Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Upaya Jaga Generasi Umat, HMI Cabang Yogyakarta Silaturahmi Dengan Rektor IST AKPRIND Yogyakarta.

    Suasana Pengurus HMI Cabang Yogyakarta Saat Silaturahmi Dengan Rektor IST Akprind Yogyakarta
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bidang Pemberdayaan Umat (PU) silaturahmi dengan Rektor Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T. Sepakati jaga generasi umat dari bahaya penggunaan teknologi. Senin, (09/09/2019).

    Disaat kampus-kampus lain melarang Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus masuk kampus, disaat itu pula Rektor IST AKPRIND Yogyakarta menerima organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus bersilaturahmi dan sharing-sharing soal ide gagasan demi kemajuan generasi, masyarakat, umat dan bangsa.

    Silaturahmi yang dilakukan oleh Bidang Pemberdayaan Umat HMI Cabang Yogyakarta ini bermaksud untuk berdiskusi terkait generasi umat menggunakan teknologi industri, lebih khusus generasi umat yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain berdiskusi dan sharing-sharing pengetahuan dibidang keummatan dan teknologi industri, juga HMI meminta tanggapan dari Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T selaku Rektor Kampus Teknologi Industri terkait bagaimana dampak buruk dari penyalahgunaan teknologi industri dan solusi untuk menangani perkembanganya. Selain itu, silaturahmi ini untuk menyambut momentum kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Bidang Pemberdayaan Umat HMI Cabang Yogyakarta dengan tema menjaga generasi umat dari ancaman bahaya demografi yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2019 nanti.

    Silaturahmi HMI juga didampingi langsung oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta, Andrico Talla, pendampingan ini sebagai bentuk penyambutan kepada rekan-rekan HMI Cabang Yogyakarta yang berkenaan meluangkan waktunya untuk bertukar pikiran dengan pihak kampus tercinta.

    Menurut Rico, kegiatan silaturahmi seperti ini seharusnya terus dilakukan antara mahasiswa dalam hal ini organisasi intra kampus dan pihak intitusi maupun organisasi ekstra, karena dengan bersilaturahmi kita dapat saling menukar pikiran, menukar pengetahuan, menukar ide serta gagasan dan bahkan bisa menemukan masalah baru sehingga melahirkan solusi, untuk teman-teman HMI semoga tetap menjadi pelopor pemahaman dari sudut pandang keagamaan, semoga HMI tetap menjadi tombak untuk menekan ketidakadilan, semoga HMI bisa membantu menyelesaikan apa yang sedang dihadapi umat.

    Kemudian untuk Pak Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T sebagai Rektor, semoga dapat segera mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh kampus kita, dan sebagai seorang intelektual senior semoga dapat terus berbagi sudut pandang dengan para intelektual mudanya. Lanjut Rico.

    Rektor Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta menyambut baik kehadiran teman-teman HMI Cabang Yogyakarta, pertemuan dibuka oleh Ketua Bidang Pemberdayaan Umat yaitu Muhmmad Akhir, diawali dengan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Institusi atas berkenaanya menerima silaturahmi dari HMI, kemudian dilanjutkan berdiskusi, tanya jawab, hingga meminta argumentasi Bapak Rektor terkait teknologi industri saat ini yang sedang berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Menurut Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T. Bahwa perkembangan teknologi semakin hari semakin luar biasa kencangnya, kalau kita ukur tidak mudah kita mengukur perkembangan teknologi hari ini, baik teknologi informasi ataupun teknologi industri lainya.

    Generasi yang merupakan pelopor penggerak dari keberlangsunganya perkembangan jaman, seharusnya menjadi garda terdepan untuk membicarakan persoalan demikian, selain untuk mengikuti perkembanganya, juga diharapkan generasi umat untuk dapat mengantisipasi bahaya dari dampak teknologi tersebut. Bahaya teknologi sebenarnya bisa diantisipasi dengan generasi disibukan dengan belajar agama, tugas manual tulisan tangan, hafalan-hafalan keagamaan, kegiatan-kegiatan keagamaan lainya yang meningkatkan kualitas iman mereka.

    Lanjunya, sebenarnya generasi juga memiliki potensi yang besar dalam hal meluangkan ide dan gagasanya, contohnya mahasiswa-mahasiswi diberbagai kampus teknologi industri selalu mendapatkan juara dalam perlombaan mobil listrik, robotika, dan teknologi industri lainya, mereka tidak kalah jago dengan generasi luar negeri, mereka mampu menjuarai setiap momen perlombaan teknologi industri dari hasil riset mereka. Namun pertanyaanya adalah setelah mereka selesai lomba dan melakukan riset terkait teknologi industri mau dikemanakan hasil dari riset mahasiswa tersebut? Kita tidak taukan mau dikemanakan, ucap Pak Amir sambil tersenyum, itu semua karena kebijakan politik.

    Pak Amir sedikit menyinggung persoalan kebijakan politik kepemerintahan, diskusi semakin menarik bahwa tidak hanya pihak mahasiswa yang memiliki keresahan dari kebijakan politik pemerintah, juga pihak Institusi memiliki kerisauan terkait anak-anak mereka setelah penelitian, melakukan riset, dan lulus nanti akan dikemanakan.

    Beliau melanjutkan, kebijakan politik itu membatasi keahlian generasi kita, hingga mereka bingung setelah mereka lulus dan melakukan riset, mereka mau ngapain? pasalnya semua itu tergantung kebijakan pemerintah lagi. Kalau pemerintah tidak menghiraukan soal itu, maka semuanya sama saja bohong, kasian anak-anak kita yang sudah cape-cape melakukan penelitian, tapi tidak disuport. Contohnya seperti Esemka misalnya yang lagi diperbincangkan sama publik sekarang, pro kontra terjadi dimana-mana, karena esemka sudah lama diperbincangkan dan itu merupakan salah satu hasil riset generasi kita sendiri, tapi sampai hari ini belum dilihat hasil baik dari upaya penerapan keilmuan generasi kita.

    Pak Amir sangat responsif dan mawas diri bercerita dan memberikan ide gagasanya kepada teman-teman HMI, hal itu ditandai dengan kecerian dan seyum sapa saat mereka berdiskusi.

    Terakhir Pak Amir menyampaikan harapanya kepada HMI, semoga HMI menjaga generasi umat sebagai generasi yang memiliki totalitas penuh dalam hal belajar keagamaan, mencintai agamanya, dan menjaga agamanya dari hinaan dan fitnah-fitnah dunia. Pak Amir mengajak kader HMI untuk menjaga generasi, mari jaga generasi kita untuk selalu mengutamakan pengetahuan keagaaman maupun teknologi dan industri, sehingga semangat mereka tidak pupus pada satu tendesi, misalnya karena gagal dalam bidang teknologi industri, mereka selesai begitu saja, padahal mereka bisa mengeksplor keahlian mereka dibidang yang lain.

    Terakhir ucapan terimakasih juga disampaikan oleh Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta, Muhammad Afraval Saiphedra. Terimakasih kepada Bapak Rektor yang berkenan menerima kami berkunjung untuk bersilaturahmi, semoga kedepan kami tetap bisa bersilaturahmi dengan bapak dalam hal menjaga ukhwa islamiyah, semoga apa yang bapak sharing kepada kami dapat bermanfaat buat kami kedepan terkhusus untuk seluruh kader HMI se Cabang Yogyakarta.

    Silaturahmi diakhiri dengan foto bersama Rektor, Pengurus HMI Cabang Yogyakarta, dan Ketua BEM IST AKPRIND Yogyakarta.
    Momen Saat Foto Bersama Pengurus HMI dan Rektor IST AKPRIND Yogyakarta
    Turut hadir, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta (Muh. Afraval S), Ketua Bidang PU Cabang (Muh. Akhir), Ketua Bidang PTKP Cabang (Tegar Elrumi Pratama Bey), Sekbid Sospol Cabang (Teddy Wahyudin S), dan (Juhruf) Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Reporter. (MA/PEWARTAnews)

    Durhaka

    Dedi Purwanto, S.H.
    Setiap kesunyian menyimpan diriku yang kaku,
    Diujung jurang keresahan telah berderet seribu luka,
    Sambutlah aku yang pulang tampa busana Ibu,
    Terimalah aku yang berduka tampa belaianmu ayah,
    Seorang lelaki biadab yang telah memberimu sepanjang luka.

    Sejuta purnama telah singgah dikelopak matamu,
    Namun milyaran derita kuletakkan dibahumu,
    Teriringlah sebuah nespata rindu dari ceritaku untukmu ibu,
    Aku memanggil namamu dari segala mata angin,
    'Pulanglah bersama resahmu Nak, katamu.

    Ibu,
    Lelaki jenaka yang kau rawat penuh cinta kasih,
    Tersipu malu dibekas debu jejak kakimu,
    Berharap pintu selalu terbuka untukku pulang,
    Berteduh dan menyepi dalam pelukanmu,
    Meskipun ku tau ibu, aku adalah kesedihanmu.

    Ayah,
    Kekar dan perkasa keringatmu,
    Telah kubayar dengan keangkuhan dan durjana,
    Kau yang selalu diabadikan oleh zaman,
    Kini terkubur namamu dalam ingatan,
    Ayah, aku lupa Tuhan aku lupa engkau,
    Aku lupa dirimu, aku lupa jalan pulang.

    Cepatlah berlalu waktu, biar tak ada yang ku jelaskan kembali. Kepada mereka, kepada semuanya.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum / Pemuda Pemerhati Daerah

    Mengulas Era Prametodologi dan Pasca Metodologi dalam Pengajaran Bahasa

    Ria Nirawati. 
    PEWARTANEWS.COM -- Metode mengajar adalah cara yang dirancang pendidik untuk mengajar. Seperti yang dikemukakan oleh Surakhmad (2002) metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari suatu pengajaran yang sebagai mana teknisnya suatu bahan pengajaran diberikan kepada siswa-siswa di sekolah

    Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan banyak hal kepada orang lain. Pada era prametode ini membahas tentang kepraktisan dalam pembelajaran bahasa yang dimana memberi pemahaman kepada pendidik agar mengetahui kondisi pengajaran bahasa yang bervariasi. Dengan menerapkan metode dalam mengajar seorang guru atau calon guru dapat memahami tingkat kemampuan yang dimiliki.

    Adapun metode dan teknik pengajaran bahasa yang berlangsung di zaman kuno sampai tahun Sembilan puluhan dan selama saat itu berkembang sedikit tidaknya metode, yaitu metode tatabahasa-terjemahan (MTT), metode langsung (ML), metode kompromi (MK), dan metode membaca. Metode tata bahasa-terjemahan digunakan untuk tujuan pelatihan mental atau pikiran. Metode ini berfungsi mengasah pikiran sehingga peserta didik diharapkan mampu menkaji hal-hal yang terjadi dengan berdasarkan peristiwa secara teratur.

    Metode langsung yang biasa dikenal direct method ini dimana pendidik langsung menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar dalam mengajar. Metode ini sangat menghindari penggunaan bahasa Ibu peserta didik dan terjemahan.

    Prosedur pengajaran ML biasanya dalam bentuk dialog dan anekdot dalam gaya percakapan modern yang sebelumnya telah dirancang. Dalam penilaiannya Stern (1983) metode langsung adalah beberapa praktisi dan pemikiran kritis yang teoritis tentang hakikat bahasa dan pembelajaran oleh beberapa ahli kebahasaan dan upaya menciptakan situasi penggunaan bahasa dan untuk melatih siswa untuk menghindari bahasa ibu.

    Metode kompromi yaitu belajar mengutarakan atau mendiskusikan tentang yang terdapat dilingkungan. Contoh kita ambil sampul pada teknik pengajaran anak-anak (TK dan Sekolah Dasar) karena menggunakan metode pengajaran yang ada disekitar. Memperkenalkan hal-hal terdapat disekitar kita. Dilanjutkan dengan metode membaca yang sebagaimana yang telah kita ketahui membaca adalah kegiatan mendapatkan ilmu/informasi dan media yang telah kita baca. Membaca dipandang sebagai keterampilan yang paling bermanfaat dalam belajar bahasa asing. Dalam penilaian Stern (1983) metode membaca yaitu mengajarkan dapat menemukan teknik baru mengajar bahasa dan mendapatkan kosa kata sebagai tanda adanya peningkatan hasil baca.

    Selanjutnya era pasca metode pengajaran bahasa bertujuan agar siswa aktif dalam proses peningkatan pembelajaran bahasa, disamping itu pendidik dituntut agar memiliki kemampuan mengajar untuk membuat peserta didik mempunyai keberanian untuk berkomunikasi berkomunikasi berdasarkan pembelajaran yang telah didapatkan dalam kelas terhadap masyarakat. Semuanya dapat diurai secara singkat seperti pedagogi pasca metode, Kumararandirelu (2003) pedagogi pasca metode yang telah ditentukan, untuk dapat melaksanakan pedagogi ini guru harus telah memiliki pengalaman agar mampu menerapkan terhadap metodenya.

    Bersambung dengan guru pasca metode yaitu para guru hendaknya mengetahui peran-peran mereka yang paling penting dan paling berharga dalam pendidikan (Kumararandirelu, 2003). Guru pascametode menuntut pendidik agar lebih mengetahui, mahir dan mandiri dan memiliki informasi yang memadai untuk merancang metode kemudian mempraktikkan apa yang telah mereka teorikan.

    Para guru dalam era pascametode, seperti yang kita ketahui guru bukan saja pendidik namun guru adalah pengajar yang harus member kontribusi positif terhadap peserta didik maupun lingkungan. Sementara itu, Kumararandirelu (2003) telah mengidentifikasi tiga peran guru yang terkait dengan prefektif yang berbeda yang prefektif transmisi, prakfitif pasca transmisi dan pascametode.

    Empat hal yang dipelajari dalam pembelajaran bahasa, pembelajaran melalui mendengarkan dan membaca dimana peseta didi dialihkan pada gagasan materi yang disampaikan lewat bahasa. Kemudian belajar melalui luaran yaitu belajar berbicara dan menulis difokuskan siswa pada pemaparan gagasan dan pada orang lain. Selain itu belajar melalui perhatian berfikir dan metode bahasa yaitu peserta peserta didik dituntut mengkaji kosakata dan makna pembelajaran dan menjelaskan tatabahasa, dan terakhir pengembanagan penggunaan butir bahasa yang telah dipelajari.

    Era metode prametodologi dan pascametodologi pengajaran bahasa ini bertujuan member informasi kepada guru dan calon guru tentang perkembangan metodologi pengajaran dari awal perkembangan. Pengajaran bahasa, informasi tersebut diharapkan dapat membantu para guru dan mahasiswa calon guru dalam memahami kondisi pengajaran bahasa yang sangat beragam saat ini dari segi pendekatan/metode yang dihasilkan oleh berbagai upaya pengembangan pengajaran bahasa.


    Penulis: Ria Nirawati
    Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) YAPIS Dompu, NTB.

    Gelar Upacara HUT RI di Istana Yogyakarta, Tokoh Agama Gedongkiwo Turut Hadir

    Tokoh Agama Gedongkiwo, Kota Yogyakarta Rochmad (berpeci) turut hadir memeriahkan HUT RI di Istana Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Hiruk pikuk kemeriahan peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-74 menggema di seantero Nusantara. Berbagai perlombaan diadakan sebagai upaya untuk memperingatinya. Pagi tadi, 17/08/2019, kemeriahan peringatan HUT RI juga diisi dengan upacara yang digelar di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.

    Berbagai tokoh, hadir memadati dan ikut memeriahkan upacara tersebut, dari tokoh-tokoh pemerintahan, tokoh pemuda dan juga tokoh agama.

    Wakil dari tokoh masyarakat dan tokoh agama Gedongkiwo, Kota Yogyakarta Rochmad turut hadir memenuhi undangan Upacara 17 Agustus 2019 yang digelar di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Kehadiran Rochmad mewakili Takmir Masjid Tawangsari Gedongkiwo Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

    Rochmad memandang, momentum HUT RI merupakan waktu yang pas untuk merefleksikan kemerdekaan yang telah kita raih. "Kemerdekaan sudah dalam genggaman kita, saat ini mari kita isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Kita rawat bersama negara kita tercinta dengan cara dan kemampuan kita masing-masing. Saat ini yang berada di lini pemerintah, mengisi kemerdekaan dengan menjalankan tugas dan tanggungjawabnya di pemerintahan, memastikan dengan kebijakan yang melekat kepadanya agar bisa berefek baik untuk kemaslahatan masyarakat," ucapnya.

    Selain itu, kata Rochmad, "Seperti guru, mendidik anak muridnya dengan penuh kasih. Tokoh agama mendidik spiritual masyarakat dengan penuh keikhlasan. Begitu juga yang perlu dilakukan oleh profesi-profesi lainnya," bebernya.

    Tema yang di usung oleh pemerintah pusat pada momentum HUT RI tahun 2019 ini adalah "SDM Unggul, Indonesia Maju", dengan adanya tema seperti ini mudahan bisa mendongkrak semangat kita agar terus memacu kreatifitas dan menguatkan SDM dalam diri kita.

    Hadir juga dalam upacara tersebut, Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H., Sekretaris Forum Bela Negara Republik Indonesia (FBN RI) kota Yogyakarta Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn., dan juga tokoh-tokoh lainnya. (PEWARTAnews)

    Bumi Manusia Bukan Manusia Bumi

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Terlepas dari novel sejarah yang di buat oleh Pramudya Ananta Toer yang berjudul "Bumi Manusia". Secara gramatikal bumi manusia dan manusia bumi mempunyai makna yang berbeda. Bumi manusia bermakna bahwa bumi dijadikan sebagai subjek penentu dalam keberlangsungan hidup umat manusia. Sedangkan manusia Bumi lebih menekankan pada manusia sebagai subjek dan bumi dijadikan objek dari manusia. Sekitar tahun 1980 mbah Pram lewat karyanya "Bumi manusia" telah mampu mendeteksi posisi bumi bagi umat manusia di masa-masa yang akan datang (terlepas dari teks novelnya). Tentu penerawangan ini bukan tampa alasan, dan sebagai bukti bisa kita lihat bahwa banjir, tsunami, gempa, tanah longsong dan gunung meletus selalu menemani kita akhir-akhir ini. Kami sangat bersyukur karena Mbah Pram telah manuangkan waktunya untuk mengkampanyekan narasi tersebut. Bahwa manusia Butuh bumi dengan Bumi manusia.
    Keindahan Bumi Manusia.

    Keharmonisan dan keteraturan tercipta apabila segala materi yang ada di alam semesta ini tetap bergerak pada porosnya (posisinya). Ikan yang hidup di laut biarkan di laut, kerikil yang berada di dimana-mana biarkan begitu, pohon yang tumbuh dimana-mana biarkan mereka hidup seperti biasanya (apalagi melakukan eksploitasi secara besar-besaran). Karena pada akhirnya kita tetap bisa hidup tampa harus merusak. Jika seadainya saraf terkecil dalam diri manusia bermasalah, kemungkinan besar akan berpengaruh pada organ-organ yang lain. Jika organ-organ yang lain sudah bermasalah tentu akan berpengaruh pada sistem kerja organ tersebut. Dan jika organ manusia sudah mengalami kecacatan dalam fungsinya maka manusia akan mengalami rasa sakit. Perumpamaan itulah yang akan terjadi antara bumi dengan manusia apabila kita telat menyadarinya.

    Cara pandang kita harus mulai di daur ulang, kalau bumi sebagai makhluk ternyata tidak mempan, maka barangkali kita harus melihat bumi sebagai seorang ibu, ibu yang menyusui dan membesarkan kita. Kalau seperti itu cara kita melihat, mungkin akan berguna ditengah kehidupan kita yang serba kurang ngajar ini.

    Kita membutuhkan bumi, bukan bumi yang membutuhkan kita.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum / Pemuda Pemerhati Daerah

    Pendidikan Guru yang “Powerful”

    PEWARTAnews.com -- Siswa bermutu salah satunya disebabkan oleh sekolah bermutu. Sekolah bermutu lebih banyak ditentukan oleh guru bermutu. Guru bermutu ternyata secara mitos, cenderung  lebih banyak dilahirkan, daripada dibuat. Artinya bahwa kehadiran pendidikan guru memiliki posisi strategia dalam menghasilkan guru-guru baru yang berdedikasi dan bermutu.

    Semua siswa dengan segala keragamannya harus tumbuh dan berkembang secara natural, tidak boleh dipaksakan dan direkayasa. Mereka harus diasuh, di Didik, diajar dan dilatih secara humanis dan edukatif. Mereka harus dilatano sebagai subjek  bukan sebagai objek. Mereka akan bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, jika dididik oleh guru profesional.  Darling-Hammond (2006) menyatukan bahwa “The Child teacher can make a bigger difference to his or her educational success than most other school variables”. Guru-guru profesional cenderung lebih banyak dihadirkan oleh institusi pendidikan guru yang bereputasi.

    Karena itulah pendidikan guru yang powerful (PGP) sangatlah penting. Telah terbukti bahwa “fully prepared and certified teachers are generally better rated and more successful with students”. Selanjunya juga dijelaskan bahwa guru baru yang keluaran PGP lebih efektif daripada yang bukan lulusan PGP. Mengapa demikian, karena lulusan PGP di saat kuliahnya mendapatkan program penyiapan guru dan sejumlah mata kuliah kependidikan yang terkait.

    Persoalan besar terkait dengan penyiapan guru baru adalah soal praktek. PGP harus benar-benar mampu menyiapkan program mengenali persoalan terkait dengan mengajar dan mendidik yang efektif. Mahasiswa PGP tidak hanya mengenali persoalannya saja melainkan juga mendiskusikan alternatif solusi terhadap masalah yang dihadapi. Apalagi yang dihadapi siswa tidak hanya aspek akademik saja, melainkan juga aspek keterampilan, moral, dan literasi digital dan literasi manusia.

    PGP juga menghadapi tiga persoalan penting. Pertama, persoalan magang. Kurikulum pendidikan guru dulu, masih dimungkinkan ada program magang yang diharapkan dapat pengalaman lapangan yang cukup, kini hanya pengenalan selintas dan dilanjutkan dengan pendidikan profesi yang praktek mengajarnya pada semester kedua. Bisa dibayangkan pendidikan profesi bagi mahasiswa lulusan non kependidikan yang kurang mengenali lapangan.

    Kedua, persoalan perundang-undangan tentang profesi pendidik lebih bersifat teorikal. Padahal persoalan tugas profesional mendidik sangat beda tuntutannya di lapangan. Dalam praktekya, guru tidak hanya memahami individu belajar dan strategi yang baik untuk mengajar, melainkan guru harus cakap berkomunikasi yang efektif, cara presentasi yang jelas dan komunikatif, mengarahkan diskusi, mengelola wacana untuk dipelajari, mengorganisasikan kelompok dalam belajar dan memberikan tugas yang tepat dan sebagainya.

    Ketiga, masalah kompleks yang terutama terkait dengan peristiwa pembelajaran riel yang terjadi melibatkan siswa, guru, dan mata pelajaran, yang dalam proses pembelajaran terjadi liar dan sangat kontekstual. Situasi pembelajaran berubah secara terus menerus sesuai dengan situasi dan kondisinya. Di sini sangat dibutuhkan kreativitas guru yang dapat menjadikan pembelajaran efektif.

    PGP memiliki posisi strategis bila ingin menghasilkan guru baru di era millennial ini. PGP harus mampu memilih strategi, merumuskan tujuan, mendisain kurikulum, menfasilitasi proses pembelajaran, dan mengelola praktek mengajar. Kini PGP sangat dituntut untuk bisa menyiapkan guru muda yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, menginternalisasikan pendidikan karakter, menanamkan spirit enterpreneurship, dan kecakapan digital serta inovasi. PGP sendiri harus mampu menghasilkan berbagai riset yang mendukung untuk hadirkan innovasi pendidikan dan pembelajaran, sehingga hasilnya matching dengan kebutuhan di lapangan.

    Untuk mewujudkan PGP tidaklah mudah. Di samping political will pemerintah untuk terus mengawal sistem pengelolan pendidikan, juga perlu didukung oleh kepemimpinan birokrasi pendidikan, di samping kepemimpinan PGP yang perlu tonjolkan dengan kepemimpinan akademiknya. Juga menjadikan kampus PGP dan sekolah praktek menjadi laboratorium sosial dan akademik, sehingga mampu menciptakan ekologi pendidikan yang supporting bagi keberhasilan mahasiswa calon guru.


    Yogyakarta, 11 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Manusia Ruang

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Bisakah kita menjadi orang tua bagi setiap anak yang lahir didunia, menjadi teman bagi setiap mereka yang butuh seorang sahabat, menjadi pikiran yang jernih bagi setiap akal yang keruh, dan menjadi jawaban bagi semua keresahan yang memuncak.

    Bisakah kita menjadi kesunyian bagi setiap mereka yang kesepian, menjadi seorang kakak bagi mereka yang membutuhkan dorongan, menjadi mata bagi mereka yang membutuhkan untuk melihat, menjadi telinga bagi mereka yang ingin mendengar, dan menjadi kasih sayang bagi mereka yang rindu kemesraan.

    Bisakah kita menjadi kaki bagi setiap mereka yang butuh untuk dituntun, menjadi tangan bagi mereka yang ingin memberi, menjadi hati bagi mereka yang mengasihi, dan menjadi senyuman bagi mereka yang bimbang.

    Bisakah kita menjadi bantal bagi mereka yang ingin terlelap dari keterasingan, menjadi selimut bagi setiap mereka yang kedinginan, menjadi air mata bagi mereka yang khusu' dalam pengabdian, menjadi perpustakaan bagi mereka yang ingin menerawang tentang pengetahuan, dan menjadi jalan bagi mereka yang lupa tentang arah.

    Bisakah kita menjadi tidak kaya dimata orang-orang yang miskin, menjadi miskin dimata orang-orang yang kaya, menjadi kata yang mewaliki setiap keresahan mereka, menjadi nada bagi riuhnya jiwa mereka, dan menjadi irama bagi gamblangnya diri mereka.

    Bisakah kita menjadi apapun yang terjadi pada mereka, bisakah kita menjadi apapun yang terjadi pada diri kita?


    Karya: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum dan Pencinta Sosial Budaya / Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum

    Indahnya Silaturrahim

    PEWARTAnews.com -- Silaturahim  pada hakekatnya merupakan tindakan yang menjadi bagian penting dari kesempurnaan orang beriman dan berislam. Karena tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak pernah melakukan atau membiasakan silaturahim. Memang silaturahim hadir tidak boleh semata-mata karena diwajibkan Allah swt, melainkan harus menjadi kebutuhan kita dalam berhikmat kepada Allah swt. Begitu indahnya silaturahim bagi ummat Islam.

    Berbagai fenomena silaturahim yang biasa terjadi dalam kehidupan kita. Berkunjung dan sowan ke orangtua, bertamu ke rumah kerabat, kumpul-kumpul semua anggota keluarga besar, dan sebagainya. Sulaturahim tidak hanya memiliki landasan dalil naqli, melainkan juga dalil aqli. Silaturahim pada hakekatnya suatu aktivitas yang indah dan memiliki banyak keutamaan.

    Pertama, silaturahim dapat memperkuat keimanan dan keislaman kita. Allah SWT berfirman: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21). Silaturahmi sebagai wujud keimanan, dan menjaganya adalah wujud ketaqwaan kepada Allah, seperti juga sabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”. Atas dasar inilah, maka Silaturahmi itu indah sekali dalam mewarnai kehidupan.(HR Bukhary dan Muslim)

    Kedua, silaturahim dapat memperpanjang umur dan meluaskan rizqi. Orang yang suka mengunjungi sanak saudaranya serta menjalin silaturhami akan dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya. Sebagaimana hadist Rasullullah SAW yang artinya  berbunyi “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Ketiga, silaturahim bisa menyebabkan masuk syurga dan menjauhkan dari neraka. Rasulullah Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi saw bersabda : “Engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim). Balasan orang yang menyambung tali silaturahmi adalah didekatkan dengan surga dan dijauhkan dari api neraka. Ini artinya bahwa silaturahim memiliki nilai porspektif dan tembus waktu kehidupan.

    Keempat, silaturahim merupakan bentuk ketaatan kepada Allah swt. Allah swt berfirman: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21).  Menyambung tali silaturahmi adalah salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah SWT maka dengan menjalankan perintahnya maka kita taat kepada Allah SWT. Menjalin silaturahmi juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak terpuji. Betapa berharganya nilai silaturahim di mata Allah swt.

    Kelima, pahalanya seperti memerdekakan budak. Sebuah hadist meriwayatkan bahwa dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.”

    Keenam. Bersedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain. Rasulullah saw mendefinisikan silaturahim sbb: “Laysa al-muwashil bil mukafi walakin al-muwashil an tashila man qatha’aka”, yang artinya: “Bukanlah yang bersilaturahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambungkan apa yang putus” (HR Bukhari). Mengunjungi sanak saudara dan bersedekah adalah salah satu perbuatan mulia dan memiliki faedah yang besar. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan daripada bersedekah kepada orang lain dan bisa menghindari dari perbuatan riya. Bersedekah kepada keluarga dan orang lain kemudian menceritakannya atau riya adalah salah satu dari hal-hal yang menghapus amal ibadah sedekah tersebut.

    Ketujuh, silaturahim dapat menambah kekuatan dan kesatuan Islam. Firman Allah swt “Berpeganglah dengan tali Allah secara menyeluruh dan janganlah bercerai berai...” (QS, Ali Imran:3). Dalam kacamata Islam, Rasulullah saw sering kali menyuruh umat Islam untuk saling bersatu agar tidak bercerai berai. Tentu saja efek silaturahim kekuatan umat Islam bisa bersatu dan saling membahu. Andai umat Islam hidup individualistis dan tidak saling membantu, maka umat Islam bisa bercerai berai dan kesatuan Islam akan terancam. Untuk itu dibutuhkan saling bersilaturahim.

    Sungguh indah kehidupan ini jika kita memuliakan Allah SWT dan memuliakan sesama umat manusia, nikmat yang luar biasa bisa kita peroleh dengan menguatkan ikatan silaturahim. Silaturahim yang paling utama adalah kepada kedua orang tua kita terlebih dahulu, kemudian kakak dan adik kandung, saudara sepupu, ipar dan juga saudara-saudara yang masih ada garis keturunan.

    Hampir sebagian besar ummat Islam merasakan nikmatnya dan indahnya silaturahim, karena jauh lebih banyak mashlahat dan keutamaan, daripada madharat dan ketidakutamaannya. Jika ke tidakutamaannya itu potensial muncul, di antaranya berbiaya tinggi dan resiko kecelakaannya. Berbiaya tinggi bisa ditekan dengan berbelanja dengan prioritas dan pengeluaran yang terjangkau. Rawan kecelakaan dapat diatasi dengan keharuan-hatian penyediaan transportasi, kehatia-hatian dan sabar di perjalanan. Kendalikan kecepatan, istirahat yang cukup. Dengan demikian bisa berikan jaminan keselamatan. Tentu tak lupa kepada Allah swt untuk keselamatan semuanya.

    Begitu banyak keutamaan yang masih digali dari silaturahim yang menjadi agenda utama kita sejak awal bulan Juni, yang dikuatkan dengan tanggal 5 Juni 2019 yang bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri 1440 H. Kita benar-benar bisa rasakan kebahagiaan dan kesenangan bersama keluarga besar di tempat kelahiran kita dan pasangan kita. Semoga semakin menguatkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita serta diberkahi Allah swt. Aamiin.


    Yogyakarta, 8 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website