Headlines News :
Home » , » Malu dan Tenggang Rasa Pakaian yang Indah

Malu dan Tenggang Rasa Pakaian yang Indah

Written By Pewarta News on Senin, 08 Juli 2019 | 18.33

PEWARTAnews.com – Rasa malu dan tenggang rasa adalah sifat utama Sahabat Usman bin Affan. Beliau adalah salah seorang dari 5 orang pertama setelah wahyu pertama diterima oleh Rasulullah. Sebagaimana Rasulullah saw sabdakan “Arhamu ummati Abu Bakrin, wa asyadduhaa fii diinillaahi Umaru, wa asyadduhaa hayaa-an Utsmaanu”, yang artinya “Yang paling pengasih di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam agama Allah adalah Umar, dan yang paling perasa adalah Utsman. Inilah pengakuan Rasulullah tentang Utsman, sehingga dalam menyikapi dan memperlakukan terhadap Utsman selalu perhatikan sifat Utsman yang khas ini.

Utsman pada awalnya adalah seorang tokoh dan elit Quraisy yang sangat disegani. Beliaulah seorang Muhajir pertama, yang bukan berpindah secara jasmaniah dari suatu tempat ke tempat lain, melainkan beliau itu pindah secara ruhaniyah yang pindah dari kedudukan tinggi, dari kehartawanannya dan dari pengaruhnya yang tiada terbatas, serta menyerahkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya untuk berdakwah dan berjuang dalam menghadapi berbagai kesulitan dan hinaan dari orang-orang Quraisy yang dulu sangat menghormatinya.

Setelah menjadi sahabat Rasulullah SAW, ada dua sifat yang sangat menonjol pada diri Utsman bin Affan, yaitu sifat malu dan tenggang rasa. Sifat malu yang diyakini, dirasakan dan ditunjukkan oleh Utsman adalah bukan malu kepada teman sejawatnya atau orang lain, melainkan malu kepada Allah SWT, yang bukti-bukti wujudnya berkilauan di lubuk perasaan yang menggetarkan kesadarannya. Selain itu malu terhadap Rasul-Nya yang tanda-tanda kebenarannya memenuhi jiwanya yang suci buat menerima dan meyakininya. Yang juga sangat penting adalah Utsman sangat malu terhadap diri sendiri jika mendustakan keyakinan dan meninggalkannya, karena akan mengguncangkan persendian hidupnya.

Sifat tenggang rasa yang dimiliki Utsman bin Affan dikuatkan oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya, “Ashdaqu ummatii hayaa-un Utsman”, artinya “Yang paling benar sifat pekanya di antara umatku adalah Utsman”. Hal ini dibuktikan perlakuan Rasulullah SAW terhadap Utsman berbeda dengan perlakuannya terhadap Abu Bakar dan Umar. Berikut sabda lainnnya “Utsman itu seorang perasa, dan seandainya saya izinkan ia masuk sewaktu saya berbaring, tentulah ia akan malu masuk dan akan kembali sebelum keperluan yang hendak disampaikannya dapat saya penuhi! Hai Aisyah, tidaklah saya akan malu terhadap orang yang dimalui oleh Malaikat”(Al Hadits). Betapa kuat pengakuan Rasulullah terhadap Utsman yang sangat toleran. Bahwa yang segan kepada Utsman tidak hanya Rasulullah saja, bahkan Malaikat pun demikian.

Hal lain yang tidak lepas dari sosok Utsman bin Affan adalah sifat kedermawanannya. Tidaklah diragukan bahwa Utsman adalah sahabat yang kaya raya yang ahli shadaqah. Kekayaannya dikelola dengan baik,sehingga abadi hingga sekarang, yang salah satunya diabadikan dalam bentuk Hotel Utsman bin Affan di Madinatul Munawarah, di samping meninggalkan Sumur Al Bir-u yang diwakafkan untuk ummat hingga sekarang. Namun selama hidupnya, Utsman menganggap dunia sebagai sesuatu yang paling rendah, dunia yang seolah olah sudah berada di tangannya tak pernah diizinkan masuk ke dalam relung hatinya. Karena baginya, dunia hanya berada di tangannya saja, bukan dalam hatinya. Sebagai sahabat Rasulullah, Utsman tentu sangat paham bahwa: “ Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung didalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepadanya, seorang ‘alim ” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sungguh mulia Utsman memandang bahwa dzukir jauh lebih mulia daripada harta, karena salah memanaj harta bisa menjadi sumber malapetaka.

Semoga dengan tulisan singkat ini tentang keteladanan dari Utsman bin Affan bisa memberikan pelajaran kehidupan yang bisa selamatkan kita hidup di dunia dan akhirat. Mari kita usahakan bisa hijrah ruhaniyah, istiqamahkan rasa malu dan tenggang rasa, dan membiasakan berdarma untuk ummat. Kita juga bisa belajar dari sikap Rasulullah dalam menyikapi dan melayani sahabatnya dengan berbagai cara. Begitu demokratisnya dan adaptifnya dalam melayani ummat. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita. Aamiin.


Yogyakarta, 28 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website