Headlines News :
Home » » Puisi-Puisi Karya" Dicky Julkarnain"

Puisi-Puisi Karya" Dicky Julkarnain"

Written By Pewarta News on Kamis, 27 September 2018 | 22.28

Dicky Zulkarnain.
Ilustrasi yang Dibatasi

B22-09D

Satu sampai seribu  kenangan yang tak terlupakan
Saat ayah kita
Saat ibu kita membangun tembok pemisah antara aku dan engkau
Saat aku
Saat engkau
Saat kita sama-sama meyakinkan bahwa kita siap untuk berjuang bersama dan mengikatkan diri pada tembok pemisah itu.

Aku rela meninggalkan kampung halaman
Yang beru saja engkau datangi
Rela meninggalkan senyuman ayah ibu yang kian lama memendam rindu.

Sungguh berat rasanya, tetapi itu tidak mengerutkan semangat juang kita untuk belajar memaknai hidup
Serta menjadi insan yang mandiri dan bertanggung jawab agar bisa  di andalkan oleh empat malaikat itu.

Kita penuh dengan impian yang menggebu
Mata dan jiwa kita selalu mengobarkan semangat
Sampai kita tak peduli betapa lelahnya berilustrasi
Hingga kita sama-sama mengeluh bahwa ada yang membatasi dari ilusi kita.

Sayang, betapaun engkau ingin melakukan sesuatu
Jangan engkau remehkan jiwamu
Karna dia juga butuh istrahat dan tahu yang namanya lelah.

Apa yang paling menyedihkan kecuali mendengarmu kesakitan
Sedangkan aku tak mampu berada di sampingmu
Karna tembok pemisah masih saja memisahkan kita.

Baik-baik di sana sayang , semoga perjuangan kita di mudahkan segalanya.


Yogyakarta, 18 Agustus 2018



Jatuh Lalu Bangkit

B22-09D

Aku dan engkau dulu pernah merasakan kisah yang sama
Bahkan kita pernah terjatuh
Dan saat ini kita dengan mudah menggantikan masalalu menjadi masa depan

Sejujurnya aku tidak merasa rugi dan menyesal
Hanya saja aku manusia,
Jangan khawatir guruuu sakit itu tidak berdarah hanya saja berbekas

Lalu saat hidup hampa  tampa kehadiranmu di hari-hariku
Dan aku yakin engkau pasti datang dengan menyapaku dengan basa basi
Yang bunyinya sudah makan, sudah mandi???
Dan pastinya engkau datang karna engkau sudah tenggelam dengan rindu yang membanjiri kamarmu

Engkau boleh saja datang bahkan beribu ribu kalipun tidak akan aku larang
Tetapi engkau pasti mengatakan tidak mudah untuk datang
Karna ada tembok penghalang yang masih saja memisahkan antara engkau dan aku

Bahwasanya engkau tidak rela melepasku dan meninggalkanmu
Lalu engkau menenggelamkanku dalam sebuah ruang yang sering orang bilang “lingi ade”

Setelah banyak waktu yang aku miliki
Tapi semua itu hanya menanggung tangisan yang engkau rencanakan
Aku coba membendung air mata agar tak bertetesan dalam pipiku
Tapi aku gagal menahan air mata itu
Dan akhirnya aku menemukan beberapa hal yang aku dapati dari akhir pertemuan kita
Pertama, aku menyayangimu. Kedua, aku perlu maju. Ketiga, aku harus bangkit.

Sekarang semuanya sudah jelas
Terima kasih karena engkau telah membuatku menangis dan membuatku mejadi dewasa
Tentu aku masih belajar menjadi lebih dewasa

Kini aku yakin, sesuatu kebahagiaan telah menunggu kita di depan sana
Terima kasih tuhan, engkau telah mempertemukan aku dengan dia yang lebih baik
Dan mengajarkan aku untuk bangkit dari keterpurukan
Dia juga yang membebaskanku dari kejamnya keterpurukan karna bayang-bayangnya

Yogyakarta, 18 Agustus 2018


Karya: Dicky Julkarnain
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta / Email: dickyrakateza58499@gmail.com






Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website