Headlines News :
Home » » Tentang Menulis

Tentang Menulis

Written By Pewarta News on Rabu, 31 Oktober 2018 | 09.55

PEWARTAnews.com -- Pekerjaan menulis adalah proses membaca secara utuh penyebab dari segala sesuatu peristiwa, merangkumnya lalu mencarikan solusi terhadap masalah tersebut. Menerjemahkan manusia (pikiran dan tindakan), alam dan kosmos supaya bisa ditransformasikan ke seluruh sistem akal individu yang membacanya. Informasi yang di tranfer sangat bergantung pada kekuatan akal pembuat informasi dalam menerjemahkan suatu realitas sosial. Selain itu, juga dibutuhkan kesiapan dan kemampuan logik dari pembaca untuk bisa memaknai setiap pesan yang ingin disampaikan penerjemah (penulis).

Seni menerjemah (penulis) dan ketelitian seseorang dalam membaca (pembaca) merupakan suatu rumus yang akan mengantarkan seseorang pada tingkat memahami. Namun disisi lain, ada kerangka transformasi pengetahuan yang hanya terfokus pada pembaca atau penulis saja. Maksudnya begini, semisal Penulis menyajikan suatu pengetahuan dengan kata-kata yang sederhana, tetapi karena adanya kemampuan logik pembaca dalam memahami, maka tidak menutup kemungkinan sajian sederhana itu akan dimaknai sebagai sesuatu yang utuh dan menyeluruh. Sebagai contoh mari kita lihat kalimat sederhana ini. “Aku mencintaimu”. Bagi mereka yang sangat teliti sesungguhnya kalimat itu bukan suatu hal yang sederhana. Aku mencintaimu adalah wujud kasih sayang seseorang kepada orang lain. Namun bisa juga bermakna sangat universal. “Aku mencintaimu” berarti seseorang itu mencintai segala sesuatu yang berkaitan dengan diri orang yang dicintai itu. Sedangkan hal yang berkaitan dengan orang yang dicintainya adalah seluruh aktifitas semesta yang terjadi di dalam maupun diluar ruang dan waktu.

Selain berbicara mengenai kekuatan pembaca. Sistem transfer pengetahuan sangat bergantung pada kemampuan penulis dalam menerjemahkan sesuatu. Semisal, seorang penulis tidak bisa membahasakan dengan sederhana suatu realitas yang terjadi, maka pembaca akan memaknai sebagai sesuatu yang sulit dipahami. Sebaliknya kalau masalah yang rumit seorang penulis bisa menerjemahkan dengan sederhana, maka pembaca akan tetap bisa memahaminya. Dari sistem inilah lahir kompleksitas metode seorang penulis dalam menyampaikan suatu realita sosial. Ada yang menyampaikan suatu realita sosial lewat karya ilmiah, novel, cerpen, babat, dongeng, maupun karya sastra lainnya.

Setelah ragam model dalam menyampaikan suatu realitas sosial itu ada, tentu akan diikuti dengan aturan yang mengikat dimasing-masing sistem tersebut. Suatu karya ilmiah tentu punya aturan main supaya bisa dikatakan sebagai karya ilmiah, novel juga punya aturan main supaya bisa dikatakan sebagai sebuah novel, cerpen, esay, dan semua karya sastra punya aturan yang mengikat diri mereka masing-masing. Inilah yang berlaku dalam karya sastra saat ini. Namun, apakah sesuatu tidak bisa di anggap sesuatu kalau perbedaannya hanya pada model menerjemah? Selain itu, apakah semuanya harus membutuhkan aturan. Padahal dalam relitas sosial ada yang butuh aturan, ada juga yang tidak membutuhkan aturan. Misal begini, orang yang mencintai dan orang yang di cintai. Bagi orang yang mencintai segala sesuatu pasti di anggap benar. Berbeda dengan orang yang dicintai,dalam narasi orang yang di cintai pasti hidup berbegai macam aturan, karena dia tau dibutuhkan orang. Menyambung keadaan itu, ada keresahan yang mendarah daging pada diri penulis. Apakah segala karya sastra harus berjalan berdasarkan aturan. Apakah penulisan karya sastra bisa dilepas sampai kealam tak terbatas (alam tampa aturan penulisan). Setelah dilepas, biarkan para pembaca yang menerjamahkannya per-kata atau per-kalimat. Modelnya sama seperti membaca ragam wujud makhluk semesta yang diciptakan oleh Tuhan.

Disini penulis mencoba menyajikan tulisan tampa aturan penulisan. Penulis menyakini makna atau pesan bisa di temukan di balik paragraf, dibalik kalimat, dibalik kata, bahkan dibalik huruf. Setiap huruf yang berderet menjadi kata sesungguhnya berbuah pada makna. Begitu juga seterusnya. Sistem penulisan seperti ini mungkin bertentangan dengan estetika penulisan. Namun menurut penulis, estetikanya adalah ketidakteraturannya. Sistem penulisan seperti ini titik tekannya pada kemampun pembaca dalam meneliti dan kompleksitas masalah universal yang disampaikan penulis. Sesungguhnya penulis dan pembaca bertatap muka dan berdiskusi lewat karya sastra tersebut. Dari landasan inilah tulisan-tulisan kami tidak terlalu mempersoalkan teknik penulisan. Namun terfokus pada keseluruhan menyampaikan makna. Pengumpulan makna ini bertujuan agar makna bisa hidup disetiap huruf yang menyusun sebuah karya sastra.

Pada akhirnya dalam sebuah karya sastra, seorang pembaca hanya mampu mengambil beberapa point. Sedangkan milliaran kata dan kalimat yang tersusun pada karya sastra itu dilupakan. Penyebabnya terletak pada kamampuan pembaca untuk membaca dan daya ingat pembaca.

Termasuk tulisan ini. Ini bukan essay, atau semacamnya. Ini adalah dirinya sendiri. Kalau mau mengenalinya pahami dia.

Biarkan mereka mencari rumahnya masing-masing, bagi siapapun yang merasa diwakili berarti mereka itulah ibu dan bapak dari tulisan itu.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pengamat Hukum, Sosial, Budaya, dan Sastrawan / Eks Ketua Umum FIMNY / Eks Ketua DPC PERMAHI DIY
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website