Headlines News :
Home » , » Penggunaan Cadar di Era Millenial

Penggunaan Cadar di Era Millenial

Written By Pewarta News on Senin, 08 Juli 2019 | 18.33

Rizki Kurniasih.
PEWARTAnews.com -- Penggunaan cadar membawa konsekuensi penolakan lebih besar dari jilbab. Selain persoalan stigma yang dilekatkan pada perempuan bercadar yakni aliran Islam fundamental yang erat juga kaitannya dengan terorisme, cadar kini juga menghadapi penolakan teknis terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik (Lintang Ratri, 29). Cadar adalah kain penutup muka atau sebagian wajah wanita, minimal untuk menutupi hidung dan mulut, sehingga hanya matanya saja yang tampak. Dalam bahasa Arab, cadar disebut dengan khimar, niqab, sinonim dengan burqa’. (Mulhandi Ibn Haj, 2006: 06). Menurut Abu Syuqqah, Islam mengakui cadar dan memperbolehkannya demi memberikan kelapangan kepada segolongan perempuan mukmin yang menjadikannya sebagai mode pakaiannya dari satu sisi, dan dari sisi lain karena cadar tidak menganggu satu kepentingan pun dari kepentingan kaum muslim di dalam masyarakat kecil yang membiasakannya. Konsep ini didasarkan pada firman Allah:
ٖ
هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

“Dan Ia (Allah) tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (Q.S. al-Hajj: 78).

Saat ini penggunaan cadar di masyarakat bukanlah hal baru lagi. Dimana-mana kita bisa menemukan perempuan memakai cadar. Gelombang demokrasi yang datang pasca orde baru membuat semua orang berhak mengekspresikan dirinya dalam bentuk apapun termasuk dalam menggunakan cadar. Di kampus, mall, pasar, lingkungan perkantoran dapat dengan mudah kita temukan perempuan yang memakai cadar. Fenomena cadar ini juga salah satu hasil dari perubahan sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat. Hal ini didorong oleh karena manusia sebagai komponen dari masyarakat itu selalu terinspirasi dari pengalaman dan tujuan yang akan mereka capai (Nafisah, 2016). Tujuanya bisa berbagai macam entah itu agama, trend sosial maupun faktor psikologis.

 Di lingkungan masyarakat sendiri terdapat berbagai penilaian terhadap  perempuan bercadar. Ada yang menerimanya dengan baik namun juga tidak sedikit ada yang kurang respect terhadap keberadaanya. Stigma paling umum yang melekat  pada wanita bercadar adalah bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang identik dengan kebudayaan Arab yang bukanlah produk asli orang Indonesia (Novri, 2016).

Perkembangan zaman yang terjadi telah merubah standar moral dalam kehidupan masyarakat sehingga terjadi banyak fitnah dimana-mana terkhusus kepada kaum hawa. Maka cadar digunakan mereka di zaman sekarang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah serta melindungi diri dari segala fitnah. Dan ini patut untuk diberikan respect  yang sebesar-besarnya. Semakin kesini kita juga melihat bahwa esensi dari sebuah cadar seakan menghilang. Cadar sebagai sebuah lambang penghambaan, kesalehan, ketertutupan malah hanya dijadikan sebuah trend fashion perempuan muslimah di era millenial. Tujuan seseorang dalam memakai cadar tidak lagi untuk menutup dan menghambakan diri tetapi malah ingin menonjolkan diri dihadapan public.

Seakan ada pemaknaan bahwa agama hanya dijadikan simbol untuk menghambakan diri  pada dunia ketimbang memaknai agama itu sebagai nilai untuk menghamba kepada Tuhannya. Ini bisa kita lihat di media sosial banyaknya perempuan bercadar yang suka berselfie ria, vlogging, bahkan terlibat dalam skandal asmara rumah tangga yang mana sebenarnya hal ini tidak perlu menjadi konsumsi publik. Sebenarnya persoalan memakai cadar hingga kini masih diperdebatkan oleh  para ulama terkait hukumnya didalam Al-Qur’an dan Hadits. Bahkan sekelas ulama salaf terdahulu pun masih memiliki perbedaan pendapat tentang penggunaan cadar ini.

Dalam kajian budaya, saya kemudian melihat fenomena cadar ini sebagai trend mode baru. Kesalehan spiritual dalam balutan pakaian syar’i yang fashionable membuat orang merasa tetap bisa tampil elegan dan tak ketinggalan zaman. Hal ini tampak kontradiktif dengan semangat syar’i yang mengedepankan nilai-nilai kesederhanaan. Di sini lah, ideologi budaya pop tak bisa terhindarkan. Hal ini membuat fenomena cadar di Indonesia, menurut saya menjadi khas dan unik. Meski cadar kerap diasosiasikan dengan banyaknya batasan terhadap perempuan dalam mengkespresikan diri di ruang publik, di Indonesia mereka yang kemudian memilih bercadar secara fashionable tetap menunjukkan aksi-aksinya di ruang publik.
Dalam medsos Instagram misalnya, kaum perempuan bercadar tak berhenti untuk menunjukkan selera fashion dan gaya yang diikuti kalimat-kalimat motivasi dan sejenisnya. Di sini lah, pakaian syar’i tumbuh sebagai mode. Tidak lagi berpatokan pada nilai-nilai kesederhanaan. Misalnya saja tampilan seorang public figure, meski ia bercadar, ia tetap menggunakan hiasan cincin besar yang  fashionable yang biasa dipakai para pecinta fashion.  Hal itu terlihat juga pada bisnis busana pengantin bercadar yang mendapatkan permintaan pasar yang meningkat. Fashion atau mode pada akhirnya bermuara pada gaya hidup.

Masyarakat kita yang terbiasa berpikir homogen, dengan satu sudut pandang, dihadapkan pada banyak pilihan dan cara pandang, dengan semakin masifnya penggunaan media online. Bagaimanapun, ekspresi berpakaian selalu menyisakan ruang bagi ekspresi budaya yang khas. Maka, menurut saya, gaya berpakaian syar’i perempuan Indonesia tetaplah unik. Tidak sepenuhnya meniru cara berpakaian orang Arab. Hal itu misalnya tampak dari ekspresi sejumlah mahasiswi bercadar. Cadar yang kerap identik dengan ekslusivitas, bahkan dikaitkan dengan ideologi tertentu, dalam beberapa kasus, saya melihat mereka tak canggung dalam berinteraksi sosial, termasuk dalam berbicara dengan lawan jenis. Hal ini pasti sangat berbeda dengan kebiasaan di Arab sana, ketika kaum perempuan sejak kecil dididik dengan cara yang sangat ketat, termasuk dalam mengekspresikan diri di ruang publik sesuai dengan nilai-nilai budaya mereka. Tetapi, hal itu tidak ditemukan dalam beberapa kasus mahasiswi bercadar. Hal ini menunjukkan bahwa ekspresi keberagamaan orang Indonesia itu selalu khas. Interaksi laki-laki dan perempuan muslim yang cenderung lebih cair di ruang-ruang publik membuat cara-cara berekspresi itu terasa berbeda (Khozana, 2018).

Bercadar memang soal pilihan individu, dan kita layak menghargainya. Akan tetapi, bercadar menjadi persoalan ketika memunculkan kekhawatiran situasi sosial tertentu. Atas dasar itulah barangkali alasan munculnya pembatasan penggunaan cadar di sejumlah institusi pendidikan Islam. Di luar persoalan-persoalan yang menyangkut kegelisahan sosial terkait meningkatnya tren perempuan bercadar yang dikaitkan dengan ideologi tertentu, saya lebih percaya pada sebuah proses belajar. Ketimbang membatasi ruang gerak mereka, para perempuan bercadar itu akan mendapat kesempatan untuk belajar tentang keragaman cara pandang dan tidak menempatkan diri mereka secara ekslusif. Makna dan tujuan pemakaian cadar sebagai sekedar tradisi atau dorongan keagamaan ke alasan HAM sampai pemaknaan belenggu atas eksistensi sosial perempuan dan diskriminasi. Pandangan kedua pihak pasti tidak akan pernah bertemu karena selain cara pandang dan sudut pandangnya sejak awal dalam benak dan pikiran sudah berbeda karena faktor pemahaman dan pengetahuan atas cadar itu sendiri serta penafsirannya, apakah itu merupakan budaya yang dengan demikian tidak wajib atau sebagai ajaran agama yang harus dilakukan. Apapun dalil, argumentasi dan alasan penguatnya baik dari segi HAM, budaya juga agama, polemik ini tak bakal rampung apalagi berujung. Bercadar sama halnya dengan poligami atau merokok yang merupakan masalah khilafiyah dan tidak bisa diputuskan hukumnya secara sepihak dan serta merta sama, serta Ijma’ apakah haram, sunah atau mubah (Niam, 2018).

Pandangan bahwa cadar bagian dari berislam yang kaffah dan bahkan wajib bagi perempuan oleh kalangan tertentu tidak bisa begitu saja ditolak dan dinafikan, karena mereka punya argumen dan dasar dalilnya. Suka tidak suka dalil pembenar itu ada, tafsirnya atas ilat-nya saja yang berbeda. Begitupun sebaliknya, ketika kalangan yang berpendapat bahwa bercadar itu berlebihan dan sangat mempengaruhi pola relasi sosial dalam dunia nyata, yang menuntut “kehadiran” seseorang dalam bentuk wujud (dalam hal ini wajah) juga sesuatu yang maklum dan bisa difahami.



Penulis: Rizki Kurniasih
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website