Headlines News :
Home » , » Rahmatan Lil ‘Aalamiin

Rahmatan Lil ‘Aalamiin

Written By Pewarta News on Sabtu, 29 Juni 2019 | 15.03

PEWARTAnews.com – Hari ini bertepatan tg 17 Ramadan 1440 H, saat turunnya firman Allah SWT yang pertama untuk Muhammad yang menandai kerasulannya. Adapun Muhammad diutus oleh Allah SWT, bukan untuk apa-apa, kecuali untuk rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah SWT tegaskan melalui QS. Al-Anbiyaa’ :lO7), yaitu “ WAMA ARSALNAAKA ILLAA RAHMATAN LIL’AALAMIIN “. Karunia untuk seluruh umat manusia, baik yang muslim maupun non muslim, seluruh makhluk hidup, baik manusia maupun hewan dan tumbuhan, baik makhluk hidup maupun makhluk mati apapun yang di sekitar kita. Begitu lengkapnya target amanahnya, maka sangat bisa difahami bahwa Muhammad itu Rasul terakhir sampai akhir zaman.

Pada hakekatnya rahmat Allah SWT itu ada 4, yaitu (1) bersihnya aqidah (hablun minallaah), (2) indahnya ukhuwah (hablun minannaas), (3) mulianya kejadian manusia, dan (4) keseimbangan hidup (dunia-akhirat). Pertama, bersihnya aqidah. Kita nersyukur atas perjuangan Nabi Ibrahim as, yang telah berhasil terkukuhkan sebagai revolusioner terbesar dalam memperjuangkan kalimat tauhid, mengukuhkan Allah SWT yang patut dipertuhankan. “Huwallahu laailaaha Ilyas Huwa”, yang artinya “Dialah Allah tiada Tuhan kecuali Dia” (QS Al Hasyr:22-23). Karena itu Rasulullah ajak umat untuk tinggalkan ilah-ilah, apapun yang dipertuhankan, menuju Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Besar. Kita harus tinggalkan musyrik besar dan kecil menuju Insan bertauhid. Kita harus selamat dari pengaruh ilah materialisme, kapitalisme, pragmatisme, dan hedonisme.

Kedua, indahnya ukhuwah islamiyyah. Pada hakekatnya kita yang bermain itu bersaudara, karena itu kita harus saling berdamai. Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya, yaitu “Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum, wattaqullaha la’allakum turhamuun” Sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10). Kita harus mengutamakan kesamaan daripada perbedaan. Kita harus mewujudkan persatuan dan kesatuan sesama akidah. Kita tidak boleh saling menyakiti. Kita harus hindari konflik yang tak berarti. Kita harus hindari prasangka jelek terhadap sesama muslim, sebaliknya utamakan prasangka baik. Damai dalam ukhuwah itu indah.

Ketiga, mulianya kejadian. Manusia hakekatnya diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Yang kejadian dan hidup selanjutnya juga sangat dimuliakan. Disiapkan rizqi yang baik-baik dan diberi keutamaan di atas makhluk lainnya. Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam QS Al Isra:70, yang artinya : “...Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”. Bagaimana mulianya manusia yang telah tersediakan rizki yang baik-baik dan sangat luas, serta terbuka untuk diakses. Untuk disyukuri, sehingga tidak sepatutnya menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Jika kita menyadari betul keutamaan kita dibandingkan dengan makhluk lain, insya Allah hidup kita dalam kebaikan dan kemuliaan. Sekalipun demikian tetap saja masih ada yang menjadi terhinakan.

Keempat, keseimbangan hidup (dunia-akhirat). Kita semua punya orientasi hidup. Mana yang harus diutamakan. Ada fokus dunia saja, ada yang akhirat saja, ada yang fokus dunia dan akhirat, dan ada yang tidak fokus dunia dan akhirat. Mari kita perhatikan firman Allah swt, pada QS Al Qashash:77, yang artinya “... dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika memperhatikan ayat tersebut, maka yang perlu menjadi orientasi hidup adalah kebaikan dunia dan akhirat secara seimbang dengan mengutamakan akhiratnya. Ingat hidup di akhirat itu lebih baik daripada hidup di dunia (QS Adzdzuha:4) dan hidup di akhirat itu lebih abadi daripada di dunia (QS Al A’la:17). Saya yakin bahwa hanya orang-orang yang beriman pada hari Akhir yang hidup selalu berbuat kebaikan dan jauh dari perbuatan yang merusak. Jika demikian hidupnya lebih dikehendaki oleh orang lain, bukan dihindari.

Demikianlah sedikit renungan dan refleksi dari hari kerasulan Muhammad, yang kita tidak hanya mendapat rahmat-Nya yang dibawa Rasulullah, melainkan juga mu’jizat Al Qur-an yang isinya menjadi petunjuk hidup bagi kita (hudan linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaan). Semoga hidup kita selalu dalam ridlo-Nya. Aamiin.


Yogyakarta, 22 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website