Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    FIMNY Gelar Mubes Ke-VII, Diky Julkarnain Terpilih Jadi Ketua Umum Baru

    Tiga orang di depan, dari kiri ke kanan, Diky Julkarnain (berpeci), Anul Rofik, dan Muhammad Fauzi, saat menyampaikan visi misi sebagai calon Ketua Umum FIMNY periode 2018-2020.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) menggelar Musyawarah Besar (Mubes) Ke-VII pada tanggal 27-28 Oktober 2018 di Kantor DPW PERINDO DIY Jln. Ipda Tut Harsono, Muja Mujuj, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Mubes dalam lembaga FIMNY adalah forum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat FIMNY.

    Tugas dan Fungsi MUBES dalam Pasal 9 Anggaran Rumah Tangga (ART) FIMNY memuat bahasan beberapa point penting, diantaranya; Membahas dan menetapkan tata tertib Mubes FIMNY; Memilih pimpinan sidang tetap Mubes FIMNY; Membahas dan menetapkan laporan pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus FIMNY; Membahas dan menetapkan AD/ART FIMNY; Membuat  Garis Besar Program Kerja (GBPK) dan Rekomendasi yang di anggap perlu; Memilih dan mengangkat Ketua Umum FIMNY.

    Suasana saat proses LPJ Kepengurusan FIMNY Bidang Hubungan Masyarakat.

    Setelah dilakukna rangkaian prosesi Mubes, tibalah pada momen terakhir yakni proses pemilihan Ketua Umum FIMNY yang akan menahkodai lembaga FIMNY 18 bulan kedepan (2018-2020).

    Peserta Mubes FIMNY mengusulkan 10 nama yang akan melaju jadi bakal calon Ketua Umum FIMNY. 10 nama tersebut, Maulana Akbar, Maemunah, Diky Julkarnain, Muhammad Fauzi, Arif Ardiansyah, Ainul Rofik, Yuni Yati, Fauzan (Abdul Salam), Fathurrahman, dan Saturiansyah. Dari 10 nama yang diusulkan, lalu dilakukan proses verifikasi oleh Panitia Pemilihan (Panli) untuk di ajukan dalam tahap selanjutnya (tahap Bakal Calon). Dari total 10 orang yang telah diajukan, 1 orang tidak lolos verifikasi (Fauzan), 4 orang menyatakan tidak siap (Maemunah, Arif Ardiansyah, Yuni Yati, Saturiansyah), dan 5 orang yang menyatakan siap dan lolos verifikasi (Maulana Akbar, Diky Julkarnain, Muhammad Fauzi, Ainul Rofik, Fathurrahman).

    Suasan Mubes Berlangsung.

    Setelah dilakukan proses pemilihan bakal calon, Maulana Akbar mendapatkan 1 suara, Diky Julkarnain mendapatkan 12 suara, Muhammad Fauzi mendapatkan 10 suara, Ainul Rofik mendapatkan 8 suara, Fathurrahman mendapatkan 6 suara, dan suara batal ada 2 suara, total keseluruhan 39 suara. Setelah melihat dari hasil perhitungan suara, jadi yang masuk 3 besar yang akan melaju di babak Calon Ketua Umum FIMNY Periode 2018-2020 adalah Diky Julkarnain (12 suara), Muhammad Fauzi (10 suara), dan Ainul Rofik (8 suara).

    Suasana semakin memanas, ketika proses pelaksanaan pemilihan Calon Ketua Umum FIMNY. Setelah melewati rangkaian pemilihan Calon Ketua Umum FIMNY, hingga mendapatkan suara akhir yakni Diky Julkarnain (19 suara), Muhammad Fauzi (9 suara), dan Ainul Rofik (8 suara), suara batal ada 3 suara, total keseluruhan 39 suara.  Dari hasil akhir yang diperoleh, Diky Julkarnain mendapatkan suara tertinggi, secara otomatis Diky Julkarnain ditetapkan menjadi Ketua Umum FIMNY Periode 2018-2020.

    Dalam sambutannya, Ketua Umum FIMNY Periode 2018-2020 terpilih Diky Julkarnain mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh keluarga besar FIMNY yang telah mempercayakan dirinya memegang estafet kepemimpinan tertinggi dalam lembaga FIMNY. “Saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada seluruh warga Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) yang telah mempercayakan saya untuk memimpin FIMNY satu periode kedepan,” bebernya.

    Saat seremonial penutupan Mubes, Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Agus Salim dalam sambutannya mengatakan bahwasannya dalam peristiwa musyawarah besar akan banyak pelajaran yang dapat dipetik untuk mendewasakan pemahaman kelembagaan seseorang. “Seberapa lelah pun teman-teman melewati rangkaian Mubes ini, nikmatin saja. Karena banyak manfaat yang akan bisa kita peting dari rangkaian peristiwa mubes seperti ini, walau manfaatnya tidak kita dapatkan langsung hari ini, namun beberapa tahun kedepan pasti kita akan menyadari manfaatnya,” ucap Agus.

    Lebih lanjut Agus mengucapkan selamat dan mengingatkan kepada ketua umum terpilih, karena kedepannya dalam memimpin lembaga FIMNY akan banyak warna-warni yang akan membumbui dalam kepemimpinan suatu organisasi yang akan di pimpin. “Kepada Ketua Umum terpilih, selamat menjadi orang yang selalu diperhatikan kesalahannya, selamat menjadi orang yang akan banyak di kritik dari pada di puji. Itu sudah menjadi konsekwensi sebagai seorang ketua, anggap saja itu sebagai madu,” kata Agus Salim.

    Demisioner Ketua Umum FIMNY Gajali saat memberikan ucapan selamat kepada Ketua Umum FIMNY terpilih Diky Julkarnain.

     Dalam momentum yang sama, salah satu sesepuh FIMNY Abdul Salam, yang biasa disapa mas Fauzan ini mengingatkan pada seluruh keluarga besar FIMNY, terutama pada calon pengurus yang akan memimpin FIMNY kedepannya, bahwasannya begitu pentingnya keseriusan kita dalam menahkodai atau menjalankan tugas dalam suatu lembaga. “Kita harus serius dalam menjalankan roda organisasi FIMNY ini, karena dalam keseriusan kita, insya Allah lembaga ini akan berjalan dengan begitu bagus lagi,” cetus Fauzan. (MJ / PEWARTAnews)


    Tentang Menulis

    PEWARTAnews.com -- Pekerjaan menulis adalah proses membaca secara utuh penyebab dari segala sesuatu peristiwa, merangkumnya lalu mencarikan solusi terhadap masalah tersebut. Menerjemahkan manusia (pikiran dan tindakan), alam dan kosmos supaya bisa ditransformasikan ke seluruh sistem akal individu yang membacanya. Informasi yang di tranfer sangat bergantung pada kekuatan akal pembuat informasi dalam menerjemahkan suatu realitas sosial. Selain itu, juga dibutuhkan kesiapan dan kemampuan logik dari pembaca untuk bisa memaknai setiap pesan yang ingin disampaikan penerjemah (penulis).

    Seni menerjemah (penulis) dan ketelitian seseorang dalam membaca (pembaca) merupakan suatu rumus yang akan mengantarkan seseorang pada tingkat memahami. Namun disisi lain, ada kerangka transformasi pengetahuan yang hanya terfokus pada pembaca atau penulis saja. Maksudnya begini, semisal Penulis menyajikan suatu pengetahuan dengan kata-kata yang sederhana, tetapi karena adanya kemampuan logik pembaca dalam memahami, maka tidak menutup kemungkinan sajian sederhana itu akan dimaknai sebagai sesuatu yang utuh dan menyeluruh. Sebagai contoh mari kita lihat kalimat sederhana ini. “Aku mencintaimu”. Bagi mereka yang sangat teliti sesungguhnya kalimat itu bukan suatu hal yang sederhana. Aku mencintaimu adalah wujud kasih sayang seseorang kepada orang lain. Namun bisa juga bermakna sangat universal. “Aku mencintaimu” berarti seseorang itu mencintai segala sesuatu yang berkaitan dengan diri orang yang dicintai itu. Sedangkan hal yang berkaitan dengan orang yang dicintainya adalah seluruh aktifitas semesta yang terjadi di dalam maupun diluar ruang dan waktu.

    Selain berbicara mengenai kekuatan pembaca. Sistem transfer pengetahuan sangat bergantung pada kemampuan penulis dalam menerjemahkan sesuatu. Semisal, seorang penulis tidak bisa membahasakan dengan sederhana suatu realitas yang terjadi, maka pembaca akan memaknai sebagai sesuatu yang sulit dipahami. Sebaliknya kalau masalah yang rumit seorang penulis bisa menerjemahkan dengan sederhana, maka pembaca akan tetap bisa memahaminya. Dari sistem inilah lahir kompleksitas metode seorang penulis dalam menyampaikan suatu realita sosial. Ada yang menyampaikan suatu realita sosial lewat karya ilmiah, novel, cerpen, babat, dongeng, maupun karya sastra lainnya.

    Setelah ragam model dalam menyampaikan suatu realitas sosial itu ada, tentu akan diikuti dengan aturan yang mengikat dimasing-masing sistem tersebut. Suatu karya ilmiah tentu punya aturan main supaya bisa dikatakan sebagai karya ilmiah, novel juga punya aturan main supaya bisa dikatakan sebagai sebuah novel, cerpen, esay, dan semua karya sastra punya aturan yang mengikat diri mereka masing-masing. Inilah yang berlaku dalam karya sastra saat ini. Namun, apakah sesuatu tidak bisa di anggap sesuatu kalau perbedaannya hanya pada model menerjemah? Selain itu, apakah semuanya harus membutuhkan aturan. Padahal dalam relitas sosial ada yang butuh aturan, ada juga yang tidak membutuhkan aturan. Misal begini, orang yang mencintai dan orang yang di cintai. Bagi orang yang mencintai segala sesuatu pasti di anggap benar. Berbeda dengan orang yang dicintai,dalam narasi orang yang di cintai pasti hidup berbegai macam aturan, karena dia tau dibutuhkan orang. Menyambung keadaan itu, ada keresahan yang mendarah daging pada diri penulis. Apakah segala karya sastra harus berjalan berdasarkan aturan. Apakah penulisan karya sastra bisa dilepas sampai kealam tak terbatas (alam tampa aturan penulisan). Setelah dilepas, biarkan para pembaca yang menerjamahkannya per-kata atau per-kalimat. Modelnya sama seperti membaca ragam wujud makhluk semesta yang diciptakan oleh Tuhan.

    Disini penulis mencoba menyajikan tulisan tampa aturan penulisan. Penulis menyakini makna atau pesan bisa di temukan di balik paragraf, dibalik kalimat, dibalik kata, bahkan dibalik huruf. Setiap huruf yang berderet menjadi kata sesungguhnya berbuah pada makna. Begitu juga seterusnya. Sistem penulisan seperti ini mungkin bertentangan dengan estetika penulisan. Namun menurut penulis, estetikanya adalah ketidakteraturannya. Sistem penulisan seperti ini titik tekannya pada kemampun pembaca dalam meneliti dan kompleksitas masalah universal yang disampaikan penulis. Sesungguhnya penulis dan pembaca bertatap muka dan berdiskusi lewat karya sastra tersebut. Dari landasan inilah tulisan-tulisan kami tidak terlalu mempersoalkan teknik penulisan. Namun terfokus pada keseluruhan menyampaikan makna. Pengumpulan makna ini bertujuan agar makna bisa hidup disetiap huruf yang menyusun sebuah karya sastra.

    Pada akhirnya dalam sebuah karya sastra, seorang pembaca hanya mampu mengambil beberapa point. Sedangkan milliaran kata dan kalimat yang tersusun pada karya sastra itu dilupakan. Penyebabnya terletak pada kamampuan pembaca untuk membaca dan daya ingat pembaca.

    Termasuk tulisan ini. Ini bukan essay, atau semacamnya. Ini adalah dirinya sendiri. Kalau mau mengenalinya pahami dia.

    Biarkan mereka mencari rumahnya masing-masing, bagi siapapun yang merasa diwakili berarti mereka itulah ibu dan bapak dari tulisan itu.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial, Budaya, dan Sastrawan / Eks Ketua Umum FIMNY / Eks Ketua DPC PERMAHI DIY

    Kupas Tentang Peristiwa Donggo 1972, Ghazaly: Demo di Zaman Orba, Apa Nggak Kaget tuh Dunia

    Suasana usai diskusi kupas Peristiwa Donggo 1972, 28/10/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Upaya untuk mengupas tentang Peristiwa Donggo 1972 dari sudut pandang komunikasi politik dan nilai demokrasi, Komunitas Senang Diskusi (KSD) Jogja menghadirkan Dr. Ghazaly, M.Si. Kegiatan yang digelar malam di Omah PMII Jogja, 28 Oktober 2018 itu diikuti oleh mahasiswa asal Bima dan Dompu yang berkuliah di Jogja.

    Saat memberikan materi, Ghazaly menjelaskan beruntut dari penjelasan tentang Donggo secara umum hingga peristiwa 1972 yang menggemparkan Indonesia. "Peristiwa 1972 itu kan peristiwa yang besar. Bukan hanya Indonesia, dunia juga ikut menyorot. Di zaman Orba, dan ada massa yang bergerak melawan, demo di zaman Orba, apa nggak kaget itu dunia," tutur pria yang juga dosen komunikasi politik di Universitas Mercu Buana Jakarta tersebut.

    Menurut Ghazaly, mahasiswa era reformasi, dengan kebebasan berdialog dan berpendapat haruslah mampu bergerak lebih meledak. "Jika orang orang Donggo (daerah kecamatan Donggo Kabupaten Bima NTB, red) yang buta aksara, tak pernah merasakan bangku sekolah saja bisa terpanggil hatinya karena ketidakadilan, kenapa mahasiswa tidak mampu melakukan gebrakan," ucap tegasnya.

    Suasana usai diskusi kupas Peristiwa Donggo 1972, 28/10/2018.

    Pantauan media ini, kegiatan berlangsung lancar. Puluhan mahasiswa asal NTB andil sebagai peserta dalam diskusi rutin yang di rancang dua minggu sekali ini, dan momentum ini merupakan diskusi pertemuan kelima (#5) yang dihelat KSD Jogja. (Hawa / PEWARTAnews)

    Gelar Pelantikan Pengurus, IPAH Jogja Komitmen Amalkan Nilai Luhur Ponpes

    Pelantikan IPAH Jogja, 28/10/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Ikatan Persaudaraan Alumni Al-Husaini (IPAH) Bima Yogyakarta menggelar acara pelantikan pengurus baru 2018-2019 yang dirangkaikan dengan acara diskusi pertajuk "Ngaji Pluralisme Bersama Santri". Kegiatan yang didesain lesehan digelar di Omah PMII Jogja pada 28 Oktober 2018, dan menghadirkan Kiai Muhammad Mustafid, S.Fil sebagai narasumber diskusi.

    Sis Susilo, Ketua IPAH Yogyakarta, ketika menyampaikan sambutan berharap, palantikan sebagai awal yang baik untuk pengurus baru menjalankan roda organisasi. Dirinya juga mengaku akan berusaha untuk menerapkan nilai luhur Ponpes pada kegiatan sosial kemasyarakatan. "Pelantikan ini akan menjadi stater awal bagi pengurus untuk berjuang menjalankan roda organisasi IPAH ini, dari sini tentu menjadi medan buat kami untuk berproses, menjadikan IPAH sebagai rumah bersama untuk belajar sebelum kami benar benar terjun ke masyakarat mengabdikan diri, dan mengamalkan nilai nilai luhur yg pernah diajarkan oleh guru kami TGH Ramli H. Ahmad," papar mahasiswa asal Kecamatan Langgudu itu.

    Di tempat yang sama, Ketua Panitia, Zaenal Arifin menjelaskan tentang pemilihan teman diskusi publik. Baginya, isu isu perpecahan masif terjadi belakangan hati. Sehingga, perlu dilakukan beragam cara untuk menekan perpecahan, salah satunya adalah ngaji pluralisme. "Sengaja kami mengusung tema ini karena akhir akhir ini kondisi negara sedang digungcang oleh isu yang cukup sentimental sehingga memicu perpecahan dalam kehudupan berbangsa dan bernega, di tambah lagi dengan watak masyarakat  yang mudah terprovokasi oleh isu tak sedap. Sehingga nilai tentang pluralisme menjadi penting untuk menetralisir keadaan tersebut. Di sisi lain kami juga berharap bahwa pemahaman pluralisme menjadi suatu spirit tersendiri bagi para santri khususnya sahabat IPAH yg nantinya menjadi panutan di masyarakat," tandasnya.

    Pantauan media ini, kegiatan berlangsung khidmat dan lancar. Puluhan peserta diskusi menghadiri obrolan bergizi itu. Selain itu, interaksi antara pemateri dan peserta juga terjadi dengan hangat, sehingga menambah meriahnya acara. (Hawa / PEWARTAnews)

    IPAH Yogyakarta Gelar Pelantikan dan Sarasehan Nasional

    Acara Pelantikan dan Sarasehan IPAH Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Ikatan Persaudaraan Alumny Al-Husiny (IPAH) Yogyakarta menggelar kegiatan pelantikan yang dirangkaikan dengan sarasehan nasional dan do'a bersama untuk negeri. Alumny Al-Husainy adalah para santri-santri yang sebelumnya pernah mondok di Pondok Pesantren Al-Husainy Kota Bima. Sebua pondok pesantren yg di asuh oleh TGH. Ramli H. Ahmad.

    Ketua Panitia Pelantikan IPAH Yogyakarta, Zaenal Arifin mengatangan bahwa, selain pelantikan digelar juga sarasehat yang mengangkat tema pluralisme. "Alhamdulillah dalam kesempatan kali ini sahabat/i IPAH Jogja menggelar kegiatan pelantikan pengurus baru yang sudah dilaksanapan pada Ahad, 28 Oktober 2018 yang bertempat di gedung OMAH PMII DIY. Dalam kegiatan ini panitia mengusung tema 'Ngaji Pluralisme Bareng Santri'," beber Zaenal.

    "Sengaja kami mengusung tema ini karena akhir-akhir ini kondisi negara sedang di gungcang oleh isu-isu yang cukup sentimental sehingga memicu perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di tambah lagi dengan watak masyarakat  yang mudah terprovokasi oleh isu-isu tak sedap. Sehingga nilai-nilai tentang pluralisme menjadi penting untuk menetralisir keadaan-keadaan tersebut. Disisi lain kami juga berharap bahwa pemahaman pluralisme menjadi suatu spirit tersendiri bagi para santri, khususnya sahabat/i IPAH yang nantinya menjadi panutan di masyarakat," ucapnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua IPAH Yogyakarta Sis Susilos mengatakan bahwasannya IPAH merupakan wadah atau rumah bersama untuk menerpa ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya sebelum terjun mengabdikan diri ke masyarakat, "Kami harapkan dari pelantikan ini menjadi stater awal bagi pengurus untuk berjuang menjalankan roda organisasi IPAH ini, dari sini tentu menjadi medan buat kami untuk berproses, menjadikan IPAH sebagai rumah bersama untuk belajar sebelum kami benar-benar terjun ke masyakarat untuk mengabdikan diri, dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang pernah di ajarkan oleh tuan guru kami TGH. Ramli H. Ahmad," harap Susilos. (PEWARTAnews)

    Sumpah Pemuda, Inspirasi dan Narasi Merawat Kebhinekaan

    Solihul Hadi, SH. Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta.
    PEWARTAnews.com -- Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 merupakan refleksi sekaligus histori 90 tahun lalu, di mana para pemuda pemudi Indonesia mengikrarkan untuk bersatu, menjadi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia.

    Para pemuda Nusantara berkumpul untuk memperkokoh identitas Bangsa. Namun, realita hari ini sudah jauh berbeda dengan semangat perjuangan pada waktu itu. Sebab, saat ini banyak diantara pemuda Indonesia yang saling berselisih sampai bermusuhan hanya karena berbeda pilihan politik. Saat ini kita masuk dalam tahun politik yang syarat rawan terjadinya konflik horizontal karena banyak yang mengatas namakan Agama untuk mencari kekuasaan dan mengatas namakan rakyat untuk meraih kemenangan, kenyataanya cara-cara tersebut sering memicu pertikaian karena cenderung menganggap dirinya paling benar.

    Pemuda pemudi yang akan mengikuti kontestasi dalam Pemilu ditahun 2019 harus mampu membuat narasi besar dalam mengambil peran positif untuk bersama-sama melawan segala bentuk berita bohong yang banyak viral di media sosial. Termasuk provokasi dan propaganda sebagian berita online yang dapat memecah belah persaudaraan baik dalam beragama maupun bermasyarakat.

    Bagi para pemuda dan pemudi yang terlibat dalam politik sebagai calon anggota legislatif, harus mampu menunjukan sikap profesional dan edukatif dalam melakukan konsolidasi dan sosialisasi bersama masyarakat dengan kreatifitas positif. Melakukan kampanye dengan cara-cara yang santun, hal ini dapat membantu mengurangi terjadinya konlik horisontal dan dapat membawa iklim positif atau perubahan warna baru dunia politik. Sebab, kita tahu bersama bahwa citra politik hari ini cenderung dipandang abstrak dan negatif oleh masyarakat secara umum, sehingga dengan momentum sumpah pemuda ini pemuda harus banyak bersilaturahmi untuk bertukar pikiran, mengemukakan ide dan gagasan pembangunan kepada masyarakat. Juga dalam membangun konstruksi berpikir yang sehat dan rasional dalam meraih simpati masyarakat, menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan diatas kepentingan dan perbedaan. (*)

    PCNU Kota Jogja Sukses Besar, 6000 Santri Meriahkan Upacara HSN

    PCNU Kota Yogyakarta berfoto bersama usai upacara Peringatan HSN 2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Kanwil Kemenag DIY mengadakan upacara akhbar Hari Santri Nasional (HSN) di Lapangan Panahan Jl. Kenari Kota Yogyakarta pada hari Senin, 22/10/2018. Hadir sebagai Pembina Upacara HSN 2018 ini, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.

    Dalam hal kepesertaan upacara, PCNU Kota Yogyakarta boleh dibilang sukses besar. Sebab, target peserta upacara yang hadir, awalnya hanya dipatok pada angka 4800 orang, ternyata yang datang lebih dari 6000 santri.

    Momentum emas dalam acara tersebut, KGPAA Paku Alam X berpesan pada seluruh santri bahwa santri harus mampu berperan sebagai pionir perdamaian yang berorientasi pada spirit moderasi Islam di Indonesia. “Dengan karakter santri yang moderat, toleran, dan komitmen cinta tanah air, diharapkan para santri mampu menekan konflik horizontal di tengah keberagamaan ini,” katanya, sebagaimana rilis yang diterima PEWARTAnews.com melalui Panitia HSN Kota Yogyakarta.

    Peserta upacara yang hadir lebih dari 6000 santri. Mereka berasal dari pondok pesantren, madrasah, dan seluruh pengurus NU Se-Kota Yogyakarta. Upacara dimeriahkan dengan penampilan Drum Band SDN Vidya Qasana Bumijo, Drama Kolosal PP Muntasyirul Ulum, dan pertujukan Barongsai dari Banser Gedongtengen. Usai upacara, diadakah mujahadah yang dipimpin KH. R. Najib Abdul Qadir.

    Ketua PCNU Kota Yogyakarta, H.M. Yazid Afandi, M.Ag. mengatakan bahwasannya hari santri merupakan spirit bagi para santri untuk berperan aktif dalam membangun peradaban yang lebih baik. “Hari santri juga merupakan momentum penegasan bahwa Islam di Indonesia merupakan Islam Wasathiyah (Islam Moderat), santri harus mampu mendialogkan antara Al-Qur'an dan Al-Hadist dengan Al-Urf (Budaya), sehingga santri dapat menyuarakan Islam ramah dalam menjaga keharmonisan kehidupan yang plural,’’ ungkapnya.

    Rois Syuriah PCNU Kota Yogyakarta, KH. Solehudin Manshur, S.Ag. menambahkan, Hari Santri Nasional sebagai pengingat bahwa santri telah terlibat langsung dalam mendirikan NKRI, sehingga santri memiliki kewajiban menjaga kemerdekaan, dan santri sebagai modal agama, ahlaqul karimahnya harus mengisi dibidang tekhnologi, pemerintahan, sosial, budaya dan politik.

    “Hari Santri kali ini juga sebagai motifator pada seluruh pengurus cabang, lembaga, dan banom-banom NU di Kota Jogja untuk hadir di tengah masyarakat,’’ katanya.

    Sementara itu, Ketua Panitia HSN Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, S.H. mengatakan, upacara HSN ini merupakan refleksi dan histori perjuangan para kiai dan kaum santri sarungan Nusantara melalui Resolusi Jihad NU KH. Hasyim Asy’ari 22 Oktober.

    “Tugas santri saat ini (baik yang mukim atau tidak), harus mampu mengimplementasikan Tri Dharma Pondok Pesantren, yaitu terkait keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Pengembangan ilmu yang bermanfaat dan mendharmabaktikan dirinya pada agama masyarakat, dan negara dengan menerapkan nilai-nilai ahlusunnah wal jama’ah annahdliyah, kalau sudah demikian Insya Allah santri akan tetap mampu menjaga dan menyatukan Indonesia,” katanya.

    Ditambahkan Solihul, sebelum acara puncak HSN yang ditandai dengan upacara akbar, sudah diadakan berbagaimacam kegiatan. "Sebelumnya kegiatan dimeriahkan dengan Kirab Santri, Lomba Stand Up Comedy Santri, Nadhoman, Pidato, dan Lomba Mewarnai untuk santri Madrasah Ibtidaiyah," ucap Solihul dengan penuh semangat.

    Di tempat yang sama, Ketua MWC NU Gedongtengen yang juga Pembina Barongsai Banser Gedongtengen, Kiai Budiyono mengatakan, Indonesia ini istimewa, karena memiliki santri yang selalu mentradisikan doa bersama agar negeri ini menjadi negara yang Baldatun Thayibun Warabun Ghafur. *

    Menbangun Polisi Sipil dalam Era Baru yang Berdimensi Lingkungan Hidup (Prespektif Penegakan Hukum Progresif)

    Abi Supriadi Soepomo.
    Logika Ekologi Global
    Amdal adalah upaya untuk menghambat Reklamasi. Amdal bukan untuk memudahkan perusahaan untuk beroperasi. Hak lingkungan teluk adalah hak bumi berlekuk teluk tidak boleh di rusak dan juga teluk itu adalah hak remaja kota atau yang lain untuk menikmati  senja kalau sekarang ada bangunan di situ matahari nya itu tenggelam di balik mol bukan di horizon jadi keindahan estetichs kita di ganggu oleh tabiat negara yang yang tidak paham tentang apa yang di sebut
    logika ekologi. (Rocky Gerung)

    Sekilas Batas Argumen Era Baru untuk Masa Depan
    Penegakan hukum merupakan isu yang menarik untuk dikaji, diuraikan dan diteliti melalui kaca mata “Penegakan Hhukum Progresif” karena berkaitan dengan bagaimana implementasi peraturan perundang-undangan yang berlaku pada era moderen. Catatan buram raut wajah kasus lingkungan di Indonesia dari masa kemasa sangat memperihatinkan baik itu kasus teluk Jakarta, kasus PT. Lapindo, PT. Newmont, dan Freeport. Dari empat titik ini, dan maupun kasus-kasus lingkungan lainya, adalah memberikan dampak besar atas keberlangsungan hidup masyarakat disekitarnya. Akibat dari adanya kasus ini, maka peran dari pada Polisi Republik Indonesia (POLRI) sebagai penegak hukum harus betul-betul luar biasa untuk menangani dengan secara cepat, tepat dan akurat serta progresif untuk mengalisisnya. Penegakan hukum lingkungan berkaitan dengan semua aspek kehidupan manusia,  karena lingkungan merupakan salah satu sistem penyangga kehidupan mahluk hidup di alam raya ini. Secara konstitisonal di atur dalam Pasal 28 huruf h ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 1945) berbunyi “Setiap orang hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan”. Selain itu, kemudian di atur lebih lanjut dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kemudian diatur lebih lanjut dalam Pasal 28 UUD 1945 dikatakan bahwa, “Setiap warga negara berhak akan lingkungan yang baik dan sehat, penegakan hukum lingkungan merupakan instrumen untuk menciptakan lingkungan yang baik dan sehat”.

    Upaya untuk membangun Polisi Sipil dalam “era baru” yang berdimensi lingkungan hidup saat ini, tentu tidak mudah karena membutuhkan pendidikan dan pelatihan yang luar biasa, kematangan berpikir maupun bertindak. Supaya mewujudkan Polisi Sipil yang benar-benar siap bergulat dengan alam raya, maka terlebih dahulu bagaimana negara harus berani memajukan maint set berpikirnya terutama menfasilitasi hak-hak generasi muda sebagai salah satu aset negara. Artinya generasi muda yang memiliki kemampuan yang  unggul di bidangnya tetap terus dijaga dan dirawat. Membangun Polisi Sipil, yang berdimensi lingkungan hidup tentu negara atau Polri, dalam hal itu kemudian harus memberikan pendidikan dan pelatihan hukum yang berdimensi kemanusiaan kepada anggotanya. Berdimensi kemanusiaan artinya ketika anggota kepolisian maupun Polisi Pamong Praja melakukan tugas benar-benar sudah paham bahwa lingkungan hidup adalah bagian dari dirinya, bukan karena melihat itu hanya semata-mata karena di perintah oleh UU akan tetapi harus menerobos UU tersebut. Persoalan lingkungan adalah persoalan kemanusiaan di dunia bukan hanya karena aturan-aturan batas negara yang mengatur hal itu, tetapi persoalan lingkungan merupakan bagaimana melindungi planet-planet  maupun sistem tata surya yang ada di dunia ini.

    Polisi Sipil Berdimensi Lingkungan
    Polisi Sipil yang di maksud adalah tidak hanya kita tafsirkan pada konteks Polisi Polri ataupun Polisi Pamong Praja (Pol. PP) akan tetapi luas dari itu, di Bali ada Pecalang, di Kabupaten Bima-Kecamatan Belo tepatnya Desa Ncera Polisi Rasa, begitu juga di daerah-daerah lain yang masih kental adat-istiadat pasti memilikinya. Polisi Rasa yang ada di Desa Ncera itu, tidak hanya bertugas untuk menangkap maling, perampok, orang yang konflik, dan pemabuk miras, akan tetapi jauh dari pada itu. Tugas Polisi Rasa tersebut termasuk di bidang lingkungan hidup untuk melindungi, mengayomi dan melayani lingkungan hidup. Polisi sipil yang sebenarnya adalah kesatuan dari pada masyarakat yang ada baik itu di masyarakat, bangsa dan negara. Semasih negara atau Polri dalam hal ini, masih berprespektif normatif-positivis maka yakin dan percaya bahwa persoalan negara tidak mampu di atasi lebih-lebih di bidang lingkungan hidup. Konsep penyidikan dalam sistem penyelidikan dan penyidikan yang bersifat “ilmiah” atau “scientific crime detection” atau yang lebih populer di negara kita yang berlaku sampai hari ini hanya “slogan” dengan sebutan “Ilmu Penyelidikan”, seolah-olah itu sempurna kemudian  mengeksplorasi di publik  dengan angka penjumlahan, pengurangan dan perkalian bahwa semuanya itu sudah terselesaikan.

    Ilmu penyelidikan itu, ketika sistem-sistem yang ada kemudian di tempatkan pada multi disipliner yang tepat. Kalau Cak-Nun mengatakan “manusia itu harus pintar ngerem dan harus pintar gas”, begitu juga sebaliknya lembaga Polri harus benar-benar serius memperhatikan bagaimana posisi maupun kapasitas kasus yang sebenarnya.  Mengutip kata Prof. Satjipto Rahardjo, S.H., M.H. bahwasannya “hukum itu untuk manusia”, maka secara mutatis-mutandis sebaliknya bahwa Polisi Sipil adalah untuk masyarakat, untuk hewan dan maupun untuk tumbuh-tumbuhan karena semuanya tidak bisa kemudian dipisahkan antara satu dengan yang lain. Polisi yang baik, tatkala ketika rumput itu di injak olehnya  pada saat ia melakukan tugas untuk menangkap pencuri  maka pada saat itu juga petugas itu wajib mempertimbangkan bahwa ia telah melakukan penganiayaan terhadap rumput tersebut. Maka dari itu, rumput berhak untuk menuntut petugas yang lalai pada saat ia menjalankan tugas. Artinya polisi sipil benar-benar profesional, konsistensi, progresif dan mengedepankan cinta-kasih di atas segalanya. Penegakan hukum berdimensi wawasan lingkungan hidup adalah salah satu yang harus di wujudkan supaya tujuan hukum tentang keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum bisa tercapai dengan baik, cara luar biasa dan bukan di minimaliskan melalui angka-angka matematik atau menganggap itu di ubah oleh mesin komputer semata.

    Tindak tanduk lembaga kepolisian sejak Era Reformasi sampai pada saat ini mesti dilakukan evaluasi kembali ternyata ada yang keliru. Mengutip perkataan Prof. J. E. Sahetapy bahwa pertama yang memisahkan antara ABRI sehingga terbentuk menjadi dua lembaga adalah Kepolisian dan TNI. Sehingga jangan sampai kemudian Polri berbicara ibarat “ayam tanpa kepala” suaranya keras akan tetapi tindak tanduk tidak membuahkan hasil yang progresif. Setelah kedua lembaga itu, dipisahkan terutama kepolisian hanya berkutat statis hanya maju dalam bentuk yang di kemas baru dari luar tetapi kepala dan jiwanya  tidak di isi dengan baik malahan sebaliknya peningkatan korupsi meraja lela di tubuh kepolisian maupun di lembaga penegak hukum yang lain. Wajah lembaga penegakan hukum negeri ini, semakin lama semakin seperti “bola liar” yang tidak memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas.

    Ibarat pohon, tidak mengapa pohon itu mati dengan sendirinya supaya anti-tesis itu datang, tumbuh dan berkembang terbentuklah  yang baru yaitu Era baru atau era melinium. Evaluasi secara berkala adalah salah satu langka awal untuk dilakukan mulai dari perekrutan anggota kepolisian, pemeriksaan kesehatan, pendidikan pelatihan, penugasan, pengabdian dan akhinya moralitas yang pada akhirnya dibicarakan. Negara-negara eropa, America dan salah satu tetangga negara Indonesia adalah Australia praktek penegakan hukum khususnya di bidang lingkungan hidup sudah maju dan sistematis. Inggris, America dan Australia sudah membentuk Polisi sipil lingkungan, Polisi kehutanan, Pengadilan Khusus lingkungan, Jaksa Lingkungan yang benar-benar profesional dalam bidang itu. Apakah negara Indonesia harus menjadi penonton terus-menerus? Mulai dari dulu sampai hari ini, Indonesia menjadi penonton sejati. Bidang hukum Indonesia menjadi penonton, ekonomi penonton, teknologi penonton, dan lain-lain. Apakah ini yang harus di banggakan Indonesia?.

    Menggali Potensi Internal untuk Mewujudkan Polisi Sipil Lingkungan Hidup Bermartabat
    Menggali potensi internal generasi muda adalah kata kunci seluruh negara di dunia. Seluruh negara di dunia paling utama itu America dengan propaganda-propaganda kemanusiaan termasuk di bidang lingkungan hidup seolah-olah Amerika pencetusnya begitu juga dengan negara lain. Padahal negara-negara di dunia harus belajar dari Indonesia mengenai farian budaya, paham kemanusiaan, puralisme dan maupun kekayaan alam lingkungan hidup. Bumi nusantara ini adalah percaturan dunia wayangnya negara adikuasa penontonnya Indonesia itulah faktanya hari ini Bali, Papua, dikuasai oleh orang luar, juga termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Artinya hal inilah yang kemudian harus di evaluasi, bangun tatanan era baru, modivikasi sistem lama yang kaku dan otonom tersebut. Pendiddikan hukum dan lingkungan harus di ajarkan mulai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) paling tidak siswa-siswi itu ada bekal untuk sampai pada strata perguruan tinggi maupun ketika lulus tingkat SMA siwa-siswi tersebut sudah ada bayangan terlebih dahulu. Upaya untuk mewujudkan kesadaran hukum masyarakat dalam bidang hukum dan lingkungan maka yang harus dilakukan oleh negara adalah evaluasi silabus pendidikan nasional.

    Upaya untuk merubah Negara Indonesia khusus generasi muda adalah harus memperbaiki pendidikan sekolah dasar, SMP, SMA/SMK dengan mata pelajaran yang ada nuansa baru paling tidak hukum dan ilmu lingkungan. Perbuatan pelanggaran hukum dan perbuatan pidana itu sudah mengakar di sekolah SD, SMP, SMA/SMK. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dewasa ini, lebih banyak akibat dari pada perbuatan manusia entah itu penebangan pohon liar, pertambangan, perbuatan perusahaan dan maupun bisa terjadi karena obat-obat pestisida-instesida. Akibat pencemaran dan perusakan lingkungan hidup maka berakibat fatal terhadap kerusakan planet dan sistem tata surya kita di bumi. Fungsi masyarakat sipil harus ikut andil berperan untuk menjaga keberlagsungan kehidupan alam raya tersebut, tidak hanya polisi yang datang dari pemerintah akan tetapi masyarakat harus menjadi polisi seutuhnya. Polisi atau dalam hal ini Polri harus betul-betul mampu menyatu dengan masyarakat, seperti halnya slogan aktivis, “Duka mereka adalah duka kita, tangisan mereka adalah tangisan kita”, bukan sebaliknya menjaga bola digawang.

    Sebagai penyidik tunggal, bertugas melakukan penyelidikan, penyidikan dan pemberkasan. Kepolisian harus benar-benar hati-hati, teliti dan telaten dalam menjalankan tugas, karena sebab itu bukan semata amanat UU akan tetapi itu juga adalah amanat hukum atau jiwa rakyat yang sudah mendarah daging di setiap sudut negeri. Sedikit saja polisi salah melangkah dalam bertugas maka hati nurani bangsa dan negara yang akan di pertaruhkan di dunia. Alat perlengkapan yang di pakai oleh lembaga kepolisisan adalah jiwa rakyat yang sudah membatin dengan petugas tersebut. Salah satu yang menjadi kelemahan penyidik, pada saat melakukan penyelidikan, penyidikan dan pemberkasan adalah kurangnya ilmu pengetahuan penyidik pada wilayah ilmu lingkungan, zat kimia atau dalam istilah ilmu lingkungan bahan kadar beracun (B3) sebenarnya bukan hanya pada lembaga kepolisian, di lembaga Advokat, Kejaksaan dan Kehakiman belum benar-benar ada yang nmemiliki keahlian yang mumpuni dalam bidang hukum lingkungan, lebih-lebih ketika berhadapan dengan kasus tindak pidana lingkungan hidup. Banyak kasus yang terjadi di seluruh bumi nusantara ini, khususnya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup tidak mampu terselesaikan akibat kapasitas ilmu pengetahuan penyidik kepolisian maupun penyidik pembantu belum mumpuni sehingga menilai sampel, alat bukti, barang bukti dan kadar banyak tidaknya zat kimia tidak mampu menganalisisnya atau mendeteksinya dengan laboratorium forensik lingkungan. Oleh karena itu peran dari pemerintah, peranan dunia pendidikan dan lembaga kepolisian harus lebih luar biasa, harus mampu menerobos jurang-jurang pemisah, biarkanlah air itu mengalir di sela-selanya, namun suatu saat dinding besar tebalpun tetap akan mampu di terobos oleh air, terwujudnya penegakan hukum bermartabat adalah cita-cita Bangsa Indonesia.

    Mewujudkan Polisis Sipil “Bermesu Budi” dalam  Penegakan Hukum Lingkungan
    Negara Indonesia adalah negara yang besar, negara berdasarkan sistem hukum campuran atau dikenal “the roul of law” yang di dalamnya berbagai corak fundamental etiks. Fundamental etiks tentang kebudayaan humanisme, demokrasi, teknologi dan humanitarianisme internasional. Mewujudkan “Polisi Sipil Bermesu Budi” harus mengerahkan seluruh energi jiwa. Mesu budi adalah konsep untuk mematikan egosentris yang ada dalam diri manusia. Penegakan hukum lingkungan  yang bermesu budi merupakan alat untuk menyadarkan para penegak hukum Indonesia saat ini, merumuskan, membentuk, menetapkan, memutuskan dan melakukan pencegahan terhadap pencemaran perusakan lingkungan hidup membutuhkan sikap tindak yang berani. Jika ada istilah menjalankan pekerjaan cara beyond the call of duty bertindak lebih dari pada yang di wajibkan maka mesu budi dalam penegakan hukum adalah menjalankan hukum dengan kemampuan beyond the call of rule. Sikap tindak tanduk yang berani  perlu di bumikan  diseluruh negeri ini, teruma bagaimana merombak sistem hukum hari ini.

    Dalam era pembangunan yang serba kompleks hari ini, cara berpikir lembaga kepolisian atau Kapolri harus melakukan rekostruksi kembali terhadap penegakan hukum lingkungan yang ada. Penegakan hukum lingkungan bukan menghafal UU, menerapkan UU, megakan Peraturan Perundang-Undangan, dan membaca UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, akan tetapi Polisi Sipil harus mampu menerobos UU yang ada, lebih dari pada itu termasuk yang harus dilakan oleh Polisi Sipil adalah melakukan penemuan hukum, setelah itu bagaimana merombak sistem hukum yang berlaku hari ini. Sistem hukum yang berlaku hari ini, tidak mampu menampung isu-isu kasus lingkungan hidup yang ada di Indonesia. Kasus PT. Lapindo, Teluk Jakarta dan Teluk Buyat di Mina hasa. Beberapa kasus yang terjadi mengindikasi di ceritrakan masih berbelit proses penyelidikan, penyidikan, pemberkasan, penuntutan dan proses persidangan. Selain tidak pahamnya para penegak hukum sisi-sisi lain citra penegakan hukum lingkungan hidup di Indonesia ketidak seriusan untuk menangani kasus yang ada, kasus kebakaran hutan Kalimantan, Riau, ilegal loging di Tambora, melakukan ekspor-impor kayu di beberapa negara itu semua ada oknum-oknum kepolisian yang terlibat langsung untuk mensukseskan tindak tanduk kriminalitas tersebut. Pembakaran hutan yang ada di beberapa daerah yang terjadi, tetapi justru yang di tangkap adalah orang gila, justru sebaliknya kasus lingkungan pasti melibatkan orang-orang penting yaitu pengusaha-pengusaha dalam negeri maupun luar negeri.

    Pertama, pendidikan hukum progresif adalah alat untuk menggulangi perbuatan-perbuatan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup yang ada di Indonesia. Hukum progresif selain membentuk, memajukan dan pendidikan moral adalah paling utama untuk di implementasikan dalam tubuh kepolisian atau Polisi Sipil. Kedua, Polisi Sipil harus melakukan tindak tanduk yang luar bisa terutama adalah mengerahkan seluruh potensi jiwa dan mematikan nafsu supaya egosentrisitas itu mampu di manajemen dengan baik. Menyatu dengan alam adalah keharusan bagi setiap umat manusia, lebih-lebih polisi sipil. Ketiga, mendidik dengan konsep cinta kasih terhadap alam atau ekosistem penyangga kehidupan supaya Polri atau lembaga kepolisian. Kemanusiaan adalah fitrah yang paling utama di perhatikan dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa, negara dan bahkan laluntas dunia.

    Empat kecerdasan spiritual, kecerdasan spiritual adalah penyempurna atau penyeimbang setiap gerak-gerik petugas kepolisian bagaimana untuk dilatih bertutur-kata santun, jujur, integritas, bertanggung jawab dan penuh dedikasi. Proses penyelidikan, penyidikan, dan pemberkasan di lakukan oleh penyidik membutuhkan waktu, kecepatan, ketepatan dan profesional untuk melakukan penelitian terhadap peristiwa hukum yang terjadi bahkan membutuhkan waktu yang lama. Bimbingan secara psikologis betul-betul di perhatikan demi terciptanya lembaga kepolisian yang memiliki kewibawaan. Kemudian yang kelima adalah  perekrutan, cara-cara perekrutan mesti di lakukan dengan tindak-tanduk luar biasa. Perekrutan semuanya harus sama tidak ada yang membedakan antara kaya atau miskin tetapi pertama-tama yang harus di lihat adalah kemampuan dari pada peserta calon kepolisian terdaftar. Menjaga kewibawaan lembaga adalah keharusan bagi setiap anggota kepolisian. Disamping perekrutan maka calon-calon itu nantinya silabus-silabus pendidikan kepolisian itu harus berdimensi kemanusiaan terutama dan paling utama dalah polisi sipil harus menyatu dengan alam raya di sekitarnya. Penegakan hukum progresif “Polisi Sipil ibarat sapu lidi yang selalu membersihkan kotoran di dunia”, filosofi kepolisian harus betul-betul dijaga, dirawat, dimodifikasi dengan keadaan jaman, pengabdian dan bumikan nilai-nilai “Catur Wangsa” demi tegaknya sistem hukum yang berbasis kerakyatan di era milinium.


    Yogyakarta, Jum’at 12 Oktober 2018
    Penulis: Abi Supriadi Soepomo
    Pengamat Hukum Lingkungan pada Pusat Studi Pemuda Nusantara (PUSPARA) / Senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Selesaikah dengan Maaf Banser?

    Rumadi Ahmad.
    PEWARTAnews.com -- Sebenarnya saya agak malas komentar soal ramai-ramai pembakaran bendera eks Hijbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Banser di Garut bertepatan dengan peringatan hari Santri. Peringatan hari santri kok sampai ada bendera HTI berkibar itu sudah satu persoalan sendiri. Jangan-jangan HTI memang memancing Banser untuk marah. Begitu Banser marah, penggorengan sudah disiapkan. Dan benar, Banser marah dan bendera HTI di bakar. Sebenarnya memang gak perlu dibakar sih. Cukup dilipat saja. Tapi ya bagaimana lagi, sudah terlanjur.

    Penggorengan pun di mulai. "Kalimah tauhid dibakar Banser!!!", teriak mereka. Ini memang jebakan maut. Tampaknya HTI memang sudah lama mengincar skenario ini. Karena hanya skenario seperti ini simpatik pada HTI akan bisa dikelola.

    Banyak bendera bertuliskan kalimah tauhid yang tidak pernah dipersoalkan banser. Bendera saudi bertuliskan tauhid tidak pernah dipersoalkan. Setiap hari kader-kader banser juga baca tahlil yang disitu banyak sekali kalimah tauhid. Mereka tidak kepanasan.

    Kini beredar oponi agar banser minta maaf kepada umat Islam, seolah ini sebagai jalan keluar. Selesaikah dengan Banser minta maaf? Pasti tidak! Kalau banser minta maaf nanti juga akan digoreng. Lho kan minta maaf, berarti mengaku bersalah. Mengaku bersalah bukan membakar bendera HTI, tapi membakar kalimah tauhid.

    Nanti juga akan ada yang bilang, meski sudah minta maaf proses hukum harus tetap berjalan, karena permintaan maaf tidak bisa menghapuskan tindak pidana. Kalau sudah begitu, nanti akan dikatakan, membakar kalimah tauhid itu menistakan Islam. Banser harus dibubarkan. Pelakunya harus dibawa ke penjara. Nanti akan terus dikatakan, banser penista Islam dan seterusnya.

    Kalau sudah begitu, nanti akan ditarik ke soal pilpres 2019. Kalimat, jangan mendukung calon yang didukung penista agama akan mereka teriakkan. Jadi, HTI sekarang di atas angin. Mereka akan mengelola emosi dan akan terus menggerakkan emosi massa. Sebagian sudah mulai ada yang terbakar.

    Kalau Anda punya nalar, jangan mau terprovokasi HTI. Banser memang agak ceroboh, tidak menghitung resiko yang akan muncul, tapi jangan terlarut dengan provokasi dan narasi banser membakar kalimah tauhid. Bendera HTI dan kalimah tauhid itu dua hal yang berbeda. Saya tahu banyak orang yang sulit membedakan hal itu. Memang membutuhkan kecerdasan, bukan sekedar emosi.

    Ciputat, 23 Oktober 2018

    Penulis: Rumadi Ahmad
    Ketua Lakpesdam PBNU

    Prodi Ilmu Hukum UIN Suka Gelar Pelatihan Penulisan Opini Hukum

    Suasana saat Pelatihan Penguatan Kompentensi Kepenulisan Opini Hukum.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Sabtu, 20 Oktober 2018, Pelatihan Penguatan Kompentensi Kepenulisan Opini Hukum kembali diselenggarakan oleh Program/Studi (Prodi) Ilmu Hukum Fakultas Syaria’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di mana sebelumnya, telah menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum bagi mahasiswa ilmu hukum.

    Kegiatan kali ini, Prodi Ilmu Hukum menggandeng Hicon (Law and Policy Strategic) yang sama-sama memiliki misi untuk meningkatkan daya minat kepenulisan mahasiswa. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Teknoclass Fakultas Syari’ah dan Hukum yang berkapasitas 100 orang. 

    Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Hicon (Law and Policy Strategic) yaitu Hifdzil Alim, S.H., M.H. dalam kesempatannya, Hifdzil menyampaikan “Kegiatan Kepenulisan Opini Hukum ini adalah kegiatan yang paling enak diantara kegiatan lainnya. Di mana kalian (mahasiswa) akan dapat mengontrol dunia melalui analisis yang tertuang ke dalam tulisan,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Hifdzil juga membeberkan bahwa yang dimaksudkan di atas adalah sisi positifnya. Untuk menjadi penulis yang produktif tentu tidak mudah. Oleh karena itu, perlu adanya kemauan diri sendiri dan keseriusan untuk menulis.

    “Agar tulisan itu dapat dimuat oleh media, paling tidak ada empat cara yang dapat ditempuh,” terangnya. Pertama, berfikir dan menulis, kedua, harus memiliki kerangka penulisan, ketiga, menggunakan bahasa yang mudah dikonsumsi dan dipahami oleh pembaca dan terakhir keyakinan untuk berpihak.

    Kegiatan di atas, bertujuan untuk menguatkan kembali daya nalar kritis seorang mahasiswa. Harapannya, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut tidak bingung lagi untuk berkompetisi di dunia kerja. Karena salah satu lapangan pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan adalah menulis.

    Reporter: Saiful Bari 

    Mahasiswa UNU Jogja Gelar "Posko UNU Save Sulteng"

    Suasana saat mengantar bantuan untuk Donggala dan sekitarnya.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Bencana alam, gempa bumi, tsunami yang melanda masyarakat Palu, Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 28 September 2018 belum lama ini cukup menggetarkan hati kita sebagai sesama manusia. Gempa bumi yang berkekuatan 7,4 SR itu telah mampu merobohkan rumah-rumah warga, menelan banyak korban, melumpuhkan aktifitas perekonomian masyarakat, melumpuhkan aktifitas pendidikan, bahkan aktifutas pemerintahan setempat pun lumpuh.

    Menurut salahsatu panitia, Arif Rahman, mengatakan bahwasannya atas dasar kondisi di atas, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNU Yogyakarya membuka "POSKO UNU SAVE SULTENG" yang di mulai dari tanggal 3-15 Oktober 2018. "Dari rangkaian penggalangan dana, telah terkumpul uang sebesar Rp7.067.500 (tujuh juta enam puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) dan 37 koli pakaian layak pakai. Diserahkan ke asrama Sulteng pada 19 Oktober 2018," beber Arif.

    Lebih jauh Arif mengatakan bahwa uang Rp. 7.067.500 di belanjakan barang-barang untuk kami distribusikan ke Sulteng melalui posko Pusat Asrama Sulteng Yogyakarta. Barang yang dibelanjakan, diantaranya, beras 500 Kg, makanan bayi, kebutuhan bayi, kebutuhan wanita, obat obatan ringan, mie, pop mie.

    "Barang-barang yang kami belanjakan ini kami salurkan kepada posko pusat asrama SULTENG pada hari Jum'at, 19 Oktober 2018, dari posko pusat asrama Sulteng akan di kirim barang-barangnya ke Sulteng menggunakan jasa Harkules," ucap Arif.

    Selain itu, Ahmad Samsudin selaku Ketua POSKO mengatakan bahwa adanya inisiatif penggalangan dana ini sebagai bentuk rasa peduli dan kepekaan sosial terhadap masyarakat. "Sebagai ketua POSKO, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besrnya kepada seluruh civitas akademika UNU Jogja dan seluruh para donatur yang sudah berdonasi membantu saudara-saudara kita yang ada di Sulteng. Tentunya harapan besar semoga bantuan dari bapak/ibu, saudara/sadari semuanya dapat meringankan beban masyarakat Palu, Donggela, dan sekitarnya. Selain itu juga, hal bantuan ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama manusia yang sedang membutuhkan," kata Ahmad Samsudin.

    Hal yang sama, diungkapkan Presiden Mahasiswa UNU Yogyakarta Syaiful, bahwasannya adanya posko tanggap bencana ini adalah sebagai tempat bagi mahasiswa dan civitas akademika kampus UNU untuk berdonasi kepada korban bencana di Palu, Sigi dan Donggala. "Dalam kegiatan ini kami bermaksud untuk membantu meringankan beban para korban bencana alam yang berada disana. Selanjutnya dengan adanya kegiatan aksi kemanusiaan seperti ini, kami juga ingin menyampaikan bahwa mahasiswa unu mampu berperan aktif dalam keadaan yang terjadi di masyarakat," imbuh Syaiful.

    "Hal ini kami buktikan dengan galang donasi tanpa harus turun kejalan melainkan lebih menghimpun donasi dari internal kampus. Dan hasilnya sangat mendapat respon baik dari mahasiswa lintas prodi dan angkatan. Sehingga kemudian hal ini menjadi sebuah inovasi ketika aksi aksi kemanusiaan. Karena kami gak melihat berapa nominal yang bisa kami bantu tapi seberapa besar ketulusan dan keikhlasan kita dalam membantu sesama," tutur Syaiful. (PN-001)

    Bagaimana Wajah Santri di Era Digital?

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. 
    PEWARTAnews.com -- Maaf sekali, dulu awal-awalnya santri identik dengan warga yang kudisan, makanan kurang bergizi, pakaian sederhana dan pas-pasan, kamar tidur berdesak-desak dan tak beralas, dan banyak prihatin dan riyadlohnya. Semuanya disebabkan letak pesantren di daerah pedasaan dan lingkungan kurang mendapat perhatian. Meski pun begitu, tapi mereka memiliki semangat belajar tinggi, jiwa berjuangnya handal, dan akhlaqnya sangat mulia. Orang yang menjadi santri dulu didominasi yang berasal dari pedesaan dan keluarga ekonomi menengah ke bawah. Pemenuhan kebutuhan dan penanganan kegiatan pesantren banyak bertumpu pada kemampuan orangtua dan kiai pengasuh pesantren, di samping dukungan oleh sejumlah aghniya yang mendedikasikan hartanya untuk kiai dan pesantren serta zero bantuan dari pemerintah apakah di era sebelum kemerdekan atau awal kemerdekaan hingga setengah abad-an.

    Walaupun dalam segala keterbatasan tidak sedikit para santeri mampu menjadi kiai dan tokoh masyarakat, bahkan pahlawan. Kini wajah santri di era digital menampakkan wajah yang relatif jauh lebih baik. Mereka sudah tidak lagi kudisan, cenderung kesehatan lebih baik, menu makanan sudah lebih sehat, gedung dan kamar santri sudah lebih permanen, walaupun masih ada sejumlah kecil santri yang belum terjaga kesehatannya, menu yang terbatas dan gedung dan kamar yang semi atau belum permanen. Demikian juga para santri sudah banyak yang dari kota dan keluarga yang ekonominya mampu.

    Penampilan santri kini sudah menyamai pelajar dan mahasiswa, bahkan kadang-kadang melebihi. Materi yang dipelajari santri bukan lagi gaya konvensional dengan kitab kuning secara hardcopy, tetapi kitabnya ada yang sudah berbentuk digital, walaupun yang harvopy dalam batas tertentu madih sangat diperlukan. Santri tidak lagi melulu belajar agama, tetapi juga belajar disiplin ilmu lain secara simultan. Santri tidak lagi mengaji di pesantren yang lokasinya di pedesaan atau jauh dari kota, melainkan ada pesantren yang lokasinya di kota, sehingga santrinya harus berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Santri saat ini tidak lagi dalam format mengaji di pesantren konvensional melainkan bisa mengaji melalui sistem online.

    Walaupun sistem pendidikan pesantren bisa dikreasi dengan sistem digital, pembentukan karakter santri seharusnya tetap mengacu kepada sistem tarbiyah yang memungkinkan santri memiliki keimanan yang teguh, ketaatan beribadah, smart dan berilmu yang amaliah-beramal yang ilmiah serta berakhlaqul karimah, juga miliki kemandirian dan kesadaran berbangsa dan bernegara yang baik. Yang dalam kondisi tetap perlu sekali kehadiran kiai dan ustadz/ustadzah untuk transfer values yang tidak bisa dilakukan oleh sistem digital.

    Di era kini dan mendatang, dengan kondisi santri yang sangat heterogin, potensi masalah yg perlu diantisipasi adalah bahaya narkoba (terutama santri yg berlatar belakang dari kasus kenakalan remaja) dan penyimpangan sosial (kehidupan pesantren yg kurang pemantauan). Semoga santri semakin menarik jadi pilihan anak-anak dan remaja masa depan serta orangtua. Aamiin.

    Selamat Hari Santri Nasional 2018

    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    KBLM UNU Jogja Gelar Beberapa Agenda untuk Sambut HSN 2018

    Dr. KH. Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) saat memimpin acara Mujahadah, 21-10-2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Besar Lembaga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KBLM UNU) Yogyakarta gelar beberapa rangkaian kegiatan untuk menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2018. Agenda-agenda tersebut dilaksanakan hampir satu harian penuh pada tanggal 21 Oktober 2018 di kampus UNU Yogyakarta, dengan mengangkat tema umum "Merawat Kearifan Lokal di Era Milenial".

    Agenda yang terselenggara, diantaranya, Dialog Santri dengan mengangkat tema "Refleksi Fatwa Resolusi Jihad sebagai Spirit Perubahan", terlaksana pagi hari mulai jam 08:00-11:00 WIB dengan menghadirkan pemateri Muhammad Mustafid, S.Fil., dan didampingi moderator Arif Rahman.

    Agenda kedua, "Mujahadah", dengan menghadirkan Dr. KH. Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), mulai jam 19:00-19:30 WIB. Puncak  agenda terselenggara kegiatan Malam Kebudayaan, mulai jam 20:00-23:00 WIB.

    Presiden mahasiswa UNU Yogyakarta Syaiful mengatakan rangkaian acara HSN 2018 tahun ini sebagai momentum penyampaian nilai-nilai moral untuk dijadikan bahan refleksi pembenahan diri. "Hari Santri Nasional tahun ini merupakan HSN pertama kali yang diadakan oleh Keluarga Besar Mahasiswa UNU Yogyakarta. Acara ini sangat berkesan sekali mulai dari tema yang diangkat dan serangkaian acara. Mulai dari dialog publik, muhajadah dan malam budaya. Harapannya acara tersebut  bisa menyampaikan pesan moral mengenai HSN ini melalui cerita pementasan malam budaya, dialog publik serta mujahadah," ucapnya.

    Selain itu, mahasiswa Akuntansi UNU Yogyakarta ini berpesan agar semua mahasiswa UNU mampu implimentasikan nilai santri di era mellineal. "Terlepas dari hal itu semua, kami (KBLM) juga berharap sahabat/i mahasiswa UNU bisa mengimplimentasikan nilai-nilai santri di era millenial," beber Syaiful.

    PCNU Jogja Meriahkan HSN 2018, Ketua Panitia: Santri Harus Implementasikan Tri Darma Pesantren dan Prinsip Aswaja

    Panitia HSN PCNU Kota Yogyakarta saat berkoordinasi persiapan HSN 2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Hari santri 22 Oktober merupakan refleksi dan histori perjuangan para Kiai dan kaum santri sarungan Nusantara melalui Resolusi Jihad NU Mbah KH. Hasyim Asya'ari dalam melawan penjajah pra kemerdekaan.

    Menyambut Hari Santri Nasional, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta ikut meramaikan dan memeriahkannya dengan berbagaimacam agenda, salahsatunya melalui upacara Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2018 yang merupakan puncaknya.

    Dalam menyambut HSN 2018, Ketua Panitia HSN PCNU Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. mengingatkan pada kita semua untuk membentengi diri dalam menghadapi era milenial, terutama pada santri agar sebisa mungkin mengimplementasikan tri darma pondok pesantren. "Perkembangan tekhnologi di era milenial saat ini sangat cepat dan tanpa ampun, maka disini Santri harus mampu menyesuaikan diri sekaligus menjawab tantangan jaman dengan mengimplementasikan  tri dharma pondok pesantren yaitu keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt., pengembangan ilmu yang bermanfaat dan pengabdian pada agama masyarakat dan Negara, serta dengan menerapkan prinsip-prinsip ahlussunah wal jama'ah annahdliyah, empat hal tersebut harus bisa diselaraskan agar santri dapat membuat narasi besar dalam mempertahankan NKRI dan menyatukan Indonesia," beber Solihul.

    Lebih lanjut, pemuda yang juga menjadi Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta ini membeberkan bahwa saat upacara HSN 2018 di Kota Yogyakarta nanti akan menghadirkan 4800 peserta utusan dari berbagai pondok pesantren di Kota Yogyakarta. "Upacara yang akan dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2018 di Lapangan Panahan (utara Lapangan Amongrogo) akan diikuti oleh 4800 peserta dari berbagai pondok pesantren dan utusan majelis dari empat belas kecamatan, ini adalah bukti kebangkitan warga Nahdliyin di Kota Yogyakarta," ucap Solihul.

    Advokat Muda Sugiarto Resmi Jadi Legal Klinik Caesar di Bengkulu

    Sugiarto, S.H., M.H. (kiri) usai tandatangan MoU dengan pihak Klinik Caesar.
    Rejang Lebong, PEWARTAnews.com -- Mantan Direktur LKBH PANDAWA Sugiarto, S.H, M.H., Advokat muda ini kini resmi menjadi Legal Officer pada Yayasan Al-Rava Zain Tunjang (Klinik Caesar) yang beralamat di Jl. A. Yani, No.170, RT.003, RW. 002, Kel/Des: Sukaraja, kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, setelah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Nomer: 001/MOU-S&A/IX/2018 antara Pimpinan Yayasan Al-Rava Zain Tunjang (Klinik Caesar) Markos Pahlevi, S.T., M.M. dengan Advokat/Konsultan Hukum, Sugiarto, S.H, M.H) pada tanggal 17 September 2018.

    Sugiarto mengatakan bahwa setiap kegiatan ataupun usaha seperti dalam hal ini rumah sakit atau klininik pasti ada resiko dan pasti akan selalu bersentuhan dengan bidang hukum / aspek hukum. Apalagi seperti KLINIK CAESAR ini yang sudah sangat terkenal dan dipercaya oleh banyak masyarakat khususnya di provinsi Bengkulu dan Sumatra Selatan. "Masalah hukum ini baik yang berkaitan dengan bidang Coorporate Law (Bisnis Law maupun Criminal Law), Private and Family Law (Hukum Perdata & Keluarga), Labour Law (Hukum Ketenagakerjaan), Land and Property Law (Hukum Pertanahan & Properti)," beber Sugiarto, 16/10/2018.

     Markos, selaku pimpinan Klinik Caesar membeberkan bahwa kedepannya kemungkinan akan adanya persoalan hukum pada Klinik Caesar bisa saja terjadi. "Berangkat dari hal inilah Pimpinan Yayasan Al-Rava Zain Tunjang (Klinik Caesar) mempercayakan kepada Advokat/Konsultan Hukum Sugiarto, S.H, M.H. untuk menjadi legal officernya sebagai benteng disemua persoalan hukum yang ada didalam KLINIK CAESAR tersebut," ungkapnya.

    Kiprah Sugiarto yang dijuluki advokat muda dan berbahaya ini tidak diragukan lagi integritasnya. "Sejak mahasiswa pernah menjadi ketua BEM Fakultas Hukum, Ketua Cabang PERMAHI DIY, Direktur LKBH PANDAWA, dan pada saat berkiprah didunia profesi advokat juga berpengalaman dalam menangani perkara yang hampir diseluruh daerah yang ada di Indonesia, dari semua perkara yang ditangani 90% menang," kata Sugi.

     Lebih lanjut menurut Sugiarto, menjadi legal officer dalam sebuah klinik atau rumah sakit merupakan kebanggaan tersendiri, dan tentunya tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa, kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas serta kerja prefesionalitas adalah menjadi motto hidupnya dalam menjalani profesi advokat.

    "Adapun tugas dan fungsi menjadi legal officer itu seperti memberikan konsultasi hukum pada pimpinan, menyelsaiakan masalah perdata maupun pidana, pembuatan dan/atau penyusunan kontrak perjanjian kerjasama bisnis (bisnis agreement), kontrak perjanjian kerja dengan para karyawan, legal review terhadap partners bisnis, penyelesaiaan masalah perburuhan dan masih banyak lagi aspek-aspek hukum yang selalu bersentuhan dengan setiap kegiatan klinik atau rumah sakit," celotehnya.

    Lebih jauh, Sugiarto membeberkan bahwa sering kali melihat masih banyak rumah sakit ataupun klinik belum paham didalam membuat sebuah contract  baik dari segi bentuk maupun substansi dari contract itu sendiri, sehingga sering kali menimbulkan kerugian yang cukup besar. "Oleh karena itu, peranan legal officer atau advokat yang dapat mengarahkan dan memberikan bantuan hukum dalam berbagai pendampingan hukum baik non litigasi maupun litigasi secara signifikan ditengah perjalanya suatu aktivitas. Sehingga kalkulasi dari segi ekonomi haruslah dipadukan dengan kalkulasi dari segi hukum sehingga dapat membantu dalam memajukan aktivitas atau usaha Klinik Caesar dikemudian hari," beber Sugi.

    Berangkat dari hal demikian, Advokat Sugiarto hadir untuk membantu menyelesaikan, memecahkan, serta menuntaskan segala persoalan yang terjadi pada Yayasan Al-Rava Zain Tunjang/Klinik Caesar. (001)






    Wujudkan Demokrasi: Desa Tlogo Siap Mewujudkan Pemilihan yang Jujur untuk Indonesia Sejahtera

    Sekertaris PPS Desa Tlogo, Sriyono. Foto: Akhier.


    Klaten, PEWARTAnews.com - Desa Tlogo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Desa Tlogo siap menjadi desa percontohan pemilih yang adil dan jujur.

    Sekertaris PPS Bapak Sriyono saat ditemui reporter PEWARTAnews.com di kantor Desa Tlogo menuturkan, "Kami siap mengawal dan mewujudkan pemilihan yang jujur, adil, dan bersih. Kami harap pada saat pemilihan tahun 2019 April nanti desa Tlogo menjadi contoh pemilihan yang baik," ucapnya pada hari Kamis (18/10/2018).

    Lebih lanjut Sriyono mengatakan, "Kami saat ini masih melakukan pendataan, upaya mencocokan data pemilih tetap, data pemilih tetap kita ambil dari data pemilih sementara, kemudian kami cocokan menjadi pemilih tetap. Data kami ambil dari hasil koreksi masyarakat dengan data-data yang kita dapatkan dari pemerintah desa, tentang penduduk, sekarang sudah masuk dipemilihan tetap," tuturnya.

    Data pemilik tetap adalah data yang sudah akurat melalui hasil pendataan cermat dari tim dan apabilah memang ada data yang belum sesuai dengan keadaan indentitas dari pemilih itu sendiri, maka kami masih bisa lakukan pembenahan dan perbaikan.

    Contoh misalnya kesalahan jenis kelamin, tanggal lahir tidak sesaui, Nomor Induk Keluarga (NIK) yang tidak sesuai dengan Kartu Keluarga (KK) itu masih bisa perbaikan. Baik perbaikan dari tingkat desa Tlogo maupun antar wilayah desa. Kami masih terus menerima keluhan masyarakat atas kesalahan-kesalahan diatas, terus agar kami bisa lakukan pembenahan.

    Lanjut Sriyono menuturkan bahwa Linmas dan Kepolisian setempat akan menjadi salah satu harapan utama untuk menjaga keamanan dan ketertibaan pemilihan nanti, sehingga masyarakat dapat memilih dengan cara-cara yang penuh kedewasaan, karena pesta demokrasi tetap harus diutamakan sikap kedewasaan masyarakat. "Jumlah pemilih tetap di desa Tlogo saat ini sekitar 3.220 jumlah pemilih, mereka siap menjadi pemilih nanti," tutup sekertaris PPS desa Tlogo ini.

    Semoga pemilihan April 2019 nanti benar-benar mendapat rahmat dan ridho Allah SWT, sehingga mendapatkan pemimpin yang baik, pemimpin yang bijaksana, pemimpin yang adil. Amin ya robbal aalamiin.

    Reporter: Akhier Jogja

    Momentum Hari Guru International, Guru Honorer Tambora Aksi Depan UPT Dikbudpora

    Para Guru Honorer saat melakukan negosiasi tuntutan usai melakukan aksi.
    Bima, PEWARTAnews.com – Jum'at, 5 Oktober 2018 sejumlah guru honorer Tambora melaksanakan aksi demonstrasi di depan kantor UPT Dikbudpora Tambora Kabupaten Bima. Momentum peringatan hari guru international 5 oktober ini, menjadi waktu yang tepat bagi guru honorer di Tambora untuk menyuarakan aspirasinya terhadap persoalan-persoalan fundamental pendidikan di Tambora Kabupaten Bima.

    “Dalam aksi ini, guru-guru honorer ini mempertanyakan kepada KUPTD keterkaitan dengan tidak adanya kuota penempatan CPNS untuk Kecamatan Tambora di tahun 2018,” ujar salah satu guru yang melakukan aksi Sugeng Purnomo, S.Pd yang merupakan Korwil dari SGI Kabupaten Bima di Tambora, dalam rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com 5 Oktober 2018.

    Lebih lanjut, “Bayangkan saja dari satu sekolah paling banyak ada 3 guru yang PNS itu hanya di beberapa sekolah, bahkan di sekolah saya hanya kepala sekolahnya saja yang PNS,” ujar Sugeng.

    Hal yang sama juga diungkapkan koordinator aksi Masran, S.Pd. “Sejak hari ini kami mogok ngajar sampai kapan di kabulkannya tuntutan kami baru kami mengajar lagi. Kami menginginkan keadilan di tambora ini jangan di anak tirikan,” bebernya.

    Masran bersama guru-guru honorer melihat fakta di lapangan bahwa guru-guru honorer juga tidak pernah didapatnya segala macam tunjangan bagi guru sukarela, baik yang sudah sarjana maupun yang memiliki NUPTK. “Kami sebagai guru non PNS menganggap bahwa KUPTD Kecamatan Tambora tidak bekerja dan tidak memperjuangkan nasib pendidikan di Kecamatan Tambora,” sebutnya.

    Dalam aksi itu pihak UPT Dikbudpora Kecamatan Tambora membubuhkan tanda tangan di surat pernyataan bahwa mereka akan memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan aksi. (PEWARTAnews)

    Prof. Rochmat Wahab: Menggali Potensi Spiritual menuju Transformasi Sosial

     Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. berkesempatan mengisi tausiah dalam sebuah acara “Sentuhan Qalbu” yang tayang di stasiun televisi nasional pada 21 September 2018. Tajuk yang yang diangkat “Menggali Potensi Spiritual menuju Transformasi Sosial”.

    Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengatakan, “Sebagai sunnatulah perubahan sosial tidak bisa dihindari dan berlangsung terus menerus di alam fana ini. Setiap makhluk harus bisa beradaptasi dengan baik sehingga hidupnya survive, tidak terlibdas oleh jaman. Terlebih-lebih di akhir-akhir ini, era RI 4.0, yang sering di-claim sebagai era disrupsi, era ketidakmenentuan dan kekacauan. Sekali lagi, apapun kondisinya tidak boleh membuat kita pesimis, tapi harus optimis,” bebernya.

    Lebih lanjut Rochmat mengatakan bahwa manusia harus sering lakukan eksplorasi diri untuk menemukan potensinya. “Untuk itulah sebagai makhluk terbaik dan tersempurna di antara ciptaan lainnya, kita harus terus melakukan eksplorasi diri untuk menemukan potensi kita, terutama potensi spiritual yang kita mampu membimbing dan mengarahkan hidup kita sehingga kita bisa menemukan shiraathsl mustaqim menuju tempat yang terbaik di sisi-Nya,” ucap Rochmat.

    Kata Rochmat, Potensi spiritual yang bisa ditemukan adalah karakter dan akhlaq yang baik, akhlaqul mahmudah, yang bertumpu pada qalbun salim dan pikiran yang suci dan jujur, yang dibangun sejak dalam kandungan, dibimbing sejak masa pertumbuhan dan perkembangan, dan dimantapkan hingga massa baligh dan mukallaf.

    “Karena itu menjadi kebutuhan setiap individu, terlebih sebagai orangtua, guru dan tokoh masyarakat untuk bisa memainkan peran strategis itu pada saatnya tepat. Dengan begitu kita akan mampu mepertanggungjawabkan di hadapan Tuhan atas pembentukan karakter dan pribadi anak-anak kita,” kata sang Profesor Pendidikan UNY ini.

    “Jika kita mampu antarkan anak-anak kita dengan baik, insya Allah mereka akan siap hadapi tuntutan transformasi sosial dengan produktif. Mereka akan siap hadapi jamannya dengan baik dan welladaptive,” timpal Rochmat. (001)

    Bertemu Pendukung se-DIY, KH. Ma’ruf Amin: NKRI Merupakan Negara Kesepakatan

    Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin, bertemu dengan perwakilan seluruh partai pendukung se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada hari Selasa, 16/10/2018. 
    Sleman, PEWARTAnews.com – Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kini menjadi Calon Wakil Prosiden Ir. Joko Widodo, Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin, bertemu dengan perwakilan seluruh partai pendukung se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada hari Selasa, 16/10/2018 di Balroom The Rich Jogja Hotel, jalan Magelang, Sleman, DIY.

    Dalam pertemuan yang juga dihadiri seluruh calon legislatif dari partai pendukung Joko Widodo - Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin ini, mantan Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengingatkan kepada kita semua bahwasannya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mempunyai landasan dasar Pancasila ini perlu kita terus jaga keutuhannya, karena keberadaan Pancasila merupakan titik akhir dari hasil kesepakatan yang telah dirundingkan panjang lebar oleh para funding father bangsa ini.

    “Pancasila merupakan titik temu diantara seluruh kehidupan. Tanpa Pancasila kita tidak akur seutuhnya. Karena itu, saya mengatakan Pancasila adalah titik temu.  Kalau bahasa kyainya, Pancasila adalah kalimatun sawa (titik temu). Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kesepakatan nasional, bahasa kyainya namanya aitifaqiaat wathoniyyah (kesepakatan-kesepakatan), kesepakatan sesama saudara sebangsa dan setanah air,” beber  KH. Ma’ruf Amin.

    Berangkat dari landasan tersebut, kata KH. Ma’ruf, bangsa kita tentram dalam keberagamannya, karena merupakan hasil rumusan akhir dari negara kesepakatan. “Karena itu, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 adalah kesepakatan. Berdasarkan itu lahirlah suatu negara yang dinamakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara kesepakatan,” ucapnya. (001)

    Rochmat Wahab: Kecerdasan Komprehensif Kunci Kesuksesan Raih Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat

    Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. membeberkan begitu pentingnya kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial di samping kecerdasan intelektual. “Berfungsinya kecerdasan komprehensif kunci kesuksesan raih hidup bahagia dunia dan akhirat. Kecerdasan spiritual merupakan salah satu kunci utama, di samping kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial,” beber Rochmat, 18/09/2018 di Yogyakarta.

    Lebih jauh, mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 ini berucap bahwa, “Kecerdasan spiritual yang bekerja optimal dapat menjadikan individu memiliki berbagai kemampuan, di antaranya: 1) Pikiran dan sikap visioner (dunia hingga tembus akhirat). 2) Menemukan potensi kesamaan di balik keragamaan. 3) Menemukan potensi kekuatan di balik kelemahan. 4) Menemukan potensi kesuksesan di balik kegagalan. 5) Menemukan potensi kemudahan di balik kesulitan. 6) Menemukan potensi kebangkitan di balik keterpurukan. 7) Menemukan daya tahan di balik kemalangan. 8) Menemukan peluang di balik tantangan. 9) Menukan potensi daya tahan di balik serangan,” ucapnya.

    Selain itu, Rochmat berucap tentang kebesaran karunia yang diberikan oleh Allah untuk para pengikutnya yang beriman. “Betapa besar karunia Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada hambanya, semoga semuanya itu bisa menjadi modal untuk wujudkan setiap insan dalam menunaikan tugas sucinya dalam beribadah, baik yang khas maupun yang ‘aam (wamaa khalaqtul jinna wal-insa illaa liya’buduun), juga tunaikan tugas kekhalifahan (innaa jaa’ilun fil ardzi khaliifah) dalam keseimbangan,” tandasnya. (001)

    Upaya Peningkatan Kualitas Mahasiswa, PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Selenggarakan Kegiatan English Study Club

     Foto: Suasana diskusi berlangsung

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com - Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta sukses menggelar kegiatan English Study Club Perdana, kegiatan diselenggarakan didepan Poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (17/10/2018)

    Acara English Study Club yang diselenggarakan oleh Pusmaja Mbojo-Yogyakarta berjalan dengan lancar dan sukses sampai selesai, dengan menghadirkan mentor I'in Irliana, S.Pd., "Acara perdana ini dihadiri oleh sekitar 20 lebih mahasiswa, baik ditingkat S1 maupun ditingkat S2," tutur Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta kepada Reporter PEWARTAnews.com.

    "Sebenarnya kegiatan ini sebagai bentuk upaya untuk memberikan wadah kepada semua mahasiswa yang ada di Yogyakarta, terkhusus mahasiswa Bima dan Dompu. Sehingga mereka mampu untuk melaksanakan Toefl dengan skor diatas rata-rata. Karena kebanyakan keluhan dari mahasiswa itu adalah tidak lulus pada saat tes Toefl," tutur mahasiswa Pascasarjana UGM ini.

    Lanjutnya, "Pendidikan hari ini sangat membutuhkan Bahasa Inggris, disamping untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk syarat lulus diperguruan tinggi pada pendidikan tingkat lanjut, salah satunya adalah harus menguasai seluruh test Toefl," lanjut Ilmidin.

    Foto bersama setelah acara diskusi selesai.

    Amirudin, salah satu peserta yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk mahasiswa yang akan mengikuti jenjang pendidikan tahap selanjutnya.

    "Kegiatan seperti ini seharusnya memang perlu dilakukan oleh organisasi - organisasi yang ada di Yogyakarta terutama organisasi mahasiswa Bima, seperti KEPMA Bima-Yogyakarta dan forum-forum dibawah naunganya," lanjut mahasiswa Ilmu Kepemerintahan STPMD APMD Yogyakarta ini kepada reporter PEWARTAnews.com

    Pada pertemuan kurang lebih 3 Jam tersebut, Iin Irliana Mahasiswi S2 Pendidikan B. Inggris Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta selaku pemateri (Mentor) menyampaikan bahwa saat ini bahasa Inggris sangat membutuhkan orang-orang yang berkompeten dalam berbahasa asing, "Disamping untuk membantu aktivitas belajar dan beasiswa mahasiswa, juga sebagai alat untuk berbicara dengan orang-orang asing," tuturnya.

    Lanjutnya, "Pada pertemuan perdana ini kami khususkan pada pembahasan Grammar For Toefl, agar membantu mempermudah mahasiswa mendapatkan nilai rata-rata ketika mengikuti tes Toefl. Harapannya semoga acara ini berlanjut dan dapat bermanfaat bagi kita semua," tutupnya.

    Reporter: Akhier Jogja

    Silaturrahim Kemanusiaan di Lombok, Prof. Rochmat Wahab: Kemdikbud masih Fokus pada Sekolah Negeri, Swasta Belum Tersentuh

    Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Lombok, PEWARTAnews.com – Belum lama ini, Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. bersilaturrahmi dengan para Kiai, Habaib, cendekiawan muslim, saudagar muslim, dan aktivis dakwah yang tergabung dalam Forum Peduli Bangsa (FPB) dalam agenda Silaturahim Kemanusiaan di Lombok Nusa Tenggara Barat. Agenda pertemuan ini dikoordinir oleh KH Mahfudz Syaubari ke Lombok. Agenda ini diselenggarakan dalam rangka membicarakan semua persoalan yang dihadapi oleh Lombok NTB sebagai daerah yang terkena bencana gempa bumi pada 12 dan 13 September 2018 silam.

    Dalam pertemuan ini, Prof. Dr. H. Rochmat Wahab mengatakan dengan adanya peristiwa gempa yang terjadi di Lombok, banyak pelajaran yang menjadi bahan renungan kita bersama. “Ada pelajaran yang sangat berharga, guncangan gempa yang sudah melewati seribuan gempa dengan dua gempa di atas 7 SR membuat Lombok Utara yang hampir 95% bangunan hancur merata, disusul dengan Lombok Timur dan Lombok Barat,” bebernya Prof Rochmat, sambil menyebutkan acara ini didukung oleh Santri Tanggap Bencana (SANTANA) dari Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (Yayasan SPMAA) seluruh Indonesia dan Relawan dari Ponpes Riyadzul Jannah Pacet Mojokerto Jawa Timur.

    Lebih jauh, Prof Rochmat mengatakan, “Dengan musibah yang sangat berat ini diharapkan sekali dapat dipetik hikmah yang sebesar-besarnya. Mushibah berat ini sebenarnya mengena bangsa Indonesia, namun sayang sekali belum ditetapkan sebagai bencana nasional, karena dikhawatirkan dapat berdampak terhadap dunia pariwisata. Padahal hasil pariwisata belum tentu bisa menjawab kebutuhan para kurban yang sekarang masih hidup di tenda-tenda yang panas sekali di siang hari dan dingin sekali di malam hari,” ucapnya.

    Selain daripada berkenaan dengan dunia pendidikan, kata Rochmat, Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) hadir ternyata masih berfokus pada sekolah negeri, sedangkan yang swasta belum tersentuh. Bahkan lembaga-lembaga pendidikan agama, baik sekolah/madrasah maupun pesantren belum tersentuh sama sekali, bahkan hingga kini Menag (Menteri Agama) juga belum kunjungi daerah bencana, padahal sekolah agama lebih banyak daripada sekolah umum.

    “Melihat kondisi ini perlu ada semangat bangkit yang harus dimiliki oleh semua pihak, khususnya penerintah daerah yang harus mem-back up-nya, di samping pemerintah pusat harus bangkit. Allah swt tidak akan pernah menguji hamba-Nya, kecuali yang mampu,” kata Profesor yang juga mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 ini.

    Lebih lanjut, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini mengatakan, “Selanjutnya perlu sesegera dibentuk dan dimantapkan Tim Rekontruksi, baik untuk kepentingan jangka pendek, menengah maupun panjang. Dukungan dari perguruan tinggi negeri dan swasta perlu segera diwujudkan, setidak-tidaknya dikordinasikan oleh Kemristekdikti yang bekerjasama dengan asosiasi-asosisi PT untuk adakan KKN atau Kuliah Kerja secara koordinatif ke daerah bencana. Tentu yang tidak kalah pentingnya pemberian beasiswa dan penurunan atau pembebasan biaya studi kepada mahasiswa asal daerah bencana sesuai dengan kondisi masing-masing. Setelah silaturahmi ke sejumlah Pimda dan Tuan Guru, alhamdulillah semua optimis untuk bangkit, semoga Allah swt tetap dan terus melindungi semua. Aamiin,” tambah Prof. Rochmat. (PEWARTAnews)

    Renungan Jiwa dan Kedekapan Ukhwah

    Abi Supriadi Soepomo.
    Renungan Jiwa

    Malam yang sunyi sepi mulai melantunkan sinar-sinar harapan
    Lantunan suara alam ditiap-tiap sudut waktu
    Kurenungi jiwa-ku yang tidak tahu arah kemana
    Di setiap saat, aku tidur merenungi jiwa-ku penuh kepalsuan
    Ku coba bangun di setiap tidur sejenak-ku,  melihat alam penuh dengan kerisaun

    Ku bangun dari tempat singgah itu sambil berpikir kemana wajah-ku
    Ku coba untuk berjalan untuk merenungi suara lantunan ayah ibu-ku
    Ku mulai berlari, tetapi tatapan itu di selimuti kabut awan yang penuh dengan kehinaan
    Ku berdo’a kepada kekasih-ku setiap saat supaya jiwa-ku di hadapanya

    Oh ...... kekasih ku kurindu belain-Mu
    Oh ...... kekasih-ku kurindu lantunan-Mu
    Oh ...... kekasih-ku kurindu cahaya-Mu
    Oh ...... kekasih-ku dekapan-Mu tubuhku merinding dalam kesunyian
    Oh ...... kekasih-ku menyatulah dengan jiwa ini
    Oh ...... kekasih-ku tangisan itu hanyalah suara bayi yang rindu belain-Mu.

    Yoyakarta, 30 September 2018


    Kedekapan Ukhwah

    Salam sejahtera kepada kelurga-ku
    Kurindu kasih sayang-mu
    Kurindu sya’ir-sya’ir-mu
    Kurindu nasehat-mu
    Kurindu tangisan-mu
    Kurindu canda tawa-mu
    Kurindu kesetiaan-mu
    Kurindu belain-mu
    Kurindu alam pesonan itu karna aku hanyalah bayi yang tangis di saat-saat kesunyian malam.
    Kerinduan menggelepar selalu menanti seperti bulan merindukan bintang.

    Yogyakarta, 30 September 2018


    Karya: Abi Supriadi Soepomo
    Senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Pegiat Sastra pada Pusat Studi Pemuda Nusantara (PUSPARA)






     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website