Headlines News :
Home » , » Syukur dan Implikasinya pada Pasangan Hidup

Syukur dan Implikasinya pada Pasangan Hidup

Written By Pewarta News on Senin, 05 November 2018 | 13.52

PEWARTAnews.com – “Salah satu sebab diantara banyak penyebab poligami adalah adanya rasa kurang dan ingin memiliki sesuatu baru yang lebih indah dan menarik. Jika syukur dipahami dengan baik maka tak akan ada istilah rumput tetangga lebih indah dan menarik daripada rumput sendiri. Itulah mengapa, peran dan kiprah perempuan yang “syukurnya gede” amat penting bagi masa depan, keshalihan, karier dan reputasi lelakinya” (Mukaromah, 2018).

Syukur merupakan salah satu unsur yang termasuk dalam kategori/tingkatan/maqam “tertinggi” seseorang dalam beragama. Semua orang tau bahwa arti syukur adalah berterima kasih, tapi seringkali lupa untuk “memaknainya lebih dalam”. Apabila makna syukur diinternalisasikan dalam lubuk hati manusia, tentu akan berimplikasi (berdampak) positif bagi kehidupannya, yakni akan merasakan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kedamaian batin serta senantiasa peduli dan membuat sesuatu benda/orang lain berarti lebih dari apapun saat berada disisinya, saat berada dalam genggamannya. Syukur berarti menjaga dan merawat dengan sebaik-baiknya pemberian dan anugrah dari Yang Maha Kuasa.

Dengan memiliki sikap “syukur” berarti kita merasa “cukup” dengan apa yang ada didepan mata, dengan apa yang telah dimiliki dan menjaganya dengan sebaik mungkin. Merasa “cukup” bukan berarti “puas” dan berhenti untuk berproses, namun lebih pada “bagaimana mengendalikan akal pikiran dan hati”. Karena jika dituruti, sifat manusia itu tak ada puasnya, selalu merasa ingin memiliki semuanya dan memiliki segalanya. Jika tak bisa mensinergikan akal dan hati maka yang ada hanyalah merasa kurang dan menghayal (panjang angan) untuk memiliki sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah didapatkannya serta enggan untuk mensyukuri apa yang ada didepan mata. Implikasinya, kurang peduli dengan apa dan siapa yang sedang bersamanya.

Penulis yakin seyakin-yakinnya apabila hakikat syukur diketahui, dipahami dan dihayati lebih dalam maka hati akan bersih, pikiran akan jernih, batin akan tenang dan siapapun orang yang sedang bersama dengan kita, akan merasa dihargai dan dihormati keberadaan/eksistensinya.

Konteks ini dapat kita kaitkan dengan pasangan misalnya. Jalinan Suami - istri akan erat, rekat dan tentu benih cinta akan semakin subur seiring dengan berjalannya waktu karena memaknai rasa syukur. Kita merasa bahwa suami/istri kita-lah yang “terbaik” meskipun sudah tidak cantik/ganteng dan menawan seperti awal kenal. Atau bahkan ketika tahu bahwa suami/istri kita banyak kekurangan dan kelemahannya. Jika diterima apa adanya dan sabar menghadapinya maka akan terasa lebih berarti dan bermakna. Katakan pada hati masing-masing bahwa “Hanya dia wanita/laki-laki yang paling berarti lebih dari siapapun, sekalipun dibandingkan dengan artis hollywood dan korea yang aduhaiii bikin mata melek dan lidah ngeces.

Di era digital, manusia modern dengan mudahnya mengakses gambar/foto dan video yang menggairahkan baik melalui YouTube, Instagram, Twitter maupun Facebook. Jika tidak “hati-hati” dalam menggunakan jari, maka akan berabe. Karena “jari” kita adalah harimau kita. Zaman sekarang apa sih yang tidak bisa dideteksi oleh teknologi? Segala tingkah laku dengan mudahnya direkam oleh server. Di instagram misalnya, kita akan mudah melihat following orang yang kita ikuti, tak hanya itu juga bisa mengikuti jejak following kita, termasuk ketika “menyukai” foto/video. Nah ini yang berbahaya, bagi keberlangsungan hubungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu diuji oleh mata. Kadang secara tidak sadar, dia nge-like dan meninggalkan komentar” foto perempuan yang cantik-cantik”. Berdasar pengamatan empirik yang saya lakukan, mata laki-laki itu lebih tajam daripada perempuan. Laki-laki bisa menahan untuk tidak berbicara, namun dia tak bisa menahan diri manakala berinteraksi, melihat dan bersinggungan dengan wanita, apalagi jika wanita itu cantik parasnya. Dalam bahasa yang kasar, mohon maaf sebelumnya terkadang laki-laki yang LDR dengan pasangannya, akan melampiaskan hasrat seks-nya melalui media. Pun tak hanya yang LDR, terkadang yang sudah beristri pun masih sempat mengkonsumsi, ngelike foto-foto yang tidak senonoh. Mengapa harus seperti itu? Ternyata dalam kajian psikologi, ada penyakit abnormal namanya voyeuris. Jika memang syukur sudah tertancap dalam hati, maka akan menjadikan pasangan hidupnya terbaik dan sempurna dari siapapun. Sehingga tak ada istilah “rumput tetangga lebih indah dan menarik daripada rumput sendiri”. Salah satu sebab diantara banyak penyebab poligami adalah adanya rasa kurang dan ingin memiliki sesuatu baru yang lebih indah dan menarik.

Demikian pula dengan seorang perempuan. Dia tak akan mengeluh dan grusa-grusu apabila diberi nafkah yang tidak sesuai dengan espektasinya. Yang ada hanyalah nrimo dan melayani suaminya “sama” alias tak berbeda antara tanggal muda dan tanggal tua. Yang cantik, doktor, hafal qur’an, pinter kitab itu banyak dan ada dimana-dimana. Namun wanita yang tingkat “syukur-nya” tinggi, menenangkan, meyejukkan dan mendamaikan saat hati laki-laki gundah gulana, ini yang masih sulit ditemui apabila tidak dilatih sejak awal. Buktinya, banyak laki-laki yang menghalalkan segala cara termasuk merampas hak orang lain demi memenuhi kebutuhan si istri. Tak lain karena cinta yang membutakan. Seorang laki-laki tega sikut-sikutan dan saling menyakiti dalam dunia kerja, hanya karena ingin punya gaji banyak dan reputasi yang menonjol tanpa menghiraukan keadaan orang lain demi membahagiakan istrinya. Maka dari itu, peran dan kiprah istri yang “syukurnya gede” amat penting bagi masa depan, keshalihan, karier dan reputasi suami.

Begitupula dengan laki-laki dan perempuan yang sedang menjalin asmara. Kadang, logika bermain dengan “untung dan rugi”. Sebagai contoh, ada seorang (laki dan atau perempuan) yang sedang berjalan ditengah taman. Disekelilingnya ada banyak bunga yang anggun, indah, wangi dan menawan. Namun disisi lain perjalanan masih sangat panjang, sedang seseorang tersebut telah menemukan kebahagiaan pada satu bunga. Tapi logika mengatakan, ah perjalanan masih sangat panjang, bisa jadi didepan sana ada banyak bunga yang lebih baik daripada bunga yang memikat hatimu saat ini. Sepanjang perjalanan masih disibukkan dengan keyakinan seperti itu, hingga diujung taman dia tidak menemukan dan memetik bunga satupun. Artinya, kadang manusia terlalu menuntut dan mengharuskan diri untuk mendapatkan sesuatu yang sempurna dan kurang puas dengan apa yang saat ini didepan mata, padahal yang berada didepan mata inilah yang kita butuhkan, yang setia meyakinkan dan mendoakan ditiap langkah kita. Namun imajinasi kita masih terus mencari bayang-bayang dan “sesuatu” yang lebih segalanya dari apa yang telah ada disisi kita yang belum tentu bisa kita dapatkan. Bahkan belum tentu bisa menenangkan, mengerti dan memahami serta menerima diri kita apa adanya.

Maka, ingatlah selalu nasihat dari BJ. Habibi bahwa “jangan mencari yang sempurna, namun cari dan pilih-lah seseorang yang membuat diri kita lebih berarti dari siapapun. Siapa dia ? Menurutku, dia adalah orang yang mengetahui kekurangan dan kelemahan kita, namun masih setia dan tetap meyayangi dan menghormati diri kita. Seseorang yang lebih baik akan selalu ada, namun orang yang “klik” dengan kita-lah yang sulit didapatkan. Maka, jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang sedang berada didekatmu, yang mempercayakan segalanya kepadamu, dan yang sedang berlindung pada “hatimu”.

Sekali lagi, bahwa syukur dan peduli adalah kuncinya.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website