Headlines News :
Home » , » Rutinan

Rutinan

Written By Pewarta News on Rabu, 10 Juli 2019 | 09.39

Siti Mukaromah. 
“Suami kalian tidak hafal qur’an, tidak masalah, yang terpenting mampu meluangkan sedikit waktunya untuk nyimak hafalan kalian, dan mengikhlaskan waktu kalian setiap 40 hari sekali (ahad pon) untuk berangkat rutinan semaan alumni”- Nasihat bu Nyai kepada para santrinya. (Ibu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ, 2016).

Dahulu, bu Nyai saya seringkali memberikan nasihat kepada kami, khususnya santri huffadz agar kelak memilih pendamping hidup yang bersedia mendukung kami untuk bersama-sama ngrekso (menjaga) hafalan qur’an kami. “Suamimu tidak Hafal qur’an, tidak masalah, yang terpenting mampu meluangkan sedikit waktunya untuk nyimak hafalanmu, dan mengikhlaskan waktumu setiap 40 hari sekali (ahad pon) untuk berangkat rutinan semaan alumni”.

Bagi yang sudah menikah, mungkin waktu tidak seluasa seperti saat-saat single. Ya, saya tahu betul kesibukan orang yang sudah berumah tangga, kadang memang ada hal-hal yang tidak terduga. Banyak acara seperti kondangan yang mungkin double-double, alias semua pas barengan di tanggal jadwal rutinan. Atau hal lain seperti anak rewel, bahkan (mungkin) hingga hal yang sangat lumrah sekalipun, waktu ahad adalah waktu quality time hanya milik berdua “suami isteri”, sehingga apapun yang terjadi, ya tetap quality time. Ini mahh idealis amat yak, haha. Atau hal lain misal dikarenakan faktor ekonomi, butuh bensin untuk sampai ke tujuan, ndilalah lagi tidak punya uang misalnya, atau bahkan karena punya anak banyak dan anaknya tidak mau ditinggal, terus semuanya diajak dan biasanya mereka pada jajan, ndilalah lagi gak punya uang untuk jajan anak-anak. Ini problem memang, namun tidak ada suatu problem yang tidak dapat diatasi dan dicari jalan keluar.
Saya sendiri selalu mengobrol dengan senior-senior yang aktif (selalu berangkat setiap saat) mereka berpendapat bahwa mereka men-cancel acara yang bersamaan dengan rutinan ahad pon. Andaikata ada undangan kondangan, maka mereka berangkat setelah menghadiri ahad pon atau hari sebelum acara kondangan tersebut.

Saya terenyuh ketika ada yang bilang, “Aku itu memposisikan diriku seperti yang sedang punya hajat (shohibul bait), bisa jadi (mungkin) shohibul bait tidak punya uang untuk menjamu kita, namun sik kanggonan (shohibul bait) tetap berusaha apapun yang terjadi tetap diada-adakan, eh tapi yang berangkat malah gak banyak, padahal buat makanan-nya sudah banyak”, Hehehhe. Ikhlas sih ikhlas, disodaqahkan ke tetangga itu perkara lain. Hanya saja, cobalah kita bersama-sama merenung dan menjadikan ini sebagai salah satu motivasi untuk berangkat ahad pon. Saat lagi males atau banyak urusan yang menjadikan tidak dapat berangkat, mari flashback dengan mengingat-ingat “bagaimana dulu saat ahad pon ditempat kita”, dan bagaimana rasanya saat kawan kita tidak berangkat”. Saya rasa itu cukup menjadi motivasi awal untuk mengurungkan niat tidak berangkat.

Motivasi lain, ahad pon dapat dijadikan untuk nostalgia kebersamaan kala dulu menjadi santri. Rutinan ini seharusnya digunakan sebagai ajang untuk menyambung silaturrahim. Sebagaimana yang diketahui, bahwa silaturrahim menjadikan hidup kian berkah, melapangkan rizqi dan memperpanjang umur. Jika hal semacam itu disadari, tentu sepelik apapun keadaan dan kesibukan tak menjadi hambatan untuk tetap berangkat dan merajut kebersamaan kembali. Bayangkan, betapa bahagianya Almh. Bu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ manakala melihat santri-santri nya antusias untuk bersama-sama nguri-uri (menjaga dan merawat) amanah beliau. Saya yakin seyakin-yakinnya-nya (haqqul yaqin) betapapun keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat, tetapi kalau niat, azam dan ghirah menjadi patokannya, pasti Allah akan memberikan kemudahan dan kekuatan untuk sampai pada tujuan.

Selain itu, bagi penghafal qur’an yang benar-benar ingin berkhidmah kepada Al-Qur’an, maka moment ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk nderes dan saling menyimak. Pernah menghafal al qur’an dan Hafal Qur’an itu beda banget. Kalau pernah menghafal Qur’an itu, selesai 30 juz tapi belum tentu lancar saat disimak. Naaah, moment ini saya rasa dapat dijadikan sebagai alternatif untuk membantu melancarkan dan melanyahkan Al Qur’an. Misal, bulan Juli ini baca juz 1-3, pertemuan berikutnya baca juz 4-6, begitu seterusnya hingga sampai juz 30. Nahh selama 40 hari itu, guanakan waktu seminggu atau lebih untuk fokus muraja’ah juz yang akan dibaca kala ahad pon. Sehingga pada saatnya nanti, dimanapun tempatnya jika disuruh baca juz berapapun pasti oke.

Hal semacam inilah yang juga harus dipahami dan dimengerti oleh para suami, agar benar-benar bertanggungjawab menjadi imam bagi isterinya. Tidak hanya imam jiwa dan raga (fisik), namun juga imam isterinya dalam menjaga Al Qur’an. Berat memang, jika tidak ada sinergisitas (kesesuaian, kerjasama) antara suami dan isteri. Maka, sudah sepatutnya seorang suami gercap, trengginas, dan pengertian kepada isterinya yang memiliki hafalan qur’an untuk bersama-sama ngrekso (menjaga), termasuk dengan cara meluangkan waktu untuk nyimak hafalan isteri, dan mengizinkan isteri untuk berangkat ahad pon, meskipun hari itu adalah hari “quality time kalian”. Dan seorang suami sepatutnya dapat menjadi motivator dan navigator bagi isterinya kala isterinya aras-arasen/down, tanpa alasan yang jelas.

Untuk memupuk semangat selain yang telah tersebut diatas, dapat pula dengan mengingat dan mengenang wajah bu Nyai, dan dengan cara melihat keadaan diri. Bagi yang masih single, mumpung belum nikah. Bagi yang sudah nikah, mumpung belum punya anak. Dan bagi yang sudah menikah dan punya anak, mumpung masih ada peluang dan kesempatan yang Gusti Allah berikan, maka harus semangat menjaga amanah yang titipkan oleh Almh. Bu Nyai untuk meramaikan majlis Ahad pon. Karena sedikitpun manusia tidak tahu kapan ajal menjemput. Padahal setiap harinya, kematian selalu mengintai manusia. Sekali lagi, karena “mumpung”, jadikan kata “mumpung” itu menjadi cambuk loncatan untuk semangat dalam segala hal, sesibuk apapun.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website