Headlines News :
Home » , » Menjadi Terhormat

Menjadi Terhormat

Written By Pewarta News on Kamis, 07 Maret 2019 | 00.00

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Pada hakekatnya orang yang bekerja ingin menyelesaikan hajatnya dengan baik. Dia ingin bekerja alamiah dan normal. Dia ingin bekerja dengan disiplin. Dia ingin bekerja dengan fokus dan produktif. Dia ingin memenuhi tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan rambu-rambu. Dia ingin tunjukkan etos kerja. Dia itulah yang berhak sebagai pekerja terhormat. Untuk menjadi pekerja terhormat tidaklah mudah. Banyak faktor yang ikut menentukan. Buktinya, ada sejumlah pekerja yang sering dapat sanksi dan hukuman. Bahkan dipecat. Untuk bisa terhindar dari sanksi dan memperoleh reward dan rekognisi, sehingga mejadi pekerja terhormat, sangat diperlukan perubahan mindset, keberanian, dan kemampuan bertindak.

Respek hakekatnya tidak bersifat given, melainkan dapat diupayakan dengan kemampuan, prestasi gemilang, dan kebiasaan baik. Selain daripada itu ada sejumlah karakteristik yang menempel pada pekerja terhormat, di antaranya (1) sabar, (2) berperilaku respek, (3) mendengar dengan baik, (4) suka membantu, (5) tidak suka bikin alasan, (6) hilangkan kebiasaan marah, (7) suka memaafkan, (8) berperilaku ramah, dan (9) berkeinginan kuat untuk berubah. Pekerja terhormat selain memiliki sifat-sifat tersebut, mereka seharusnya memiliki komitmen agama yang baik dan berakhlak mulia. Keteladan perilaku yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi pekerja terhormat. Terhormat sejatinya tidak terbatas di hadapan orang atau pihak lain, melainkan yang lebih penting dan bermakna di hadapan Allah swt. Radliyallahu 'Anhum Waradluu'an (QS, Al Bayyinah, 8).

Peter Dayseme (2019) kemukakan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh respek, yaitu: (a) menunjukan rasa percaya diri, (b) berusaha menyelesaikan tugas tepat waktu, (c) menunjukkan kerendahan hati, (d) sabar terhadap orang lain, (e) respek terhadap teman se team sekalipun tidak menyukai, (f) berusaha tidak terlibat gossip teman kantor,(g) berusaha bertindak inklusif, (h) suka dihargai, (i) sharing dengan kolega atau mitra kerja, (j) berusahalah bersih dan tertata, dan (k) selalu profesional sekalipun di acara party untuk kantor. Walau respek dapat diupayakan, kita tetap harus menjadikan orang lain menjadi subjek, bukan objek. Dengan begitu mereka tetap respek kepada kita, karena kita terus menjaga sikap humanis. Jangan sampai timbul kesan bahwa mentang-mentang membayar tuntas semua yang diperlukan, sehingga merasa berhak mengatur hajat bersama. Juga bisa terjadi, bahwa mentang-mentangberkuasa, tidak mau mengerti kesulitan bawahan atau orang lain, padahal kekuasaan tidak bersifat abadi.

Mengapa kita kurang mendapatkan respek dari orang atau pihak lain. Setidak-tidaknya Jayson DeMers, (2015) mengemukakan ada sejumlah alasan yang menyebabksn respek orang lain menurun, diantaranya: (1) pimpinan tidak mengijinkan bawahannya untuk tunjukkan kekuatannya (ignoring); (2) hindari konflik, karena ketidakberaniannya menyatakan kebenaran; (3) Tidak menghargai staf (bawahan); (4) Tidak kredibel; (5) Tidak respek kepada orang lain; (6) Berlebihan menyalahkan orang lain; (7) Tidak peduli kepada kehidupan orang lain; (8)Tidak menyadari diri sendiri; (9) Bukan menjadi komunikator yang baik; (10) Tidak boleh menuntut sempurna.

Bekerja hakekatnya bukan mengejar materi sebanyak-banyaknya sebagai simbol keberhasilan. Melainkan bertindak professional dan tunjukkan komitmen total, semata-mata aktualisasi diri dan wujudkan amanah untuk mendapatkan hasil yang berkah. Jika demikian respek dapat diperoleh dengan mudah. Ingat Hadits Rasulullah saw, MAN LAA YARHAM LAA YURHAM yang artinya, “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak dikasihsayangi”. Karena itu mari kita jaga diri kita masing-masing dengan hiasan akhlak yang mulia, sehingga hidup terjaga. Dalam posisi apapun dan di manapun, kita terhormat sebagai wujud syukur kepada-Nya. Aamiin.

Bandung, 6 Maret 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website