Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Training Motivasi untuk Bekal Hadapi Era Milenial

    Suasana mahasiswa Manajemen UNU Yogyakarta usai melakukan training motivasi.
    Sleman, PEWARTAnews.com – Prodi Manajemen Universitas Nauhdlatul Ulama Yogyakarta (UNU) menggelar kegiatan training motivasi yang merupakan salah satu rangakaian kegiatan dari beberapa agenda Malam Keakraban (MAKRAB) Manajemen 2018. Training Motivasi diselenggarakan pada Jum’at, 28 Desember 2018 bertempat di wisata Jaka Garong, Turi, Sleman..

    Dalam sambutannya ketua panitia Taufiq menjelaskan bahwa acara training motivasi ini sebagai upaya membekali mahasiswa untuk tanggap dan siap hadapi era millenial, “Penyelenggaraan kegiatan ini dimaksudkan untuk memberi pembekalan kepada mahasiswa untuk lebih siap menghadapi tantangan di era milenial. Tuntutan di era milenial jauh lebih besar tantangannya. Maka ini membutuhkan generasi yang mampu berpikir kretif dan inovatif. Maka saya rasa ini menjadi kegiatan yang sangat penting bagi kami dan kita semua sebagai mahasiswa,” ucap Taufiq.

    Training motivasi berjalan kurang lebih selama 1 jam, acara tersebut di isi oleh Yogi Akbar selaku Dosen Manajemen UNU Yogyakarta. Dalam materinya, Yogi Akbar menjelaskan bahwa generasi milenial dihadapkan dengan sajian yang serba mudah dan canggih karna teknologi. Benteng untuk menghadapi era milenial, kata Yogi, kita harus mampu menyaring segala sesuatu yang kita peroleh, agar tidak menimbulkan kekacauan dalam menyikapinya, “Generasi sekarang/generasi milenial (disini Yogi menamakan sebagai generasi straubery). Yang mana generasi straubery ini kelihatan kuat, kokoh, bagus namun sebenarnya sangat rapuh. Sedikit ada goresan langsung rusak, ini menggambarkan generasi yang sekarang dengan kemajuan teknologi, keterbukaan informasi namun jika keterbukaan informasi tersebut tidak di saring maka sudah pasti akan menimbulkan kekacauan,” bebernya.

    Lebih lanjut, Yogi pun menegaskan bahwa kita sebagai manusia mempunyai dua pilihan sebagai jalan hidup, yakni menginginkan kesuksesan atau memilih menjadi biasa saja, bila berkeinginan menjadi sukses maka harus bekerja keras untuk menggapai kesuksesan yang diinginkan tersebut. “Kehidupan kita di dunia ini adalah mata rantai yang termandatariskan oleh Tuhan kepada Ibu/Bapak kemudian kita yang memilih untuk menjalankan, jika kita memilih menjadi orang sukses maka kita akan berusaha sekeras mungkin agar jadi orang sukses,” sebutnya.

    Suasana forum begitu mengasikkan, selain Narasumbernya pintar menghibur peserta, materi yang disampaikan pun begitu berisi. Peserta semakin bersemangat mengikuti materi yang disampaikan, dan interaksi yang aktif antara peserta dan narasumber pun tidak dapat terelakkan. (Arif / PEWARTAnews)

    Rumahku Syurgaku

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A. (jas hitam)
    PEWARTAnews.com – Rumah menjadi salah satu kebutuhan hidup. Rumah identitias alamat. Rumah tempat berteduh. Rumah tempat istirahat. Rumah tempat kumpul-kumpul. Rumah tempat belajar. Rumah tempat bekerja. Rumah tempat bermain. Rumah tempat refreshing. Rumah tempat berlindung. Rumah tempat bercengkrama. Rumah tempat mendidik. Rumah tempat ibadah. Ternyata rumah tempat terbaik untuk berangkat dan kembali selama hidup di dunia. Karena itu rumah seharusnya bisa memenuhi seluruh fungsi dan perannya, sehingga menjadi tempat yang paling nyaman, damai, aman, menyenangkan dan membahagiakan sepanjang perjalanan hidup anak adam.

    Karena penting dan berharganya suatu rumah itu, maka sangatlah beralasan bila setiap orang mendambakan dan berobsesi, Rumahku Syurgaku (Baitii Jannatii). Mengapa demikian, karena ada yang merasa bahagia sekali memiliki dan menempati dg penuh kebahagian, ada yang biasa-biasa saja, ada juga yang tidak merasa nyaman tinggal di rumah. Ada yang mewujudkan rumah dengan mudah, cukup mudah, tetapi ada juga yang sulit dan berat sekali. Semuanya kembali kepada masing-masing individu. Setidak-tidaknya memandang rumah tidak semata-mata fisik, tetapi yang jauh lebih penting, seberapa jauh rumah itu mampu memberikan makna dari segi sosial, psikologis, akademik, dan spiritul secara utuh dan dalam keseimbangan yang harmoni. Itulah gambaran rumahku syurgaku.

    Untuk mewujudkan idaman rumahku syurgaku di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama, Membangun rumah dengan fundasi agama. (QS, At Tahrim:6). Kedua, Membangun rumah tangga yang diatapi dan diwarnai dengan saling kasih sayang dan mensupport serta kedamaian (QS Ar Rum:21). Ketiga, Menghadirkan dan menghiasi bacaan Al Qur-an di rumah. (HR Ahmad, Ash Shahihah, 3112). Keempat, Menjaga dan melaksanakan hak dan kewajiban bagi setiap anggota keluarga. (QS Al Baqarah:228). Kelima, Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik. (QS, Al Ashr:1-3). Keenam, Seluruh anggota keluarga berlomba/lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.(QS, Al Baqarah:148). Ketujuh, Menciptakan rumah dan lingkungan yang sehat dan menyejukkan.

    Untuk mewujudkan rumahku syurgaku tidaklah mudah, karena banyak faktor internal dan eksternal yang sangat berpengaruh. Oleh karena itu suami (isteri untuk yang single parent) sebagai kepala rumah tangga memainkan peran penting sebagai subjek yang operasionalnya bertumpu pada rambu-rambu akhlaq.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Caleg DPR ini Serap Aspirasi Masyarakat Bolo

    Caleg DPR RI Mujahid A Latif, S.H., M.H. (baju putih) saat menyerap aspirasi di masyarakat kecamatan Bolo kabupaten Bima.
    Bima, PERWARTAnews.com -- Calon anggota DPR RI dari Partai Gerindra Mujahid A Latif, S.H., M.H. berkunjung di Desa Tambe kecamatan Bolo Kabupaten Bima dalam rangka silaturrahmi pada hari Minggu 30/12/2018 malam.

    Kedatangannya di sambut oleh Koordinator Jaringan Mujahid A Latif (JAMAL) Kecamatan Bolo, Adi Nulyakin, S.H., selain itu ada Ketua Karang Taruna Desa Tambe Bahrin dan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Bima H. Syamsudin.

    Dalam sambutannya, Bahrin yang biasa di sapa Cimen mengatakan, kedatangan kakanda Mujahid A Latif ini sendiri merupakan rahmat bagi warga di Desa Tambe.

    "Kami segenap warga Desa Tambe insya Allah siap memenangkan kakanda Mujahid A Latif. Insya Allah lahir batin kami siap," terang Ketua Karang Taruna ini.

    Sementara itu, dalam kesempatan yang sama H. Syamsudin mengatakan bahwa upaya memenangkan Partai Gerindra adalah suatu keharusan. Maka, kata Syamsudin, wajid bagi kita untuk mendukung beliau (Mujahid A Latif) sepenuhnya.

    "Inya Allah Prabowo dan Sandiaga Uno 100 persen kita pilih. Dan saya mengucapkan bismillah untuk mendukung Prabowo Sandiaga Uno menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Dan Bismillah untuk mendukung pak Mujahid menjadi wakil kita di Parlemen," tutupnya dan langsung disambut riuh tepuk tangan oleh seluruh warga yang hadir.

    Sementara itu Mujahid A Latif sendiri dalam sambutannya, mengatakan menjadi Anggota DPR RI adalah representatif dari masyarakat sepenuhnya. "Oleh sebab itu, mereka yang menjadi anggota DPR RI adalah mereka yang mengerti kebutuhan masyarakat. Mereka yang tidak sekedar diam dan duduk manis di Parlemen tapi mereka yang mau berbuat dan menyuarakan kepentingan masyarakat banyak," tutupnya. 

    Silaturrahmi ini dihadiri oleh perwakilan desa se-Kecamatan Bolo, dihadiri pemuka agama, tokoh politik, pemuda dan
    segenap elemen masyarakat. Kemudian ditutup dengan sesi diskusi lepas.

    Dilain kesempatan, koordinator JAMAL Kecamatan Bolo, Adi Nulyakin mengucapkan terimakasih atas partisipasi masyatakat setempat. "Insya Allah apa yang sudah menjadi komitmen akan kami jaga dan rawat bersama," terangnya. (PEWARTAnews)

    Orangtua dan Guru

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A. saat berkunjung ke Uzbekistan.
    PEWARTAnews.com – Umumnya orangtua menyekolahkan anaknya ke sekolah untuk memperoleh pendidikan yang memadai, karena hampir semua orangtua tidak mampu memenuhi apa yang diperlukan dalam proses pendidikan yang utuh, terutama aspek akademik, sosial dan moral, kecuali beberapa orangtua yang melakukan homeschooling yang benar.

    Orangtua, sebagai pendidik pertama dan utama, memainkan peran yang sangat penting dalam mendorong dan memotivasi serta menfasilitasi anaknya untuk belajar. Karena itu kehadiran orangtua sangat dinantikan dalam proses pendidikan anaknya. Walau ada sejumlah orangtua yang kurang peduli terhadap proses pendidikan anaknya yang dibuktikan dengan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah dan guru, tanpa ada koreksi, kepedulian, dan dukungan sedikitpun.

    Anak-anak yang memperoleh bantuan dari orangtua selama proses pendidikan, merasa lebih kompeten. Demikian juga kehadiran orangtua ke sekolah menjadikan mereka lebih penting dan tidak diabaikan, karena orangtua menunjukkan kepeduliannya. Keterlibatan orangtua juga dapat meningkatkan kesehatan anak yang sangat diperlukan dalam memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Keterlibatan orangtua juga seharusnya proporsional, tidak boleh berlebihan. Jika berlebihan cenderung tidak sedikit menimbulkan kerugian terhadap sekolah, bahkan melakukan tindakan kekerasan terhadap guru, sehingga potensial bisa mencoreng dunia pendidikan. Kondisi ini tidak boleh terjadi kembali. Karena itulah sangat dibutuhkan terciptanya hubungan yang harmoni antara orangtua dan guru.

    Orangtua dan pendidik sama-sama setuju bahwa hubungan yang positif, supportif dan terbuka, antara orangtua dan guru, dapat mensupport secara optimal keberhasilan pendidikan anak. Konsultasi dan komunikasi yang produktif berkenaan dengan urusan akademik dan pembentukan karakter anak perlu terus diupayakan dan dijaga, sehingga kehadiran orangtua dalam pendidikan benar-benar mampu tunjukkan kontribusinya yang signifikan.

    Orangtua dan guru sama-sama memiliki kebutuhan untuk saling menjaga hubungan baik secara formal maupun informal sehingga tercipta hubungan yang harmoni, saling respek dan saling mendukung. Hubungan antara keluarga dan sekolah yang baik akan menaikkan prestasi belajar anak, juga bisa membuat anak yang motivasi belajarnya meningkat, perilakunya membaik, kehadiran belajar membaik, sikapnya membaik terhadap PR disebut. Di samping itu juga bisa membuat guru lebih folus dalam mengajar dan mendidik, lebih tahu tentang kebutuhan anak dan lingkungan keluarga, pandangan lebih positif terhadap guru. Selanjutnya, hubungan antara keluarga dan sekolah dapat memungkinkan tercipta komunikasi dua arah yang sehat dan positif, sehingga dapat mendikung pencapaian prestasi akademik yang gemilang dan kepribadian, serta pengamalan agama siswa membaik.

    Untuk menjamin terjadinya komunikasi keluarga dan sekolah yang baik, maka perlu dilakukan konferensi orangtua, pembentukan dan pengaktifan organisasi orangtua dan sekolah (melalui Komite Sekolah), pengiriman folder siswa ke orangtua dalam mingguan atau bulanan untuk kontrol dan umpan balik dari orangtua ke sekolah dan sebaliknya, kunjungan rumah, workshop untuk orangtua, selebaran atau majalah bulan atau periodisasi tertentu, terbukanya kontak lewat telpun, surat menyurat, pengriman email atau jenis medsos lainnya serta cara-cara lainnya sesuai dengan sikon atau kesiapan, dan sebagainya.

    Akhirnya hubungan antara guru dan orangtua diharapkan tidak hanya bersifat tekstual, melainkan juga bersifat kontesktual. Guru dan orangtua diharapkan sekali menjaga komunikasi yang sehat dan respek serta terus menerus. Ingat bahwa kesamaan visi, orientasi dan langkah dalam mengawal pendidikan anak menjadi kunci penting, sehingga perlu saling menjaga.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Satu Malam Seribu Cerita Untuk Menyatukan Manajemen

    Suasana keceriaan saat rangkaian acara makrab Prodi Manajemen UNU Yogyakarta.
    Sleman, PEWARTAnews.com – Pada hari Jum'at-Sabtu, 28-29 Desember 2018. Jurusan Manajemen UNU Yogyakarta menggelar kegiatan Malam Keakraban (MAKRAB) yang bertempat di wisata Jaka Garong Turi Sleman. Kegiatan yang di gelar selama 2 hari ini terdiri dari kegiatan Training Motivasi, Malam Ta'arufan,  Malam PENSI dan Api Unggun, dan ditutup dengan Out boand.

    Taufiq  selaku Ketua Panitia menjelaskan dalam sambutannya mengatakan bahwa adanya agenda ini merupakan suatu upaya meningkatkan keakraban mahasiswa Manajemen UNU Yogyakarta. “Kegiatan MAKRAB ini diadakan guna untuk mengikat keharmonisan teman-teman Manajemen angakatan 2017 dan 2018, setidaknya kegiatan ini bisa merangsang keakraban teman-teman Manajemen yang tentunya ber-out put pada tingkat kemapanan diri serta mampu menjaga nama baik Prodi Manajamen,” sebutnya.

    Hal yang sama, ditambahkan juga oleh Afrizam Muzamir sebagai Ketua HMJ Manajemen UNU Yogyakarta. Afrizam menegaskan bahwa acara ini bertujuan membangun kekompakan dan menghilangkan rasa canggung antara satu dengan yang lainnya. “Dari kegiatan makrab ini kita betul-betul harapkan mampu menggerakkan teman-teman, minimal hafal nama teman-teman satu Prodinya. Dalam kegiatan MAKRAB ini kami mengusung tema ‘Satu Malam Seribu Cerita Untuk Menyatukan Manajemen’. Tema ini betangkat dari keadaan kami sendiri, yang mana masih ada kecanggungan antara masing-masing angkatan,” demikian Afrizam menutup kalimat dalam sambutannya.

    Keasyikan dan keseruan suasana kegiatan makrab benar-benar dinikamati oleh peserta makrab yang dimana malam hari teman-teman dimanjakan dengan api unggun sembari menampilkan penampilan kesenian dari masing masing kelompok. Kemudian di pagi harinya pun tidak kalah seru peserta pun juga masih dimanjakan dengan suasana out boand. Keceriaan terpancar jelas di raut wajah peserta, suasana kekeluargaan benar-benar terjalin erat dalam satu momen tersebut. yang awalnya canggung, jaim atau malu-malu mau, setelah sama menikmati keseruan-keseruan dalam acara tersebut seolah olah seperti keluarga sendiri. Memang suasana itulah yang diharapkan  oleh panitian beserta pengurus HMJ-nya. (Arif / PEWARTAnews)

    Meriahnya Persembahan #UntukmuSahabat Tribute to Seventeen di Titik Nol ...

    Krisis Kepercayaan dan Tak Seindah Dulu

    Ilustrasi. Foto: Blognyakris
    Tak Seindah Dulu

    Dahulu kau tampak indah nan sejuk
    Menghadirkan ketenangan setiap waktu
    Bergurau canda bersama burung-burung
    Sesekali matahari menatap dengan tajam
    Memberikan kehangatan setiap daun-daun yang tumbuh

    Tunas-tunas mengiringi setiap sudut gunung
    Rumput dan ilalang bercumbu bersama gemercik embun
     Bersetubuh dalam pelukan
    Menunggu hadirnya sinar mentari

    Kini..! Kau berubah oleh tangan serakah  kau hancur lebur bersama api
    Di basmi layaknya virus
    Hingga sakarang kau enggan tuk kembali


    Krisis Kepercayaan

    Bosan dengan celoteh hantu politik
    Suaranya harum seperti bunga semerbak
    Pintar bernyanyi pandai beronani
    Menipu rakyat demi mendapatkan kursi

    Ha.ha.ha.! Kau...! Kau pencitraan
    Kau bertopeng kesederhanaan
    Bercerita penuh kesantunan
    Berlaga manusia beriman

    Tapi...! Biarkanlah, biarkan itu terjadi
    Biarkan mereka menipu kami
    Biarkan kemunafikan berjalan tanpa henti
    Berdiri kokoh di atas negeri demokrasi

    Jangan bilang kami tidak peduli
    Hanya saja kami keracunan janji
    Janji yang masih membekas dalam hati
    Janji yang kalian ingkar selama ini


    Jumat, 21 September 2018
    Karya: Nazam Moringa
    Seorang Pemuda Pemahat Kata

    JAMAL Madapangga Sambut Mujahid A Latif dengan Hangat

    Mujahid A Latif saat memberikan sambutan di masyarakat Madapangga Kabupaten Bima.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Koordinator Jaringan Mujahid Abdul Latif (JAMAL) Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima Muhamad Yadi Faturrahman, S.Pd., biasa di sapa Jalu mengadakan ramah tamah di kediamannya Desa Bolo Kecamatan Madapangga pada hari Sabtu, 29/12/2018.

    Dalam sambutannya, Jalo menyebut bahwa ramah tamah ini bermaksud menyambut kedatangan Mujahid A Latif selaku calon anggota DPR RI dari partai Gerindra.

    "Biar dekat dengan masyarakat. Maka diperlukan ramah tamah seperti ini. Menyerap aspirasi langsung dari masyarakat adalah langkah kongkrit. Pak Mujahid kami semua disini Insya Allah adalah motor penggerak untuk kemenangan bapak," tuturnya dengan semangat.

    Sementara itu dalam sambutannya, Mujahid A Latif bertrimakasih kepada segenap elemen masyarakat atas partisipasinya berkenan hadir.

    "Trimakasih sudah meringankan langkahnya untuk hadir. Insya Allah apa yang menjadi masukan dari bapak dan ibu akan saya tampung," sebutnya.

    Agenda ramah tamah ini sendiripun berlangsung cukup meriah. Dihadiri oleh perwakilan 11 Desa se-kecaamatan Madapangga. Kemudian di tutup dengan sesi diskusi lepas.

    Mujahid A Latif adalah putra asli Desa Sape. Saat ini beliau menghibahkan dirinya untuk menjadi calon anggota DPR RI dari Partai Gerindra Dapil NTB 1. Pengalamannya menjadi pengacara Fahri Hamzah dan asam garam di dunia perpolitikan nasional adalah modal utamanya untuk memberanikan diri maju sebagai calon anggota DPR RI. (PEWARTAnews)

    Pendidikan Perdamaian

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A. (tanpa peci).
    PEWARTAnews.com -- Sejak manusia pertama diciptakan, terlahir beberapa anak Nabi Adam yang telah tunjukkan ketidakrukunan, antara Qabil dan Habil, yang hingga kini kita saksikan masih terjadi konflik bahkan penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah, sehingga kedamaian dunia belum dapat diwujudkan sebagaimana yang diidealkan oleh semua. Kedamaian memang sesuatu yang mahal selama masih ada rasa superioritas pada seseorang, kelompok dan bangsa.

    Untuk mencapai kedamaian, salah satu upaya yang utama melalui Pendidikan Perdamaian (PD). Adapun yang dimaksud dengan PD adalah suatu proses pemerolehan nilai, pengetahuan, dan keterampilan/perilaku untuk hidup yang harmoni baik dengan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan alam sekitar. Kehidupan yg damai diindikasikan hidup yg diwarnai respek, toleran dan saling malindingi dan membantu. Cakupan PD, di antaranya: level individu, level sekolah/masyarakat, lebel nasional dan level dunia. Bagaimana PD mampu menciptakan pribadi, sekolah/masyarakat, negara/bangsa, dan dunia (antar negara/bangsa) yang damai, harmoni, dan toleran.

    Mengapa kita harus damai? Karena fitrahnya kita diciptakan dari seorang lelaki dan perempuan yang selanjutnya menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang kemudian untuk saling mengenal dan membantu (QS Al Hujurat, 13). Juga kita dianjurkan berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak bercerai-berai (QS Ali Imron:103). Kedua ayat ini mengisyaratkan bahwa antar manusia harus saling resoek, melindungi, dan menolong untuk menciptajan suatu kehidupan yang damai. Karena wajib dikutuk perlakuan China terhadap suku Uighur yang sangat biadab itu.

    PD diharapkan mampu memberikan kecakapan membentuk dan memelihara perdamaian dimanapun berada, mengatasi secara konstruktif persoalan hidup setelah perang atau konflik, mengembangkan tanggung jawab sosial di Abad ke-21, dan memberikan harapan hidup yg lebih baik bagi generasi muda.

    Dalam PD ada sejumlah nilai universal yg bisa ditemukan dalam kehidupan, di antaranya dalam HAM, demokrasi, kerjasama dan solidaritas, pemeliharaan budaya, konservasi lingkungan, internasionalisasi dan spiritualitas. Jika kita mampu tunjukkan dan implementasikan nilai-nilai tersebut secara bertanggung jawab, maka perdamaian dalam dunia bisa kita rasakan.

    Bagaimana PD harus diwujudkan? Setidak2nya menurut Nakamura (2004) bahwa ada dua orientasi meniadakan perdamaian negatif (negative peace), yang diwujudkan dengan peniadaan kekerasan personal dan sosial serta kekerasan struktural dan meneguhkan perdamaian positif (positive peace) yang diwujudkan dengan rasa keadilan, penegskan HAM, dan kesamaan perlakuan antar gender, ras, dan agama. Untuk mewujudkan PD perlu melibatkan semua, sesuai dengan levelnya.

    Akhirnya apapun bentuk konflik dan peperangan di atas bumi tanpa memandang alasan apapun harus bahkan wajib dihentikan, karena tidak sesuai dengan fitrahnya. Semoga manusia sebagai khalifah di atas bumi mampu cari solusi. Salah satu upaya strategis adalah PD. Semoga PD dapat diterapkan untuk semua jenjang di manapun berada, sehingga tercipta kehidupan yang saling respek di antara kita, yang akhirnya dapat terwujud hidup yang damai dan toleran.


    Yogyakarta, 25 Desember 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Arah Baru HMI Cabang Yogyakarta, Afraval Terpilih Jadi Ketum Baru

    Elfi Suherni (perempuan) bersama Ketum HMI Yogyakarta Terpilih Afraval (tengah) usai pemilihan berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta belum lama ini menggelar Konferensi Cabang (KONFERCAB) yang ke-61 belum lama ini. Setelah melewati berbagai macam dinamika saat KONFERCAB, Afraval akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta periode 2018-2019 di Kantor Sekretariatan Kebudayaan Lafran Pane, Umbulharjo, Yogyakarta (27/12/2018).

    "Terimakasih untuk dukungannya, ini kemenangan bersama dan saya berharap semua tetap bersatu dalam tubuh Hijau Hitam tercinta ini", ujar Afraval kepada para pendukungnya di lantai tiga Gedung Kebudayaan Lafran Pane.

    Lebih lanjut Afraval menyampaikan, bahwa ia tak akan meninggalkan para kawan seperjuanganya yang sudah mendukungnya sampai ia terpilih menjadi Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2018-2019.

    "Perjuangan kita masih panjang, dan saya masih butuh kawan semua untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Saya tak mungkin bisa berdiri sendiri untuk memperjuangkan himpunan yang begitu besar ini, karena itulah saya butuh kebersamaan dan persatuan dari kita semua," sebutnya.

    Dalam dinamika yang terjadi, Ketua Umum yang sedang menjabat, Elfi Suherni menegaskan, "Walau dinamika yang terjadi saat Konfercab ini sangat luar biasa, namun bagi kami itu adalah usaha dalam berproses sebagai seorang kader yang ingin membenah rumah hijau hitam," imbuhnya.

    "Saya mengucapkan selamat kepada Afraval sebagai Ketua Baru yang akan menahkodai HMI Cabang Yogyakarta selama satu tahun kedepan, semoga amanah, dan mampu membawa HMI Cabang Yogyakarta menjadi lebih baik lagi," lanjut Elfi.

    Afraval merupakan aktivis yang cukup progresif dalam menghadapi berbagai isu dan dinamika yang terjadi, ia meniti jejak organisasi mulai dari SMA hingga saat ini, ia juga pernah menjadi Ketua Umum HMI Komisariat Adab Periode 2016-2017.

    Tidak mau ketinggalan, Ketua Umum HMI Komisariat Adab Periode Sekarang, Rangga Hafidin juga menyampaikan ucapan selamat kepada Ketum Demisionernya Afraval.

    "Kepada Ketum Demisioner Afrav, selamat dan semoga bisa menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan kehmian di HMI Cabang Yogyakarta, lebih-lebih semoga amanah dan mampu menjaga nama baik HMI Cabang Yogyakarta sebagai pusat perkaderan," ujar Rangga Hafidin. (Akhier / PEWARTAnews)

    Toleransi

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com – Manusia itu fitrahnya unik, tidak ada yang sama, kendatipun bersaudara kandung, bahkan anak kembar sekalipun. Keunikan itu membuat manusia memiliki gaya hidup masing-masing (style of life). Demikian juga perbedaan suku, bangsa, agama, golongan, dan sebagainya, membuat mereka memiliki cita-cita, pandangan hidup, dan budaya serta perilaku yang berbeda.

    Perbedaan tidak boleh menimbulkan konflik, apalagi munculkan pertikaian dan peperangan. Perbedaan tidak boleh melahirkan rasa superioritas dan inferioritas, ingat manusia tidak ada yang sempurna, pasti punya kekuatan atau kelebihan dan kelemahan atau keterbatasan. Rasulullah saw bersabda, “Innal insaana mahalul khaththa’ wan nisyaan”, yang artinya bahwa sesungguhnya manusia itu tempat lupa dan salah.

    Justru adanya perbedaan harus disyukuri, karena perbedaan dapat mendatangkan rahmat. Ingat sabda Rasulullah saw, “Ikhtilaafi ummatii rahmatun”. Untuk dapat menghadirkan rahmat, maka kita harus respek dan toleran (tasamuh) terhadap perbedaan individu (individual differences). Pada situasi dan kondisi inilah toleransi sangat diperlukan. Dengan toleransi kita dapat saling menghargai dan menghormati antarkelompok dan antarindividu dalam masyarakat atau lingkup lainnya.

    Toleransi secara umum dapat dilakukan dengan menghindarksn diri dari sikap diskriminasi dan perlakuan tidak fair terhadap kelompok yang berbeda di tengah-tengah masyarakat. Yang kuat melindungi yang lemah, yang mayoritas melindungi yang minoritas. Bahkan perlakuan afirmatif perlu diwujudkan untuk empowering terhadap kelompok yang tak beruntung (disadvantaged group). Jika ini dapat diwujudkan maka, potensi hidup dalam kebersamaan dan persatuan dapat dirasakan.

    Toleransi dalam Islam tidaklah mudah pembahasannya, karena hingga kini masih debatable. Betapapun sulitnya, kita harus bersikap. Dengan penuh rasa tawadlu, al faqir ingin coba urun rembug. Bahwa ummat Islam tidak pernah persoalkan tentang toleransi dalam kehidupan ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Ummat Islam bisa hidup dan berkolaborasi dalam urusan-urusan ini. Dengan begitu toleransi dalam bidang-bidang ini tidak terlalu ada masalah, walaupun tetap harus berhati-hati. Demikian juga, terkait dengan toleransi dalam beragama, ummat Islam sangat menghargai orang yang beragama lain, tidak akan mengganggu mereka dalam beribadah, tidak melakukan paksa untuk masuk agama Islam, demikian juga sebaliknya ummat agama lain diharapkan berlaku yang sama dengan saling menghormati. Ada dua pandangan yang berbeda. Pertama, bahwa mengucapkan Selamat Natal, dihukumi haram, karena diyakini akan mengganggu aqidah. Kedua, bahwa mengucapkan Selamat Natal tidak haram, karena yang dimaksudkan itu sekedar ucapan selamat dan yang penting tidak ikut peribadatannya.

    Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk berikan uraian detil kedua alasan. Saya yakin semua sudah banyak baca dan faham terkait dengan dua alasan. Yang menjadi heboh adalah seseorang tokoh yang bersikap berbeda di dua waktu yang berbeda terhadap ucapan Selamat Natal. Karena ketokohannya bisa diduga mempengaruhi sikap dan perilaku ummat Islam. Walaupun demikian saya husnudzdzon bahwa sebagian besar ummat Islam memiliki kedewasan untuk beragama, sehingga bisa bersikap dan berperilaku sesuai dengan rambu-rambu agama dengan tetap toleran terhadap ummat lain. “Lakum diinukum waliyadin”. Demikian juga Islam adalah agama damai, diharapkan ummat Islam lebih mengedepankan respek dan toleransi. Islam juga diturunkan untuk rahmat seluruh alam, karena itu ummat Islam seharusnya bisa memberi karunia dan kasih sayang kepada semuanya termasuk makhluk hidup dan makhluk mati yang ada di bumi dan di langit serta seisinya. Ingat sabda Rasulullah saw, “Man Yarham Yurham”, barang siapa yang mengasih sayangi, akan dikasihsayangi (oleh Allah swt).

    Semoga kita terus bisa tingkatkan kualitas toleransi dengan tetap menjaga kemurnian aqidah kita. Aamiin.


    Yogyakarta, 27 Desember 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Masa Depan (Future)

    Umar dan Siti Mukaromah.
    PEWARTAnews.com – Ngak terasa foto dan tulisan ini sudah 2 tahun. Seandainya aku sudah punya partner hidup, pengen rasanya tak tag via facebok (kalau punya FB).

    Jangan dilihat fotonya, baca sampe akhir. Foto itu hanya Menganalogikan "Seorang ibu dan anaknya. (Senin, 5 September 2016 adalah Kuliah Perdana-ku di semester 3. Semangat adalah Kunci segala hal).

    وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُون

    Arti : Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A’rof :58).

    Ayat tersebut yang memotivasi dan menginspirasi penulis untuk menyadari apa, siapa dan bagaimana diri ini. Seperti apapun seorang wanita, mau tak mau kelak akan menjadi seorang Ibu. Kalau ngendikane Yai Chudhori ayat tersebut dapat dipahami bahwa tanah itu ibarat orangtua, dan tanaman itu ibarat anaknya. Jadi, sejatinya kalau diri kita baik insya Allah dzurriyah kita pun juga akan baik (factor hereditas) begitupula sebaliknya. Ya meskipun kalau membahas tentang Pembentukan jati diri manusia pasti tidak akan pernah terlepas dari faktor hereditas, lingkungan dan kehendak bebas manusia atas Hidayah Allah SWT.

    Tetapi, tulisan penulis kali ini menitikberatkan pada pembahasan Hereditas. Masih Penulis ingat sampai sekarang, ngendikanipun Kyai Luthfi, M.Pd (Guru Tafsir Aliyah) bahwasannya “Mencetak Keturunan Harus dimulai sejak sekarang”. Ya dengan cara apa yang kita lakukan sekarang diniatkan untuk dzurriyah kita kelak, agar mereka seperti kita (bahkan bisa lebih daripada kita), kalau kata mba Lathif, dengan cara “Mengindahkan cetakannya. Kita ngaji, kita kuliah, kita bertholabul ‘ilm sejatinya untuk mendidik anak-anak kita kelak”.

    Wanita-lah yang akan mengandung, melahirkan, menyusui dan menjadi madrasatul ulaa bagi anak-anaknya. Membesarkan dan mendidik anak-anak dengan susu tauhid, mengajarkan gagahnya perjuangan nan indahnya, kesabaran serta keikhlasan. Hingga pada akhirnya menjadi bu Nyai bagi anak-anak sekaligus Navigator bagi suaminya. Bukankah dibalik laki-laki yang hebat dibelakangnya ada wanita yang hebat pula?

    Banyak sahabat penulis yang bilang begini, “Mukaromah kamu narget nikah nggak, jangan karena semangat bertholabul ‘ilm menjadikanmu lupa akan Sunnah Rasul”. Ku balas dengan senyum sambil bilang, “besok kalau kulo nikah, njenengan rewang dan nginep di rumah yaa”.

    Yang namanya wanita, seperti apapun dia pasti punya keinganan menikah. Menikah adalah sesuatu hal yang sakral, yang harus dipikirkan matang-matang. Memilih seorang partner (suami/istri) yang memang benar-benar bisa mendidik, dididik, bertanggungjawab dan saling mendukung serta memotivasi. Karena lika-liku dalam rumah tangga tak semudah yang dipikirkan banyak orang. Maka seharusnya, pada saat “single” seperti ini dijadikan proses untuk perbaikan kualitas hidup dengan belajar menjadi seorang Ayah ataupun Ibu bagi anak-anak kelak. Sehingga, jika sudah tiba waktunya menikah, lika liku apapun yang terjadi tidak akan kaget dan dengan berbekal pengalaman maka akan siap (menjadi imam/pun makmum) yang baik dan bertanggungjawab dengan mendidik anak-anak “bi tarbiyatin hasanatin”. Aamiin Insya Allah.

    Berbicara tentang pernikahan, penulis jadi teringat kedua mbak-ku. Satu hal yang membedakanku dengan mereka ialah “mereka nikah muda”. Ya selesai mondok mereka langsung ijab sah. Alhamdulillahnya, dapat suami yang selisihnya 8 smpe 10 tahun, sehingga bisa momong mbak. Bagaimana sih nikah muda itu? Sebenarnya tidak jadi masalah nikah muda itu, tetapi yang harus diingat ialah hidup hanya sekali. Ibarat bunga, baru mekar kok udah dipetik orang? Bukankah masa remaja adalah masa ke-emasan? Masa dimana seluruh kekuatan dan potensi menjadi satu. Ya tak apa, selagi si suami nggak labil. Karena menurut penelitian, kedewasaan seorang wanita dan laki-laki itu berbeda, ya meski tak bisa dipungkiri dewasa bukan karena umur tapi karena pengalaman. So, semua harus direncanakan dengan sebaik mungkin karena tugas kita berusaha dan berdo’a selebihnya serahkan pada Allah.

    Penulis sering mengajak sharing pada sahabat perempuan dan laki-laki, yang dari perempuan curhatnya takut berpendidikan tinggi karena khawatir tidak didekati oleh laki-laki, sehingga berimplikasi pada “telat nikah”, dan yang dari laki-laki sendiri takut mendekati wanita yang “lebih” daripada dirinya, takut diatur istri, takut tidak dapat menjadi kawan diskusi yang baik dan sebagainya. Sehingga memang telah termindset hal seperti itu dibenak “sebagian” laki-laki. Kenapa penulis mengatakan sebagian? Karena penulis yakin, sebagian laki-laki menginginkan anak-anaknya terlahir dari rahim perempuan yang cerdas, seorang istri yang nyambung ketika diajak diskusi dalam hal apapun itu, seorang istri yang selalu memotivasi sekaligus menjadi partner yang baik bagi dirinya, seorang istri yang mampu memahami dan memaknai setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Akhirnya, penulis sharingkan hal ini pada dosen penulis yakni bu dosen Muna dan Prof. Sutrisno.

    Ngendikane bu dosen Muna: “didalam hidup berumah tangga yang terpenting bukan masalah yang mempimpin dan yang dipimpin, tetapi sejatinya ialah siapa yang mau mengerti dan memahami dalam konteks berjalan bersama demi kehidupan yang damai. Dan dalam realita disebut laki-laki adalah pemimpin agar ada rasa hormat antara si istri pada suaminya dan tentu wanita yang berpendidikan, jika ia telah menginternalisasikan hakikat pendidikan maka ia akan menjadi makmum yang baik didalam rumah tangganya”.

    Ngendikane Prof. Sutrisno, beliau mengatakan hal yang sama seperti yang diutarakan bu dosen Muna, tambahannya begini, “bagi sorang wanita jangan takut untuk berpendidikan tinggi, karena kelak wanita adalah madrasatul ulaa bagi anak-anaknya dan jangan pula khawatir tidak didekati laki-laki apalagi telat menikah, hanya laki-laki yang berpikiran dangkal bahwa pendidikan menjadi jurang pembatas untuk saling kenal mengenal. Banyak laki-laki yang doktor dan profesor yang masih single,” begitu katanya.

    Terlepas dari itu semua, penulis masih ingat ada seorang laki-laki yang bertanya padaku seperti ini “apakah wanita menginginkan seorang laki-laki yang lebih dalam hal segalanya?,” ucapnya.
    Penulis hanya menjawab berdasar apa yang telah penulis alami dan rasakan. Kalau dalam hal “segalanya” menurutku itu langka. Bukankah no body is perfect? Kalau dalam pernikahan, selain menyatukan 2 keluarga dan 2 insan, sejatinya itupun juga untuk saling melengkapi. Lalu kata “lebih” disitu dalam hal apa? Ya memang ada wanita yang bertipe high class, tetapi high class yang bagaimana? ada wanita yang ber-tipe “putra kiyahi/gus” (segi nasab), tetapi apa itu menjamin segalanya ? Menurutku, Nasab itu bisa dibuat dengan cara memperbaiki dan mengindahkan cetakannya (diri kita sendiri), ketika seorang laki-laki baik bertemu dengan seorang wanita yang baik-baik, insya Allah outputnya pun juga akan baik. Nah mayoritas seorang wanita menginginkan seorang laki-laki yang sholeh dan Agamanya baik serta ia berhasil (sukses) karena “tirakatnya sendiri” dalam arti karena perjuangan, kerja keras dan prestasinya bukan karena latarbelakang keluarganya dalam artian dia pasif, tidak mau hardwork hanya mengandalkan nasab semata.

    رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء

    Terakhir, ketika aku mengeluh, merasa lelah, penat dan malas, Bapak selalu menasihatiku dengan “Hanya dirimu sendirilah yang mampu merubah dirimu sendiri”.

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Diatas merupakan foto penulis sama anak Jeddah, Umar namanya. Umur 10 tahun, lokasi di Brilliant English Course, Pare Kediri.

    Sejatinya hidup adalah perjalanan mencari ilmu yang tiada habisnya, man jadda wajada wa man saaro ‘ala darbi washola!


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Musibah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com – Musibah datang tiada henti, tidak mengenal waktu, tempat, dan korban. Setelah musibah menimpa NTB dan Palu, kini Banten dan Lampung diserang Tsunami yang tidak terprediksi. Memang Allah swt telah ingatkan penghuni bumi, bahwa pada saatnya Dia menguji hamba-Nya dengan rasa takut, rasa lapar, dan mengurangi harta, jiwa dan buah-buahan yang tersebar di seluruh bumi. Berbahagialah orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah ini. Kehadiran musibah yang sifatnya besar dan timbulkan kerusakan berat tidak bisa diabaikan, karena jika tidak dituntaskan, akan mendatangkan lebih banyak lagi kerugian. Sebaliknya musibah yang kecil dan tidak segera diatasi bisa juga timbulkan kerugian yang tak pernah bisa diperkirakan. Apapun bentuknya musibah yang menimpa saudara kita, kita seharusnya empati dan pemerintah segera turun tangan walau sibuk dalam hajatan politik.

    Mengapa musibah terjadi dan merugikan banyak pihak. Setidak-tidaknya ada empat penyebab. Pertama, musibah sebagai akibat dari manusia yang bikin kerusakan di atas bumi, sehingga menimbulkan kerusakan ekologis yang berakibat terhadap gangguan keseimbangan alam, yang sebagai konsekuensi logisnya muncul musibah banjir, gempa bumi, gunung meletus, kebakaran, tsunami dan sebagainya. Kedua, adanya kebodohan dan miskinnya ilmu, sehingga memilih pimpinan dengan pertimbangan yang sangat pragmatis. Pemimpin yang dipilih bukan didasarkan pada kompetensi dan keahlian, tetapi didasarkan pada alasan pragmatis, yang bisa memberikan keuntungan sesaat. Pemimpin ini kadang-kadang mengendalikan amanah kepemimpinannya tanpa menggunakan ilmu. Akibatnya timbul kerugian besar yang pada gilirannya mendatangkan musibah fisik dan sosial.

    Ketiga, musibah disebabkan kondisi objektif alam Indonesia yang memiliki struktur geografis yang potensial timbulkan bencana. Dengan adanya gunung api baik yang aktif maupun ‘mati’. Prakkteknya ada sejumlah gunung api ‘mati’ juga timbulkan erupsi yamg tidak pernah diketahui. Akhirnya menjadi bagian dari gunung merapi yang sama-sama potensial bahanya. Belum lagi munculnya semburan air dan gas yang melebih batas sehingga timbulkan bahaya bagi kehidupan. Juga belakangan di Palu, muncul bencana likuifaksi yang tidak pernah terjadi, sebelumnya. Keempat, musibah merupakan ujian dari Allah swt terhadap perbuatan maksiat yang sangat membahayakan ummat. Atas sifat rahman dan rahimnya untuk penyelamatan ummat di masa-masa mendatang Allah swt turunkan musibah. Insya Allah musibah ini didasarkan atas keinginan untuk perbaikan taqwa (mushibah ‘alat taqwa).

    Kehadiran musibah dapat diambil hikmahnya : Pertama, untuk muhasabah atau intmuhas dapat dilalukan oleh yang kena musibah atau yang meyaksikan musibah. Katansayyidina Ali, Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu, fainnahuu ahwaana lihisaabikum. “Hisablah dirimu sebelum dihisab, karena sesungguhnya hal memperingan hisabmu. Jika setelah melalui introspeksi dan menemukan bukti bahwa musibah itu akibat dari kesalahan, maka diharapkan ke depan terjadi perubahan.

    Kedua, musibah dapat memunculkan rasa syukur dan optimisme. Rasulullsh bersabda, Laa yushibul mu’mina syaukatun famaa fauqahaa illaa rafa’ahulllaahu bihaa darajatan wakhaththa ‘anhu bihaa khathii’atan. Artinya, Tidaklah seorang mukmin terkena duri atau yang lebih menyakitkan darinya kecuali Allah swt akan mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan. (HR. Tirmidzi). Bersyukur dalam konteks ini adalah ridlo akan musibah, karena Allah bermaksud menghapus dosa-dosa para kurban dan meningkatkan kualitas pribadinya bagi yang mau melerbsiki diri bamg yang menyaksikan.

    Ketiga, musibah mendatangkan ladang ibadah, bagi kurban dapat meningkatkan rasa sabar, ikhtiar, tawakkal, dan taqarrub kepada Allah bagi yang selain kurban, musibah mendorong orang lain tingkatkan empati dan kepedulian sosial. Rasulullah saw bersabda Wallaahu fil ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhiihi. Artinya, Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudarang (HR Muslim). Menolong orang lInyang terkena musibah dengan cara sumbang pikiran, dana, doa dan lainnya yang bisa ringankan beban para kurban.

    Semoga kita bisa memahami hakekat musibah, sebab-sebabnya, dan hikmah di balik musibah, sehingga kita bisa meningkat empatinya dan berkontribusi untuk proses recovery dan prevensi.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta Sukses Tampilkan Drama Lopi Penge

    Suasana saat acara pentas Lopi Penge, 22-12-2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta menggelar Drama Lopi Penge, pada hari Sabtu, (22/12/18) pukul 19:00 WIB - 10:30 WIB dengan mengangkat tema “Melestarikan Budaya Bima Ara Dana Loja”. Bentuk Drama Lopi Penge yang dipentaskan antara lain terdapat kisah Asmara Pangeran dari kerajaan Gowa dan seorang Putri dari kerajaan Bima, Tari Lopi Penge, Tari Wura Bongi Monca, Tari Kreasi dan Mpa’a Gantao (Silat Bima).

    Persiapan yang matang dan waktu yang cukup untuk latihan membuat kegiatan Drama Lopi Penge tersebut berjalan dengan lancar. Selain itu, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari para senior-senior Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta dan seluruh organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta maupun organisasi Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta. “Acara akhir tahun ini berlangsung sukses kerena mendapat dukungan langsung dari para senior-senior Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta dan seluruh Organisasi dibawah Naungan KEPMA Bima-Yogyakarta maupun organisasi FS Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta. Syukur Alhamdulillah acaranya terlaksana dan sukses walaupun ada beberapa hal yang harus kita koreksi dalam struktur kepanitian maupun terkait kegiatan tersebut,” ujar Muhamad Barkah selaku Ketua Panitia Penyelenggara acara.

    Lebih lanjut Muhammad Barqah menyampaikan pesannya, “Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta kedepannya semoga lebih bagus dari hari ini, tetap solid dan semoga  Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta tidak bermain dalam wilayah IKPMDI-Y saja tetapi semoga bisa membangun sebuah relasi atau komunikasi yang baik bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemda DIY maupun lembaga-lembaga lainnya,” bebernya.

    Selain itu, Ruslin (nama sapaan Arlan) selaku PJS Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta mengatakan bahwa acara ini semoga dapat menjadi motivasi seluruh elemen, baik pengurus Rimpu maupun semua kalangan agar terus gencar dan peduli terhadap budaya dan adat istiadat. “Adanya kegiatan seperti ini mampu memberi inspirasi untuk menggali potensi yang ada di daerah khususnya Bima. Acara ini sangat bagus dan semoga menjadi motivasi bagi pengurus Rimpu kedepannya. Acara Drama Lopi Penge ini, selain menceritakan kisah asmara Pangeran dari Kerajaan Gowa dan Putri dari Kerajaan Bima, Tari Lopi Penge, Tari Wura Bongi Monca, Tari Kreasi dan Mpa’a Gantao (Silat Bima) namun dalam acara ini juga ada penampilan akustik dari tamu undangan dan puisi dari kawan-kawan AMERTA,” ucap Arlan yang juga sekaligus Sutradara dalam acara Drama Lopi Penge ini.

    Dalam momentum yang sama, Wakil Sekretaris Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. dalam sambutannya mengingatkan pada seluruh hadirin agar melek dan peduli terhadap adat dan budaya lokal biar tidak tergerus oleh zaman. “Dewasa ini semakin sedikit masyarakat Indonesia yang perduli terhadap adat dan tradisi asli nasional, padahal dilain sisi masyarakat internasional gencar mempelajari dan menelusuri adat, tradisi dan kebudayaan di Indonesia. Jangan sampai kita sebagai orang Indonesia atau masyarakat Mbojo tidak memahami adat istiadat kita sendiri. Momentum seperti ini merupakan kegiatan bagus yang harus kita terus dorong bersama, lebih-lebih pemerintah seharusnya turut andil mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini, agar budaya dan adat istiadat Mbojo terus dilestariakan keberadaannya,” cetus Jamil. (Siti Hawa)

    KH. Said Aqil Siroj: LAKPESDAM Meneruskan Misi Kenabian yakni Membangun Umat Yang Berkualitas

    Suasana saat pembukaan acara Rakornas LAKPESDAM PBNU.
    Bekasi, PEWARTAnews.com -- Dalam sambutan pembukaan rapat koordinasi nasional Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM PBNU), KH. Said Aqil Siroj pada Hari Sabtu, 22 Desember 2018 berpesan untuk pengurus Lakpesdam se-Indonesia dan Dunia di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri (Cevest) Kota Bekasi, Jawa Barat.

    Konteks penyebutan di dalam Al-Qur’an tidak kita temukan ayat mengatakan umat Islam. Tetapi yang ada hanya kata umatan washaton (umat yang berkualitas).

    Umat berkualitas ini telah digagas oleh Nabi Muhammad dengan membekali para sahabat beragam keilmuan. Hingga peradaban keislaman dapat terbentuk.

    Tugas kenabian mencetak generasi berkualitas ini di Nahdlatul Ulama diemban oleh Lakpesdam. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat yang dari sisi keintelektualan rendah (jahiliyah) dan dari segi aqidah yang sesat (dolalah) bisa diluruskan. Ini merupakan tugas Lakpesdam Nahdlatul Ulama dalam membina warga NU untuk unggul di segala lini, sehingga mampu menjawab tantangan kemajuan zaman.

    Orang yang pertama kali mendapatkan gelar sufi adalah Jabir Ibnu Hayyan. Seorang intelektual handal, ahli al-jabar tetapi kealimannya luar biasa. Imam Junaid al-Baghdadi mendefinisikan sufi dan intelektual adalah Ibnu Waktin dengan arti dinamis faham akan waktu, situasi dan kondisi. Hal ini menunjukkan bahwa warga NU yang berkualitas adalah mereka yang berpegang teguh pada ilmu dan ubudiyah.

    "Menyongsong satu abad NU. Semoga Lakpesdam NU se-Indonesia dapat menumbuhkan sumber daya manusia NU yang berkualitas. Ulama'-ulama' muda inilah yang kelak membangun peradaban Indonesia di kancah Global," tutur Ketua Umum PBNU Kyai Said Aqil Siroj dalam sambutanya.

    Penulis: Abdur Rouf Hanif
    Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus

    Konsep Keaslian Al-Qur’an (Telaah Pemikiran Theodore Noldeke dan Abraham Geiger)

    Ilustrasi Al-Qur'an. Foto: pexels.com
    PEWARTAnews.com – Pada abad ke-20 studi tentang Islam telah muncul sebagai bidang ilmu pengetahuan barat yang signifikan. Pada abad ini juga terjadi perpecahan akibat kesenjangan antara dunia barat dan dunia muslim. Dari sinilah terjadi peningkatan kolaborasi antara lintas iman dan lintas negara asal untuk mengkombinasikan pendekatan Islam tradisional dan studi Islam di barat. Selama abad ke-20 perkembangan studi Islam di barat telah menghasilkan berbagai macam pendekatan. Banyak dari sarjana barat yang mengeksplorasi mengenai aspek-aspek umum Al-Qur’an, dan juga tidak sedikit dari sarjana barat yang mempertanyakan pemahaman tradisional orang Islam terhadap asal usul Al-Qur’an. Sarjana barat ketika meneliti Al-Qur’an sering menggunakan metode yang sama ketika meneliti kitab-kitab suci yang lain (Abdullah Saeed, 2018: 114).

    Sejarah turunnya Al-Qur’an tidak bisa lepas dari lingkungan asal turunnya Al-Qur’an itu sendiri. Maka, tidak bias dipungkiri bahwa sebelum Al-Qur’an turun telah ada sebuah budaya dan kitab-kitab suci yang mengelilingi lingkungan tersebut. Dalam tulisa memfokuskan terhadap keaslian dari kitab suci dengan menggunakan metode historis kritis dan juga kajian filologis. Tokoh yang menggunakan teori tersebut adalah Abraham Geiger dan Theodore Noldeke. Dari tulisan ini akan menguraikan bagaimana pemikran Abraham Geiger dan Theodor Noldeke mengenai keaslian Al Quran.

    Abraham Geiger adalah seorang intelektual, Rabbi, yang beragama yahudi, ia terkenal sebagai orientalis yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang dipengaruhi oleh agama Yahudi (Lenni, 2014: 44). Leni Lestari mengutip karya Abraham Geiger yang  menyatakan bahwa ada  beberapa kosa kata Al-Qur’an yang berasal dari tradisi Yahudi diantaranya adalah sakinah, taghut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘and, taurat, Jahannam, rabbani, sabt, dan ahbar. Menurut Geiger kosa kata yang berakhiran “ut” berasal dari Bahasa Ibrani yang merupakan bahasa ajaran Yahudi (Lenni, 2014: 46).

    Secara teologi, Geiger berpendapat bahwa ada 3 ajaran dan doktrin keimanan yang di pinjam Nabi Muhammad dari ajaran Yahudi. Pertama tentang penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari. Kedua, mengenai tujuh tingkatan surga. Ketiga, tentang balasan surga dan neraka (Lenni,  2014: 48). Geiger berpendapat seperti itu karena antara ajaran Yahudi dan ajaran Islam sama, akan tetapi dalam sejarahnya agama Yahudi yang muncul terlebih dahulu daripada ajaran agama Islam. Maka dari itu Geiger berpendapat bahwa Nabi Muhammad meminjam ajaran Yahudi. Salah satu alasan yang diuraikan oleh Abraham Geiger mengenai Nabi Muhammad yang meminjam ajaran Yahudi adalah, karena Nabi Muhammad ingin melegitimasi terhadap Islam.

    Theodor Noldeke adalah salah satu orientalis yang mengkritik  mengenai keaslian Al-Qur’an. Ia juga menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang tersusun dari huruf, dan kata-kata yang tidak teratur sehingga ia beranggapan bahwa tidak mungkin kitab seperti itu adalah kitab dari tuhan (Abdullah Saeed, 2018: 154). Tidak hanya itu, Theodor Noldeke juga beranggapan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad sama dengan ajaran Yahudi.

    Berangkat dari hal ini Noldeke meneliti Al-Qur’an menggunakan pendekatan Filologi. Ia membandingkan teks-teks suci dari kitab, Yahudi, Kristen, Islam. Dari sini ia menolak pendapat Abraham Geiger yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang pandai merangkum, menyaring, merubah, dan melegitimasi ajaran lain sebelum diberitahu kepada yang lain bahwa itu adalah wahyu dari Tuhan. Menurut Noldeke bukan maksud Muhammad untuk merubah konsep-konsep kitab terdahulu. Pada masa awal keislaman lingkungan Nabi Muhammad memang tidak lepas dari orang Yahudi dan Nasrani. Maka dari itu banyak tuduhan yang menyatakan hal tersebut. Noldeke tidak hanya berpikiran negatif terhadap Al-Qur’an, akan tetapi ia juga menjadi salah satu sarjana yang mengawali menata Al-Qur’an agar sesuai dengan urutan kronologis (Abdullah Saeed, 2018: 156).

    Abraham Geiger dan Theodor Noldeke mereka memiliki pendapat, metode dan hasil penelitian yang berbeda dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Baik Geiger yang menggunakan metode membandingan antara ajaran yang termuat dalam kitab suci Yahudi dengan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an, begitu juga Noldeke yang menggunakan keahliannya dalam ilmu filologi yang memandang bahwa Al-Qur’an adalah bentuk teks filologis. Adakalanya pendapat mereka sama dan ada kalanya salah satu pendapat dari mereka tidak setuju dengan yang lain. Al-Qur’an memuat konsep-konsep yang menyimpan dari sumber asalnya. Geiger menduga hal tersebut tidak lain karena faktor politk dakwah Nabi, sedangkan Noldeke mempercayainya sebagai kegagalan proses transmisi.

    Hal ini terlihat saat keduanya menyatakan alasan kenapa al-Qur’an memuat konsep-konsep yang menyimpan dari sumber asalnya. Geiger menduga hal tersebut tidak lain karena faktor politik dakwah Nabi, sedangkan Noldeke mempercayainya sebagai kegagalan proses transmisi. Hal yang tidak dapat ditinggalkan dari warisan pemikiran Geiger dan Noldeke adalah sudut pandang dalam memahami tradisi Islam. Beberapa klasifikasi seperti kalenderisasi makki dan madani. Serta temuan lainnya menjadi poin positif sebagai nilai yang melandasi penelitian lebih lanjut tentang al-Qur’an, bahkan kemudian temuan dari Theodore Noldeke ini dipergunakan oleh kalangan akademisi muslim sendiri.

    Daftar Bacaan
    - Abdullah Saeed, Pengantar Studi al-Qur’an, Baitul Hikmah Press, Yogyakarta, 2018.
    - Lenni Lestari, “Abraham Geiger dan Kajian Al Quran telaah buku Judaism and Islam, Jurnal Suhuf, Volume 7, Nomor 1, 2014.


    Penulis: Nila Jundaya Izzati
    Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sanggar Rimpu KEPMA Bima-Yogyakarta Akan Gelar Drama Lopi Penge Nanti Malam, Yuk Ramaikan!

    Agenda Sanggar Rimpu.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakartana merupakan suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang (khususnya orang Bima-Dompu yang ada di Yogyakarta). Ragam kegiatannya merupakan kegiatan kesenian, seperti seni tari, seni peran, seni musik dan lain sebagainya.

    Ada kabar menarik nih, nanti malam Sanggar Seni Budaya Rimpu Bima-Yogyakarta (Sanggar Rimpu) akan mengadakan kegiatan Drama Lopi Penge dengan mengangkat tema “Melestarikan Budaya Bima Ara Dana Loja” di Gelanggang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada pukul 19:00 WIB-selesai.

    Menurut Ruslin acara Drama Lopi Penge akan menampilkan kisah cinta dua kerajaan yang syarat akan nilai sejarah dan budaya. "Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu akan mengadakan Acara Drama Lopi Penge ataupun tari dari daerah Bima, yang mana kegiatan ini merupakan salah satu agenda akhir tahun. Dalam Drama Lopi Penge ini meceritakan kisah cinta pangeran dari kerajaan Gowa (Makassar) dan putri dari kerajaan Bima. Selain kisah cinta dari sang pangeran dari kerajaan Gowa (Makassar)  dan sang putri dari kerajaan Bima dalam drama ini juga ada tarian tradisional Bima yaitu Tari Lopi Penge, Tarian Wura Bongi Monca (Tarian Selamat Datang) dan Mpa’a Gantao (Silat Bima)," beber Rulis yang biasa di sapa Arlan selaku Penanggung Jawab Sementara (PJS) RIMPU sekaligus Sutradara dalam Acara Drama Lopi Penge ini.

    Lebih lanjut, Arlan mengatakan, "Tarian Lopi Penge ini merukan tarian yang dipopulerkan sekitar tahun 80-an menceritakan hubungan antara kerajaan Bima dan Kerajaan Gowa. Pada saat itu kedua kerajaan ini memiliki hubungan yang erat. Kerajaan Bima dan Kerajaan Gowa pada saat itu saling mengunjungi satu sama lain. Lopi (Perahu) yang digunakan orang Bima berupa sampan yang di dayung secara manual.” ucap Arlan.
     
    Mari kita sama-sama dukung pelestarian kebudayaan dan kesenian daerah di seluruh nusantara, salah satu caranya dengan ikut meriahkan, datang menonton dan memberikan semangat, ayo guys nanti malam jangan lupa datang ramaikan yach.  (Siti Hawa)




    Tuduhan Abraham Geiger Terhadap Al-Quran

    Abraham Geiger. Foto: lbi.org.
    PEWARTAnews.com -- Banyak pendapat-pendapat Orientalis terhadap Al-Quran membuat para Muslim bertanya-tanya tentang keotentikan Al-Quran. Salah satu Orientalis yang berpendapat bahwa Al-Quran itu merupakan kitab suci yang isinya mengikuti atau mengadopsi ajaran agaman Yahudi yaitu Abraham Geiger. Menurut Abraham Geiger ajaran Yahudi yang diadopsi oleh Nabi Muhammad yaitu tentang kebahasaan, atau kosakata yang ada dalam Al-Quran yang diambil dari bahasa Ibrani. Tentang keagamaan, dan yang terakhir yaitu tentang kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran.

    Sedikit ulasan tentang Abraham Geiger
    Abraham Geiger lahir (1810-1874), dia merupakan seorang Orientalis yang beragama Yahudi. Abraham terlahir dari keluarga yang sangat taat. Abraham juga merupakan seorang intelektual dan seorang yang mendirikan komunitas Yahudi Liberal di Jerman (Khaerudin Yusuf, 2012: 149-170). Pada usianya yang ke 22 tahun  essay Abraham telah diterbitkan dengan judul “Was hat Mohammed aus dem judhentume Aufgenommen?”. Apa yang Muhammad pinjam dari Yahudi? Abraham menulis esaynya dengan menggunakan bahasa Jerman.

    Pemikiran Abraham Geiger terhadap Al-Quran meliputi tiga aspek: Pertama, Ada 14 kosakata dalam Al-Qur’an yang diambil dari bahasa Ibrani, diantaranya yaitu:  sakinah, tagut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘adn, taurat, jahannam, rabbani, sabt dan ahbar, menurut Abraham Geiger.

    Tabut, dalam akhir kata tabut menurut Abraham kata ini merupakan salah satu kata yang diadopsi oleh Al-Quran dari bahasa Ibrani yang diajarkan oleh ajaran Yahudi. Jannatu’adn, ketika dalam bahasa Arab kata Jannatu’adn diartikan sebagai surga, namun menurut Abraham kata ‘adn dalam ajaran Yahudi diartikan sebagai nama tempat yang telah ditempati oleh Adam dan Hawa. Jahannam, kata Jahannam pun menurut Abraham merupakan itu berasal dari Yahudi, yang diartikan sebagai penderitaan. Rabbani, menurut Abraham kata Rabbani dalam Al-Quran itu berasal dari Yahudi,, karena arti kata Rabb itu sama antara Al-Quran dan dengan bahasa Yahudi yaitu “Tuhan”. Sabt, kata Sabt ini memiliki arti yang sama antara Islam, Yahudi, dan Kristen, yaitu hari Sabtu.

    Kedua, Konsep Agama Islam. Menurut Abraham Geiger ada beberapa konsep keimanan yang diikuti oleh Nabi Muhammad dari ajaran Agama sebelumnya. Bagian (1), yaitu tentang awal mulanya penciptaan bumi, langit dan segala isinya. Menurut Abraham apa yang diajarkan Nabi tentang penciptaan langit, bumi dan segala isinya itu merupakan ajaran yang diambil dari ajaran Kristen. Bagian (1), yaitu tentang tingkatan-tingkatan surga. Menurut Abraham apa yang diajarkan Nabi Muhammad itu meniru dari Chagiga 9;2. Bagian (3), yaitu tentang kepercayaan tentang hari akhir, dalam Agma Yahudi dan Islam memiliki arti yang sama tentang hari akhir, yaitu sebagai hari pembalasan.

    Selain konsep ajaran Agama, menurut Abraham aturan dan hukum yang diajarkan oleh Nabi pun mengikuti ajaran yang ada dalam umat Yahudi, diantaranya yaitu tentang shalat, sebagaimana umat Yahudi juga mengerjakan shalat, salah satu ibadah shalat yang dilaksanakan oleh umat Islam dan umat Yahudi adalah shalat khauf, tidak diperbolehkannya shalat dalam keadaan mabuk, diperbolehkannya bertayamum apabila tidak ada air.

    Pandangan hidup. Menurut Abraham ada persamaan antara Yahudi dan Islam dalam menjalankan kehidupan, diantaranya yaitu: menginginkan kematian dalam keadaan khusnul khatimah. Dalam hal perjanjian, dalam ajaran Islam maupun Yahudi dianjurkan untuk mengucapkan Insya Allah dalam berjanji. Dalam agama Yahudi dianjurkan untuk membalas kebaikan orang, begitupun dalam Islam yang mengajarkan tentang berbuat/ membalas kebaikan orang lain. Yang terakhir yaitu tentang amal jariyah, ketika dalam Ajaran Islam amal jariyah merupakan suatu amalan yang tidak akan terputus pahalanya meskipun sudah meninggal. Begitupun yang diajarkan agama Yahudi.

    Ketiga, Yaitu tentang kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran banyak ayat yang menceritakan kisah-kisah, baik itu cerita Nabi, maupun cerita-cerita yang lainnya. Begitupun dalam ajaran agama Yahudi, banyak yang menceritakan kisah-kisah Nabi sehingga Abraham Geiger menganggap bahwa cerita dalam Al-Quran itu meniru/mengadopsi dari ajaran Agama Yahudi (Lenni Lestari, 2014: 41-60).

    Uraian di atas merupakan tuduhan-tuduhan Abraham Geiger terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Bahwa Al-Qur’an itu telah terpengaruhi oleh ajaran Yahudi, dan menurut pandangan Abraham bahwasanya Al-Qur’an itu merupakan hasil dari karya Nabi Muhammad yang sebagian mengambil dari agama-agama yang terdahulu, sehingga pandangan Abraham terhadap Al-Quran pun dipengaruhi oleh rasa ketidaksukaannya terhadap Al-Quran dan Nabi Muhammad.

    Daftar Bacaan:
    Khaerudin Yusuf, "Orientalis dan Duplikasi Bahasa Al-Quran",  Jurnal Hunafa, Volume 9, Nomor 1, Juni 2012.
    Lenni Lestari, "Abraham Geiger dan Kajian Al-Quran", Suhuf, Volume 7, Nomor 1, Juni 2014.


    Penulis: Siti Nurhamdalah
    Mahasiswi Ilmu Al-Qu'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Hasan Libas Petahana dalam Pilkades Diha

    Calon Kepala Desa Diha Nomor Urut 1 terpilih Hasan didampingin istrinya Siti Kalisom.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Pemilihan Kepala Desa secara serentak pada 20 Desember 2018 telah dilaksanakan di 191 desa yang berada di 18 kecamatan Kabupaten Bima. Salahsatu dari sekian desa yang telah mengikuti Pilkades adalah Desa Diha, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima.

    Ada dua kontestan dalam Pilkades Diha ini, diantaranya Nomor Urut 1 Hasan, dan Nomor Urut 2 Abdul Khalik (petahana).

    Kontestasi Pemildes Diha ini petahana berhasil dilibas penantang dengan perolehan suara, Nomor Urut 1 Hasan (penantang) dengan perolehan 349 suara, sedangankan Petahana (Nomor Urut 2) Abdul Khalik memperoleh 216 suara.

    Usai fiksasi perhitungan suara, melalui PEWARTAnews.com, Hasan selaku calon kepala Desa Diha yang memperoleh suara terbanyak mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kepercaan masyarakat telah memilihnya. "Ucapan terimakasih tak terhingga saya ucapkan kepada seluruh masyarakat Desa Diha yang telah memilih dan mempercayakan saya sebagai Kepala Desa Diha," ucap Hasan.

    Lebih lanjut, Hasan meminta doa restu kepada masyarakat agar saat memimpin Desa Diha dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. "Saya memohon do'a dari seluruh masyarakat Diha, semoga amanah ini mampu saya emban dengan baik. Proses Pemilihan telah usai, mari kita bahu membahu bangun bersama desa kita tercinta. Jangan lagi ada sekat pembeda di antara kita seluruh masyarakat Diha. Suksesnya Pilkades hari ini adalah bukti kekompakan dan kebesaran hati kita dalam kesadaran membangun Desa Diha yang lebih baik lagi kedepannya," beber Hasan.

    Hal yang sama diungkapkan Nukran dalam akun facebooknya Ncuhi Diha, bahwa dalam dunia demokrasi perbedaan adalah suatu kewajaran dan tidak menjadi penghalang untuk membangun bersama desa tercinta. "Pemimpin baru telah kita tentukan Secara demokratis untuk memimpin Desa Diha kedepannya, perbedaan pandangan dan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam dunia demokratisasi, tetapi kita tetap utuh dalam ikatan yang kuat bawah kita adalah masyakat Desa Diha," sebutnya.

    Inti dari pilihan politik, kata Ncuhi Diha, bukanlah suatu perbedaan, tetapi suatu kebersamaan, bahwa kita memiliki tujuan yang sama dan memiliki tujuan yang besar yaitu ingin membangun dana ro rasa Desa Diha lebih maju kedepannya untuk anak cucu dan generasi selanjutnya, "Oleh karena itu yang dapat merubah Desa Diha lebih maju adalah masyakat Desa Diha itu sendiri bukalah orang lain. Sesuai dengan misi ayahanda Hasan Sarilah yaitu Bersama Membangun Desa Diha," tulisnya.

    Selain itu, Alfa Reza yang juga merupakan salahsatu tim pemenangan Hasan turut serta juga mengucapkan selamat. "Atas nama pribadi dan tim saya ucapkan selamat atas kemenangan kakanda Hasan Diha dalam kompetisi pilkades Desa Diha dan semoga menjadi pemimpin yang amanah dan mampu membawa Desa Diha menjadi desa percontohan bagi desa-desa lain. Mari Bersama Membangun Desa," cetus Alfa Reza dalam status facebooknya.

    Adalagi ucapan masyarakat yang media ini kutip diantara raturan ucapan-ucapan lainnya. "Selamat buat kepala Desa Diha yang terpilih semoga amanah dan sunguh sunguh dalam mengemban tugas yang dipercayakan oleh masyarakat Desa Diha teruslah berbuat yang terbaik dan ciptakan selalu prestasi yang gemilang buat masyarakat Desa Diha agar menjadi desa yang di segani dan bermartabat,"  komen akun Sepandu Udayana Udayana. (PEWARTAnews)

    IKASUKA Ilmu Hukum Gelar Diskusi Tindak Pidana Narkotika Pada Anak

    Suasana usai Diskusi IKASUKA Ilmhu Hukum berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga Ilmu Hukum (IKASUKA Ilmu Hukum) menyelenggarakan diskusi yang bertajuk “Tindak Pidana Narkotika Pada Anak”. Acara ini diselenggara di Student Center Lantai II UIN Sunan Kalijaga pada hari Minggu, 16 Desember 2018. Acara yang dikemas dengan santai tersebut dihadiri lebih dari sepuluh peserta dari mahasiswa dan juga Alumni Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga. Acara ini juga didukung oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum (HMPS-IH) UIN Sunan Kalijaga.

    Acara tersebut menghadirkan seorang narasumber Dendy Zulkarnain Rangkayobasa, S.H (Alumni Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga). Hadir sebagai moderator yakni Koordinator Divisi Kerja Sama dan Hubungan Antar Lembaga IKASUKA Ilmu Hukum Moh. Khalilullah A. R., S.H. yang juga kini menjadi salahsatu mahasiswa Pascasarjana di salahsatu kampus swasta di Yogyakarta.

    Dewasa ini, tidak bisa disangkal lagi bahwa Narkotika merupakan obat-obatan yang dilarang oleh pemerintah Indonesia, kecuali digunakan sebagai bahan penelitian dan mendapatkan rekomendasi dari seorang dokter. Selain itu, narkotika dapat mengakibatkan candu bagi penggunanya, yang itu dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran dan bahkan lebih mirisnya adalah bisa mengakibatkan meninggal dunia.

    Menurut Dendy Zulkarnain Rangkayobasa, saat ini banyak terjadi penyalahgunaan narkotika, bukan hanya terjadi di kalangan dewasa saja, tetapi juga dikalangan anak-anak dan remaja. Dalam penegakan hukum tindak pidana narkotika pada anak, kata Dendy, saat ini belum ada Undang-Undang yang mengaturnya secara spesifik dalam penegakannya.

    Semua pengguna, ucap Dendy, baik dari kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa dalam penegakan tidak ada yang dibedakan. “Yang perlu diketahui bahwa penyalahgunaan obat terlarang ini bukan hanya terjadi pada kalangan mahasiswa saja, banyak juga terjadi pada anak-anak,” ujarnya.

    Menurut Dendy, penyalahgunaan narkoba yang terjadi pada anak-anak beragam faktor yang menjadi penyebabnya. “Itu disebabkan oleh banyak faktor. Tapi, yang paling berpengaruh adalah budaya atau pergaulan dari seorang anak sendiri. Dan hingga akhirnya, ia sendiri yang membawa pada jeratan hukum,” tegas pemuda yang juga kini kerja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Wonosari ini.

    Di kalangan anak-anak, beber Dendy, yang sering beredar adalah obat dumolid, biasanya digunakan sebagai obat penenang. Pada tahun 2008 dan tahun-tahun sebelumnya banyak beredar di toko-toko dan apotek. Sejak tahun 2009 ditetapkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, dumolid ada dalam penggolongan Narkotika. “Sejak tahun itu dumolid tidak lagi beredar sembarangan, siapapun yang ingin menggunakannya harus menggunakan resep dari dokter. Itulah salah satu sumbangsih negara dalam mengatasi maraknya pengguna narkoba di kalangan remaja dan anak,” terangnya.

    Kendatipun demikian, Dendy menyadari bahwa UU Nomor 35 tahun 2009 tersebut belumlah sempurna untuk mengentaskan masalah penyalahgunaan obat terlarang tersebut. “Untuk itu, saya mengajak kepada kita semua untuk senantiasa menyuarakan bahayanya mengkonsumsi obat terlarang tersebut, terlebih lagi menyuarakan akan sanksinya. Dengan niatan supaya masyarakat Indonesia pada umumnya jera dan tidak melakukan hal demikian,” tuturnya.

    Dalam momentum yang sama,  Ketua IKASUKA Ilmu Hukum M. Jamil, S.H. mengatakan bahwasannya kita harus bahu membahu terus mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak. “Disadari atau tidak penyalahgunaan narkoba kini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat-masyarakat perkotaan, pelosok-pelosok negeri juga kini mulai tidak tabu lagi dalam penyalahgunaan narkoba,” cetus Jamil.

    Bahkan, kata Jamil, tidak jarang pemakaian narkoba dijadikan sebagai ajang pertanda kelelakian. “Mau tidak mau, anak-anak atau pemuda yang tidak kuat iman untuk menolak juga terbawa arus dalam penyalahgunaan tersebut,” tutupnya.

    Acara tersebut, selain dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga, hadir juga mantan Ketua BEM Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Alfan Alfian, S.H., M.H., Ketua HMPS-IH UIN Sunan Kalijaga Saiful Bari, dan juga Pengamat Hukum Lingkungan pada Pusat Studi Pemuda Nusantara (PUSPARA) Abidin.  [Wishnu]


    Karang Taruna Kota Yogyakarta Perkuat Manajemen Organisasi

    Suasana saat acara MO yang di gelar Karang Taruna Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Karang Taruna Kota Yogyakarta mengadakan Manajemen Organisasi (MO) se-Kota Yogyakarta. Acara yang diadakan di Wisma Kinasih, Kaliurang selama tiga hari, dari Jumat (7/12) hingga Minggu (9/12/2018) ini diikuti 45 orang.

    ”Acara ini terlaksana atas kerja sama Karang Taruna Kota Jogja bersama Dinas Sosial Kota Jogja dan Kepala Istana Kepresidenan Jogjakarta,” ujar Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi.

    Dia pun merasa berterima kasih kepada Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Saipullah atas terlaksananya kegiatan ini. Dengan adanya MO ini, anggota Karang Taruna menjadi lebih mengerti proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), dan penggerakan  (actuating).

    ”Tiga hal ini dimaksimalkan dengan sumber daya yang ada di Karang Taruna dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuannya agar dapat memberi solusi dan peduli terhadap semua permasalahan sosial masyarakat yang terjadi di kelurahan masing-masing,” jelasnya.

    Saipullah pun mengajak pada semua pengurus Karang Taruna agar lebih semangat dalam berkegiatan dan siap mendukung kegiatan Karang Taruna melalui Jogja Berbakti. Jogja Berbakti ini dinahkodai oleh Yudi Aulia. Ke depan Karang Taruna dan Jogja Berbakti akan bekerja sama di bidang Wisata, Sosial, Seni dan Budaya, serta Keagamaan.  ”Mengajak para pemuda dan masyakat Jogjakarta untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan yang ada di Jogjakarta,” ujar Saipullah.

    Ketua Panitia Acara Nuroryza Argo mengatakan, ke depan Karang Taruna Kota Yogyakarta akan melakukan banyak kegiatan yang positif dan berkarakter dalam keikutsertaannya untuk memajukan kota Yogyakarta yang ngangeni dan istimewa ini.*

    Pasangan Legendaris itu Bernama Gus Cici

    Foto pernikahan Gus Cici saat selfie bareng Jolo (M. Saleh Ahalik, M.Pd.)
    PEWARTAnews.com -- Malam ini nikmat terasa, karena bisa makan makanan khas Bima bikinan salahsatu adek. Makanan tersebut disantap rame-rame 4 orang (saya, Abi Soepomo, Rizal, Lepas), gus Coy pasti rindu momen makan bareng seperti ini. Namun Gus Coy saat-saat ini bisa dengan mudah dia dapatkan bila berkeinginan makan makanan khas Bima, karena saat ini Gus Coy sedang berada di kampung halaman (Bima). Gus Coy, selamat menikmati dengan leluasa keindahan suasana Bima beserta masakan-masakan khasnya.

    Entah mengapa, usai makan makanan khas Bima ini tiba-tiba ingat kak Agustina dan Bang Cici (Agustinasari dan Rizalul Fiqry --khusus dalam tulisan ini Penulis singkat dengan Gus Cici), sepasang kekasih legendaris yang siang tadi (Ahad, 16 Desember 2018) di Paruga Na'e, Desa Talabiu, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah resmi menjadi sepasang suami istri (mereka melangsungkan resepsi pernikahan terkeren yang akan selalu dikenangnya sepanjang masa).

    Mereka berdua merupakan pasangan legendaris dimata teman-teman Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta, di mata rekan-rekan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, di mata Mahasiswa Mbojod di Yogyakarta, dan setidak-tidaknya mereka Pasangan Legendaris di mata saya pribadi.

    Penulis merasa tidak ecek-ecek menyebut mereka sebagai pasangan legendaris. Setidak-tidaknya, Penulis mengetahui percikan, sahdunya, dan harmonisnya kisah asmara mereka sejak 10 tahun silam (penulis di Jogja akhir 2007), sejak awal-awal Penulis menginjakkan kaki di tanah penuh sejuta kenangan, yakni kota Gudeg Yogyakarta, yang juga dikeramatkan sebagai kota Budaya dan Kota Pendidikan ini.

    Kisah mereka masa silam, masih teringat dalam memori ingatan Penulis, akan keindahan dan romantisnya kisah sepasang sejoli legendaris ini. Mereka selalu berdua menelusuri romantisnya sudut-sudut kota Jogja dengan penuh riang gembira. Sesekali terkadang penulis melihatnya ketika mereka lewat di jalan depan kampus UNY dengan motor yang terbilang juga legendaris, karena motor itu terlihat sudah termakan usia. Ketika mereka lewat, penulis hanya tersenyum bahagia, karena juga menyaksikan keharmonisan yang terpancar dari mimik wajah mereka. Sebenarnya bisa saja Penulis memanggil dengan meneriaki mereka, namun hati tak sanggup mengusik keasikan mereka. Toh setiap saat juga bisa bertemu mereka. Lalu motor yang dikendarai mereka pun melaju dengan santai ke arah timur, dan mereka pun hari itu berlalu tanpa jejak, karena terhalang tembok-tembok dan juga pepohonan di kejauhan sana (wilayah depan rektor UNY).

     Disuatu waktu yang lain juga, yakni di acara-acara KEPMA Bima-Yogyakarta yang saya ikuti berkali-kali juga di masa silam, selalu melihat mereka bedua berjalan beriringan secara harmonis sebagai sepasang kekasih. Begitu juga ketika menghadiri acara-acara pentas yang diselenggarakan Sanggar Seni dan Tradisi RIMPU masa lampau, sepasang sejoli legendaris itu juga selalu dapat Penulis saksikan.

    Cinta mereka telah tertancap kokoh dengan pondasi yang amat kuat. Sehingga ketika terhalang dan tergoyah dengan kondisi apa pun tetap utuh dalam keharmonisan cinta mereka. Cinta mereka bukan cinta abal-abal, yang mudah tergoyah tanpa sebab.

    Cinta mereka, kalau meminjam iklan semen tiga roda, "Kokoh Tak Tertandingi, sebagai contoh ketika behubungan Long Distance Relationship (LDR) / hubungan jarak jauh beberapa tahun terakhir (kak Agustina di Bima dan bang Cici melanjutkan studi di Jogja), mereka tetap mampu melewatinya, dan terbukti siang tadi, 16 Desember 2018, mereka telah sukses menjadi Cinderella dan sang Pangeran dalam panggung resepsi yang megah.

    Sebenarnya tidak mungkin dapat Penulis rajut semua kisah mereka, karena saking begitu banyaknya kisah keindahan cinta mereka. Namun pada intinya yang ingin diungkapkan saat ini adalah, "Selamat Buat Bang Cici dan kak Agustina. Limpahan kebahagiaan semoga selalu mewarnai bahtera indahnya keluarga kalian berdua. Aamiin."


    Yogyakarta, 16 Desember 2018
    Penyoret Kata: M. Jamil

    Makna Kebahagiaan

    Siti Mukaromah (depan)
    PEWARTAnews.com -- Bahagia itu mudah, sederhana dan tanpa syarat, namun seringkali “diri kita” lah yang memberikan ketentuan, kriteria dan batasan tertentu dalam menentukan kebahagiaan dalam hidup. Tanpa disadari, kita memberikan label-label tertentu untuk bahagia. Entah dalam persoalan ekonomi, fisik, pendidikan, jenjang akademik, karier maupun jodoh. Pernahkah mengalami kemrungsungan/kekhawatiran dalam hidup sehingga membuat hidup tak nyaman dan selalu merasa gelisah? Atau paling tidak, merasa tertekan dalam menjalani proses kehidupan? Satu diantara banyak alasannya ialah, kita terlalu mengejar sesuatu yang “abstrak” dan tidak menyadari apa yang telah diperoleh, dicapai dan dianugrahkan Allah kepada diri kita. Dalam hal ini, ada baiknya mempunyai paradigma “retrospective thinking”, sejenak untuk melihat ke belakang, ambil hikmah dan inspirasi disetiap peristiwa yang telah berlalu. Dengan begitu, akan memacu diri kita menjadi insan yang senantiasa bersyukur karena memaknai setiap alur yang Tuhan berikan. Bahagia itu penting dan sangat penting. Jika boleh saya katakan “bahagia” itu merupakan kebutuhan primer yang harus diutamakan dan dimiliki terlebih dahulu sebelum memiliki papan/rumah. Mengapa demikian? Karena bahagia berkaitan dengan hati. Jika hatinya riang gembira, tidur dimanapun oke. Gak percaya? Coba baca kisah hidupnya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Sewaktu muda, beliau rela tidur di emperan kota dekat Mmalioboro, dipinggir jalan bahkan dimanapun asal hatinya senang semua tempat jadi tempat tidur. Artinya apa, dengan adanya rasa bahagia dalam hati, maka semua hal bisa dilalui. Termasuk hal yang sangat primer berupa tempat tinggal. Hal demikian pula yang terjadi dalam hidup mahasiswa, santri maupun yang lain.

    Dalam konteks agama, bahagia juga berkaitan erat dengan hati. Sebagaimana dalam hadist Arbain Nawawi disebutkan bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging (hati). Apabila baik maka baik pula seluruh anggota badan-nya, begitu sebaliknya. Hal tersebut mengisyaratkan dengan jelas bahwa Hati sangat berperan penting dalam kehidupan manusia, jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan merusak semuanya, tidak hanya jiwa tapi raga, tidak hanya diri sendiri tapi kolektif, tidak hanya dunia tapi juga akhirat, tidak hanya dalam ranah emosional namun juga sampai pada ranah spiritual.

    Hati hanya bisa dikendalikan dengan perasaan yang penuh dengan “kebahagiaan”, dan kebahagiaan hanya bisa didapat apabila manusia benar-benar bersyukur dan menyadari setiap skenario yang digariskan-Nya. Tanpa disadari, seringkali kita merasa “besar dan paling benar”, mudah menjustifikasi seseorang dengan label-label tertentu, mudah memberikan solusi tanpa diminta dan mudah menyalahkan. Satu diantara banyak alasan karena kita melihat orang lain berdasar pada perspektif dan cara pandang kita dalam melihat diri kita sehingga menentukan bahagia atau tidaknya seseorang juga berdasar pada kriteria kita. Dalam realita emprik misalnya, kita mudah mengatakan “Ah si A itu ganteng masa sih sama cewek yang pas-pasan itu?, “Ahh dia itu kan pinter, mosok sih sama dia yang rada o'on itu”?, “Ah dia itu bla bla bla masa sih milih jadi bla bla bla”. Padahal kita tidak mengetahui, orang yang memilih seperti itu sedih, sakit, kecewa atau tidak. Maka, sekali lagi jangan menggunakan standart yang kita miliki untuk melihat dan menilai orang lain. Dalam kata lain, jika melihat orang lain maka berusahalah untuk menempatkan diri pada posisi orang tersebut, karena bahagia setiap orang itu berbeda, tidak bisa digeneralisasikan, semoga tidak terjebak pada fallacy of dramatic instance dan atau fallacy of romantic instance dengan mengatakan bahagia itu apabila aku dan kamu menjadi KITA. Hehehe.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Keikhlasan Berjuang

    Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com -- Di Era Global saat ini dan di masa-masa mendatang, tantangan para kiai dan atau ulama tidak hanya di lingkungan, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, di Indonesia, melainkan juga di seantero dunia. Tantangan bisa berupa fisik atau non fisik. Banyak tantangan yang bisa diatasi oleh para Kiai dan atau Ulama, tapi masih ada juga tantangan yang tidak bisa diatasi.

    Alhamdulillah kita masih melihat sejumlah kiai atau ulama yang istiqamah dalam menjaga marwah dan maqamnya. Namun tidak sedikit terjadi ketidakpatuhan para santri atau ummat terhadap kiai dan atau ulama, karena sejumlah kiai dan atau ulama kurang memberikan teladan yang kurang baik. Beliau-beliau tergoda oleh godaan politik atau lainnya yang bersifat sementara sebagai akibat dari proxy war, musuh tak terlihat yang terkait dengan faham pragmatisme, materialisme, sosialisme, liberalisme, dan sebagainya.

    Bisa dan atau tidak bisanya tantangan hidup global dewasa ini sangat tergantung pada banyak faktor, baik kompleksitas tantangannya sendiri maupun pada kualitas dan penampilan Kiai dan atau ulama yang bertumpu pada keikhlasan berjuang atau berjihad di jalan Allah swt.

    Kita harus tetap berpegang teguh pada bimbingan Allah swt, Ya Ayyuhalladziina Aamanuu in Tanshurullaah Yanshurukum Wayutsabbit Aqdamakum (QS, Muhammad:3).  Di samping itu kita tetap menjaga ketaatan kepada Allah swt, Rasul-Nya dan Ulil Amri sepanjang Ulil Amri tetap menjaga nilai-nilai keagamaan dan tidak bertentangan dengan Al Kitaab dan Assunnah.

    Semoga kuantitas dan kualitas Kiai dan atau Ulama terus meningkat, sehingga semakin banyak ummat yang bisa diselamatkan dari godaan dunia. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta.

    PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta Gelar Pembacaan Ratib Al Idrus dan Pengajian Rutin

    Suasana saat acara berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Kota Yogyakarta tergolong kategori pesantren mahasiswa. Rata-rata santrinya adalah para mahasiswa-mahasiswi yang notabene stuti di kampus Negeri dan swasta di Yogyakarta. Seperti biasa yang dilakukan setiap Selasa malam, pada tanggal 11 Desember 2018 mulai jam 18.30 WIB PP Ulul Albab Balirejo menyelenggarakan pengajian rutin.

    Acara rutin ini, diawali dengan pembacaan Ratib Al Idrus yang dipimpin oleh Pengasuh Pesantren Ulul Albab Balirejo Kota Yogyakarta KH. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H., dilanjutkan pembacaan Sholawat Simthudduror, dan diakhiri dengan Mauidzoh Hasanah (Penceramah) dengan menghadirkan Ketua Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PWNU DIY Dr. Suhadi, M.A.

    Suhadi yang juga kini jadi seorang Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan juga Universitas Gadjah Mada ini dalam penyampaiannya mengatakan bahwasannya seorang santri harus tekun dalam belajar dan mempunyai pengetahuan yang luas, agar dapat bersaing dengan orang-orang diluar santri dalam kancah nasional bahkan internasional.

    “Saya yakin, seorang santri bisa menjadi apa saja dalam berkontribusi (untuk bangsa dan juga dunia, red), tinggal menunggu kesungguhan anda (sebagai santri) untuk mau belajar dengan sungguh-sungguh. Karena pada dasarnya seorang santri sudah terlatih dan terdidik untuk menjadi orang yang sederhana, makan seadanya, jadi ketika ditempatkan dalam suatu pekerjaan tertentu (baik pekerjaan sederhana yang gaji seadanya maupun pekerjaan yang penuh kemegahan), seorang santri pasti bisa melewatinya. Kesederhanaan sudah menjadi kebiasaan mereka, bila dihadapkan dengan kemewahan juga akan lebih siap lagi,” ucap Suhadi.

    Pengasuh PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta, KH. Ahmad Yubaidi terus memfasilitasi santrinya agar tidak hanya fokus mempelajari ilmu agama belaka. Selain penguatan agama, kata KH. Yubaidi, santri juga perlu dibekali dengan penguatkan ilmu umum yang akan sangat diperlukan untuk bekal berharga untuk dibawa saat terjun dunia sosial.

    “Pondok ini awal mulanya adalah kos-kosan. Sejak 3 Maret 2003 dialihfungsikan menjadi Pondok Pesantren. Berdirinya pondok ini berawal dari kegelisahan melihat pemuda dan pemudi yang kurang baik ketika tinggal di kos-kosan. Sehingga muncullah ide untuk mendirikan Pondok Pesantren di tengah-tengah kota Yogyakarta,” beber Yubaidi.

    Ketika santri sudah kuat ilmu agama dan ilmu umum, kata Ahmad Yubaidi, itulah santri yang sudah siap ditempatkan di masyarakat. "Peran dan tanggung jawab santri perlu didorong terus agar santri matang dalam ilmu agama dan ilmu yang diperlukan untuk terjun di masyarakat dan dunia kerja," sahut pria yang juga Notaris Kota Yogyakarta ini.

    Dalam acara tersebut, selain dihadiri para santri dan juga warga sekitar, hadir juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Sunan Kalijaga Ilmu Hukum (IKASUKA Ilmu Hukum) M. Jamil, S.H., Advokat Muda Yogyakarta Hairul Rizal, S.H.I., dan juga Pengamat Hukum Lingkungan pada Pusat Studi Pemuda Nusantara (PUSPARA) Abidin. (PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website