Headlines News :
Home » , » Belajar Sepanjang Hayat

Belajar Sepanjang Hayat

Written By Pewarta News on Senin, 01 Juli 2019 | 19.09

PEWARTAnews.com – Belajar Sepanjang Hayat atau Lifelong Learning bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah diperkenalkan oleh Rasulullah saw sejak 15 abad yang lalu. Melalui hadits Rasulullah saw, “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilallahdi”, yang artinya “ Tuhtutlah ilmu dari buan Ibu sampai ke liang lahat”. Bahkan untuk lengkapnya akan pentingnya belajar selama jiwa di kandung badan, Rasulullah saw juga bersabda ; ”Sebaik-baik dunia dan akherat harus dengan ilmu dan sejelek-jeleknya dunia dan akherat tanpa ilmu” (HR. Dailami).

Pada hakekatnya belajar sejak buaian tidak berarti bahwa belajar itu dimulai sejak lahir, melainkan belajar seharusnya bisa dimulai sejak dalam kandungan, utamanya sebelum 4 bulan usia kandungan dan setelahnya. Kesempatan yang baik ini perlu dimanfaatkan mengisi waktu dengan perilaku yang penuh keharmonisan dan amal-amal ibadah yang baik. Demikian pula akhir belajar bukan dipungkasi dengan wafatnya seseorang, namun belajar bisa dilanjutkan hingga masuk liang lahat dan mengisi tuntas lubang kuburannya hingga didoakan setalah penguburan selesai.

Belajar sepanjang hayat tidaklah harus dipandang sebagai kewajiban semata, namun harus disikapi sebagai kebutuhan. Belajar dapat dilakukan sendiri, autodidak, atau belajar dapat dibantu oleh orang lain. Belajar bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Belajar bisa secara informal, formal dan atau nonformal.

Belajar sepanjang hayat itu penting, karena memberikan manfaat bagi kehidupan fisik dan mental. Kemajuan kognitif berdampak terhadap sel-sel otak dan fungsinya. Selanjutnya bahwa belajar sepanjang hayat dapat mendorong belajar untuk memenuhi kebutuhan dan minat pribadi. Demikian juga belajar sepanjang hayat dapat meningkatkan kecakapan profesional, sehingga mampu menunjang karir dan pengabdian bagi masyarakat yang membutuhkannya. Yang juga tidak kalah pentingnya, belajar sepanjang hayat dapat diorientasikan untuk pendalaman agama, sehingga pada akhir kehidupannya termasuk orang yang beruntung, karena insya Allah bisa husnul khaatimah.

Lee Watanabe-Crockett (2019) menjelaskan ada 9 Kecakapan belajar sepanjang hayat, di antaranya (1) Kecakapan komputer dasar, (2) Membaca cepat, (3) Manajemen waktu, (4) Keterampilan belajar efektif, (5) Keterampilan manajemen keuangan, (6) Kecakapan negoziassi, (7) Manajemen Stress, (8) Menulis Resume, dan (9) Searching Web. Walaupun untuk kepentingan personal dan sosial relatif tercukupi, namun ada satu kecakapan yang paling penting untuk kehidupan kita, adalah kecakapan amalan keagamaan. Karena inilah yang relatif paling menjamin kehidupan dunia dan akhirat.

Ada sejumlah tantangan terhadap belajar sepanjang hayat. Pertama, learning to learn. Mengingat itu penting, tetapi mengerti, menerapkan, memganalysis, mengevaluasi dan menciptakan ide-ide baru itu jauh lebih penting. Surface learner belajar untuk lulus ujian. Deep learners belajar untuk hidup dan kehidupan. Kedua, Learn in all Life Situations, mengenali bahwa situasi kehidupan baru adalah pengalaman baru. Ketika memasuki instituì jangan cukup melihat nama institusi, tapi usahakan melihat struktur dan tupoksi, tata tertib, program, networking dan lain-lain. Demikian juga ketika memasuki suatu negara/wilayah, maka kenali bahasa, seni budaya, makanan dan lain-lain.

Ketiga, Komitmen terhadap Pengembangan profesional, Dunia profesional atau bisnis sangat sadar ikut mengubah pengetahuan. Untuk menghadapi separuh kehidupan, kita harus meng-upgrade secara konsisten keterampilan dan kompetensi. Keempat, belajar sepanjang hayat dan insan yang utuh. Harus dapat dimengerti bahwa mahasiswa ingin mengetahui lebih dari cakupan mata kuliah yang diambil. Karena itu mereka harus siapkan energi yang akan digunakan untuk kepentingan karir selanjutnya.

Begitu kompleksnya kehidupan kini dan mendatang, maka alokasi waktu dan energy harus disiapkan dengan sebaik-baiknya, dengan melakukan belajar dan pencarian informasi di luar kegiatan formal sehingga diperoleh keberhasilan belajar, yang tidak hanya dibatasi untuk hidup di dunia, melainkan juga di akhirat.


Yogyakarta, 26 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website