Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Mengulas Era Prametodologi dan Pasca Metodologi dalam Pengajaran Bahasa

    Ria Nirawati. 
    PEWARTANEWS.COM -- Metode mengajar adalah cara yang dirancang pendidik untuk mengajar. Seperti yang dikemukakan oleh Surakhmad (2002) metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari suatu pengajaran yang sebagai mana teknisnya suatu bahan pengajaran diberikan kepada siswa-siswa di sekolah

    Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan banyak hal kepada orang lain. Pada era prametode ini membahas tentang kepraktisan dalam pembelajaran bahasa yang dimana memberi pemahaman kepada pendidik agar mengetahui kondisi pengajaran bahasa yang bervariasi. Dengan menerapkan metode dalam mengajar seorang guru atau calon guru dapat memahami tingkat kemampuan yang dimiliki.

    Adapun metode dan teknik pengajaran bahasa yang berlangsung di zaman kuno sampai tahun Sembilan puluhan dan selama saat itu berkembang sedikit tidaknya metode, yaitu metode tatabahasa-terjemahan (MTT), metode langsung (ML), metode kompromi (MK), dan metode membaca. Metode tata bahasa-terjemahan digunakan untuk tujuan pelatihan mental atau pikiran. Metode ini berfungsi mengasah pikiran sehingga peserta didik diharapkan mampu menkaji hal-hal yang terjadi dengan berdasarkan peristiwa secara teratur.

    Metode langsung yang biasa dikenal direct method ini dimana pendidik langsung menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar dalam mengajar. Metode ini sangat menghindari penggunaan bahasa Ibu peserta didik dan terjemahan.

    Prosedur pengajaran ML biasanya dalam bentuk dialog dan anekdot dalam gaya percakapan modern yang sebelumnya telah dirancang. Dalam penilaiannya Stern (1983) metode langsung adalah beberapa praktisi dan pemikiran kritis yang teoritis tentang hakikat bahasa dan pembelajaran oleh beberapa ahli kebahasaan dan upaya menciptakan situasi penggunaan bahasa dan untuk melatih siswa untuk menghindari bahasa ibu.

    Metode kompromi yaitu belajar mengutarakan atau mendiskusikan tentang yang terdapat dilingkungan. Contoh kita ambil sampul pada teknik pengajaran anak-anak (TK dan Sekolah Dasar) karena menggunakan metode pengajaran yang ada disekitar. Memperkenalkan hal-hal terdapat disekitar kita. Dilanjutkan dengan metode membaca yang sebagaimana yang telah kita ketahui membaca adalah kegiatan mendapatkan ilmu/informasi dan media yang telah kita baca. Membaca dipandang sebagai keterampilan yang paling bermanfaat dalam belajar bahasa asing. Dalam penilaian Stern (1983) metode membaca yaitu mengajarkan dapat menemukan teknik baru mengajar bahasa dan mendapatkan kosa kata sebagai tanda adanya peningkatan hasil baca.

    Selanjutnya era pasca metode pengajaran bahasa bertujuan agar siswa aktif dalam proses peningkatan pembelajaran bahasa, disamping itu pendidik dituntut agar memiliki kemampuan mengajar untuk membuat peserta didik mempunyai keberanian untuk berkomunikasi berkomunikasi berdasarkan pembelajaran yang telah didapatkan dalam kelas terhadap masyarakat. Semuanya dapat diurai secara singkat seperti pedagogi pasca metode, Kumararandirelu (2003) pedagogi pasca metode yang telah ditentukan, untuk dapat melaksanakan pedagogi ini guru harus telah memiliki pengalaman agar mampu menerapkan terhadap metodenya.

    Bersambung dengan guru pasca metode yaitu para guru hendaknya mengetahui peran-peran mereka yang paling penting dan paling berharga dalam pendidikan (Kumararandirelu, 2003). Guru pascametode menuntut pendidik agar lebih mengetahui, mahir dan mandiri dan memiliki informasi yang memadai untuk merancang metode kemudian mempraktikkan apa yang telah mereka teorikan.

    Para guru dalam era pascametode, seperti yang kita ketahui guru bukan saja pendidik namun guru adalah pengajar yang harus member kontribusi positif terhadap peserta didik maupun lingkungan. Sementara itu, Kumararandirelu (2003) telah mengidentifikasi tiga peran guru yang terkait dengan prefektif yang berbeda yang prefektif transmisi, prakfitif pasca transmisi dan pascametode.

    Empat hal yang dipelajari dalam pembelajaran bahasa, pembelajaran melalui mendengarkan dan membaca dimana peseta didi dialihkan pada gagasan materi yang disampaikan lewat bahasa. Kemudian belajar melalui luaran yaitu belajar berbicara dan menulis difokuskan siswa pada pemaparan gagasan dan pada orang lain. Selain itu belajar melalui perhatian berfikir dan metode bahasa yaitu peserta peserta didik dituntut mengkaji kosakata dan makna pembelajaran dan menjelaskan tatabahasa, dan terakhir pengembanagan penggunaan butir bahasa yang telah dipelajari.

    Era metode prametodologi dan pascametodologi pengajaran bahasa ini bertujuan member informasi kepada guru dan calon guru tentang perkembangan metodologi pengajaran dari awal perkembangan. Pengajaran bahasa, informasi tersebut diharapkan dapat membantu para guru dan mahasiswa calon guru dalam memahami kondisi pengajaran bahasa yang sangat beragam saat ini dari segi pendekatan/metode yang dihasilkan oleh berbagai upaya pengembangan pengajaran bahasa.


    Penulis: Ria Nirawati
    Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) YAPIS Dompu, NTB.

    Gelar Upacara HUT RI di Istana Yogyakarta, Tokoh Agama Gedongkiwo Turut Hadir

    Tokoh Agama Gedongkiwo, Kota Yogyakarta Rochmad (berpeci) turut hadir memeriahkan HUT RI di Istana Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Hiruk pikuk kemeriahan peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-74 menggema di seantero Nusantara. Berbagai perlombaan diadakan sebagai upaya untuk memperingatinya. Pagi tadi, 17/08/2019, kemeriahan peringatan HUT RI juga diisi dengan upacara yang digelar di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.

    Berbagai tokoh, hadir memadati dan ikut memeriahkan upacara tersebut, dari tokoh-tokoh pemerintahan, tokoh pemuda dan juga tokoh agama.

    Wakil dari tokoh masyarakat dan tokoh agama Gedongkiwo, Kota Yogyakarta Rochmad turut hadir memenuhi undangan Upacara 17 Agustus 2019 yang digelar di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Kehadiran Rochmad mewakili Takmir Masjid Tawangsari Gedongkiwo Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

    Rochmad memandang, momentum HUT RI merupakan waktu yang pas untuk merefleksikan kemerdekaan yang telah kita raih. "Kemerdekaan sudah dalam genggaman kita, saat ini mari kita isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Kita rawat bersama negara kita tercinta dengan cara dan kemampuan kita masing-masing. Saat ini yang berada di lini pemerintah, mengisi kemerdekaan dengan menjalankan tugas dan tanggungjawabnya di pemerintahan, memastikan dengan kebijakan yang melekat kepadanya agar bisa berefek baik untuk kemaslahatan masyarakat," ucapnya.

    Selain itu, kata Rochmad, "Seperti guru, mendidik anak muridnya dengan penuh kasih. Tokoh agama mendidik spiritual masyarakat dengan penuh keikhlasan. Begitu juga yang perlu dilakukan oleh profesi-profesi lainnya," bebernya.

    Tema yang di usung oleh pemerintah pusat pada momentum HUT RI tahun 2019 ini adalah "SDM Unggul, Indonesia Maju", dengan adanya tema seperti ini mudahan bisa mendongkrak semangat kita agar terus memacu kreatifitas dan menguatkan SDM dalam diri kita.

    Hadir juga dalam upacara tersebut, Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H., Sekretaris Forum Bela Negara Republik Indonesia (FBN RI) kota Yogyakarta Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn., dan juga tokoh-tokoh lainnya. (PEWARTAnews)

    Sambut Pilkada Bima 2020, KEPMA Bima Jogja Gelar Diskusi Publik

    Suasana saat Diskusi Publik KEPMA Bima-Yogyakarta.
    PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta menggelar Diskusi Publik yang bertajuk "Pilkada dan Hutang Demokrasi, Upaya Menyambut Pilkada Bima 2020" pada hari Sabtu (27/07 2019).

    Diskusi publik ini sengaja diagendakan KEPMA Bima-Yogyakarta untuk membicarakan Pilkada dan Hutang Demokrasi kepemimpinan Dinda-Dahlan selama beberapa tahun ini, kegiatan berlangsung dengan baik karena memberikan kepada semua audiens kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan aspirasi serta pendapat mereka.

    Output dari kegiatan diskusi publik ini ialah untuk membicarakan letak demokrasi di Kabupaten Bima untuk siapa dan sudahkah pemerintah menyelesaikan semua utangnya atau setidaknya meminimalisir hutang tersebut kepada masyarakat.

    Bukan hanya unsur pemerintah yang dibicarakan, tapi unsur masyarakat dan generasi juga dibicarakan demi membentuk prinsip pengawalan demokrasi yang adil, jujur dan tepat sasaran. Semua itu demi kesejahteraan masyarakat Bima setempat.

    Pembicara yang di hadirkan adalah Bung Dedi Purwanto, S.H. (Alumni Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta / Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum) dan bung Ilmidin, SKM (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta).

    Suasana saat Ketua KEPMA Bima Muhammad Akhir menyerahkan cindera mata pada salahsatu Pemateri Diskusi Publik KEPMA Bima-Yogyakarta.

    Dedi Purwanto menyatakan bahwa kita perlu menghindarkan generasi muda dari politik praktis, biar para pemuda bisa lebih leluasa turut andil dalam pembangunan daerah secara organik tanpa embel-embel didalamnya. "Perlu sekali kita menyelamatkan generasi dari gangguan akses politik praktis yang melabelkan janji manis terhadap masyarakat, sehingga mereka tidak terjangkit dari itu semua. Sebab dengan adanya hal tersebut maka akan merusak representasi generasi sebagai penyelamat pembangunan daerah," sebut pemuda yang merupakan mantan Ketua Umum Dewan Pengurus Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) ini.

    Hal yang sama juga disampaikan oleh Ilmidin. Ia beberkan bahwa dewasa ini kondisi praktek demokrasi di Bima luntur idealismenya. "Demokrasi di Bima sudah terjangkit dengan politik yang tak etis, sehingga masyarakat, pemuda dan mahasiswa hilang idealisnya untuk menjaga kelangsungan politik yang baik," beber mantan Direktur Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta ini.

    Usai dialog berlangsung, Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Muhammad Akhir membeberkan tujuan mulia dari kegiatan ini. "Gol dari diskusi ini ialah agar bagaimana masyarakat, pemuda, dan mahasiswa sadar akan tugas fungsi dan peran mereka sebagai mahluk sosial, jangan sampai semunya terhegemoni dengan uang dan janji-janji para elit politik, hingga mereka merugi akan akal fikiran mereka," cetus Akhir.

    Selain itu, kata Akhir, dengan adanya diskusi yang berlanjut masif ini, bisa melahirkan ide dan gagasan untuk para elit yang berkompetisi nanti, sehingga mereka bertarung bukan untuk lanjut 2 periode atau cukup 1 periode saja, melainkan memberikan gagasan terhadap visi misi mereka.

    "Hari ini sudah sangat terlihat bahwa kekurangan ide, gagasan, serta solusi dari mahasiswa bukan karena apatisnya mereka melihat keadaan, namun karena kebanyakan dari mereka sudah dibeli terlebih dahulu idealisnya, hingga akhirnya mereka tidak mau tau dengan keadaan lingkungan sosial," kata Akhir.

    Selain itu, Akhir juga memberi komentar, bahwa peran mahasiswa harus lebih matang menyikapi kondisi rill yang ada di tengah masyarakat, "Karena mahasiswa harus menjadi garda terdepan untuk membicarakan politik pilkada dan hutang demokrasi tersebut, hingga kemudian dapat untuk disampaikan kepada masyarakat," ucap Akhir.

    Kegiatan ini berlangsung dengan lancar, di mulai pukul 16.00-21.30 WIB. Interaksi yang cukup intens juga terjadi antara Pemateri dan para peserta, sehingga semakin menambah hangat suasana dialog tersebut.

    Dalam kegiatan tersebut turut hadir mantan Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Periode 2017-2018 Arif Rahman. Berkaitan dengan adanya dialog ini, Arif mengapresiasi inisiasi pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta, karena kegiatan semacam ini merupakan salahsatu upaya positif kita untuk membentuk generasi dan sumber daya manusia Bima yang mampu berkontribusi positif untuk tanah kelahiran.

    "Pembangunanan yang diutamakan adalah pembentukan SDM dan Generasi, khususnya mahasiswa Bima di Yogyakarta harus mampu melahirkan ide gagasan yang cemerlang untuk diberikan kepada pemerintah Bima setempat," celoteh Arif. (MA / PEWARTAnews)

    Intangible Capital

    "Kadang dalam titik terendah kehidupan, manusia menemukan secercah inspirasi dan motivasi untuk bergerak ke arah yang lebih baik", (Mukaromah, 2019).

    Tokoh inspiratif Ahmad Fuadi sering ku ceritakan kepada ‘anak-anak orang lain’ yang notabene mereka berasal dari keluarga menengah ke atas maupun keluarga yang biasa-biasa saja, yang berimplikasi pada semangat dan motivasi yang dimiliki oleh setiap anak. Karena tak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya, dalam melakukan suatu hal setiap anak mempunyai motivasi tersendiri yang antara satu dengan yang lain berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal masing-masing. Faktor internal berkaitan dengan intangible capital atau modal/bekal yang tidak kasat mata berupa niat, kemauan, ‘azam, ghirah, dan semangat sedangkan eksternal berkaitan dengan lingkungan maupun dukungan dan motivasi dari orang-orang disekelilingnya, termasuk bagaimana figure orangtuanya.

    Orang tua yang biasa mengajarkan dan mendidik anak-anaknya dengan bekal ilmu kehidupan, tentu anak akan memiliki semangat dan optimisme yang tinggi dalam melakukan apapun, termasuk dalam belajar. Sekalipun berasal dari keluarga berada (tercukupi). Ilmu kehidupan itu tentu dapat berwujud ucapan inspiratif, tindakan kongkrit yang mengarah kepada mental anak, seperti kemandirian, ketangguhan maupun keberanian akan tantangan hidup, atau bahkan contoh riel yang ada di realitas empirik (masyarakat). Cukup banyak anak-anak yang saya jumpai, berasal dari keluarga berada yang memiliki etos semangat dan kerja keras dalam menemukan jati dirinya melalui proses belajar. Namun, tak sedikit pula yang sebaliknya.

    Begitu halnya dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, atau bahkan untuk  bermimpi “kuliah” pun tidak berani, salah satunya karena faktor ekonomi. Setahun terakhir berkecimpung di dunia pendidikan lingkup SMP – SMA/sederajat selalu ku bertanya kepada mereka terkait dengan view, visi dan misi masa depan. Hanya sedikit sekali yang berani mengatakan mimpi-mimpinya. Sisanya tidak cukup memiliki keberanian untuk mengatakan mimpi kehidupannya.

    Meski berkecimpung di organisasi pergerakan yang notabene diskusi terkait dengan pendidikan kritis beserta ruang lingkupnya, NO Indoktrinasi, dan embel-embel yang lain, namun saya idealis dalam hal menceritakan kisah inspiratif kepada setiap anak yang saya jumpai. Hal ini bukan tanpa sebab, karena berdasar pada pengalaman pribadi yang hingga detik ini dapat bertahan dan survive juga karena “inspirasi dan motivasi”, entah yang saya dapatkan dari pengalaman hidup pribadi maupun cerita inspiratif yang ku dapat dari kisah hidup orang lain.

    Kadang tanpa disadari, banyak diantara kita termotivasi dan bergerak ke arah yang lebih baik hanya karena mendengar, dan melihat realitas (hal-hal yang berada diluar dari diri kita) yang bersifat inspiratif, termasuk ucapan lisan yang keluar dari bibir orang yang dijumpai, apalagi dari figure yang amat sangat berpengaruh dalam hidup, termasuk Ayah dan ibu (kedua orangtua). Peran kedua orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membimbing anak-anaknya untuk menemukan rencana Tuhan yang ada pada diri mereka. Hal ini dapat ditempuh melalui pendidikan yang bersifat holistik dan komprehensif dengan membangun mental dan akhlaq sebagai patokan dan pondasinya. Jika kedua hal ini telah terbangun, maka tentu segalanya akan mengikuti, sekalipun orangtua telah tiada (meninggal) sehingga tidak dapat mendampingi anak dalam mengarungi kehidupan.

    Hal inilah yang terjadi pada kisah hidupnya Ahmad Fuadi yang menjadi penulis hebat karena berawal dari “keadaan kepepet”, disebabkan Ayahnya meninggal dunia tepat saat Ahmad Fuadi membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk keperluan kuliah maupun bertahan hidup di perantauan. Sejak saat itulah, Ahmad Fuadi menempa dirinya menjadi penulis dengan mengerahkan segala usaha agar dapat tetap  merealisasikan mimpi dan bertahan hidup (mandiri) dalam segala hal, termasuk urusan financial. Tentu dalam proses perjalanan itu, Ahmad Fuadi senantiasa ingat kata guru nya di Gontor kala itu “Man Jadda Wajada”, “Man Shabara dzafiraa”. Begitu kuat petuah dan kata-kata inspiratif dari seorang tokoh (dapat dikontekstualisasikan dengan setiap orang).

    Dari seklumit tulisan ini dapat ditarik benang merahnya bahwa (1) Tanpa disadari orang dapat termotivasi hanya dengan melihat, mendengar atau bahkan membaca kisah-kisah inspiratif. (2) Orangtua dan guru merupakan figure yang dapat membimbing anak-anaknya untuk menemukan rencana Allah yang ada pada diri anak-anak tersebut, (3) Allah bersama dengan “siapapun” yang bersungguh-sungguh untuk terus berproses menjadi orang baik sekaligus menjadi orang yang bermanfaat untuk segenap makhluk-makhluk Nya, tanpa terkecuali, (4) Kadang orang dapat terus survive dan self continous improvement hanya karena keadaan kepepet, sehingga the power of kepepet. Oleh karenanya justru pada titik terendah kehidupan, orang dapat menemukan potensi dan passion-nya, (4) hanya butuh intangible capital untuk meraih keberhasilan dalam hidup, yakni niat, kemauan, tekad, dan semangat.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Nasehat Bijak Ali Bin Abi Thalib

    PEWARTAnews.com -- Sayidina Ali bin Abi Tholib adalah Sahabat Rasulullah (no 4) dari Khulafaur Rasyidin yang paling muda, tekun, cerdas, luas ilmunya, dan berani. Di samping sebagai sepupu Rasulullah saw, juga sebagai putera menantu (suami Fatimah az Zahroh). Karena kelebihan sayyidina Ali dinikahkan dengan anaknya. Setelah dilakukan penelusuran, ternyata tidak cukup puluhan kalimat bijak yang dibuat Sayyidina Ali, tetapi ratusan bahkan lebih dari seribuan kalimat bijak.

    Pada kesempatan ini saya ingin tampilkan 9 nasehat atau kalimat bijak atau indah dari Sayidina Ali bin Abi Thalib, Karamallahu wajhah, di antaranya:
    1. Jangan membenci siapapun meski ia melanggar hakmu.
    Jadikan sikap buruk orang sebagai ladang amal untuk melatih kelapangan hati dan ambil hikmahnya sebab semua pasti ada maksud baik Allah. Sikap husnudz dzon perlu diamalkan secara istiqamah, yang insya Allah akan diperoleh hasilnya di kemudian hari. Berani mencintai terhadap sesuatu yang seharusnya dibenci merupakan perilaku terpuji.

    2. Jangan panik meski penderitaan sedang memuncak.
    Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang baik dan shabar. Sabar itu indah. Sabar itu menyelamatkan, terutama diri sendiri, walaupun dapat juga selamatkan orang lain. Sabar itu sangat disenangi oleh Allah swt.

    3. Hiduplah sederhana meski statusmu semakin tinggi. 
    Allah benci orang yang lupa diri dan sombong. Karena itu membangun sikap tawadlu dan tidak berlebih-lebihan sangatlah penting dan bisa menjadi kebutuhan kita untuk menjaga kemuliaan.“ kuluu wasrobu wala tusrifu innahu la yuhibul musrifin” artinya: makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”(QS Al-A’rof:31)

    4. Berharaplah kebaikan meski engkau sedang ditimpa bencana bertubi-tubi.
    Malam dengan gelapnya pasti berlalu berganti terang, asal sabar melewati. Sikap optimisme perlu kita memiliki dalam menghadapi setiap musibah. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

    5. Berikan sebanyak yang kau punya meski kau sedang dalam kesulitan. 
    Memberi saat lapang itu baik, jauh lebih baik meski butuh tapi tetap bisa berbagi. Untuk mewujudkan ketakwaan, kita berinfaq dalam waktu longgar dan sempit. Orang bertaqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan..” (QS. Ali Imran: 134).

    6. Senyumlah meski hatimu mengucurkan darah (karena derita berat).
    Orang mukmin jika sedih cukup dihati tak nampak di wajah. Gembira cukup di wajah. tidak membuat lupa diri. Kemampuan menyimpan kesulitan dalam hati dapat memperteguh ketahanan mental. Rasa sukaria yang terkontrol dapat menyelamatkan diri dari sukaria kelewat batas.

    7. Jangan hentikan doamu untuk saudaramu sesama muslim meski ia tidak sedang bersamamu (tanpa sepengetahuannya).
    Semakin banyak mendoakan untuk kebaikan orang lain maka semakin banyak doa yang diamini malaikat yang pasti dikabulkan. Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. “Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan. (HR Muslim)”

    8. Siapa yang memandang dirinya buruk maka dia adalah orang yang baik. Dan siapa yang memandang dirinya baik, dia adalah orang yang buruk. Di satu sisi kita sangat dianjurkan untuk rendah hati atau tawadlu dalam hidup. “Wakhfidh janaahaka limanit taba’aka minal mu’minin”. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang orang beriman yang mengikutimu. (Q.S Asy Syu’ara 215). Dalam waktu yang sama kita juga tidak boleh merasa superior atau sombong atau takabur. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (H.R Imam Muslim ). Pilihan sikap yang kurang tepat dapat menjadikan kontraproduktif.

    9. Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
    Berkata jujur itu baik sekali dan seharusnya dimiliki oleh siapapun, terlebih-orang yang memiliki posisi kepemimpinan. Itu baru berkata jujur. Bagaimana jika seseorang bersikap, berkata, dan bertindak jujur? Saya bisa yakini bahwa dia akan dengan mudahnya mendapatkan kepercayaan (trust), cinta dan rasa hormat (respek). Kehadirannya Akan diterima dengan total.

    Dengan mencermati sembilan nasehat bijak Sayidina Ali Karamahul Wajhah, yang dilengkapi dengan komentar dan elaborasi yang secukupnya, diharapkan dapat memudahkan untuk membumikan secara efektif, sehingga bisa menjangkau seluas mungkin dalam berbagai setting.


    Yogyakarta, 6 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Gus-Dur, dalam Menerapkan HAM dalam Hukum Islam

    Buku "Gusdu rdan Negara Pancasila".
    PEWARTAnews.com -- Penerapan hak asasi manusia (HAM) dalam hukum Islam ternyata tidak terlepas dari kontribusi-kontribusi yang diperankan oleh gusdur. Kata itu insya Allah tepat untuk menggambarkan buku yang punya judul Gus-Dur dan Negara Pancasila, di tulis oleh Nur Khalik Ridwan. Seorang penulis yang sehariannya hanya menulis dan menjadi rakyat biasa. Sebuah buku yang memberikan penjelasan global tentang hak asasi manusia dalam mengikuti ajaran-ajaran Islam. Terdiri dari 6 (enam) bab, yang masing-masing bab diperluas dalam pasal-pasal. Di mulai dengan masalah terpenting, yaitu Gus-Dur sebagai guru bangsa, sumber tulisan dan tema-tema pemikiran Gus-dur, Gus-Dur Pancasila dan Ideologi Negara, Gus-Dur dan penolakannya atas pendirian agama Islam. Demikian yang bisa di ambil setelah membaca buku ini. Namun, tidak dapat di pungkiri beberapa permasalahan memang tidak bisa dipahami dengan mudah tanpa penjelasan dari seorang pembimbing atau guru.

    Nur Khalik mengawali bukunya dengan memaparkan Gus-Dur sebagai guru bangsa. Di sini, Gus-Dur memegang teguh prinsip-prinsip untuk menjadi Negara berkembang dan bermartabat, dan tidak hanya mementingkan kepentingan bangsa dan umat Islam saja. Berikutya, di susul dengan pembahasan yang kedua yaitu HAM dalam Hukum Islam. Di pembahasan ini, Gus-Dur menunjukan telah ada yang merumuskan tentang hak-hak perorangan dalam Islam. Diantaranya adalah : hak memperoleh lingkungan hidup, Hak memperoleh persamaan perlakuan, dan memperoleh keadilan, kewajiban mengikuti yang benar dan hak untuk menolak apa yang tidak bener secara hukum. Di samping itu beliau (penulis) menerangkan juga tentang hubungan penting antara hukum pidana, Islam, dan HAM. Pembahasan yang di sertai dengan pasal-pasal tersebut terasa lebih memudahkan para pembaca untuk memahaminya. Ini mungkin di antara kelebihan dari buku yang terbilang tebal 168 halaman ini.

    Selesai membahas masalah HAM dalam hukum islam, penulis berpindah pada masalah lain yaitu hak menyatakan pendapat dalam membela agama islam. Hal ini memang layak untuk dimiliki oleh (mereka rakyat Indonesia), sangat ringkas dan mudah di mengerti. Penulis mencukupkan permasalahan dengan pasal-pasal yang sudah dilindungi oleh Negara, penulis juga tidak sibuk membahas masalah di atas dengan panjang lebar, karena modal pembahasan yang sedemikian tentu akan mempersulit orang-orang awam untuk memahaminya.

    Mereka, yang belum memiliki penguasaan dalam bagaimana pentingnya hak asasi manusia dalam Islam sangatlah pantas memiliki buku ini. Karena buku ini memberikan penjelasan atau motivator yang sangat berharga bagi kehidupan seorang muslim atau muslimah kedepan, khususnya di Negara tercinta kita.

    Identitas Buku: 
    Judul Buku : Gus-Dur dan Negara Pancasila
    Penulis : Nur Khalik Ridwan
    Penerbit : Tanah Air
    Tebal Halaman : 168 halaman
    Resentator : Muslehuddin (Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

    Sukses Hidup dengan Model Spiral

    PEWARTAnews.com -- Sukses hidup menjadi dambaan dan obsesi setiap orang. Sukses hidup yang selalu diinginkan bukanlah sifatnya sementara melainkan yang bersifat tetap dan berkesinambungan. Cukup banyak orang bisa wujudkan, namun tidak sedikit yang gagal. Orangtua sukses, anaknya jadi gagal. Orangtua gagal, anaknya jadi sukses. Diharapkan sekali kita (yang sedang baca ini) bisa berjuang untuk wujudkan impian besar, sukses untuk semua dan untuk selanjutnya.

    Mari kita ambil contoh, bahwa berdasarkan pengalaman masa lalu. Ada sejumlah kasus di kampung bahwa umumnya orangtua kaya sangat menjanjikan anaknya dengan harta warisan, baik tanah pekarangan dilengkapi rumah siap tinggal dan seluas tertentu sawah dan ladang. Mereka tidak peduli pendidikan anaknya. Akibatnya terbagi habis, satu persatu dari anak-anaknya bangkrut karena tidak memiliki kemampuan memanaj harta warisan dengan baik. Di samping hidupnya sangat konsumptif.

    Sebaliknya sejumlah anak dari keluarga tidak mampu secara ekonomik, tapi berpotensi secara akademik memiliki impian besar menjadi orang sukses. Yang dilakukannya adalah andalkan motif berprestasi dan hidup nekad denga memang waktunya untuk belajar dan bekerja untuk menopang studinya. Pagi sekolah, sorenya bekerja, atau pagi bekerja, sorenya belajar. Anak ini hidupnya lebih produktif. Berangsur-angsur anak-anak yang hidupnya terjaga dengan baik akhirnya sukses studi, sukses karir, dan sukses hidup.

    Kasus lainnya yang terjadi pada keluarga sukses, di kota, dengan karir yang sukses dengan kesibukan kedua orangtua yang padat membuatnya tidak bisa kontrol dengan baik, sehingga anak menjadi korban pergaulan bebas dan penggunaan obat, dan sekolahnya berantakan. Gambaran kasus seperti ini tentu memberikan isyarat bahwa masa depan anak tidak terbekali keahlian cukup, sehingga berakibat hidupnya tidak sesukses orangtuanya.

    Sebaliknya kasus dari keluarga tak beruntung secara ekonomi dan sosial yang tinggal berada di perkotaan, sementara anaknya punya potensi bakat akademik tertentu. Dengan perhatian dan kepedulian sekolah, anak ini mendapatkan orangtua asuh atau beasiswa sekedar mencukup untuk kebutuhan sehari-hari dan belajar. Sementara itu anaknya juga memiliki tekad kuat dan rajin belajar serta berhati-hati dalam berteman. Juga selalu menjauh dari anak-anak jalanan dan nakal. Bagaimana dampaknya, anak ini pelan-pelan bisa keluar dari lilitan gangguan studi dan hidupnya. Bisa diduga anak memiliki potensi sukses studi, karir dan hidupnya.

    Apa makna sukses hidup itu? Tentu yang selalu kita dapat sepakati adalah sukses hidup di dunia dan sukses hidup di akhirat serta dijauhkan dari api neraka. Untuk hidup di dunia juga tidak semata-mata kejayaan yang sifat duniawinya semata yang ditandai dengan kekayaan, pangkat, jabatan, popularitas atau lainnya yang kering tanpa nilai. Namun yang seharusnya kita kejar, adalah kejayaan duniawinya yang dilandasi dengan nilai dan spirit ukhrawiah. Kekayaan diraih dengan cara yang halal. Jabatan diraih dengan cara yang benar, bebas sogok, dan bertindak adil. Pangkat diraih dengan prosedur yang benar, tidak manipulatif dan plagiat. Popularitas diraih melalui kinerja profesional, bukan pencitraan.

    Bagaimana raih sukses hidup dengan model spiral? Insya Allah kita sepakat bahwa kesuksesan yang kita raih adalah awal dari kesuksesan selanjutnya, bukan kesuksesan yang terakhir. Artinya kita sukses, harus dilanjutkan dengan kesuksesan anak cucu kita, minimal sama, bukan kesuksesan yang kita raih tidak dilanjutkan oleh anak cucu kita. Untuk mewujudkan sukses secara berkelanjutan tidaklah mudah, membutuhkan kesungguhan dan kerja optimal baik secara personal maupun kolektif. Karena itu kekompakan keluarga sangatlah penting.

    Ada sejumlah prinsip yang perlu menjadi pegangan untuk membangun sukses diri dan keluarga. Adapun prinsip-prinsip itu adalah  prinsip keberagamaan, kejujuran, perbaikan, berkesinambungan, dan kepedulian. Pertama prinsip keberagamaan, bahwa hidup kita harus berfondasi kuat dengan nilai-nilai agama, sehingga semua aspek kehidupan kita mengandung spirit agama. Kedua prinsip kejujuran, bahwa dalam beribadah dan bermuamalah didasarkan atas kejujuran untuk mengharapkan ridlo Allah SWT. Ketiga prinsip keadilan, bahwa dalam emban amanah di keluarga, tempat kerja dan masyarakat kita harus tegakkan rasa keadilan.

    Keempat prinsip perbaikan, bahwa kita hidup harus selalu berorientasi kepada perbaikan dari waktu ke waktu untuk imbangi dinamika sosial yang ada. Kelima prinsip berkesinambungan, bahwa perbaikan yang dicapai harus terjadi terus menerus, sehingga perbaikan kehidupan berkesinambungan. Keenam prinsip kepedulian, bahwa hidup kita tidaklah dalam kesendirian, tetapi bersama-sama dengan yang lain. Karena itu kepedulian harus diinstutuionalikan dalam keluarga, sehingga terbangun kepekaan sosial. Jika keenam prinsip ini bisa mengkarakter, insya Allah sukses kita dan keluarga akan bisa kita wujudkan dengan baik, walaupun tidak mudah, karena tantang dari luar dan hambatan pada setiap individu tidak bisa dihindari. Namun dengan keterbukaan yang bisa diupayakan dalam keluarga, diharapkan bisa berkontribusi dalam menghadapi persoalan yang ada.

    Akhirnya bahwa sukses dalam kehidupan itu menjadi cita-cita semua. Tidak pernah berhenti kita ingin wujudkan sukses hidup. Kita sadari bahwa definisi sukses itu relatif dan berbeda-beda. Apapun perbedaannya pada akhirnya kita sepakat bahwa sukses hidup tidak hanya difokuskan di dunia saja tapi juga di akhirat. Namun jika harus memilih, yang lebih penting ya sukses di akhirat. Semoga kita bisa raih kedua-duanya. Juga yang sangat penting adalah menjadikan anak dan cucu kita dan seterusnya lebih sukses daripada kita, seperti spiral. Untuk itu perlu ikhtiar personal dan kolektif yang terus menerus. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah SWT.


    Yogyakarta, 3 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Ajang Pemilihan Sampela Mbojo, Mahasiswa STKIP TSB Jadi Runner Up

    Madinatul Hujah, Mahasiswa STKIP TSB yang menjadi runner up diajang pemilihan Sampela Mbojo yang digelar Lasembo.
    Bima, PEWARTAnews.com --  Ajang pemilihan Sampela Mbojo adalah kompetisi tahunan yang  diadakan oleh Lembaga Sampela Mbojo (Lasambo). Lingkup kegiatan bercorak kearifan lokal tersebut, kabupaten dan kota bima. "Ajang yang diprakarsai oleh Sanggar sampela Mbojo (Lasembo) telah melahirkan sampela-sampela (remaja, red) berkualitas. Tahun ini ajang tersebut kembali diadakan, dan mengantarkan salah satu mahasiswi terbaik Prodi Bahasa Inggris, Madinatul Hujah, sebagai salah satu Runner Up Sampela Siwe 2019," tutur Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima (STKIP TSB), Ramli, M.Pd pada media ini melalui telpon selulernya, Minggu 21 Juli 2019.

    Menurutnya, keberhasilan mahasiswanya tersebut bukanlah sesuatu yang kebetulan. Tetapi, lanjutnya, telah melalui tahapan dan persiapan yang panjang. "Dia (Marinatul Hujah, red) bersama peserta lain telah melalui tahap perjalanan yang panjang mulai dari seleksi berkas, tes bakat, proses karantina, hingga malam puncak grand final Sampela Mbojo 2019 yang diadakan di Gedung Serba Guna Sape, 20 Juli 2019 lalu," ungkapnya.

    Disamping kecakapan berbahasa Inggris, si Runner Up juga memiliki banyak prestasi dan bakat. Pujian tersebut menurut Ramli bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan. "Banyak prestasi luar biasa yang telah dilakukannya. Diantaranya membaca puisi, MC, menari, disamping itu dia (Marinatul Hujah, red) adalah salah satu Purna Paskibraka 2016," papar Ramli.

    Ditanya dukungan Kampus terkait keberhasilan mahasiswinya, Ramli mengaku, pihaknya sangat appreciate dengan capaian tersebut. Bahkan, dukungan dikerahkan tanpa henti oleh Ketua STKIP TSB, Ibnu Khaldun Sudirman. "STKIP Taman Siswa Bima sangat bangga dan memberikan apresiasi yang sangat luar biasa kepada Prodi-prodi yang terus berkontribusi untuk terus mengawal perkembangan serta pembinaan skill mahasiswa. Sehingga dukungan tanpa henti terus dikerahkan oleh Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman M.Si," tutupnya. (fiq)
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website