Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Sukses Hidup dengan Model Spiral

    PEWARTAnews.com -- Sukses hidup menjadi dambaan dan obsesi setiap orang. Sukses hidup yang selalu diinginkan bukanlah sifatnya sementara melainkan yang bersifat tetap dan berkesinambungan. Cukup banyak orang bisa wujudkan, namun tidak sedikit yang gagal. Orangtua sukses, anaknya jadi gagal. Orangtua gagal, anaknya jadi sukses. Diharapkan sekali kita (yang sedang baca ini) bisa berjuang untuk wujudkan impian besar, sukses untuk semua dan untuk selanjutnya.

    Mari kita ambil contoh, bahwa berdasarkan pengalaman masa lalu. Ada sejumlah kasus di kampung bahwa umumnya orangtua kaya sangat menjanjikan anaknya dengan harta warisan, baik tanah pekarangan dilengkapi rumah siap tinggal dan seluas tertentu sawah dan ladang. Mereka tidak peduli pendidikan anaknya. Akibatnya terbagi habis, satu persatu dari anak-anaknya bangkrut karena tidak memiliki kemampuan memanaj harta warisan dengan baik. Di samping hidupnya sangat konsumptif.

    Sebaliknya sejumlah anak dari keluarga tidak mampu secara ekonomik, tapi berpotensi secara akademik memiliki impian besar menjadi orang sukses. Yang dilakukannya adalah andalkan motif berprestasi dan hidup nekad denga memang waktunya untuk belajar dan bekerja untuk menopang studinya. Pagi sekolah, sorenya bekerja, atau pagi bekerja, sorenya belajar. Anak ini hidupnya lebih produktif. Berangsur-angsur anak-anak yang hidupnya terjaga dengan baik akhirnya sukses studi, sukses karir, dan sukses hidup.

    Kasus lainnya yang terjadi pada keluarga sukses, di kota, dengan karir yang sukses dengan kesibukan kedua orangtua yang padat membuatnya tidak bisa kontrol dengan baik, sehingga anak menjadi korban pergaulan bebas dan penggunaan obat, dan sekolahnya berantakan. Gambaran kasus seperti ini tentu memberikan isyarat bahwa masa depan anak tidak terbekali keahlian cukup, sehingga berakibat hidupnya tidak sesukses orangtuanya.

    Sebaliknya kasus dari keluarga tak beruntung secara ekonomi dan sosial yang tinggal berada di perkotaan, sementara anaknya punya potensi bakat akademik tertentu. Dengan perhatian dan kepedulian sekolah, anak ini mendapatkan orangtua asuh atau beasiswa sekedar mencukup untuk kebutuhan sehari-hari dan belajar. Sementara itu anaknya juga memiliki tekad kuat dan rajin belajar serta berhati-hati dalam berteman. Juga selalu menjauh dari anak-anak jalanan dan nakal. Bagaimana dampaknya, anak ini pelan-pelan bisa keluar dari lilitan gangguan studi dan hidupnya. Bisa diduga anak memiliki potensi sukses studi, karir dan hidupnya.

    Apa makna sukses hidup itu? Tentu yang selalu kita dapat sepakati adalah sukses hidup di dunia dan sukses hidup di akhirat serta dijauhkan dari api neraka. Untuk hidup di dunia juga tidak semata-mata kejayaan yang sifat duniawinya semata yang ditandai dengan kekayaan, pangkat, jabatan, popularitas atau lainnya yang kering tanpa nilai. Namun yang seharusnya kita kejar, adalah kejayaan duniawinya yang dilandasi dengan nilai dan spirit ukhrawiah. Kekayaan diraih dengan cara yang halal. Jabatan diraih dengan cara yang benar, bebas sogok, dan bertindak adil. Pangkat diraih dengan prosedur yang benar, tidak manipulatif dan plagiat. Popularitas diraih melalui kinerja profesional, bukan pencitraan.

    Bagaimana raih sukses hidup dengan model spiral? Insya Allah kita sepakat bahwa kesuksesan yang kita raih adalah awal dari kesuksesan selanjutnya, bukan kesuksesan yang terakhir. Artinya kita sukses, harus dilanjutkan dengan kesuksesan anak cucu kita, minimal sama, bukan kesuksesan yang kita raih tidak dilanjutkan oleh anak cucu kita. Untuk mewujudkan sukses secara berkelanjutan tidaklah mudah, membutuhkan kesungguhan dan kerja optimal baik secara personal maupun kolektif. Karena itu kekompakan keluarga sangatlah penting.

    Ada sejumlah prinsip yang perlu menjadi pegangan untuk membangun sukses diri dan keluarga. Adapun prinsip-prinsip itu adalah  prinsip keberagamaan, kejujuran, perbaikan, berkesinambungan, dan kepedulian. Pertama prinsip keberagamaan, bahwa hidup kita harus berfondasi kuat dengan nilai-nilai agama, sehingga semua aspek kehidupan kita mengandung spirit agama. Kedua prinsip kejujuran, bahwa dalam beribadah dan bermuamalah didasarkan atas kejujuran untuk mengharapkan ridlo Allah SWT. Ketiga prinsip keadilan, bahwa dalam emban amanah di keluarga, tempat kerja dan masyarakat kita harus tegakkan rasa keadilan.

    Keempat prinsip perbaikan, bahwa kita hidup harus selalu berorientasi kepada perbaikan dari waktu ke waktu untuk imbangi dinamika sosial yang ada. Kelima prinsip berkesinambungan, bahwa perbaikan yang dicapai harus terjadi terus menerus, sehingga perbaikan kehidupan berkesinambungan. Keenam prinsip kepedulian, bahwa hidup kita tidaklah dalam kesendirian, tetapi bersama-sama dengan yang lain. Karena itu kepedulian harus diinstutuionalikan dalam keluarga, sehingga terbangun kepekaan sosial. Jika keenam prinsip ini bisa mengkarakter, insya Allah sukses kita dan keluarga akan bisa kita wujudkan dengan baik, walaupun tidak mudah, karena tantang dari luar dan hambatan pada setiap individu tidak bisa dihindari. Namun dengan keterbukaan yang bisa diupayakan dalam keluarga, diharapkan bisa berkontribusi dalam menghadapi persoalan yang ada.

    Akhirnya bahwa sukses dalam kehidupan itu menjadi cita-cita semua. Tidak pernah berhenti kita ingin wujudkan sukses hidup. Kita sadari bahwa definisi sukses itu relatif dan berbeda-beda. Apapun perbedaannya pada akhirnya kita sepakat bahwa sukses hidup tidak hanya difokuskan di dunia saja tapi juga di akhirat. Namun jika harus memilih, yang lebih penting ya sukses di akhirat. Semoga kita bisa raih kedua-duanya. Juga yang sangat penting adalah menjadikan anak dan cucu kita dan seterusnya lebih sukses daripada kita, seperti spiral. Untuk itu perlu ikhtiar personal dan kolektif yang terus menerus. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah SWT.


    Yogyakarta, 3 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Ajang Pemilihan Sampela Mbojo, Mahasiswa STKIP TSB Jadi Runner Up

    Madinatul Hujah, Mahasiswa STKIP TSB yang menjadi runner up diajang pemilihan Sampela Mbojo yang digelar Lasembo.
    Bima, PEWARTAnews.com --  Ajang pemilihan Sampela Mbojo adalah kompetisi tahunan yang  diadakan oleh Lembaga Sampela Mbojo (Lasambo). Lingkup kegiatan bercorak kearifan lokal tersebut, kabupaten dan kota bima. "Ajang yang diprakarsai oleh Sanggar sampela Mbojo (Lasembo) telah melahirkan sampela-sampela (remaja, red) berkualitas. Tahun ini ajang tersebut kembali diadakan, dan mengantarkan salah satu mahasiswi terbaik Prodi Bahasa Inggris, Madinatul Hujah, sebagai salah satu Runner Up Sampela Siwe 2019," tutur Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima (STKIP TSB), Ramli, M.Pd pada media ini melalui telpon selulernya, Minggu 21 Juli 2019.

    Menurutnya, keberhasilan mahasiswanya tersebut bukanlah sesuatu yang kebetulan. Tetapi, lanjutnya, telah melalui tahapan dan persiapan yang panjang. "Dia (Marinatul Hujah, red) bersama peserta lain telah melalui tahap perjalanan yang panjang mulai dari seleksi berkas, tes bakat, proses karantina, hingga malam puncak grand final Sampela Mbojo 2019 yang diadakan di Gedung Serba Guna Sape, 20 Juli 2019 lalu," ungkapnya.

    Disamping kecakapan berbahasa Inggris, si Runner Up juga memiliki banyak prestasi dan bakat. Pujian tersebut menurut Ramli bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan. "Banyak prestasi luar biasa yang telah dilakukannya. Diantaranya membaca puisi, MC, menari, disamping itu dia (Marinatul Hujah, red) adalah salah satu Purna Paskibraka 2016," papar Ramli.

    Ditanya dukungan Kampus terkait keberhasilan mahasiswinya, Ramli mengaku, pihaknya sangat appreciate dengan capaian tersebut. Bahkan, dukungan dikerahkan tanpa henti oleh Ketua STKIP TSB, Ibnu Khaldun Sudirman. "STKIP Taman Siswa Bima sangat bangga dan memberikan apresiasi yang sangat luar biasa kepada Prodi-prodi yang terus berkontribusi untuk terus mengawal perkembangan serta pembinaan skill mahasiswa. Sehingga dukungan tanpa henti terus dikerahkan oleh Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman M.Si," tutupnya. (fiq)

    Mendidik Anak dalam Islam

    PEWARTAnews.com -- Dewasa ini semakin banyak yang menyadari pentintingnya mendidik dalam Islam. Orangtua mau keluarkan uang lebih banyak untuk anaknya mendapatkan pendidikan agama dengan benar sejak dini. Walaupun masih cukup banyak orangtua yang menyesali setelah anaknya sudah menginjak dewasa belum menunjukkan kematangan beragama,  sehingga tidak jarang mereka mengganggu orangtua, bahkan ekstrimnya ada yang menjatuhkam nama baik orangtua. Apapun alasannya orangtua sangat memerlukan pendidikan anaknya yang tepat.

    Anak adalah salah satu amanah Allah swt kepada orangtua yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan. Untuk menghadapi tugas yang berat ini, orangtua berkewajiban melakukan ikhtiar duniawiyah dan ukhrawiyah, bagaimana mendidik anak, sehingga menjadi anak sholeh dan sholehah.

    Dalam Islam, kita bisa dapatkan rambu-rambu kewajiban orangtua dari nasehat Lukman kepada anaknya dalam Tafsir Rahul Ma’ani dan Kitab Hidayatul Mursyidin yang diperkuat dengan HR Al Hakim, HR Buchory dan Muslim, QS Asy Syu’ara’:214-215; QS Thoha:132, di antaranya: (1) memberi nama yang baik, (2) beraqiqah, (3) menghitankan, (4) membaguskan akhlaq, (5) mengajarkan membaca dan menulis huruf Al Qur-an, (6) mendidik tauhid atau keimanan, (7) membimbing sholat dan ibadah lainnya, (8) memberi pelajaran ilmu pengetahuan yang diperlukan, (9) memberi pelajaran keterampilan, (10) memberikan pendidikan jasmani, (11) memberi makan dan minum yang halal, (12) menikahkan, dan (13) memberi atau  meninggalkan harta yang halal, bila ada. (Umar Hasyim, 1985).

    Jiika disederhanakan maka kewajiban orangtua itu (1) memberikan pengajaran, pendidikan, dan bimbingan tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk bekal di dunia dan akherat dan (2) mendorong anak dapat mengamalkan ilmu dalam perilaku sehari-hari sesuai dengan ajaran Islam. Dengan begitu setiap aktivitas pikiran dan kerja dalam kehidupan anak harus dilandasi dengan nilai-nilai keislaman. Yang jelas perlu menjadi pegangan utama, sebagaimana pada QS At Tahrim:7, yang berbunyi “Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa...”, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari apa neraka ...”

    Selanjutnya yang perlu diperhatikan orangtua dalam mendidik anak, di antaranya orangtua menunjukkan kasih sayang, harus menjadi teladan, membiasakan perilaku yang baik (akhlaq mulia), menjaga kewibawaan orangtua secara alamiah, bersikap bijak, tidak pilih kasih (berlaku adil), memperlakukan anak sesuai dengan jenis kelaminnya, menjaga dan mengawasi pergaulan anak, dan memantau anak dalam menggunakan gadgets.  Selain daripada itu orangtua harus benar-benar memperhatikan kuantitas dan kualitas waktu, sehingga hubungan orangtua dan anak terjaga dengan baik.

    Ingat bahwa sekiranya orangtua melupakan kewajiban mendidik anak, maka akibatnya di antaranya: (1) orangtua kehilangan doa dan amal anak. Rasulullah SAW bersabda, Yang artinya, “Apabila telah mati anak adam, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim), (2) bisa terjadi permusuhan antara anak dan orangtua, Dalam QS At-Taghabun:14, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu...”, dan (3) orangtua kehilangan kasih dan sayang dari anak. Rasulullah bersabda “Laa yarhamullaahu man laa yarhamun naasa” yang artinya “Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada manusia.”(Al Hadits). Kita berlindung sekali dari ketiga hal itu, kita selalu memohon Allah dari bisikan syair an sehingga jauh dari hal-hal yg dimurkai Allah SWT.

    Bagaimanapun kondisinya, setiap orangtua sangat perlu mewujudkan kewajibannya untuk mendidik anak untuk menjadi generasi masa depan yang lebih baik. Terlepas dari tantangan jaman yang dahsyat. Mendidik anak secara Islami seyogyanya tidak dipandang sebagai kewajiban semata, melainkan seharusnya dipandang sebagai kebutuhan. Bagaimana orangtua berusaha keras untuk mengawal pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini dengan baik. Menjadikan orangtua sendiri sebagai pendidik pertama dan utama dengan se baik-baiknya. Menyekolahkan anak ke institusi yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan kondisi orangtua dengan mendorong anak untuk bisa Mandiri selama proses pertumbuhan dan perkembangannya.


    Yogyakarta, 31 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Penerjunanan KKN PPL Terpadu, Posko Dara Garap Penyadaran Lingkungan dan Peningkatan Literasi

    Sejumlah kegiatan praseminar Proker Posko Kelurahan Dara, Mahasiswa KKN PPL Terpadu STKIP Taman Siswa Bima.
    Bima, PEWARTAnews.com - Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu matakuliah yang harus diambil oleh calon sarjana strata satu. STKIP Taman Siswa Bima merupakan satu diantara sejumlah erguruan tinggi yang ada di NTB tak ketinggalan juga untuk menerjunkan mahasiswanya dalam program KKN PPL Terpadu. Diantarannya adalah Posko Kelurahan Dara, Kota Bima.

    "Kami merupakan mahasiswa yang ditempatkan di Posko Dara, Kota Bima. Kesemua anggota posko, ada 26 mahasiswa dari 3 Program Studi, PGSD, PTI dan PJKR," ungkap ketua Posko Dara, Pipit Aryanto pada media ini, Minggu 21 Juli 2019.

    Mengenai program kerja, Pipit (sapaannya) mengatakan akan memfokuskan pada pemberdayaan masyarakat untuk memanfaatkan sampah dan juga meningkatkan literasi untuk anak usia dini. Menurutnya, program terserbut sesuai dengan tema umum KKN PPL Terpadu STKIP Taman Siswa Bima, yaitu meningkatkan literasi dan sadar lingkungan.

    "Fokus kami masih seputaran tema umum KKN PPL Teradu dari kampus (STKIP Taman Siswa Bima, red). Kami berusaha sebisa mungkin melahirkan program dengan memanfaatkan sampah botol dan gelas plastik. Selain itu, untuk penguatan literasi, kami sedang fokuskan pada pendampingan Paud dan sarasehan untuk metode  literasi untuk anak usia dini," jelas Pipit.

    Ditanya soal area cakupan program, mahasiswa Prodi PTI itu mengatakan akan menyesuiakan kebutuhan masyarakat. "Yang jelas kami areanya se Kelurahan Dara, tapi masalah program, tentu saja akan menyesuaikan titik yang sesuai dengan rancangan program kerja," tutupnya.

    Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Posko Dara, Ainun Fitriani dan Rizalul Fiqry pada media ini menekankan, bahwa program kerja yang akan terlahir nanti tidak akan keluar jauh dari tema umum. "Programnya yang diunggulkan nanti akan lebih condong pada pemanfaatan sampah dan penguatan literasi. Kami tetap akan mendampingi mahasiswa KKN PPL Terpadu agar programnya terealiasi dengan baik," jelas Ainun pada media ini, Minggu 21 Juli 2019.

    DPL, Ainun Fitriani dan Rizalul Fiqry ketika berdiskusi dengan anggota Posko Dara di Rumah Pintar, Kelurahan Dara, Kota Bima, 20 Juli 2019.

    Sebelumnya, saat pelepasan KKN PPL Terpadu, Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Ibnu Khaldun Sudirman menjelaskan, fokus KKN PPL terpadu, yaitu memberikan kontribusi besar sesuai dengan salah satu fokus tema yaitu sadar literasi dan sadar lingkungan menuju masyarakat beradab. Pria yang disapa Ibnu juga menyambung penyampaian pak kapolres yaitu masyarakat desa harus dikawal dana desanya,sehingga tercipta masyarakat yang sadar hukum, yaitu menjadi polisi buat diri mereka sendri. (fiq)

    Pendidikan Multikultural

    PEWARTAnews.com -- Manusia pada hakekatnya diciptakan Allah SWT secara berbeda-beda,bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Karenanya fitrah manusia itu unik, wujud dan potensinya, ada kelebihan dan ada keterbatasan. Dengan begitu kita harus saling respek, saling mengisi, saling berbagi,  dan saling membantu, sehingga bangunan hidup kita bisa mendekati idealnya. Walaupun dengan usaha sekeras apapun, tetap manusia memiliki keterbatasan. Untuk mengaktualisasikan keunikan potensi manusia dengan keragaman sejarah, budaya, dan cita-citanya, maka dirasakan penting kehadiran Pendidikan Multikuktural.

    Pendidikan Multikultural merupakan suatu pendidikan atau pengajaran yang mengakomodasi sejarah, teks, nilai, keyakinan dan perspektif tentang orang-orang yang berlatar belakang kultural berbeda (GSE, 2015). Kultur pada dasarnya mencakup ras, etnis, nasionalitas, agama, gender, jenis kelamin, dan eksepsionalitas. Tujuan, materi, metode, media, dan penilaian pendidikan dan pengajaran dimodifikasi untuk disesuaikan dengan keragaman peserta didik, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, tanpa menghadapi hambatan yang berarti. Dengan melakukan adaptasi, kehadiran Pendidikan Muktikultural diharapkan lebih fungsional.

    Pendidikan multikultural sangatlah penting, karena mengajar orang-orang untuk mengakui, merangkul dan menghargai perbedaan. Juga membantu guru-guru untuk lebih akrab dengan istilah identitas personal, identitas kultural dan identitas etnis yang dalam waktu yang sama dapat mendorong siswa untuk mengenali kultur dan etnisitasnya sendiri. Dengan begitu terjadi visi bersama yang sangat bermanfaat bagi kelancaran proses pendidikan dan pengajaran.

    Meunrut Paul C. Gorski ada tujuh karakteristik kurikulum Pendidikan Multikultural, yaitu (1) sistem penyampaian (delivery) harus mengakui dan memperhatikan keragaman gaya belajar; (2) Isi pembelajaran selengkap dan seakurat mungkin, mengakui kontribusi semua siswa, (3) Bahan pembelajaran harus beragam, dan diperiksa secara kritis untuk tidak bias; (4) Isi pembelajaran harus dipresentasikan dalam berbagai perspektif; (5) Semua siswa harus masuk dalam aktivitas pembelajaran dengan menfasilitasinya untuk mempresentasikan isi pembelajaran dari berbagai perspektif, (6)mengajari tentang isu rasa keadilan dan tanggung jawab sosial, (7) kurikulum  harus dinilai secara konstan untuk kesempurnaan, keakurasian dan bebas dari bias. Atas dasar inilah guru harus kreatif dan inovatif dalam membuat persiapan pembelajaran, dengan menjamin bahwa nilai-nilai pendidikan multikultural tidak hanya diakomodasi dalam dokumen persiapan, melainkan juga dikembangkan dalam implementasi kurikulum di kelas.

    Setelah mengetahui desain kurikulum
    Pendidikan Multikultural, maka langkah  selanjutnya adalah memanaj kegiatan di kelas dan sekolah di antaranya (1) merayakan festival keragaman budaya, (2) belajar sedikit demi sedikit tentang latar belakang budaya siswa yang berbeda, (3) memasukkan berbagai buku untuk koleksi buku di kelas dan perpustakaan sekolah, (4) mengadakan pameran makanan dari berbagai daerah dan negara, (5) menentukan materi dan jadwal presentasi untuk siswa tentang suatu suku bangsa atau bangsa dan kulturnya, (6) menjadi host untuk sukseskan hari budaya, dan (7) membuat acara dengan hadirkan berbagai nara sumber untuk presentasikan diri sesuai dengan asal usul daerah/negara dan budayanya. Jika ini bisa lakukan, maka yang nampak dari Pendidikan Multikultual lebih pada aksinya daripada teorinya. Bahkan bisa tercipta iklim yang bernuansa multikuktural yang bisa mendorong terjadi respek yang tulus.

    Dengan memahami perbedaan individual (individual differences) yang merupakan sunnatullah, kita tidak boleh hindari. Melainkan kita harus menerima dengan ikhlas dan tunjukkan perilaku kita saling respek, apalagi bangsa Indonesia yang warganya sangat  multi etnik. Untuk memantapkan upaya-upaya ini, kita sangat memerlukan kehadiran Pendidikan Multikuktural yang dikelola dengan efektif dan efisien, sehingga mampu berkontribusi terciptanya masyarakat yang harmoni dan damai. Jauh dari ketegangan dan konflik. Mari kita fastabiqul khairat untuk bisa andil dalam membangun dunia yang damai, jangan dieksploitasi diri kita oleh sikap superioritas. Kita tunjukan sifat tawadlu’, bersahabat, dan helpful.


    Yogyakarta, 30 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Mahasiswa STKIP YAPIS Dompu Wakili NTB dalam Program Pertukaran Pemuda Antar Negara

    Mahasiswa STKIP Yapis Dompu siap ikuti IMYEP 2019.
    Dompu, Pewartanews.com -- Yarham Fathul Akbar merupakan mahasiswa semester enam program studi pendidikan Bahasa Inggris di STKIP Yapis Dompu. Ia terpilih mewakili NTB dalam mengukuti Indonesia-Malaysia Youth Exchange atau yang biasa disingkat IMYEP tahun ini.

    Pria yang akrab disapa Yarham ini rupanya sudah dua kali gagal dalam mengikuti seleksi pada program yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, namun kegagalan itu tidak membuatnya surut. Malah, dengan kegagalan itu membuat ia terpacu dan bersemangat untuk selalu berkompetsi dalam mengikuti program semacam ini.

    “Alhamdulilah, saya bersukur, saya terpilih mewakili NTB pada tahun ini” kenang pria kelahiran Dusun Buncu Desa Matua Kabupaten Dompu ini.

    Ia mengisahkan bahwa kegiatan IMYEP pada tahun ini hanya meminta satu delegasi di NTB. Ia melanjutkan, “Pesaing saya banyak saat seleksi tingkat kabupaten dan tingkat Provinsi, mereka adalah putra-putri terbaik NTB juga, namun dewan juri memilih saya untuk mengikuti program ini, itu patut saya syukuri,” ucapnya.

    Kegiatan pertukaran pemuda antar negara ini akan berlangsung selama 14 hari pada bulan September tahun 2019. Adapun kegiatan yang dalam program ini meliputi kunjungan budaya (cultural visiting), homestay, pementasan budaya (cultural performing), kunjungan kenegaraan, dan pengembangan komunitas (Community Development). (Fani Faria Nanda)



    Menghadapi Ujian Allah

    PEWARTAnews.com – Hidup manusia itu hakekatnya silih berganti antara senang dan sedih, mudah dan sulit, longgar dan sempit, atau bahagia dan susah. Dalam praktiknya jangan mengira hidup itu selalu senang, mudah, longgar, dan atau bahagia terus, dan sebaliknya juga jangan mengira hidup itu selalu sedih, sulit, sempit dan atau susah terus. Karena fitrahnya, manusia itu hidup dinamis dan fluktuatif. Semua ragam kondisi itu menjadi ujian Allah. Kita tanpa terkecuali harus memiliki kemampuan menghadapi ujian Allah dengan sabar dan ikhlas.

    Umumnya manusia itu menganggap bahwa ujian (mushibah) itu dikonotasikan sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang negatif. Hal ini tidak salah karena yang sering menjadi rujukan awal adalah QS Al Baqarah, 155, yang artinya “Dan Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. Ujian Allah sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang kurang mengenakkan, menyusahkan, menyulitkan, dan menyedihkan.

    Padahal ujian Allah itu tidak selalu berwujud hal-hal yang negatif, melainkan juga ada yang berupa hal-hal yang positif. Sebagaimana firman Allah swt yang tertuang pada QS Al Anbiya:35, yang artinya “Dan Kami akan uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan dan kepada Kamilah kalian kembali”. Ujian Allah yang didentifikasikan sebagai hal yang positif, di antaranya : kemenangan, kekuasaan, jabatan, pangkat, kekayaan, dan anak.

    Jika dikatagorikan ujian Allah swt itu ada yang masuk katogori ujian paling ringan adalah ujian pada tubuh seperti penyakit atau kecelakaan. Ujian pada tubuh ini untuk menguji kesabaran dan kerelaan atas takdir Allah. Jika bisa sabar dan rela, maka diberikan dan dihapuskan dari sebagaimana dosanya serta diangkat derajatnya. Sebaliknya ujian yang paling berat adalah nikmat kesenangan, ujian aqidah atau agama. Adapun untuk menghadapi ujian ini harus bisa mengendalikan keagungan, mendidik anak dengan sebaik-baiknya, berbuat Adil dalam kepemimpinan, membersihkan hartanya, menjaga tauhid, dan meningkatkan ketaqwaan.

    Ujian Allah baik yang bernuansa positif maupun negatif bukan tanpa tujuan. Adapun tujuannya adalah Allah swt ingin menguji keimanan seseorang, sebagaimana Allah swt firmankan dalam QS Al Ankabut:2-3, yang artinya “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan:
    “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka dan benar-benar Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui pula orang-orang yang dusta. Dengan begitu maka ujian Allah swt itu bisa menjadi kebutuhan kita untuk membuktikan keimanan dan keislaman kita. Kita tidak cukup dan puas dengan label.

    Ujian Allah pada hakekatnya tidak akan melebihi dari kemampuan kita. Allah swt berfirman di QS Al Baqarah: 286 yang berbunyi “Laa Yukallifullaahu Nafsan Illaa Wus’ahaa”, yang artinya : Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Ini membuktikan sifat Maha Rahman dan Rahim Allah selalu menyertai hidup ummat manusia. Jika manusia sabar, tekun, serius dan ikhlas menghadapi ujian hidup, insya Allah pada akhirnya akan menuju hasilnya.

    Akhirnya dalam menghadapi ujian Allah swt baik yang positif maupun yang negatif kita harus sabar dan ikhlas, sehingga kita bisa lolos dan berhasil di mata Allah swt dan manusia. Kita bangsa Indonesia belakangan ini dihadapkan ujian yang tidak ringan, Jika bisa hadapi dan selesaikan dengan wisdom dan kepala dingin menempatkan kepentingan rakyat dan bangsa secara bermartabat, maka insya Allah kemenangan milik rakyat. Untuk itu kita berdoa, semoga Allah swt mengabulkannya. Ya Allah, masukkanlah Kami ke dalam golongan Orang Mu’min yang tabah, yang senantiasa berlapang dada dalam menempuh segala ujian, baik ujian berupa penderitaan maupun ujian yang berupa kesenangan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.


    Yogyakarta, 29 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Rutinan

    Siti Mukaromah. 
    “Suami kalian tidak hafal qur’an, tidak masalah, yang terpenting mampu meluangkan sedikit waktunya untuk nyimak hafalan kalian, dan mengikhlaskan waktu kalian setiap 40 hari sekali (ahad pon) untuk berangkat rutinan semaan alumni”- Nasihat bu Nyai kepada para santrinya. (Ibu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ, 2016).

    Dahulu, bu Nyai saya seringkali memberikan nasihat kepada kami, khususnya santri huffadz agar kelak memilih pendamping hidup yang bersedia mendukung kami untuk bersama-sama ngrekso (menjaga) hafalan qur’an kami. “Suamimu tidak Hafal qur’an, tidak masalah, yang terpenting mampu meluangkan sedikit waktunya untuk nyimak hafalanmu, dan mengikhlaskan waktumu setiap 40 hari sekali (ahad pon) untuk berangkat rutinan semaan alumni”.

    Bagi yang sudah menikah, mungkin waktu tidak seluasa seperti saat-saat single. Ya, saya tahu betul kesibukan orang yang sudah berumah tangga, kadang memang ada hal-hal yang tidak terduga. Banyak acara seperti kondangan yang mungkin double-double, alias semua pas barengan di tanggal jadwal rutinan. Atau hal lain seperti anak rewel, bahkan (mungkin) hingga hal yang sangat lumrah sekalipun, waktu ahad adalah waktu quality time hanya milik berdua “suami isteri”, sehingga apapun yang terjadi, ya tetap quality time. Ini mahh idealis amat yak, haha. Atau hal lain misal dikarenakan faktor ekonomi, butuh bensin untuk sampai ke tujuan, ndilalah lagi tidak punya uang misalnya, atau bahkan karena punya anak banyak dan anaknya tidak mau ditinggal, terus semuanya diajak dan biasanya mereka pada jajan, ndilalah lagi gak punya uang untuk jajan anak-anak. Ini problem memang, namun tidak ada suatu problem yang tidak dapat diatasi dan dicari jalan keluar.
    Saya sendiri selalu mengobrol dengan senior-senior yang aktif (selalu berangkat setiap saat) mereka berpendapat bahwa mereka men-cancel acara yang bersamaan dengan rutinan ahad pon. Andaikata ada undangan kondangan, maka mereka berangkat setelah menghadiri ahad pon atau hari sebelum acara kondangan tersebut.

    Saya terenyuh ketika ada yang bilang, “Aku itu memposisikan diriku seperti yang sedang punya hajat (shohibul bait), bisa jadi (mungkin) shohibul bait tidak punya uang untuk menjamu kita, namun sik kanggonan (shohibul bait) tetap berusaha apapun yang terjadi tetap diada-adakan, eh tapi yang berangkat malah gak banyak, padahal buat makanan-nya sudah banyak”, Hehehhe. Ikhlas sih ikhlas, disodaqahkan ke tetangga itu perkara lain. Hanya saja, cobalah kita bersama-sama merenung dan menjadikan ini sebagai salah satu motivasi untuk berangkat ahad pon. Saat lagi males atau banyak urusan yang menjadikan tidak dapat berangkat, mari flashback dengan mengingat-ingat “bagaimana dulu saat ahad pon ditempat kita”, dan bagaimana rasanya saat kawan kita tidak berangkat”. Saya rasa itu cukup menjadi motivasi awal untuk mengurungkan niat tidak berangkat.

    Motivasi lain, ahad pon dapat dijadikan untuk nostalgia kebersamaan kala dulu menjadi santri. Rutinan ini seharusnya digunakan sebagai ajang untuk menyambung silaturrahim. Sebagaimana yang diketahui, bahwa silaturrahim menjadikan hidup kian berkah, melapangkan rizqi dan memperpanjang umur. Jika hal semacam itu disadari, tentu sepelik apapun keadaan dan kesibukan tak menjadi hambatan untuk tetap berangkat dan merajut kebersamaan kembali. Bayangkan, betapa bahagianya Almh. Bu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ manakala melihat santri-santri nya antusias untuk bersama-sama nguri-uri (menjaga dan merawat) amanah beliau. Saya yakin seyakin-yakinnya-nya (haqqul yaqin) betapapun keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat, tetapi kalau niat, azam dan ghirah menjadi patokannya, pasti Allah akan memberikan kemudahan dan kekuatan untuk sampai pada tujuan.

    Selain itu, bagi penghafal qur’an yang benar-benar ingin berkhidmah kepada Al-Qur’an, maka moment ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk nderes dan saling menyimak. Pernah menghafal al qur’an dan Hafal Qur’an itu beda banget. Kalau pernah menghafal Qur’an itu, selesai 30 juz tapi belum tentu lancar saat disimak. Naaah, moment ini saya rasa dapat dijadikan sebagai alternatif untuk membantu melancarkan dan melanyahkan Al Qur’an. Misal, bulan Juli ini baca juz 1-3, pertemuan berikutnya baca juz 4-6, begitu seterusnya hingga sampai juz 30. Nahh selama 40 hari itu, guanakan waktu seminggu atau lebih untuk fokus muraja’ah juz yang akan dibaca kala ahad pon. Sehingga pada saatnya nanti, dimanapun tempatnya jika disuruh baca juz berapapun pasti oke.

    Hal semacam inilah yang juga harus dipahami dan dimengerti oleh para suami, agar benar-benar bertanggungjawab menjadi imam bagi isterinya. Tidak hanya imam jiwa dan raga (fisik), namun juga imam isterinya dalam menjaga Al Qur’an. Berat memang, jika tidak ada sinergisitas (kesesuaian, kerjasama) antara suami dan isteri. Maka, sudah sepatutnya seorang suami gercap, trengginas, dan pengertian kepada isterinya yang memiliki hafalan qur’an untuk bersama-sama ngrekso (menjaga), termasuk dengan cara meluangkan waktu untuk nyimak hafalan isteri, dan mengizinkan isteri untuk berangkat ahad pon, meskipun hari itu adalah hari “quality time kalian”. Dan seorang suami sepatutnya dapat menjadi motivator dan navigator bagi isterinya kala isterinya aras-arasen/down, tanpa alasan yang jelas.

    Untuk memupuk semangat selain yang telah tersebut diatas, dapat pula dengan mengingat dan mengenang wajah bu Nyai, dan dengan cara melihat keadaan diri. Bagi yang masih single, mumpung belum nikah. Bagi yang sudah nikah, mumpung belum punya anak. Dan bagi yang sudah menikah dan punya anak, mumpung masih ada peluang dan kesempatan yang Gusti Allah berikan, maka harus semangat menjaga amanah yang titipkan oleh Almh. Bu Nyai untuk meramaikan majlis Ahad pon. Karena sedikitpun manusia tidak tahu kapan ajal menjemput. Padahal setiap harinya, kematian selalu mengintai manusia. Sekali lagi, karena “mumpung”, jadikan kata “mumpung” itu menjadi cambuk loncatan untuk semangat dalam segala hal, sesibuk apapun.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Malu dan Tenggang Rasa Pakaian yang Indah

    PEWARTAnews.com – Rasa malu dan tenggang rasa adalah sifat utama Sahabat Usman bin Affan. Beliau adalah salah seorang dari 5 orang pertama setelah wahyu pertama diterima oleh Rasulullah. Sebagaimana Rasulullah saw sabdakan “Arhamu ummati Abu Bakrin, wa asyadduhaa fii diinillaahi Umaru, wa asyadduhaa hayaa-an Utsmaanu”, yang artinya “Yang paling pengasih di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam agama Allah adalah Umar, dan yang paling perasa adalah Utsman. Inilah pengakuan Rasulullah tentang Utsman, sehingga dalam menyikapi dan memperlakukan terhadap Utsman selalu perhatikan sifat Utsman yang khas ini.

    Utsman pada awalnya adalah seorang tokoh dan elit Quraisy yang sangat disegani. Beliaulah seorang Muhajir pertama, yang bukan berpindah secara jasmaniah dari suatu tempat ke tempat lain, melainkan beliau itu pindah secara ruhaniyah yang pindah dari kedudukan tinggi, dari kehartawanannya dan dari pengaruhnya yang tiada terbatas, serta menyerahkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya untuk berdakwah dan berjuang dalam menghadapi berbagai kesulitan dan hinaan dari orang-orang Quraisy yang dulu sangat menghormatinya.

    Setelah menjadi sahabat Rasulullah SAW, ada dua sifat yang sangat menonjol pada diri Utsman bin Affan, yaitu sifat malu dan tenggang rasa. Sifat malu yang diyakini, dirasakan dan ditunjukkan oleh Utsman adalah bukan malu kepada teman sejawatnya atau orang lain, melainkan malu kepada Allah SWT, yang bukti-bukti wujudnya berkilauan di lubuk perasaan yang menggetarkan kesadarannya. Selain itu malu terhadap Rasul-Nya yang tanda-tanda kebenarannya memenuhi jiwanya yang suci buat menerima dan meyakininya. Yang juga sangat penting adalah Utsman sangat malu terhadap diri sendiri jika mendustakan keyakinan dan meninggalkannya, karena akan mengguncangkan persendian hidupnya.

    Sifat tenggang rasa yang dimiliki Utsman bin Affan dikuatkan oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya, “Ashdaqu ummatii hayaa-un Utsman”, artinya “Yang paling benar sifat pekanya di antara umatku adalah Utsman”. Hal ini dibuktikan perlakuan Rasulullah SAW terhadap Utsman berbeda dengan perlakuannya terhadap Abu Bakar dan Umar. Berikut sabda lainnnya “Utsman itu seorang perasa, dan seandainya saya izinkan ia masuk sewaktu saya berbaring, tentulah ia akan malu masuk dan akan kembali sebelum keperluan yang hendak disampaikannya dapat saya penuhi! Hai Aisyah, tidaklah saya akan malu terhadap orang yang dimalui oleh Malaikat”(Al Hadits). Betapa kuat pengakuan Rasulullah terhadap Utsman yang sangat toleran. Bahwa yang segan kepada Utsman tidak hanya Rasulullah saja, bahkan Malaikat pun demikian.

    Hal lain yang tidak lepas dari sosok Utsman bin Affan adalah sifat kedermawanannya. Tidaklah diragukan bahwa Utsman adalah sahabat yang kaya raya yang ahli shadaqah. Kekayaannya dikelola dengan baik,sehingga abadi hingga sekarang, yang salah satunya diabadikan dalam bentuk Hotel Utsman bin Affan di Madinatul Munawarah, di samping meninggalkan Sumur Al Bir-u yang diwakafkan untuk ummat hingga sekarang. Namun selama hidupnya, Utsman menganggap dunia sebagai sesuatu yang paling rendah, dunia yang seolah olah sudah berada di tangannya tak pernah diizinkan masuk ke dalam relung hatinya. Karena baginya, dunia hanya berada di tangannya saja, bukan dalam hatinya. Sebagai sahabat Rasulullah, Utsman tentu sangat paham bahwa: “ Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung didalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepadanya, seorang ‘alim ” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sungguh mulia Utsman memandang bahwa dzukir jauh lebih mulia daripada harta, karena salah memanaj harta bisa menjadi sumber malapetaka.

    Semoga dengan tulisan singkat ini tentang keteladanan dari Utsman bin Affan bisa memberikan pelajaran kehidupan yang bisa selamatkan kita hidup di dunia dan akhirat. Mari kita usahakan bisa hijrah ruhaniyah, istiqamahkan rasa malu dan tenggang rasa, dan membiasakan berdarma untuk ummat. Kita juga bisa belajar dari sikap Rasulullah dalam menyikapi dan melayani sahabatnya dengan berbagai cara. Begitu demokratisnya dan adaptifnya dalam melayani ummat. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita. Aamiin.


    Yogyakarta, 28 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Penggunaan Cadar di Era Millenial

    Rizki Kurniasih.
    PEWARTAnews.com -- Penggunaan cadar membawa konsekuensi penolakan lebih besar dari jilbab. Selain persoalan stigma yang dilekatkan pada perempuan bercadar yakni aliran Islam fundamental yang erat juga kaitannya dengan terorisme, cadar kini juga menghadapi penolakan teknis terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik (Lintang Ratri, 29). Cadar adalah kain penutup muka atau sebagian wajah wanita, minimal untuk menutupi hidung dan mulut, sehingga hanya matanya saja yang tampak. Dalam bahasa Arab, cadar disebut dengan khimar, niqab, sinonim dengan burqa’. (Mulhandi Ibn Haj, 2006: 06). Menurut Abu Syuqqah, Islam mengakui cadar dan memperbolehkannya demi memberikan kelapangan kepada segolongan perempuan mukmin yang menjadikannya sebagai mode pakaiannya dari satu sisi, dan dari sisi lain karena cadar tidak menganggu satu kepentingan pun dari kepentingan kaum muslim di dalam masyarakat kecil yang membiasakannya. Konsep ini didasarkan pada firman Allah:
    ٖ
    هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

    “Dan Ia (Allah) tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (Q.S. al-Hajj: 78).

    Saat ini penggunaan cadar di masyarakat bukanlah hal baru lagi. Dimana-mana kita bisa menemukan perempuan memakai cadar. Gelombang demokrasi yang datang pasca orde baru membuat semua orang berhak mengekspresikan dirinya dalam bentuk apapun termasuk dalam menggunakan cadar. Di kampus, mall, pasar, lingkungan perkantoran dapat dengan mudah kita temukan perempuan yang memakai cadar. Fenomena cadar ini juga salah satu hasil dari perubahan sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat. Hal ini didorong oleh karena manusia sebagai komponen dari masyarakat itu selalu terinspirasi dari pengalaman dan tujuan yang akan mereka capai (Nafisah, 2016). Tujuanya bisa berbagai macam entah itu agama, trend sosial maupun faktor psikologis.

     Di lingkungan masyarakat sendiri terdapat berbagai penilaian terhadap  perempuan bercadar. Ada yang menerimanya dengan baik namun juga tidak sedikit ada yang kurang respect terhadap keberadaanya. Stigma paling umum yang melekat  pada wanita bercadar adalah bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang identik dengan kebudayaan Arab yang bukanlah produk asli orang Indonesia (Novri, 2016).

    Perkembangan zaman yang terjadi telah merubah standar moral dalam kehidupan masyarakat sehingga terjadi banyak fitnah dimana-mana terkhusus kepada kaum hawa. Maka cadar digunakan mereka di zaman sekarang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah serta melindungi diri dari segala fitnah. Dan ini patut untuk diberikan respect  yang sebesar-besarnya. Semakin kesini kita juga melihat bahwa esensi dari sebuah cadar seakan menghilang. Cadar sebagai sebuah lambang penghambaan, kesalehan, ketertutupan malah hanya dijadikan sebuah trend fashion perempuan muslimah di era millenial. Tujuan seseorang dalam memakai cadar tidak lagi untuk menutup dan menghambakan diri tetapi malah ingin menonjolkan diri dihadapan public.

    Seakan ada pemaknaan bahwa agama hanya dijadikan simbol untuk menghambakan diri  pada dunia ketimbang memaknai agama itu sebagai nilai untuk menghamba kepada Tuhannya. Ini bisa kita lihat di media sosial banyaknya perempuan bercadar yang suka berselfie ria, vlogging, bahkan terlibat dalam skandal asmara rumah tangga yang mana sebenarnya hal ini tidak perlu menjadi konsumsi publik. Sebenarnya persoalan memakai cadar hingga kini masih diperdebatkan oleh  para ulama terkait hukumnya didalam Al-Qur’an dan Hadits. Bahkan sekelas ulama salaf terdahulu pun masih memiliki perbedaan pendapat tentang penggunaan cadar ini.

    Dalam kajian budaya, saya kemudian melihat fenomena cadar ini sebagai trend mode baru. Kesalehan spiritual dalam balutan pakaian syar’i yang fashionable membuat orang merasa tetap bisa tampil elegan dan tak ketinggalan zaman. Hal ini tampak kontradiktif dengan semangat syar’i yang mengedepankan nilai-nilai kesederhanaan. Di sini lah, ideologi budaya pop tak bisa terhindarkan. Hal ini membuat fenomena cadar di Indonesia, menurut saya menjadi khas dan unik. Meski cadar kerap diasosiasikan dengan banyaknya batasan terhadap perempuan dalam mengkespresikan diri di ruang publik, di Indonesia mereka yang kemudian memilih bercadar secara fashionable tetap menunjukkan aksi-aksinya di ruang publik.
    Dalam medsos Instagram misalnya, kaum perempuan bercadar tak berhenti untuk menunjukkan selera fashion dan gaya yang diikuti kalimat-kalimat motivasi dan sejenisnya. Di sini lah, pakaian syar’i tumbuh sebagai mode. Tidak lagi berpatokan pada nilai-nilai kesederhanaan. Misalnya saja tampilan seorang public figure, meski ia bercadar, ia tetap menggunakan hiasan cincin besar yang  fashionable yang biasa dipakai para pecinta fashion.  Hal itu terlihat juga pada bisnis busana pengantin bercadar yang mendapatkan permintaan pasar yang meningkat. Fashion atau mode pada akhirnya bermuara pada gaya hidup.

    Masyarakat kita yang terbiasa berpikir homogen, dengan satu sudut pandang, dihadapkan pada banyak pilihan dan cara pandang, dengan semakin masifnya penggunaan media online. Bagaimanapun, ekspresi berpakaian selalu menyisakan ruang bagi ekspresi budaya yang khas. Maka, menurut saya, gaya berpakaian syar’i perempuan Indonesia tetaplah unik. Tidak sepenuhnya meniru cara berpakaian orang Arab. Hal itu misalnya tampak dari ekspresi sejumlah mahasiswi bercadar. Cadar yang kerap identik dengan ekslusivitas, bahkan dikaitkan dengan ideologi tertentu, dalam beberapa kasus, saya melihat mereka tak canggung dalam berinteraksi sosial, termasuk dalam berbicara dengan lawan jenis. Hal ini pasti sangat berbeda dengan kebiasaan di Arab sana, ketika kaum perempuan sejak kecil dididik dengan cara yang sangat ketat, termasuk dalam mengekspresikan diri di ruang publik sesuai dengan nilai-nilai budaya mereka. Tetapi, hal itu tidak ditemukan dalam beberapa kasus mahasiswi bercadar. Hal ini menunjukkan bahwa ekspresi keberagamaan orang Indonesia itu selalu khas. Interaksi laki-laki dan perempuan muslim yang cenderung lebih cair di ruang-ruang publik membuat cara-cara berekspresi itu terasa berbeda (Khozana, 2018).

    Bercadar memang soal pilihan individu, dan kita layak menghargainya. Akan tetapi, bercadar menjadi persoalan ketika memunculkan kekhawatiran situasi sosial tertentu. Atas dasar itulah barangkali alasan munculnya pembatasan penggunaan cadar di sejumlah institusi pendidikan Islam. Di luar persoalan-persoalan yang menyangkut kegelisahan sosial terkait meningkatnya tren perempuan bercadar yang dikaitkan dengan ideologi tertentu, saya lebih percaya pada sebuah proses belajar. Ketimbang membatasi ruang gerak mereka, para perempuan bercadar itu akan mendapat kesempatan untuk belajar tentang keragaman cara pandang dan tidak menempatkan diri mereka secara ekslusif. Makna dan tujuan pemakaian cadar sebagai sekedar tradisi atau dorongan keagamaan ke alasan HAM sampai pemaknaan belenggu atas eksistensi sosial perempuan dan diskriminasi. Pandangan kedua pihak pasti tidak akan pernah bertemu karena selain cara pandang dan sudut pandangnya sejak awal dalam benak dan pikiran sudah berbeda karena faktor pemahaman dan pengetahuan atas cadar itu sendiri serta penafsirannya, apakah itu merupakan budaya yang dengan demikian tidak wajib atau sebagai ajaran agama yang harus dilakukan. Apapun dalil, argumentasi dan alasan penguatnya baik dari segi HAM, budaya juga agama, polemik ini tak bakal rampung apalagi berujung. Bercadar sama halnya dengan poligami atau merokok yang merupakan masalah khilafiyah dan tidak bisa diputuskan hukumnya secara sepihak dan serta merta sama, serta Ijma’ apakah haram, sunah atau mubah (Niam, 2018).

    Pandangan bahwa cadar bagian dari berislam yang kaffah dan bahkan wajib bagi perempuan oleh kalangan tertentu tidak bisa begitu saja ditolak dan dinafikan, karena mereka punya argumen dan dasar dalilnya. Suka tidak suka dalil pembenar itu ada, tafsirnya atas ilat-nya saja yang berbeda. Begitupun sebaliknya, ketika kalangan yang berpendapat bahwa bercadar itu berlebihan dan sangat mempengaruhi pola relasi sosial dalam dunia nyata, yang menuntut “kehadiran” seseorang dalam bentuk wujud (dalam hal ini wajah) juga sesuatu yang maklum dan bisa difahami.



    Penulis: Rizki Kurniasih
    Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang


    Memantapkan Peradaban Bangsa

    PEWARTAnews.com – Manusia yang beradab merupakan salah satu pilar bangunan bangsa Indonesia. Manusia yang beragama, manusia taat hukum, manusia berkarakter, manusia berkepribadian, manusia berakhlaq, dan manusia yang menjunjung nilai-nilai yang baik. Kita semua sungguh merindukan warga dan bangsa yang beradab. Kita bangsa Indonesia memang sudah tidak lagi masuk bangsa yang tidak beradab, namun kita juga belum masuk bangsa beradab. Kita sedang berproses menuju bangsa beradab dan berperadaban tinggi.

    Kita bangsa merdeka memang tidak mau dan menolak sebagai bangsa tidak beradab. Namun dalam faktanya bahwa kita belum berhasil memperlihatkan ke bangsa lain sebagai bangsa beradab. Buktinya bahwa harga diri kita sebagaimana bangsa belum mampu menjaga eksistensi kita, nyawa kita. Sekalipun satu jiwa yang melayang tidak boleh terjadi tanpa ada alasan yang jelas. Mengapa hal ini terjadi, menurut hemat saya ada beberapa faktor penyebab.

    Pertama, belum bisa ambil kebaikan dari perbedaan. Bahwa fitrah manusia itu unik, sehingga beragamnya suku di Indonesia merupakan sunnatullah, yang harus disikapi secara bijak. Kita ingat sabda Rasulullah, bahwa perbedaan (apapun) di antara ummatku adalah rahmat, karunia. Kita harus terampil mengelola perbedaan, karena perbedaan itu sumber utama konflik. Kita harus bersyukur terhadap adanya perbedaan, karena di balik perbedaan itu ada potensi kekuatan yang bisa disinergikan untuk menuju sukses dan keunggulan. Kini yang diunggulkan bukan lagi individual intelligence, tetapi collective intelligence. Sekarang bagaiman mensinergikan kekuatan untuk menghadapi masalah kompleks. Jika kita mampu tampilkan perilaku secara kolaboratif dan sinergis, maka secara tidak langsung kita mantapkan peradaban kita.

    Kedua, kurangnya respek terhadap orang lain. Ada perangai bangsa kita yang kurang positif. Tidak biasa ucapkan terima kasih ke orang lain. Tidak biasa ucapkan maaf kepada orang lain. Tidak biasa antri dalam hajat sosial, sehingga tindakan potong kompas dianggap biasa. Tindakan yang kurang positif ini diduga sumber utamanya adalah tiadanya atau kurang budaya respek di tengah-tengah masyarakat. Tentu orang-orang yang berusaha memperbaiki perilaku yang kurang terpuji ini berangsur meningkat. Saatnya kita sekarang munculkan gerakan perilaku terpuji kita terhadap orang lain dengan bertumpu pada keteladanan Rasulullah saw, melalui haditsnya, “Man lam yarham laa yurham”, yang artinya “Barang siapa yang tidak mengayangi, maka tidak disayangi” (HR Muslim). Jika kita bisa dengan ikhlas respek terhadap sesama, maka peradaban kita diam2 membaik.

    Ketiga, perilaku mengejek orang lain, yang kini sering disebut hoax relatif mendominasi perilaku masa. Perilaku ini berpotensi besar untuk timbulkan konflik dan pertikaian. Padahal mengolok-olok sudah diingatkan oleh Allah swt, dalam QS Al Hujurat:13, yang intinya bahwa kita tidak boleh mengolok-look, karena boleh jadi, yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Perilaku seperti ini bisa berakibat pada pertikaian bahkan pembunuhan. Biaya sosial yang sangat tinggi. Sebagai insan yang berpikir jernih dan memiliki hati bersih, tentu tidak mudah berinisiasi bahkan menprovokasi tindakan yang tak terpuji ini. Semoga perilaku menghargai dan memuji orang lain terus bisa ditumbuhkembangkan, sehingga bangsa kita semakin berperadaban.

    Keempat, masih dijumpai cukup banyak orang yang kurang smart memiliki kekuasaan, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Akibatnya kebijakan dan program tidak menyentuh kepada kepentingan publik. Bahkan penegakan keadilan terabaikan. Kondisi ini yang membuat kehidupan masyarakat menjadi kurang nyaman dan aman. Sudah seharusnya pejabat publik dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi, kredibilitas dan integritas yang tinggi, sehingga kehidupan semakin terkendali dan terarah menuju cita-cita bersama dan bangsa. Menjadi bangsa yang berperadaban, yang menempatkan warga dan bangsa Indonesia menjadi lebih terhormat dan bermartabat.

    Demikianlah beberapa catatan kecil yang tidak bisa terlepas dari dinamika bangsa. Bahwa persoalan bangsa dewasa ini tidak bisa diabaikan dan harus diselesaikan, bukan dengan kekerasan, melainkan harus dihadapi dengan sikap yang penuh kebijaksanaan (wisdom) yang dilandasi spirit menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, persatuan dan kesatuan bangsa, dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga kita menjadi bangsa Indonesia yang beradab.


    Yogyakarta, 27 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Kemeriahan Acara Festival Bombo Ncera 2019

    Acara Festival Bombo Ncera. 
    Bima, PEWARTANEWS.COM -- Festival Bombo Ncera 2019 berlangsung meriah yang dimulai dari hari Sabtu-Minggu tanggal 29-30 Juni 2019. Ribuan masyarakat memadati jalan lintas tente karumbu untuk menyaksikan berbagai suguhan pawai menarik dalam acara tersebut.

    Pada festival Bombo Ncera tahun ini banyak perwakilan dari berbagai komunitas di berbagai wilayah Kota Bima maupun Kabupaten Bima ikut memeriahkan event tahunan ini.

    Dimulai dari pukul 12:30 WIB para delegasi atau anggota pawai berjalan dari Desa Soki menuju wisata Bombo Ncera yang berlokasi lumayan jauh dari pedesaan. Lambaian hangat masyarakat desa Soki, Ncera dan Diha yang telah menunggu mengiringi langkah orang-orang yang pawai tersebut.

    Di lokasi wisata alam Bombo Ncera para delegasi bersama Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E. dan wakil  Bupati Bima maupun para tamu undangan mendapat suguhan budaya yang dibalut dalam kegiatan festival. Berbagai seni budaya tradisional khas Bima/Mbojo dan Indonesia mulai tarian, musik, patu cambe dan tradisi lainnya menjadi tontonan menarik bagi mereka.

    Pantauan PEWARTAnews di lapangan, Sabtu (29/6/2019), terlihat antusiasme warga dan para delegasi menyaksikan acara tahunan ini. Panas terik matahari tidak menyurutkan masyarakat untuk menyaksikan berbagai suguhan menarik yang tersaji dalam acara tersebut.

    “Saya datang sama anak-anak, pengen lihat saja. Kebetulan anak-anak lagi libur sekolah dan acaranya juga cuman setahun sekali.” kata seorang warga, Asti (38) saat di temui di lokasi.

    Suasana saat acara Festival Bombo Ncera. 

     Dia mengaku, sengaja membawa anak-anaknya ke acara Festival Bombo Ncera 2019 untuk mengenalkan berbagai budaya Indonesia khususnya budaya Mbojo (Bima). Selain itu, dia juga ingin anak-anaknya tidak lupa tentang sejarah dan budaya yang orang Bima miliki.

    ‘’Ia kemarinkan tahu ada pawai budaya, ya bagus buat anak-anak. Sekalian main sekalian mengenalkan budaya keanak-anak hehehe,” ujarnya

     Sementara itu, Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E. berharap melalui acara ini bisa menjadi cermin kemajuan budaya di Kecamatan Belo khususnya di Desa Ncera. Kegiatan ini juga menjadi simbol persatuan diantara desa yang satu dengan desa yang lain.

    “Saya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga saya kepada keluarga besar kecematan belo khususnya desa Ncera dari awal kita disajikan selain dari penampilan berbagai etnik budaya lebih-lebih kita disugukan dengan hadirnya seluruh elemen baik itu orang tua, generasi menengah, maupun generasi muda. Ini menandakan begitu semangat besar masyarakat dengan mendukung pelaksaan Festival Bombo Ncera,"  sebut Bupati Bima.

    Lebih lanjut Bupati perempuan ini mengungkapkan, "Saya mengingatkan kita memiliki budaya yaitu Rimpu, kemudian rimpu ini memiliki khasan akan tenunan yang kita miliki semoga kita semua mampu menjaga itu termasuk diantaranya agar generasi-generasi muda juga bisa menenun seperti orang tuanya dan jangan sampai kedepan sudah tidak ada lagi generasi yang bisa menenun dan menghasilkan sarung (tembe) yang menandakan bagi kita semua,” ungkapnya.

    Aswad sebagai Ketua Umum Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan adanya Festival Bombo Ncera tersebut.

    “Mempromosikan Wisata Alam Bombo Ncera baik di dataran kota maupun di manca negara supaya Bombo Ncera ini lebih di kenal luas lagi, kami ingin membangun budaya-budaya yang sudah punah atau mengangkat kembali beberapa budaya yang sudah punah dan bagaimana orang Belo ini menjadi rukun ataupun Belo ini menjadi ramah khususnya Desa Ncera," kata perempuan yang biasa dikenal dengan nama Yeke ini.

    Lebih jauh, Yuke menyebut. "Saya juga berterima kasih kepada para Pembina KPPBN maupun pemerintah Desa Ncera, Soki dan Diha yang sudah ikut berkontribusi untuk mensukseskan acara Festival Bombo Ncera 2019 untuk kedua kalinya,” celotehnya.

    Dalam kesempatan yang sama saudara Iwan Purwanto selaku ketua Panitia Festival Bombo Ncera 2019 juga menyampaikan.

    “Kegiatan ini kami bangun untuk memperkenal budaya Bima (Mbojo) dan saya juga berterima kasih kepada seluruh pemerintah yang ada di kabupaten bima yang terutama kepala pemerintah desa yang ada di kecamatan belo yang telah mensuport dan membantu kami sehingga terlaksananya kegiatan kali ini,” sebut Iwan.  (Siti Hawa) 

    Belajar Sepanjang Hayat

    PEWARTAnews.com – Belajar Sepanjang Hayat atau Lifelong Learning bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah diperkenalkan oleh Rasulullah saw sejak 15 abad yang lalu. Melalui hadits Rasulullah saw, “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilallahdi”, yang artinya “ Tuhtutlah ilmu dari buan Ibu sampai ke liang lahat”. Bahkan untuk lengkapnya akan pentingnya belajar selama jiwa di kandung badan, Rasulullah saw juga bersabda ; ”Sebaik-baik dunia dan akherat harus dengan ilmu dan sejelek-jeleknya dunia dan akherat tanpa ilmu” (HR. Dailami).

    Pada hakekatnya belajar sejak buaian tidak berarti bahwa belajar itu dimulai sejak lahir, melainkan belajar seharusnya bisa dimulai sejak dalam kandungan, utamanya sebelum 4 bulan usia kandungan dan setelahnya. Kesempatan yang baik ini perlu dimanfaatkan mengisi waktu dengan perilaku yang penuh keharmonisan dan amal-amal ibadah yang baik. Demikian pula akhir belajar bukan dipungkasi dengan wafatnya seseorang, namun belajar bisa dilanjutkan hingga masuk liang lahat dan mengisi tuntas lubang kuburannya hingga didoakan setalah penguburan selesai.

    Belajar sepanjang hayat tidaklah harus dipandang sebagai kewajiban semata, namun harus disikapi sebagai kebutuhan. Belajar dapat dilakukan sendiri, autodidak, atau belajar dapat dibantu oleh orang lain. Belajar bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Belajar bisa secara informal, formal dan atau nonformal.

    Belajar sepanjang hayat itu penting, karena memberikan manfaat bagi kehidupan fisik dan mental. Kemajuan kognitif berdampak terhadap sel-sel otak dan fungsinya. Selanjutnya bahwa belajar sepanjang hayat dapat mendorong belajar untuk memenuhi kebutuhan dan minat pribadi. Demikian juga belajar sepanjang hayat dapat meningkatkan kecakapan profesional, sehingga mampu menunjang karir dan pengabdian bagi masyarakat yang membutuhkannya. Yang juga tidak kalah pentingnya, belajar sepanjang hayat dapat diorientasikan untuk pendalaman agama, sehingga pada akhir kehidupannya termasuk orang yang beruntung, karena insya Allah bisa husnul khaatimah.

    Lee Watanabe-Crockett (2019) menjelaskan ada 9 Kecakapan belajar sepanjang hayat, di antaranya (1) Kecakapan komputer dasar, (2) Membaca cepat, (3) Manajemen waktu, (4) Keterampilan belajar efektif, (5) Keterampilan manajemen keuangan, (6) Kecakapan negoziassi, (7) Manajemen Stress, (8) Menulis Resume, dan (9) Searching Web. Walaupun untuk kepentingan personal dan sosial relatif tercukupi, namun ada satu kecakapan yang paling penting untuk kehidupan kita, adalah kecakapan amalan keagamaan. Karena inilah yang relatif paling menjamin kehidupan dunia dan akhirat.

    Ada sejumlah tantangan terhadap belajar sepanjang hayat. Pertama, learning to learn. Mengingat itu penting, tetapi mengerti, menerapkan, memganalysis, mengevaluasi dan menciptakan ide-ide baru itu jauh lebih penting. Surface learner belajar untuk lulus ujian. Deep learners belajar untuk hidup dan kehidupan. Kedua, Learn in all Life Situations, mengenali bahwa situasi kehidupan baru adalah pengalaman baru. Ketika memasuki instituì jangan cukup melihat nama institusi, tapi usahakan melihat struktur dan tupoksi, tata tertib, program, networking dan lain-lain. Demikian juga ketika memasuki suatu negara/wilayah, maka kenali bahasa, seni budaya, makanan dan lain-lain.

    Ketiga, Komitmen terhadap Pengembangan profesional, Dunia profesional atau bisnis sangat sadar ikut mengubah pengetahuan. Untuk menghadapi separuh kehidupan, kita harus meng-upgrade secara konsisten keterampilan dan kompetensi. Keempat, belajar sepanjang hayat dan insan yang utuh. Harus dapat dimengerti bahwa mahasiswa ingin mengetahui lebih dari cakupan mata kuliah yang diambil. Karena itu mereka harus siapkan energi yang akan digunakan untuk kepentingan karir selanjutnya.

    Begitu kompleksnya kehidupan kini dan mendatang, maka alokasi waktu dan energy harus disiapkan dengan sebaik-baiknya, dengan melakukan belajar dan pencarian informasi di luar kegiatan formal sehingga diperoleh keberhasilan belajar, yang tidak hanya dibatasi untuk hidup di dunia, melainkan juga di akhirat.


    Yogyakarta, 26 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website