidak berdaya; (3) Kekerasan seksual, yang berupa pemaksaan seksual dengan cara tidak wajar, baik untuk suami maupun untuk orang lain dengan tujuan komersial, atau tujuan tertentu; (4) Penelantaran rumah tangga yang terjadi dalam lingkup rumah tangganya, yang mana menurut hukum diwajibkan atasnya. Selain itu penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasasi atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (Ciciek, 2005).

Mengingat seorang laki-laki mempunyai pengaruh yang lebih besar dan memegang peranan penting dalam rumah tangga dan sekaligus sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, maka pelaku kekerasan dalam rumah tangga didominasi oleh kaum laki-laki, sehingga yang banyak menjadi korban kekkerasan dalam rumah tangga adalah perempuan.

Deklarasi PBB tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan (1993) mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai berikut: semua tindak kekerasan berbasis gender yang mengakibatkan bahaya fisik, seksual, psikologis atau penderitaan terhadap perempuan termasuk ancaman serupa tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan kebebasan baik yang terjadi di ruang publik atau privat. Sekalipun Deklarasi PBB telah melindungi hak-hak asasi manusia khusunya terhadap perempuan, tetapi tetap saja hak-hak asasi manusia perempuan terabaikan seperti yang dialami para Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri, mereka disekap, dianiaya, dilakukan pelecehan seksual oleh majikannya, bahkan terjadi kekerasan terhadap fisik para TKW sehingga mereka kabur dari majikannya (Saraswati, 2004).

Mitra Perempuan mencatat, perempuan yang mengalami kekerasan psikis menduduki urutan pertama kekerasan dalam rumah tangga (Anshori, 2014). Faktor-faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga, antara lain:

Pertama, faktor budaya. Yang dimaksud budaya di sini adalah budaya yang patriarki . budaya patriarki adalah budaya di mana seeorang laki-laki dianggap lebih unggul dibandingkan seorang perempuan. Seorang perempuan tetap saja dianggap rendah meskipun berprestasi. Kuatnya bdaya patriarki dalam keluarga menjadi salah satu penyebab posisi suami istri tidak setara, sehingga sering kali memicu perselisihan. Perselisihan ini kerap diadikan alasan oleh suami untuk melakukan kekerasan terhadap istrinya (Muttaqin, 2005).

Kedua, faktor internal pelaku. Ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan suami terhadap istri, pada dasarnya disebabkan oleh akumlasi berbagai faktor. Dalam hal ini, kadang istri yang menjadi KDRT, berpotensi mendorong suaminya sebagai pelaku untuk melakukan KDRT (Hadijah, 2007).

Ketiga, faktor ekonomi. Yang dimaksud faktor ekonomi adalah hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi yang dapat memicu kekerasan. Misalnya bila seseorang yang berumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya, maka ia berpotensi untuk melakukan kekerasan dalm rangka memenuhi kebutuhan ekonominya tersebut (Daradjat, 1984).

Keempat, pandangan agama yang disalahpahami sebagai yang menyudutkan perempuan. Sudah tentu, penyebab terjadinya KDRT bukan ajaran agama, khususnya islam baik yang yang disampaikan Al-Qur’an maupun hadis Nabi SAW. Namun demikian, KDRT bisa muncul dari adanya pemikiran dan pandangan yang salah paham terhadap nash-nash keagamaan, baik itu Al-Qur’an maupun hadis. Sebagai contoh adanya kesalahpahaman terhadap Q.S An-Nisa (4); 34, yang berbunyi:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Terdapat tiga langkah yang dianjurkan sesuai ayat di atas untuk ditempuh suami mempertahankan mahligai perkawinan. Ketiga langkah tersebut adalah nasihat, menghindari hubungan seks, dan memukul (Shihab, 2000).

Firman-Nya اهْجُرُوهُنَّ yang diterjemahkan dengan tinggalkanlah mereka adalah perintah kepada suami untuk meninggalkan istri, didorong oleh rasa tidak senang pada kelakuannya. Jelasnya kata ini tidak digunakan untuk tidak sekedar meninggalkan sesuatu, tetapi di samping itu ia juga mengandung dua hal lain. Yang pertama, bahwa sesuatu yang ditinggalkan itu buruk atau tidak disenangi dan yang kedua, ia ditinggalkan untuk menuju ke tempat dan keadaan yang lebih baik. Jika demikian melalui perintah ini, suami dituntut untuk melakukan dua hal pula. Pertama, menunjukkan ketidaksenangan atas sesuatu yang buruk dan telah dilakukan oleh istrinya, dalam hal ini adalah nusyuz dan kedua, suami harus berusaha untuk meraih dibalik pelaksaan perintah itu sesuatu yang baik atau lebih baik dari keadaan semula (Muttaqin, 2005).

Kata فِي الْمَضَاجِعِ  yang diterjemahkan dengan di tempat pembaringan, di samping menunjukkan bahwa suami tidak meninggalkan mereka di rumah bahkan tidak juga di kamar, tetapi di tempat tidur. Dengan demikian suami hendaknya jangan meninggalkan rumah, bahkan tidak meninggalkan kamar tempat suami-istri basanya tidur.

Kata وَاضْرِبُوهُنَّ yang diterjemahkan dengan pukullah yang mempunyai banyak arti bahasa, ketika menggunakan dalam arti memukul yang secara harfiyah berarti memukul di bumi., karena itu perintah di atas dipahami oleh ulama berdasarkan penjelasan Rasullullah SAW. Bahwa yang dimaksud memukul adalah memukul yang tidak menyakitkan. Ini temasuk langkah terakhir bagi pemimpin rumah tangga (suami) dalam upaya memelihara kehidupan rumah tangganya. Dalam konteks lain RasulullahSAW bersabda: “Tidaklah kalian malu memukul istri kalian, seperti memukul keledai? Malu bukan saja karena memukul, tetapi juga malu karena gagal mendidik dengan nasihat cara lain.” (Shihab, 2000).

Oleh karena itu, adanya kekerasan dalam rumah tangga yang semakin tahun semakin menigkat ini bisa diatasi dengan saling pengertiannya suami istri dalam berumah tangga agar tidak terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan pertengkaran, kekerasan fisik bahkan perceraian. Agama dan budaya jangan lagi memperkuat kekerasan terhadap perempuan semakin langgeng. Padahal banyak perspektif keagamaan (agama manapun) yang lebih adil terhadap perempuan. Hanya saja perspektif seperti ini belum meluas, akses pengetahuan perlu lebih dibuka mengenai perspektif agama yang lebih adil untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Yang terpenting adalah mengubah cara berpikir menjadi lebih adil. Pernikahan anak usia dini sebenarnya juga bisa menjadi penyebab terjadinya KDRT, karena laki-laki maupun perempuannya masih dalam keadaan emosional yang belum stabil masih mempunyai ego yang sangat tinggi untuk mengatasi masalah yang dihadapi, untuk mengurus anak, dan mencukupi kebutuhan ekonomi dalam keluargapun masih sangat minim.


Penulis: Sonia Okta Alfira
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website