Headlines News :
Home » » Rizalul Fiqry: Untuk Dompu, Banjir adalah Bencana Langganan dan Duka yang Disengaja

Rizalul Fiqry: Untuk Dompu, Banjir adalah Bencana Langganan dan Duka yang Disengaja

Written By Pewarta News on Minggu, 11 November 2018 | 08.03

Rizalul Fiqry, S.Pd., M.Pd.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pemuda asal Dompu, Rizalul Fiqry, S.Si., M.Pd., (biasa dikenal dengan nama Cici), merasa gelisah dengan kondisi yang terjadi di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat-saat ini. Kegelisahan Cici pernah juga diutarakannya lewat akun media sosial facebook miliknya Rizalul Fiqry. "Untuk Bima dan Dompu, mari kita liat kontroversinya: 1. Hutan kering dan tandus Vs tuntutan peningkatan kuantitas pupuk subsidi; 2. Stop penggundulan hutan Vs tuntutan menaikkan harga jagung; 3. Sumber mata air berkurang Vs pembiaran illegal logging; 4. Hentikan peladangan liar Vs nyaris semua orang tua ingin anaknya PNS," tulisnya, 03/11/2018.

Tidak lama berselang, apa yang digelisahkan Cici terhadap Dompu, akhirnya terjadi juga banjir bandang yang melanda Desa Tolokalo dan Desa Songgajah, Dompu, NTB, Jumat (9/11/2018).

Menurut Cici (10/11/2018), saat ini Banjir yang terjadi di Dompu merupakan bencana langganan dan duka yang disengaja. "Dalilnya, branding daerah penghasil jagung, dimana wilayah sawah dijadikan perkampungan dan perkantoran sedangkan lahan jagung dipilih lahan tagalan dan perbukitan. Konsekuensi dari ikon adalah minimal mempertahankan kuantitas dan kualitas, dan sebisa mungkin meningkatkannya," ungkap pemuda yang belum lama ini sidang tesis sebagai pertanda gelar magister secara de facto telah ia raih.

Lebih lanjut, kata Cici, isu lingkungan dijadikan ban serep oleh sebagian komunitas guna pendongkrak elektabilitas untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. "Lagian, isu lingkungan seperti makanan pendamping saja.  Wajar jika yang dibahas kemudian hanyalah dampak, kemudian oleh sebagian komunitas oportinis dijadikan ajang mengisi kantong dan menaikkan elektabilitas dalam agenda politik. Benar-benar sikap yang naif dan picik," bebernya.

Harusnya, kata Cici, yang dibahas adalah gagasan dengan beragam jangka waktu pencapaian. "Sikap keras kepala, ditambah penyakit psikoekonomi adalah tersangka utama dari bencana alam dan  konflik yang membudaya di tanah Nggusu Waru," sebut Cici mengutip apa yang sempat di utarakan M. Soalihin, 2018. (MJ / PEWARTAnews)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website