Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Anak-Anak Peradaban

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Anelies, kepada anak-anak itu kita mengabdi. Menjaga mereka supaya tidak kehilangan masa kanak-kanaknya dan dari keroposnya fitrah mereka. Menjaga Keutuhan semesta bermain mereka supaya tidak direngguk oleh keserakahan dan dicemari  bingarnya zaman. Kalau kita tidak turun tangan, maka lingkunganlah yang menjadi guru bagi mereka. Tetapi kita patut khawatir sekarang, bahwa keadaan sudah berubah tampa bisa kita kendalikan. Lingkungan yang dulu dengan sekarang berbeda adanya. Alam yang mulai menua serta ranting daun jati yang berguguran. Pertanda apa itu. Pertanda anak-anak kita sudah tidak dipedulikan lagi oleh alam, tanah yang dulu setia menemani mereka saat bermain kini berganti dengan wajah erotisnya game dalam handphone. Dedaunan dan binatang-binatang kehidupan yang bermain dengan mereka kini berubah menjadi komoditi yang diperdagangkan oleh manusia.

    Bebatuan dan air surgai tempat mereka berenang perlahan-lahan tersisih dari pandangan mereka. Sekolah kehidupan dan universitas alam telah berganti menjadi tempat perdagangan lintas manusia. Sawah yang luas dengan hijaunya bibit padi kini berubah menjadi rumah-rumah megah tampa kompromi. Lalu sejenak kita akan bertanya, Kemana lagi mereka bermain? Kalau lahan dan alam tidak tersedia dengan baik oleh kita sebagai orang tua mereka.

    Pada musim yang tidak menentu ini, kita sangat ketakutakan apabila mereka bermain dengan tanah, bermain dengan hujan atau di ajari langsung olah alam. Sebab kita beranggapan bahwa itu adalah aktivitas yang sia-sia dan terlihat kotor. Anak-anak itu sudah kita penjarakan di balik tembok rumah dengan bekal  televisi dan handphone dari kita. Membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang individual dan komsumeristik. Masa kecil mereka tidak pernah di ajarkan tentang dunia luar seperti kita.

    Menyelamatkan mereka adalah menyelamatkan peradaban yang akan datang, dan cara menyelamatkan mereka dengan tidak dihapusnya ingatan masa lalunya, tidak dihapusnya permainan-permainan yang bernilai kekeluargaan dan gotong royong dalam lingkungan mereka, serta tidak diganti dunia mereka dengan perabot zaman yang nir akan nilai dan keindahan. Biarkan kemurnian yang dititipkan oleh Tuhan kepada mereka diwaktu kecil tidak dihilangkan oleh lingkungan yang kita buat bersama. Mari kita jaga bersama masa bertanya dan menirunya dengan hal baik yang kita desain bersama.

    Anelies, jiwaku dan jiwamu menyatu disemesta, dihadapan seluruh makhluk kita berikrar dan anak-anak kita akan lahir di cakrawala. Mengembaralah jauh sampai engkau merindukan pangkuan ibumu.

    Anelies, jangan racuni dunia mereka. Jika tanganmu tergores dengan pisau maka anak dalam kandungamu akan merasakan goresan itu, jika aksara kasar para suami kepada istrinya terjalin dengan baik maka anak-anakmu akan menirunya. Semua teori sosial tidak berlaku dalam kehidupan mereka, ilmu simbolik dan eksak bukan itu yang mereka inginkan. Kumpulan syair dan keindahan bahasa menjadi percuma, sekawanan kemewahan dan ketercukupan adalah jurang pemisah bagi mereka dengan dirinya. Mereka hanya butuh kasih sayang, melimpah ruangnya kaharmonisan kasih dari orang tua mereka, lingkungannya dan alam semesta. Cintalah yang membuat mereka tumbuh tetapi kebencian menjadikan mereka lumpuh. Lumpuh dari kamanusiaan dan kemajuan nalar, serta lumpah dari etika dan spiritual.

    Anelies, perumpaan samudra, anak-anakmu adalah semua makhluk yang menggantungkan hidupnya disamudra tersebut. Kalau samudra memberikan makan kepada mereka sesuatu yang buruk, maka buruklah mereka. Begitu juga sebaliknya. Anelies, Samudra adalah kita, lingkungan dan alam semesta.

    Selamatkan mereka dari rasa keterasingan dengan dirinya, keterasingan dengan lingkungannya, dan keterasingan mereka dengan alam semesta. Tutup televisimu dan matikan handphonemu sebentar.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum

    Menyikapi Kekalahan

    PEWARTAnews.com -- Kekalahan pada dasarnya lebih bersifat kepastian. Kekalahan merupakan suatu kemenangan yang tertunda. Kekalahan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjuangan menuju kemenangan. Kekalahan merupakan sesuatu yang harus kita terima, untuk dijadikan media refleksi untuk menemukan jalan menuju kemenangan.

    Kekalahan bisa lebih berharga karena bisa dekatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, daripada kemenangan yang bisa menjadikan sombong dan takabbur, sehingga perlancar menuju Kuffaar. Kekalahan harus menjadikan lebih tegar dan bangga jika dilakukan dengan sportif daripada kemenangan yang diraih dengan cara yang tidak sportif.

    Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menghadapi kekalahan (Chad Howard (2014), di antaranya: (1) Menerima alasan kekalahan, (2) Merasa bahagia, puas dengan tidak memperoleh penghasilan hidup dari usaha sendiri, walau bisa sedih bagi yang idealis,  (3) Selalu ada pilihan untuk jalan yang mudah menuju sukses, (4) Mencoba untuk mencari sukses secepatnya, (5) Hindari gossip tentang kekalahan, karena tidak menguntungkan, (6) Complain jika punya alasan untuk melakukannya, (7) Yakini dengan sungguh-sungguh bahwa kita berhak mendapat kesempatan istirahat, (8) Memikirkan bayangan tertentu adalah segala-galanya (jangan sampai kita dikendalikan oleh orang lain tentang ukuran kemenangan, karena dengan kita sudah berbuat sesuatu itu sudah bisa disebut sukses/menang), (9) Bandingkan diri kita dengan orang lain, (10) Yakinilah bahwa ketika dilahirkan di dunia kita berhak mendapat kebahagiaan dan kesuksesan.

    Jika kita perhatikan benar tentang kekalahan, maka hampir semua orang akan menghadapinya, bisa hari ini, besuk, atau minggu, bulan atau tahun depan dan seterusnya, karena sehebat apapun pada akhirnya juga kalah. Karena itu harus selalu   belajar menerima kekalahan, terlebih-lebih jika tidak ada kesalahan atau pelanggaran dalam proses dan penentuan hasil secara berarti.

    Ingat bahwa kekalahan yang sifanya duniawiyah, bukanlah segala-galanya, boleh jadi di mata Tuhan, justru menjadi pemenangnya. Karena itu dalam berbagai percaturan hidup, kita perlu  bertumpu  pada acuan atau parameter kebenaran yang tertinggi, yaitu kebenaran konstitusional dan transendental. Jika demikian halnya, maka ketika terjadi kekalahan, kita harus terima dengan ikhlas dan menghormati hasilnya.

    Kita berdoa, semoga para pihak terkait dengan hajat besar bangsa, terutama Agenda Pemilu 2019 dalam setiap membuat keputusan seharusnya selalu comply dengan peraturan dan perundang-undangan dan prinsip-prinsip keadilan. Allah swt berfirman untuk kita  berbuat adil, yaitu  “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah:8).

    Jika dalam menentukan kemenangan dan kekalahan itu bertumpu rasa keadilan sebagaimana Allah swt,  insya Allah kekalahan bisa diterima dengan ikhlas dan baik. Jika terjadi sebaliknya, makes dibutuhkan solusi lain yang membuat pihak-pihak terkait bisa menerima dengan ikhlas. Artinya bisa jadi dibutuhkan pengorbanan besar untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. Jangan sampai mengakibatkan korban yang tak perlu.

    Perlu dimaklumi bahwa bicara soal kekalahan dan kemenangan itu bisa didekati secara akademik, politik, atau hukum. Idealnya ketiga-tiganya sama, tapi itu tidak mudah. Lihat konteksnya, untuk persoalan tertentu bisa pertimbangan politik lebih dominan, persoalan yang lain bisa pertimbangan Hukum atau Akademik. Semuanya dihitung berdasarkan masalahah dan madzaratnya. Bagaimana menurut Anda?


    Yogyakarta, 17 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pustaka Semesta

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Pustaka Semesta merupakan salah satu fasilitas yang berada di tempat wisata Bombo Ncera. Dan ketika kita mendengar kata pustaka tentu didalamnya menyimpan banyak buku dan teks-teks yang dianggap kompeten untuk merumuskan masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Dibalik suatu perpustakaan pada umumnya pasti didalamnya terdapat deretan buku-buku, namun kenyataannya berbalik dengan Perpustakaan Semesta yang ada di tempat wisata Bombo Ncera. Bisa di bilang, perpustakaan semesta hanya tersaji beberapa buku-buku dan itupun terbatas.

    faktornya banyak, kenapa buku yang tersaji di situ terbatas. Pertama, karena bukunya memang tidak ada. Kedua, setelah bukunya tersaji kemudian hilang. dan Ketiga, kurangnya pastisipasi dari berbagai elemen untuk menyumbang buku.

    Satu sisi, kita sangat sadar bahwa kemanjuan suatu bangsa salah satunya dilihat dari berkembangnya pendidikan yang ada. Sedangkan maju dan mundurnya suatu pendidikan itu sangat bergantung pada banyaknya buku yang tersedia. Meskipun, banyak atau sedikitnya buku bergantung pada kemauan setiap orang untuk membaca buku. Mengenai kemauan kita posisikan dibagian kedua, sedangkan bagian pertamanya adalah tersedianya fasilitas yaitu buku.

    Namun, pustaka semesta tidak tergerus karena persoalan sedikit dan banyaknya buku. Sebab pustaka tersebut hanya terfokus untuk menawarkan membaca, tidak saja menawarkan buku. Kalau fokusnya membaca, berarti tidak hanya buku yang dibaca. Tetapi aktifitas membaca merupakan proses memaknai seluruh interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, alam dengan makhluk, maupun makhluk dengan Tuhan, semuanya harus dibaca. Alam Bombo Ncera menyajikan itu, dan ditempat itu kita dapat menggali lebih jauh komunikasi yang dilakukan oleh udara, air, tanah, batu dan pepohanan. Mulai dari yang bergerak sampai yang tidak bergerak, dari yang melata sampai yang terbang.

    Membaca bagaimana semut bisa bekerja sama sehingga dapat mengangkat suatu materi yang di anggap berat oleh bangsanya. Membaca air yang begitu tabah menjaga manusia dari kehausan, membaca pohon yang begitu gigih untuk meneduhkan manusia lewat rindangnya, membaca tanah yang begitu setia dalam melayani umat manusi, dan membaca tumbuh-tumbuhan yang begitu ayu dan merona untuk keberlangsungan ketenangan manusia. Dan kesimpulannya, Pustaka Semesta menawarkan untuk membaca seluruh makhluk dan materi yang tersaji di Bombo Ncera supaya kita bisa menghargai dan menghormati satu sama lain. Karena alam bisa hidup tanpa manusia, sedangkan manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

    Berarti kalau konteksnya harus membaca segalanya, maka sudah sesuai dengan namanya yaitu Pustaka Semesta.

    Berwisatalah, tapi jangan lupa berkunjung ke dalam diri setiap makhluk yang hidup di tempat wisata tersebut.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Pemerhati Daerah / Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum

    Menghadapi Kemenangan

    PEWARTAnews.com -- Kemenangan itu umumnya menjadi harapan dan kenginan setiap orang, terlebih-lebih yang memiliki potensi unggul. Kemenangan bisa menjadikan kita lebih terhormat dan mendapatkan penghargaan yang kadang-kadang melebihi dari wajar. Kemenangan bisa memberikan privaledg kepada kita yang meraih kemenangan. Tidak hanya berupa material, tapi juga bisa berupa non material. Begitu pentingnya arti kemenangan, sehingga banyak orang ingin menggapainya.

    Terhadap kemenangan ada berbagai sikap. Pertama, menyikapi kemenangan dengan banyak syukur. Bahwa di samping kemenangan itu bisa diraih dengan program dan usaha yang keras, tetapi juga atas karunia dan pertolongan Allah swt. Barang siapa yang mensyukuri nikmat, maka akan ditambah nikmatnya (QS Ibrahim : 7). Kemenangan benar-benar dijaga dan bisa dipertanggungjawabkan untuk selamanya. Kemenangan dipersembahkan kepada sebanyak mungkin pihak terkait, sehingga kemenangan bisa dirasakan banyak orang.

    Kedua, menyikapi kemenangan dengan biasa-biasa saja. Karena setiap percaturan dalam hidup itu selalu saja ada yang menang dan ada yang kalah. Kemenangan sudah merupakan langganan saja. Bukan sesuatu yang istimewa. Semua orang sudah bekerja sesuai dengan riilnya. Semua tidak pernah persoalkan kemenangan yang terjadi dan tidak timbulkan gejolak apapun.

    Ketiga, menyikapi kemenangan dengan bersikap berlebihan atau berkekurangan. Berlebihan bahwa kemenangan itu semata-mata hasil ikhtiar sendiri tanpa mengakui dukungan dari pihak lain, juga tanpa mengakui pertolongan Allah swt atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Kurang menghargai posisi percaturan, karena sedikit kemampuannya saja sudah menjadi yang terbaik, apalagi kalau kerahkan semua kemampuannya. Di sini diam-diam muncul rasa ujub, sombong atau takabbur yang tidak dalam pergaulan dan bermasyarakat.

    Keempat, menyikapi kemenangan dengan penolakan. Menolak adanya kemenangan yang diraih dengan tidak sportif dan menghalalkan berbagai cara yang dilakukan baik disadari atau tidak disadari. Baik oleh dirinya sendiri atau oleh timnya. Inilah salah sati contoh sikap terpuji dalam menyikapi kemenangan. Jika tidak, maka hanya soal waktu. Ingat firman Allah swt, (QS Al Isra’:81) yang Berbunyi “waqul jaa-alhaqqu wa zahaqal baathil, innal baathila kaana zahuuqa”,  yang artinya “Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap, sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap“. Jika kemenangan diraih dengan cara yang batil, maka bisa jadi berakibat lain di  kemudian hari. Maka menolak kemenangan menjadi sikap yang lebih baik dan terpuji.

    Kelima, menyikapi kemenangan yang diraih sesuai dengan aturan yang ada dengan penolakan. Kemenangan itu memang tidak selalu dapat dicapai dengan prosedur yang sempurna, sehingga ada saja kekurangan dan kesalahan yang terjadi. Selama kekurangan dan kesalahan bahkan kecurangan tidak terjadi secara menyeluruh, terstruktur, dan masif serta dibenarkan oleh juri atau pengawas/Dewan Etik, maka hasil kemenangan seharusnya diterima. Namun tetap saja pada awalnya ada yang menolak keputusan kenenangan ini. Dalam kondisi seperti ini, sikap sportif sangat diperlukan.

    Kemenangan idealnya harus dicapai sesuai dengan aturan yang ada, sehingga hasilnya bisa menyenangkan semua pihak, baik yang menang maupun yang kalah, serta pihak-pihak lainnya yang berkepentingan. Namun dalam prakteknya, tidak selalu kita taat azaz. Untuk menghadapi percaturan apapun sangat dibutuhkan kejujuran, keadilan, kedewasaan dan sikap wisdom dari semuanya sehingga terhindar dari biaya sosial yang tinggi. Siapapun yang menang dalam percaturan apapun, perlu pengendalian diri, untuk tetap rendah hati, humble, tawadlu’, dan jauh dari sikap “ngasorake”, merendahkan yang lain. Semoga dapat tercipta kedamaian. Gimana menuru Anda?


    Yogyakarta, 16 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bahasa Indonesia dan Makna Tersembunyi

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Makna kata 'Kekasih dan aku' yang digabungkan menjadi 'kekasihku'.

    Bahasa Indonesia sebenarnya sangat rumit untuk dipahami, meskipun kebanyakan dari kita menganggapnya sebagai hal yang paling mudah dalam mempelajarinya. Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang akan mengantarkan kita untuk mensyukuri keragaman dalam kemajemukan di negeri ini. Dengan mendalami bahasa sesungguhnya kita sedang menelusuri kembali identitas nasional dan lokal kita sebagai warga negara Indonesia. Selain itu, dengan mendalami bahasa maka kita akan menemukan kedalaman ketika berfikir, bertutur dan bertindak. Nah, Pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba menemukan alasan kenapa kata-kata dalam bahasa Indonesia harus digabungkan (berdasarkan morfologi kata dan makna).

    Teman-teman yang budiman, tentu kita akan bertanya kenapa dua kata dalam bahasa Indonesia pada waktu tertentu harus digabungkan atau ditulis serangkai,  kenapa pada waktu tertentu juga dua kata harus berjarak, atau kenapa beberapa kata ketika dirangkaikan harus dihilangkan salah satu huruf yang terletak dalam kata terakhir pada dua kata tersebut. Semisal: Kekasihku, ibuku, ayahku, pamanku, kerbauku, milikku, milikmu, dan sebagainya. Kenapa kata-kata itu harus digabungkan dan dihilangkan salah satu huruf yang terletak di posisi pertama pada kata terakhir 'aku'. Menurut penulis, tentu ini bukan hal yang mudah di untuk telanjangin. Dan dibalik penggabungan itu ada orientasi psikis-humanis yang hidup antara subjek dan objek atau antara subjek dengan subjek dalam konteks itu.

    Menggali Makna

    Kalau dilihat berdasarkan hukum bahasa EYD (Ejaan Yang di Sempurnakan) maka kita akan menemukan suatu alasan sederhana bahwa tujuan kata itu digabungkan dikarenakan aturan dalam berbahasa. Tentu alasan itu sangat mudah kita terima secara bersama, tapi sebagai makhluk yang berfikir alangkah baiknya kita harus menemukan alasan yang lebih dari tujuan penggabungan tersebut. Tidak hanya selesai di perosedur formil semata. Kenapa kita harus mencari makna lebih, sebab bahasa hadir sebagai alat bukan tujaun. Bahasa hadir sebagai sesuatu yang mewakali sesuatu di semesta ini. Baiklah kita lanjut pengembaraannya, Kenapa dua kata tersebut diatas harus digabungkan. Menurut kami supaya sesuatu tidak berjarak lagi dengan sesuatu, maksudnya supaya subjek dengan objek tidak berjarak lagi antara satu sama lain. Atau antara subjek dengan subjek menyatu lewat bahasa. Ketika masih berjarak berarti sesuatu dengan sesuatu masih dikatakan sesuatu yang berbeda. Menyatu itu bukan fisik tetapi psikis atau segala hal yang bersifat abstrak. Sederhananya begini, kata kekasihku berasal dari dua kata yaitu kata kekasih dan aku, setelah digabungkan menjadi kata kekasihku. Kata kekasih ditujuhkan kepada seseorang yang dikasihi, dan supaya subjek dan objek yang saling mengasihi itu benar- benar menyatu maka kata tersebut harus bergabung dan tidak boleh berjarak. Kenapa begitu, sebab penggabungan kata ini secara komunikasi merupakan representasi dari bahasa kemesraan dan eksistensi kata. Contoh kalimatnya, datanglah kekasihku, aku merindukanmu. Kata 'kakasihku' dan 'merindukanmu' yang di rangkai tersebut bertujuan supaya seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut dengan objek kalimat itu menyatu lewat bahasa. Menyatu karena tidak berjarak.

    Tujuan Salah Satu Huruf yang Dihilangkan

    Katika kata kekasih dan aku dirangkai maka akan  menjadi 'kekasihku'. Tetapi setelah dirangkai kita bisa melihat salah satu huruf pertama dalam kata aku itu ada yang hilang yaitu huruf 'a'. Kenapa huruf a itu hilang. Dalam aturan berbahasa ketika kata aku dirangkai dengan kata benda maka kata 'aku' akan menjadi 'ku'. Itu aturanya. Kita tinggalkan aturan berbahasa, kita mencari ke makna yang lain, tujuan penggabungan itu secara filosofis, dalam hal menyatu tentu dua subjek tidak boleh sama-sama kelihatan, kenapa begitu. Ibaratkan seseorang yang sudah menikah, ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan berarti keduanya sudah menyatu. Atau dalam istilah romantisnya seorang laki-laki telah menemukan tulang rusuknya yang hilang. Dan setelah menikah laki-laki menjadi simbol penyatuan sedangkan perempuan secara langsung melebur dalam diri laki-laki. Berarti sebenarnya dalam posisi ini, antara laki dan perempuan yang sudah menikah adalah satu, cuman yang membuatnya terpisah adalah cara pandang kita. Dan setelah menyatu sesuatu yang lain harus ada yang di buang supaya menghilangkan entitas nya sebagai sesuatu. Begitu juga dengan kata 'kekasihku' yang dihilangkan salah satu huruf dalam kata 'aku' tersebut.

    Kalau Kata 'Kekasihku' Berjarak

    Ketika kata kekasihku kita tulis berjarak menjadi kata kekasih dan aku maka akan ada kerancuan dalam pengucapannya. Selain tidak ada aturan dalam berbahasa, akan tetapi juga antara sesuatu dengan sesuatu yang lain masing menjadi orang lain. Ketika aku dan kamu menyatu maka akan menjadi kita, tetapi ketika aku dan kamu tidak menyatu maka tetap akan menjadi aku dan kamu.

    Memaknai orientasi penggabungan kata ini tidak hanya berlaku untuk kata kekasih dan aku. Namun juga berlaku untuk semua kata yang konteknya sama. Seperti, sepedaku, pacarku, mobilku, milikku, milikmu, punyaku dan punyamu dan sebagainya.

    Selamat berburu wahai pengembara. Jangan percaya, kita hanya perlu untuk ragu. Kalau salah, wajarlah namanya juga pendapat. Kalau benar itu yang tidak wajar!

    Walhualam Bishawab.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum

    Ramadan Syahrut Tarbiyah

    PEWARTAnews.com -- Ramadan disebut Syahrut Tarbiyah (Bulan Pendidikan), karena Ramadan merupakan strategi komprehensif yang diharapkan mampu menghasilkan insan Kamil, tinggi taqwanya, cemerlang pikirannya, terkendali emosinya, terjaga ukhuwwahnya, dan sehat jasmani dan rohaninya. Jika tidak terjadi perubahan dan kemajuan yang berarti pada aspek-aspek itu, maka dipertanyakan amaliah Ramadannya. Wujuduhu ka adamihi, adanya seperti tidak adanya. Rambu-rambu untuk mengawal dan melaksanakan ibadah Ramadan memang sudah ada, namun akhirnya bergantung pada subjeknya, pribadi umat Islam sendiri. Apakah mereka ikuti dengan setia atau tidak?

    Ramadan sebagai bulan pendidikan, dapat di dimaknai dan ditandai dengan aktivitas yang mampu mendorong peningkatan ketakwaan, kemampuan berpikir inovatif, kemampuan pengendalian diri, kemampuan relasi sosial, dan kesehatan jasmaniah dan ruhaniah. Ramadan meningkatkan ketakwaan dapat dilihat pada peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah khas yang tidak terjadi pada bulan yang lain, tapi di bulan Ramadan, misalnya puasa wajib, shalat Taraweh (qiyamul lail), tadarus Al Qur-an, i’tikaf, ZIS (zakat, infaq, shadaqah).

    Ramadan meningkatkan kemampuan berpikir inovatif. Turunnya firman pertama, 5 ayat QS Al ‘Alaq, memberikan perintah membaca (IQRA’) baik ayat-ayat qauliyyah maupun ayat-ayat kauniyah. Di sini memberikan isyarat bahwa diharapkan mampu membaca tekstual saja, melainkan juga membaca kontekstual dengan memaknai, mengeksplorasi dan meneliti, apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al Quran, atau apa yang terkandung dalam ayat-ayat kauniyah. Demikian juga dituntut mengembangkan kemampuan inovasi untuk berikan solusi terhadap persoalan yang muncul tiada henti. Karena itu sering kita ikuti Bahtsul Masail terhadap issues yang up to date.

    Ramadan meningkatkan kemampuan kontrol diri dengan mengandalkan kecerdasan emosional. Dengan puasa, kita latihan pengendalian marah dengan sabar, mudah memaafkan, menurunkan agresivitas, menjaga omongan untuk tidak menyinggung perasaan orang lain, menghindari konflik verbal dan fisik dan sebagainya.

    Ramadan meningkatkan kompetensi relasi sosial dapat dipetik pelajarannya dari agenda buka bersama, yang semua orang di tempat berbuka saling sharing apa yang dimiliki. Perhatikan pada waktu berbuka, siapapun ingin berbagi, bahkan yang kaya melayani. Mengutamakan sholat berjamaah baik yang wajib maupun sunah. Agenda silaturahmi ke panti-panti untuk berbagi. Juga silaturahmi ke keluarga besar dan handai taulan. Membayar zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqah untuk untuk mustahiq. Ramadan juga mendorong berempati kepada cara hidup orang tak beruntung secara ekonomis dengan merasakan lapar dan dahaga.

    Ramadan berkontribusi untuk perbaikan kesehatan fisik dan mental. Dengan melakukan perbaikan cara dan ukuran makan, sehingga pilihan makanan pun menyehatkan. Ramadan bisa juga mengurangi, beruntung lagi jika bisa menghilangkan kecanduan minuman dan kegiatan “ngrumpi”.

    Ramadan akhirnya semakin membuktikan bisa menjadi solusi yang sangat dalam kehidupan kita. Ramadan hikmahnya tidak hanya untuk satu aspek, tetapi juga untuk banyak aspek, sehingga nilai edukatif terasa manfaatnya. Ramadan sengaja dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi strategi pendidikan yang ampuh antarkan Ummat Islam menuju Insan Kamil. Karena itu untuk mendapatkan Ramadan yang mendidik dan berhasil  perlu melibatkan peran jalur pendidikan informal,formal, dan non formal secara komplementair dan sinergis.


    Yogyakarta, 10 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Cintalah yang Abadi, Bukan Pemilu

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Teman-teman yang budiman, salah satu hal yang paling membuat kita menjadi human error (manusia yang mengalami kelalaian) telah kita lewati bersama. Pesta yang kehilangan esensi kebahagiaannya tinggal menunggu petugas yang berwenang untuk mengumumkan hasilnya, tidak lain petugas itu adalah komisi pemilihan umum (KPU). Oleh karena itu, semua yang akan terjadi berkaitan dengan Pemilu, kita serahkan kepada lembaga yang berwajib untuk memutuskan. Sembari menunggu, pengawasan ketat dari para calonpun harus dimasifkan terhadap kinerja KPU. Kalau ada ketidakpuasan dalam putusan KPU maka silahkan ambil jalur hukum untuk menyelesaikannya ke lembaga negara, dalam hal ini lembaga Mahkamah Konstitusi (MK). Semua syarat dan sistem dalam prosedur sudah dipersiapkan oleh pemerintah, maka kita harus mulai menerima bahwa Pemilu sudah berakhir, keputusan sahnya masih kita tunggu, tetapi cinta kita kepada sesama tidak boleh terkubur bersama setiap kegagalan yang kita alami dari Pemilu.

    Setelah Pemilu sebenarnya kita disambut oleh bulan yang sangat baik yaitu bulan puasa, bulan ini sengaja di siapkan oleh Tuhan untuk memompa setiap kita supaya hidup dalam dimensi pemaafan, metode ini digunakan apabila selama berlangsungnya pemilu atau dalam konteks yang lain, terjadi hal-hal yang kurang berkenan dalam hubungan kemanusiaan kita.

    Kenapa kita harus memperbaiki kembali hubungan kemanusiaan kita?

    Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa hasil dari pemilu ini hanya untuk sebagian orang, bukan untuk semua orang. Karena pemilu hanya untuk sebagian orang, maka tidak wajib bagi kita yang karena beda pilihan mengalami keretakkan dalam hubungan kemanusiaan. Apalagi sampai ada diantara kita yang sengaja melakukan tindakan disharmonis kepada yang lain. Kita putus dengan pacar kita karena beda pilihan, kita renggang dengan istri, tetangga dan keluarga kita karena beda orang yang kita pilih. Keadaan semacam ini perlu kita renungi kembali, sebab semakin kita rawat keretakkan itu maka akan semakin jauh diri kita dari rasa simpati dan empati sebagai makhluk sosial. Selain itu,  Tidak boleh suatu sistem berada atau terletak di atas manusia, baiknya sistem harus kita letakkan dibawah manusia. Dalam arti, pemilu merupakan suatu sistem yang di bangun oleh negara untuk memupuk kekayaan bagi sebagian orang tetapi yang lain tetap mengalami keterbelakangan yang serius. Ketika level pemilu masih pada point tersebut, maka pemilu tidak boleh menjarah akal sehat dan kemurnian nurani diantara kita. Karena nilai dari manusia tetap lebih utama bila dibandingkan dengan sistem pemilu yang kita lewati itu.

    Siapa yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan luka sosial ini?

    Menyelesaikan apa yang telah kita perbuat bersama merupakan tugas yang berat. Untuk menyuci dendam Pemilu yang terjadi dibutuhkan kesiapan masing-masing dari kita yang memulai. Bukan negara, pemerintah ataupun birokrasi. Tetapi keikhlasan dan kerendahan hati kita semua yang terlibat dan melibatkan diri dalam Pemilu, bertanggung jawab untuk merajut kembali setiap benang kehidupan yang terputus selama proses pemilu. Orang-orang yang menang dalam pemilu hanya bertanggung jawab untuk merawat mereka yang telah memilihnya, sedangkan yang tidak memilih, kemungkinan akan dibiarkan bahkan tidak dihiraukan. Kenyataan ini harus membuat kita berfikir keras, bahwa merelakan diri sebagai orang yang kalah menjadi keharusan, sebab bukan orang lain yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan luka itu, tapi kita sendirilah yang bisa melakukannya. Maka memaafkan dan dimaafkan menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai formula untuk membunuh virus sosial tersebut.

    Kenapa hubungan kemanusiaan ini tetap kita jalin.?

    Dalam buku  sejarah manapun menjelaskan bahwa kita sebenarnya dilahirkan oleh akar historis yang sama, manusia yang sama, dan kompleksitas diri sebagai manusia yang sama. Memiliki orang tua, kelaurga dan beberapa anak. Pernah melukai dan juga dilukai, pernah memiliki dan mengalami kehilangan, pernah marah dan bersabar, pernah berjuang lalu memang, ataupun kalah saat bertarung. Semua rasa yang terjadi dalam diri kita sesungguhnya juga pernah terjadi pada orang lain. Tidak ada yang berhak mengklaim bahwa rasa sakit yang di alami oleh dirinya merupakan rasa sakit yang begitu berat bila dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami oleh orang lain. Kita semua pernah mengalami rasa sakit dengan cara hidup kita masing-masing. Oleh karena itu, kalau kita bisa merasakan setiap orang pernah mengalami apapun yang kita alami, maka setiap kejadian yang menimpa kita tidak dapat meruntuhkan hubungan kemanusiaan kita dengan orang lain. Sebab kita mengerti bagaimana rasanya jika tidak ditegur, dikhianati, dibenci, disayangi ataupun dijauhi. Untuk semua nyawa yang ada dalam dirimu adalah nyawaku juga, nyawanya, nyawa dia, nyawa mereka, dan nyawa kita semua.

    Maka, Biarkan yang tumbuh dengan subur adalah rasa cinta kasih, bukan dendam dan benci.

    Selamat menunaikan ibadah puasa.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum Tata Negara / Wakil Ketua IKASUKA Ilmu Hukum

    Ramadan Memantapkan Keluarga

    PEWARTAnews.com -- Dulu, keluarga besar dan kecil mudah sekali melakukan kumpul-kumpul, kapan saja dan di mana saja. Kini, keluarga kecil tidak selalu mudah untuk bikin acara bersama, apalagi keluarga besar. Bahkan keluarga kecilpun tidak selalu gampang bikin acara kumpul-kumpul. Kondisi ini sangat ditentukan oleh sulitnya hidup dewasa ini. Dalam satu keluarga, suami dan isteri memiliki kesibukan masing-masing karena untuk memenuhi hajat keluarga, sehingga waktu untuk berkumpul kurang. Apalagi dengan keluarga besar, semakin sulit dilakukan, kecuali ada hajat bersama. Ramadan diharapkan sekali merupakan momentum terbaik untuk keluarga melakukan konsolidasi dan memantapkan jalinan kasih sayang dinantara anggota keluarga.

    Gambaran keluarga dewasa ini jelas menunjukkan fenomena yang berbeda, terlebih-lebih dengan semakin gencarnya era Digital. Sering keluarga memanfaatkan waktu untuk konsolidasi keluarga tidak dilakukan secara langsung. Jika ya, sangat jauh berkurang dari kuantitas dan kualitasnya. Namun untuk mewujudkan keinginan konsolidasi dapat  memanfaatkan jasa teknologi digital, misalnya dengan medsos, atau melalui WA Group. Untuk mengatasi masalah ini, mereka merasionalisasikan bahwa kualitas pemanfaatan waktu lebih berarti daripada kuantitas untuk ketemu. Bahkan semakin banyak keluarga yang memaklumi atas perubahan ini. Yang semula keluarga bikin acara makan bersama di rumah dan di luar rumah sebagai agenda utama, sekarang sudah bergeser. Karenanya kuantitas makan bersama di rumah dan di luar menjadi berkurang secara berarti.

    Kehadiran Ramadan sangatlah berarti bagi keluarga terutama dalam membangun kesolidan, keintiman, dan keutuhan keluarga. Ramadan bisa memungkinkan untuk acara makan bersama pada saat berbuka dan sahur yang tidak selalu bisa dilakukan dalam keseharian. Acara berbuka dan sahur bisa dilakukan di rumah atau di luar rumah. Selama berbuka dan sahur bersama, tidak hanya menikmati hidangan bersama, melainkan juga bisa saling cerita tentang kesibukan  atau persoalan masing-masing, sehingga memungkinkan bisa sharing ide untuk solusi terhadap masalah. Saat-saat beginilah yang tepat juga untuk membuat clear antar anggota keluarga, jika ada yang saling miskomunikasi atau salah pengertian di antara anggota keluarga, sehingga tercapai kehidupan yang utuh, damai dan harmoni.

    Ramadan juga memungkinkan kita melakukan silaturahmi, homecoming, mudik untuk bisa menguatkan kembali silaturahim dengan keluarga besar, sanak famili dan handai taulan. Demikian juga, tidak dak hanya bisa ziarah ke makam orangtua dan leluhur saja, yang sekaligus mengingatkan kembali jasa-jasa beliau. Saatnya kita bisa kirim doa untuk arwah-arwah beliau, dengan harapan orangtua dan leluhur dijauhkan dari siksa kubur dan neraka, dan mendapatkan perlindungan dan tempat terbaik di sisi-Nya. Momentum Ramadan juga untuk bernostalgia dengan tanah kelahiran tempat tumbih dan berkembang di awal-awl kehidupan. Sesuatu yang sangat indah dan sulit dilupakan.

    Ramadan juga memberikan kesempatan untuk menjaga keutuhan keluarga besar melalui zakat, infaq dan shadaqah. Untuk menjamin afdzalnya pembayaran zakat dan pengeluaran infaq dan shaqah, wajib diutamakan untuk dzawil qurba, yaitu keluarga dekat yang memunuhi syarat sebagai mustahiq, yang berhak menerima. Karena itu Ramadan tidak hanya memiliki hikmah untuk semakin menguatkan relasi keluarga kecil, melainkan juga relasi dan kesatuan keluarga besar. Yang menjadi sangat penting adalah Ramadan bisa menjadi momentum untuk halal bi halal dan silaturahmi dengan cara yang sangat efisien. Karena semuanya berada pada libur bersama, dan bisa saling mengenalkan keluarga masing-masing, saling mengenalkan peluang-peluang, baik terkait dengan studi maupun pekerjaan.

    Akhirnya, kita patut bersyukur bahwa kehadiran Ramadan setiap tahun dapat merefresh keutuhan dan kesolidan serta kasih sayang keluarga. Banyak hikmah yang bisa didapat, terutama untuk saling mengingatkan semua anggota keluarga akan ibadahnya dan birrul walidain, baktinya anak ke orangtua serta kerukunan antar saudara, serta keluarga besarnya. Walaupun di era digital komunikasi antar anggota keluarga dapat dilakukan dengan mudah baik melalui call, kirim berita, atau video call, namun hubungan interpersonal langsung tetap masih sangat diperlukan. Karena cara ini masih dipandang sangat efektif untuk  menjaga rasa kasih sayang yang lebih bermakna. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang bisa memetik dan merasakan keindahan Ramadan untuk kebahagian dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga dalam ridlo-Nya.


    Yogyakarta, 9 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Menjelang Hari Raya, Pengusaha Wajib Berikan THR Pada Pekerjanya

    PEWARTAnews.com -- Tidak terasa kita sudah hampir dipenghujung bulan suci ramadhan. Hari raya idul fitri adalah hari raya kemenangan umat Islam yang telah berpuasa selama satu bulan penuh menahan segala hawa nafsu.

    Sudah menjadi budaya bangsa Indonesia ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri banyak orang berbodong-bodong untuk mudik atau pulang kampung ke kampung halamannya. Sebelum mudik pasti membeli pakaian-pakaian baru, sarung, mukena dan lainnya sebagai bentuk persiapan mencapai kemenangan dan merayakan hari raya bersama keluarga tercinta.

    Bagi anda yang masih bekerja disuatu perusahaan, pastilah anda akan mendapatkan yang namanya Tunjangan Hari Raya atau biasa disingkat THR. THR ini diberikan oleh perusahaan ketika mejelang hari raya keagamaan. Jadi bukan hanya pas mau lebaran Hari raya idul fitri saja, tetapi hari natal atau hari raya keagamaan lainnya sesuai dengan agama yang dianut pekerja.

    Siapa saja yang mendapatkan THR tersebut?
    Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 THR keagamaan diberikan kepada pekerja atau buruh yang mempunyai hubungan kerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

    Berapa besaran THR yang didapatkan?
    Pertama, pekerja atau buruh dengan masa kerja 12 bulan terus menerus atau lebih diberikan 1 bulan upah. Kedua, pekerja atau buruh dengan masa kerja 1 (satu) bulan terus menerus, akan tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan sesuai masa kerja dengan perhitungan (Jumlah Bulan Kerja/12 ) x 1 (satu) bulan upah.

    Upah yang dimaksud adalah komponen upah yang terdiri dari upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean wages) ataupun upah pokok termasuk tunjangan tetap.

    Mudah bukan hitungannya. Lalu kapan THR itu harus dikasihkan kepada pekerja ?

    THR wajib diberikan atau dibayarkan oleh pengusaha paling lambat 7 hari sebelum hari raya keagamaan.

    Bagaiamana jika ada perusahaan yang telat atau menunda pembayaran THR ?

    Bagi pengusaha yang tidak membayarkan THR sesuai dengan ketentuan, maka dapat dikenai sanksi administrasi oleh badan pengawasan Ketenagakerjaan dan dapat diberikan sanksi denda.

    Jika bingung terkait dengan permasalahan THR tersebut, cobalah untuk datang ke Kantor Dinas ketenagakerjaan setempat atau melalui posko-posko Serikat Buruh atau Lembaga Bantuan Hukum setempat yang biasannya juga membuka posko pengaduan THR.


    Penulis: Nur Rohman, S.H.
    Asisten PBH LBH Yogyakarta

    Puasa dan Pengendalian Diri

    PEWARTAnews.com -- Pengendalian diri sangatlah penting bagi setiap orang, karena dengan pengendalian diri yang baik, hidup seseorang bisa mencapai tujuan hidupnya dengan sukses. Sebaliknya orang yang lemah pengendalian dirinya bisa jadi gagal di tengah kehidupannya, bahkan bisa berakhir dengan gagal yang fatal. Sebagai ummat Islam, tujuan yang sebenarnya tidak hanya meraih bahagia di dunia saja, melainkan juga bahagia di akhirat dan dijauhkan dari api neraka. Salah satu cara yang ampuh dalam pengendalian diri yang ditawarkan oleh Rasulullah saw adalah menunaikan puasa.

    Berdasarkan potensi manusia bisa baik dan bisa buruk. Kedua potensi dalam kehidupan harus dimanaj dengan baik, sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan orang lain. Demikian pula potensi jelek harus dimanaj dengan baik, sehingga tidak merusak diri sendiri maupun orang lain. Untuk dapat mengarahkan manajemen diri dengan baik, perlu niat dan komitmen diri yang baik dan bersih, sehingga menghasilkan kehidupan yang baik. Ingat bahwa dalam kehidupan itu memang ada faktor internal dan eksternal. Apapun kondisinya, faktor internal lah yang harus dijadikan andalan dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Pengendalian diri terhadap sesuatu yang positif dampaknya terhadap diri sendiri memang baik, walaupun tidak selalu bisa optimal. Paling tidak cukup mendapatkan manfaat, walau relatif sedikit, misalnya melakukan sholat dan puasa yang fardhu saja, maka diperoleh pahala yang secukupnya, padahal bisa lebih, sehingga bisa melaksanakan yang sunnah. Lain halnya dengan pengendalian diri terhadap sesuatu yang negatif, misalnya marah, serakah, maksiyat, dan nafsu seksual. Jika pengendalian dilakukan dengan baik dan serius, insya Allah, dapat menyelamatkan manusia itu sendiri, bahkan orang lain. Mari kita telaah satu persatu. Rasulullah swt bersabda, “Laa taghdzob walakal Jannah” yang artinya : “Janganlah marah, bagimu adalah syurga” (HR Thabrani). Jika kita bisa kendalikan marah dengan ikhlas, maka dapat ketenangan dan kebahagiaan akhirat. 

    Terkait dengan hidup serakah, juga diingatkan oleh Allah swt, dalam QS Al A’raf : 31, yang berbunyi “wakuluu wasyrabuu wala tusrifuu innahuu laa yuhibb al-musrifiin”, yang artinya “Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Di sini mengingatkan kita, walaupun kita memiliki uang yang banyak, tapi tidak berarti bahwa kita harus membeli makan yang mewah dan banyak, padahal badan kita punya kebutuhan terbatas. Jika dilakukan dengan berlebihan bisa timbulkan penyakit. Terkait dengan maksiyat, terutama minum (khamar), berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah (lotre/judi), Allah swt juga ingatkan kepada kita dalam QS Al Ma’idah:90, “Innama al khamru wa almaisiruu wa al anshaabu wa al azlaamu  rijsun min ‘amali asy syaithaani, fajtanibuuhu la’allakum tuflihuun…”, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berkorban untuk (berhala), dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. Di sinilah pengendalian diri sangatt diperlukan agar hidup kita selamat, tenang, dan aman. Jika pengendalian kita lemah, maka kita sendiri yang merasakan kerugian.

    Terkait dengan persoalan nafsu seksual yang harus dihadapi dengan baik, Allah swt dalam QS Al Isra’:32 yang berbunyi “walaa taqrabuu al zina, innahu kaana fahisyatan wasaa-a sabiilaa”, yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”.  Ayat ini mengingatkan kita, supaya kita tidak melakukan perbuatan zina, karena itu akan merugikan diri dan orang lain, bahkan merendahkan martabat kita. Untuk itu kita perlu sekali melakukan pengendalian diri dengan sebaik-baiknya.

    Puasa memang sesuatu yang sangat ampuh hikmahnya untuk pengendalian diri dalam berbagai hal. Dengan puasa kita tidak boleh mudah marah, agresif, dan memulai konflik, sebaliknya kita harus sabar dan suka memaafkan dan tunjukkan rasa rendah diri. Dengan puasa kita bisa mengendalikan keserakahan diri, karena manusia tidak ada puasnya. Saatnya mengurangi kesenangan dan kesukaan yang berlebihan, dalam waktu yang sama, kita tumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial, sehingga muncul dorongan dan perilaku berbagi. Dengan puasa kita bisa mengurangi dorongan berbuat maksiyat, minum, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah (lotre), karena perbuatan ini cenderung menyebabkan perilaku kriminal yang tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga mengancam kemanan dan kesemalatan orag lain.

    Selanjutnya, puasa saatnya juga  dijadikan resep bagi Rasulullah saw untuk pengendalian nafsu seksual bagi anak muda yang belum memiliki kemampuan menikah tetapi memiliki keinginan kuat untuk menikah dan disarankan Rasulullah saw untuk berpuasa. Mari kita simak matan haditsnya, “Ya ma’sara al syabaab, manistahoo’a minkum al baa’ah, faltazawwad, fainnahu aghaddu li al bashari wa ahsanu li alfarji, fain lam yastathi’ fa’alaihi bi al shoum, fainnahu wija’”, yang artinya “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu mampu menikah, hendaklah menikah, karena yang demikian itu amat menundukkan pemandangan dan sangat memelihara kehormatan, tetapi barang siapa tidak mampu, maka hendaklah dia puasa, karena (puasa) itu menahan nafsu baginya” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

    Mari kita renungkan suatu peristiwa yang sangat penting, bahwa peperangan yang paling besar bukanlah menghadapi musuh, melainkan menghadapi dan mengatasi hawa nafsu yang menyesatkan. Puasa diharapkan sekali mampu melatih diri untuk mengatasi hawa nafsu yang dimurkai oleh Allah swt menjadi nafsu yang diridloi oleh Allah. Kita sangat menyadari bahwa situasi Indonesia akhir-akhir ini cukup “gawat”, menjelang pertengahan Ramadan akan ada potensi masalah besar. Kita semua tidak boleh lengah. Kita jadikan Ramadan ini bisa sebagai  pengendali diri untuk bekerja secara jujur dan adil serta bertanggung jawab, baik terhadap publik maupun kepada Allah swt. Sebaliknya, jika dalam mengelola persoalan bangsa dikendalikan dengan cara-cara sebaliknya, atau cara-cara kontra produktif, maka dikhawatirkan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Karena itu puasa diharapkan mampu membimbing hati kita semua, untuk mengendalikan perilaku kita, sehingga persoalan bangsa bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan mampu menghadirkan solusi yang damai, tidak ada tirani. Semua perlu dijaga dan diangkat derajat dan nama baiknya. Tidak boleh menyelesaikan masalah yang bertentangan nilai-nilai yang lebih tinggi yang sama-sama dihormati oleh semua. Apakah ketentuan perundang-undangan atau kebenaran universal, atau kebenaran transendental. Bangsa Indonesia, kususnya ummat Islam seharusnya menggunakan momentum Ramadan ini untuk bisa mengendalikan kehidupan bangsa dan negara yang bermartabat. Semua saling menghormati dan tidak saling mendzolimi. Mari kita renungkan sabda Rasulullah saw, yang berbunyi “Aljamaa’atu rahmatun wal-furqatu ‘adzzabun,(HR Ahmad), yang artinya “Bersatu itu rahmat dan bercerai berai itu siksa” dan dikuatkan dengan matan hadits lainnya, “’Alaikum bil jamaa’ah, waiyyakum wa al furqah” (HR Ahmad, Al Tirmidzi, dan Ibnu Majah), yang artinya “Hendaknya kalian berjamaah dan hindarilah perpecahan”. Semoga puasa kita bisa jadikan pengendali diri dalam semua aspek kehidupan. Aamin.


    Yogyakarta, 8 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pesan Kritis untuk Bupati Bima dan Bima Ramah

    PEWARTAnews.com -- Kritikan sejuk, damai dan indah untuk Pemerintah Bumi Bima Ramah yang saat ini di nahkodai oleh Hj. Indah Damayanti Putri, S.IP (Umi Dinda) dan Aji Dahlan.

    Kritikan ini bukan berarti kami tidak sayang kepada IDP-Dahlan (sapaan untuk Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.IP - Wakil Bupati Bima H. Dahlan) dan Kepemerintahanya, namun kritikan ini merupakan bentuk kasih sayang kami terhadap IDP-Dahlan dan Kepemerintahanya yang saat ini menjabat, sebab banyak sekali persoalan yang menimbulkan kegentingan dan permasalahan di daerah tercinta.

    Kami hanya meminta kepada pemerintah IDP-Dahlan untuk melakukan evaluasi kinerja Kepemerintahan selama 4 tahun kebelakang, perihal masih banyak desa-desa yang belum mendapatkan pembangunan yang merata, contohnya misalnya jalan dan vasilitas-vasilitas umum masyarakat di kabupaten Bima.

    Evaluasi ini merupakan salah satu cara untuk melihat dimana kekurangan dari kepemerintahan selama menjabat, hingga disitu akan lahir solusi-solusi pembangunan yang lebih baik. Dari 191 desa di Kabupaten Bima ia mungkin semuanya tidak mendapat pembangunan, namun disini harus ada istilah prioritas pembangunan yang sangat dibutuhkan, karena dengan memprioritaskan hal-hal tersebut maka mengharuskan masyarakat menyegerakan perbaikan daerahnya.

    Banyak sekolah-sekolah yang belum mendapatkan pembangunan dan vasilitas-vasilitas yang belum memadai untuk mendukung pembangunan dan kelancaran proses pembelajaran mereka, banyak buku-buku yang tidak mendukung sebagai bahan bacaan, banyak guru-guru yang belum merasa profesional karena kurangnya upah dari keringat mereka, dan masih banyak lagi yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

    Kemudian masuk keranah pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan trotoar-trotoar serta sungai dan got-got sebagai penghimpung air supaya tidak masuk ke pemukiman masyarakat saat hujan, kita masih melihat banyak sekali daerah yang belum mendapatkan pembangunan tersebut, oleh karena demikian maka kami berharap Pemerintah Bima melakukan evaluasi pembangunan yang harus diutamakan dan diprioritaskan, salah satunya adalah jalan raya disetiap daerah.

    Kami tidak bermaksud menjadi orang bijak, namun kami bermaksud menjadi masyarakat yang sayang akan negeri Bumi Bima Ramah untuk melestarikan lingkungan-lingkungan tersebut secara merata dan terakomodir dengan baik. Sehingga masyarakat bisa menjalankan aktivitas mereka dengan lancar tanpa ada kendala hal apapun.

    Kami berharap kritikan ini dapat didengar oleh pemerintah Bumi Bima Ramah, kritakan ini bersifat kritikan lembut, sejuk, dan mengajak pada kedamaian antara masyarakat, pemuda, pelajar dan pemerintah Bumi Bima Ramah. Stop dulu dengan politik-politik yang usaha dimainkan tersebut, karena politik besar IDP-Dahlan saat ini adalah menunaikan janji-janji manis yang dulu pernah diuraikan dan kemudian kembali menyapa masyarakat dengan cara santun demi menyejukkan hati masyarakat, karena dengan cara tegur sapa sebagai masyarakat yang santun maka disitulah akan tercipta kenikmatan ukhwa antara pemerintah dan masyarakat dan atau antara masyarakat dan masyarakat. Mungkin disaat jam dinas IDP-Dahlan adalah pemerintah namun selepas jam tersebut IDP-Dahlan adalah masyarakat biasa seperti yang lainya.

    Salam santun kami Putra Putri Bumi Bima Ramah di negeri seberang. Negeri Daerah Istimewa Yogyakarta.



    Penulis: Muhammad Akhir
    Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta

    Ramadan dan Revolusi Mental

    PEWARTAnews.com -- Revolusi Mental di awal munculnya sebagai wacana bangsa sangat mengejutkan, karena di balik itu ada harapan dan semangat yang sangat terpuji. Keinginan untuk menjadikan individu  ummat atau rakyat melakukan reformasi karakter, perilaku dan peradaban. Namun apa yang terjadi belakangan, Revolusi Mental secara berangsur-berangsur hilang dari percakapan dan terlindas oleh derasnya arus pragmatism, hedonism, kepatilatisme, dan  materialism. Sebagai insan dan bangsa yang masih memiliki cita-cita, menurut kami bahwa Revolusi Mental masih relevan dengan misi Ramadan. Karena itu itu Ramadan saat ini seyogyanya dapat dijadikan suatu momentam untuk merefresh spirit Revolusi Mental untuk mengoreksi dan memperbaiki perilaku kita yang masih abaikan karakter bangsa yang pancasialis dan agamis.

    Perilaku bangsa, terutama para pimpinan di semua level dan sektor secara lahiriyah seakan-seakan sudah ada kemajuan yang berarti, yang diindikasikan dengan kemajuan infrastruktur yang dalam batas tertentu baru memuaskan sejumlah fihak yang berkepentingan (stakeholders).  Walaupun  masih ada hal lain yang menjadi sorotan karena kurangnya relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah tertentu, sehingga di-claim terjadi potensi inefisiensi. Belum lagi mengingat beban yang akan dihadapi generasi penerus untuk membayar hutang. Juga dengan terbatasnya para fihak pengawal implementasi Revolusi Mental yang kurang disiplin dan sungguh-sungguh, sehingga masih terjadi juga  pelanggaran hukum, etika organisasi, dan integritas pejabat yang terwujud dalam pelanggaran KKN masih cukup banyak, apakah yang mengena eksekutif, legislative, yudikatif, dan politisi, dan lain-lainnya. Kondisi yang demikian ditambah dengan organisasi sipil yang mesih lemah dalam melakukan kontrol juga, yang mungkin dalam batas tertentu tidak melakukan kontrol sosial dan moral.

    Ramadan 1401 diharapkan sekali dapat dijadikan momentum semua, terutama para pengawal moral semua sektor, terutama orarganisasi keagamaan dengan tanggung jawabnya yang sangat berat, yang seharusnya mampu menunjukkan jati dirinya sebagai institusi independen, dengan cara yang bijak. Kita menumbuhkan spirit Ramadan yang dipilih oleh Allah swt untuk menurunkan ayat pertama sebagai tanda kerosulan. Yang paling utama Rasulullah diperitahkan dan dibangkitkan di atas bumi semata-semtauntuk menyempurnakan akhlaq, Yang tertuang dalam hadistnya “Innamaa bu’itstu liutammimaa makaarimal akhlaaq” (HR Imam Bukhary).  Kondisi saat itu di Arab digambarkan dengan masyarakat jahiliyyah (dalam kebodohan). Kebodohan di sini bukan dimaknai bodo secara ilomu, melainkan bodoh dari sisi moral, sehingga merusak tata kehidupan. Yang digambarklan dengan membunuh hidup anak-anaknya dan semaraknya kehidupan maksiyat lainnya, serta menyembah berhala, patung-patung dibuat dan dipuji sendiri. Karena itu misi Rasulullah dihadirkan semata untuk mengeluarkan kehidupan yang gelap menuju kehidupan yang terang (fa akhrijna minadh dhulumaati ilan nuur). Upaya Rasulullah saw dikuatkan oleh Allah swt melalui firman-Nya dalam  QS. al-Baqarah: 257, yang artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

    Untuk dapat memperoleh hikmah sebanyak-banyaknya dari Ramadan 1440 H, kita dapat melakukan evaluasi diri terhadap perilaku kita secara personal dan institusional, sehingga dapat memperoleh gambaran tentang posisi perilaku religius kita. Dengan mengetahui kemajuan dan posisi kita, serta persoalan kita, insya Allah dengan semangat menuju kehidupan yang lebih baik di dunia dan di akhirat, kita bisa lakukan kendali diri dan control diri, serta manajemen diri yang kebih baik, sehingga kita bisa mengeliminir dan mungkin bisa meniadakan kebijakan dan perilaku yang tak bermanfaat dan merugikan orang atau fihak lain. Dalam waktu yang sama, kita memperbaiki kebijakan dan pelaksanaan aktivitas kehidupan dengan cara-cara berintegritas, baik dan terpuji, sehingga memberikan manfaat sebanyak-banyaknya, baik untuk memperbaiki akhlak dan perilaku kita sendiri dan institusi yang menjadi tanggung jawab kita.

    Untuk mengimplementasikan Revolusi Mental secara bertanggung jawab dan untuk meraih kesuksesan besar, maka usaha kita harus bisa diwujudkan dalam bentuk Gerakan yang melibatkan semua, dengan keteladanan parta pimpinan formal dan informal, di samping berawal dari dukungan dan keterlibatan keluarga masing-masing, Mari kita jadikan spirit Ramadan yang memiliki misi propetik, kita jadikan modal utama untuik membangun bangsa berkarakter, berdaulat dan bermartabat. Mari bangga dengan bisa menjadi pemain kunci di manapun berada, dan merasa malu sekali untuk tidak mau peduli. Satu contoh yang dapat kita lihat, bahwa tujuh tahun yang lalu kondisi moral di China masih belum akui pentingnya perilaku moral, namun dua tahun lalu ketika saya melakukan resigning MoU dengan salah satu universitas  di China Selatan, di sana sudah terjadi perubahan yang sangat signifikan, bahkan terkesan sekali baru saja terjadi revolusi mental. Dari wilayah yang kumuh perilaku asosial, penyimpangan perilaku sosial, menjadi wilayah yang diwarnai dengan perilaku yang bermoral. Kondisi ini didukung oleh semua institusi, termasuk masyarakat yang menunjukkan ketaatan terhadap kesepakatan dan aturan yang ada.

    Rasanya indah sekali jika Spirit Ramadan dapat mewarnai secara signikan implementasi Revolusi Mental di tanah air. Perilaku pancasialis dan agamis harus diwujudkan secara nyata oleh semua, bukan “panas-panas tahi ayam”. Semua terlibat mengawal dan mengimplentasikannya dalam bentuk gerakan. Insya Allah dengan menjadikan Indonesia bersih, berkarakter dan bermartabat akan membanggakan kita semua dan bangsa, serta seluruh manusia di muka bumi. Sebagai wujud rahmatan lil-alamin. Yang diuntungkan bukan makhluk manusia saja melainkan juga makhluk lingkungan fisika dan sosial, bahkan makhluk mati pun merasa mendapatkan kebaikannya. Semoga Allah swt membimbing kita semua dan meridloinya. Aamiin.


    Yogyakarta, 7 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Panggil Saja "Mukaromah"

    “Apabila ingat Makkah”, ingatlah selalu namaku, karena “Makkah selalu disambung dengan nama Mukarromah”. Semoga mudah teringat, terkenang dan senantiasa di doakan yang baik-baik”, (Mukaromah, 2019).

    Tak dipungkiri, bahwa memanggil orang dengan menyebut namanya merupakan sentuhan psikologi yang amat sangat dalam. Orang akan merasa dihargai dan dihormati, karena namanya “terkenang”. Begitu kiranya untuk menggambarkan makna “panggilan” kepada orang lain. Maka dari itu saya selalu membiasakan diri kalau memanggil orang dengan menyertakan namanya. Tak hanya face to face, di WA ataupun medsos lain pun demikian pula. Selain menyebut nama, saya juga senantiasa mencocokkan nama orang yang saya sebut, dengan tulisan nama aslinya, untuk menghindari hal-hal yang kurang mengenakkan. Tidak ditambah, tidak pula dikurangi. Karena saya yakin, setiap nama mempunyai filosofi dan sejarah historis sendiri yang melatarbelakanginya.

    Begitu pula denganku, merasa ada kesan tersendiri saat ada yang memanggil dengan sebutan”Mukaromah”. Kalau di WA, ada yang bertanya sesuatu tanpa memanggil namaku, hanya sebutan “mbak” saja, biasanya saya tanggepi “jenenegan, berbicara kalih sinten”? Hahahaha. Jadi, marilah bersama-sama untuk menebar energi positif kepada orang lain meski melalui hal yang sangat sederhana, yakni menyertakan namanya.

    Namun terkadang, aku berpikir. Nama “Mukaromah” itu sulit diucap ya? Padahal Allah menyebut namaku dalam Qs. ‘Abasa, maupun do’a khatmil qur’an. Seringkali, saya tertawa lepas sambil geleng-geleng geli saat namaku dipanggil maupun ditulis orang dengan “kurang tepat”. Ada yang mengurangi, ada yang menambahi dan ada pula yang me-REVISI total. Ah, lucu pokoknya saya tidak bisa ngampet guyu. Selalu ku maklumi, dengan isyarat “anggukan dan seyuman”, namun disaat yang bersamaan, saya selalu minta untuk membenahi nya. Hahaha. Ada yang menulis namaku dengan menambahi huruf “H” didepan “K”, menjadi “MuKHaromah”. Ini fatal dalam kaidah makna. Karena arti namaku yang semula “Mukaromah” (yang dimuliakan), gara-gara ketambahan huruf “H” saja “Mukharomah” menjadi (yang diharamkan). Hahahaha. Bahkan ada yang menyebut namaku dengan “Warohmah”, “Karohmah”. Tak hanya itu, kadang ada pula orang yang saking fasihnya dan ke-arab-araban memanggil namaku malah salah kaprah. K nya dibaca H seperti yang tertulis Mukharomah itu. Aduh, tepuk jidat. Wkwkwk. Sebenarnya panggil apa adanya malah benar, begitu batinku.

    Namun, biasanya orang yang paham betul bahasa arab dan paham agama, memanggil namaku dengan double R. “Mukarromah”. Hehehe. Aku suka dipanggil dengan panggilan tersebut, biasanya saya menilai orang yang memanggil demikian, fasih baca qur’annya. Agar namaku mudah dihafal, selalu ku tekankan kepada siapapun, baik kepada orang yang baru ku kenal saat “sama-sama saling memperkenalkan nama”, maupun kepada kawan-kawan yang akan berpisah lama, dengan “Kalau sampean ingat Makkah”, ingatlah selalu namaku, karena “Makkah selalu disambung dengan nama Mukarromah”. Harapanku, agar namaku mudah teringat, terkenang dan senantiasa di doakan.

    Akan tetapi, innal insana mahaalul khatha’i, wa an-nisyan. Manusia merupakan makhluk tempat salah dan lupa. Manusia tak luput dari kelemahan diri, namun kelemahan itu bukanlah suatu hal yang mutlaq dan pasti. Kelemahan dapat diperbaiki dengan cara senantiasa muhasabatun nafs. Dalam artian, berusaha untuk tidak jatuh dilubang yang sama. Dalam konteks ini, boleh salah memanggil dan menulis nama orang, hanya jika sudah diklarifikasi oleh orang yang bersangkutan lain kali jangan sampai terulang kembali. Karena memanggil orang dengan menyebut namanya secara tepat, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwanya.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Ramadan Bulan Rahmat, Maghfirah, dan Itqun Minan Naar

    PEWARTAnews.com -- Di awal Ramadan sering kita ikuti kajian bahwa Bulan Ramadan itu dapat  dikatagorikan menjadi 10 hari pertama (awal), kedua (tengah) dan ketiga (akhir). Pembagian ini merujuak pada Hadits Rasulullah saw, yang artinya : “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya ‘itqun minan naar (pembebasan dari neraka).” Setelah ditelusuri oleh para Ahli Hadits, bahwa matan hadits ini dzaif dan munkar. Karena itu kita perlu berhati-hati. Walaupun demikian hadits ini dzaif dan munkar, namun karena hadits ini tidak terkait dengan tauhid, melainkan sifatnya fadzailul a’mal, maka masih dibenarkan matan hadits ini untuk rujukan ummat Islam dalam meningkatkan amal sholehnya.

    Pertama, awal Ramadan adalah rahmat. Para ulama memaknai sepuluh hari pertama bulan ramadhan sebagai rahmat, yaitu terbukanya pintu rahmat Allah SWT, yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang menunaikan shaum. Dalam khazanah tasawuf, rahmat itu ada dua macam, pertama rahmah dzaatiyyah, yaitu rahmat dan  angerah yang diberikan Allah swt kepada semua mahluk-Nya tanpa terkecuali. Kedua, rahmah khushushiyyah, yaitu rahmat dan kasih sayang yang Allah swt hanya diberikan kepada hamba-hamba Pilihan-Nya. Sepuluh hari pertama merupakan keistimewaan karena diturunkannya rahmat kepada hamba-hamba yang telah ikhlas dan ridha menunaikan shaum ramadhan dengan penuh keimanan kepada Allah swt. Salah satu rahmat dan kasih sayang Allah swt  yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang shaum dengan iman dan taqwa yaitu disediakan salah satu pintu masuk ke dalam surga yang tidak dilalui oleh siapapun kecuali para ahli shaum (Baabu Ar Rayyaan).Kita tahu bahwa di bulan Ramadan banyak keutamaan, bahwa pahala untuk ibadah wajib dan sunnah berbeda dibandingkan daripada di bulan lainnya, demikian juga kesempatan untuk beribadah. Keutamaan diberikan, karena seuatu amalan yang sangat berat dari tidak puasa menjadi puasa, yang membutuhkan adaptasi fisik, pikiran, emosi, dan spiritual. Jika berhasil melaksanakan puasa dengan baik, maka diperoleh keutamaan. Karena itu saying sekali jika tidak memanfaatkannya dengan baik, sampai tidak berpuasa tanpa udzur yang jelas.

    Kedua, mendapatkan maghfirah. Maghirah dapat dimaknai sebagai ampunan dari Allah swt, yang dosa-dosa kita ditutupi oleh Allah swt. Berlimpahnya maghfiroh dari Allah ini memang tidak mengherankan, mengingat Allah SWT memiliki sifat Al-Ghaffar (Maha pengampun).  Kata Al Ghaffar terambil dari akar kata "Ghafara" artinya  "menutup" yang berarti Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya. Sedang Ada juga yang berpendapat dari kata "al ghafaru" yakni "sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka" yang berarti Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan, yakni terhapus dosa. (Ibnu Abbas). Asma Allah Al-Ghaffar juga dapat difahami dalam arti " Yang Maha Luas Ampunan-Nya". sebagaimana firman Allah SWT, " Sesungguhnya Rabb-mu sangat luas maghfirah-Nya (QS. At- Taubah:117). Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa mengerjakan ibadah (qiyam) pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah semata, maka diampunilah dosanya yang telah lalu (HR imam Bukhari dan Imam Muslim).

    Berkenaan dengan maghfirah yang dijanjikan oleh Allah swt, maka pada sepuluh hari kedua Ramadan merupakan hari yang penuh dengan magfirah. Dengan terbiasanya kita dalam menjalankan ibadah wajib atau berpuasa, maka ibadah yang lain atau ibadah sunnah seperti shalat malam, berdzikir, membaca al- Qur’an dan amalan baik yang lainnya harus lebih diperbanyak dan harus lebih semangat lagi. Karena di waktu ini Allah swt banyak memberi maghfiroh kepada umat-Nya yang rajin beribadah . Serta Allah swt akan mengampuni dosa-dosa umat-Nya yang mau memohon ampun dengan taubatan nashuha atau memohon dengan penuh keikhlasan dan bersungguh–sungguh. Thuubu ilallaah taubatan nashuhaa. Dikuatkan lagi dengan, ud’unii astajib lakum. Untuk itu, janganlah kita menyia–nyiakan waktu ini. Semoga kita selalu mendapat magfirah dari Allah swt.

    Ketiga, marilah kita memohon itqun minan naar. Itqun minan naar itu sangat penting, Karen asetiap do’a kita dalam memohon kebaikan daeri Allah swt, kita akhiri dengan “lindungilah kami dari siksa api neraka” (waqinaa adzaaban naar). Untuk kita bisa bebas dari siksa neraka maka kita harus bunuh api-api kehidupan, pertama api hawa nafsu, yang harus diselesaikan dengan nafsu yang diridloi oleh Allah swt; kedua nafsu syaithoniyah yang  dibunuh dengan puasa yang dilandasi dengan iman yang benar; dan ketiga api hasad dengki, dendam dan permusuhan, yang harus dijauhi dengan membiasakan diri dengan  husnudz dzon. Selain itu langkah nyata yang dapat dilakukan pada waktu sepeuluh terakhir Ramadan dengan tingkatkan amalan kita di antaranya: (1) Lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah (2) Banyak berdo’a, (3) I’tikaf di masjid, (4) Memperbanyak shalat malam, dan (5) Bersungguh-sungguh dalam meraih malam Lailatul Qadar.

    Setelah kita ikuti sedikit uraian di atas, bahwa pembagian sepuluh hari pertama, tengah dan akhir, itu terutama untuk memdahkan dalam menjelaskan fokus penting dalam beribadah. Namun dalam praktetknya bahwa ketiganya, yaitu Rahman, maghfirah dan itqun minan naar itu seharusnya terjadi selama bulan Ramadan. Bahwa pada putaran sepuluh hari pertama, kita juga sudah bisa di samping melakukan mohon Rahmat,  kita juga melakukan amalan yang terkait dengan istighfar dan  amalan yang bisa mengantar kita untuk bisa menjauhkan diri kita dari neraka. Demikian pula pada pertengahan dan terakhir Ramadan kita bisa juga mengharapkan rahmah, terlebih-lebih pada waktu lailatul Qadar dan waktu-waktu puncak-puncaknya di akhir Ramadan, kita juga bisa menuntaskan istighfar di saat kita i’tikaf dan di saat lailatul qadar. Yang penting disini, bagaimana kita bisa memanaj waktu Ramadan dengan amal-amal yang terbaik. Momentum Ramadan adalah sesuatu yang terbaik, yang diberikan oleh allah swt, bagaimana kita bisa menjadi menang dan kembali  ke Fitra setelah maengakhiri Ramadan nanti. Semoga. Aamiin.


    Yogyakarta, 6 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Obrolan di Amparan Warung Pecel Lele

    "Silaturrahmi harus dijaga, dirawat dan dipupuk, karena kemudahan, keberkahan, kemurahan, rahmat dan kasih sayang yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya, tergantung dari ketepatan hati hamba tersebut dalam menempatkan dirinya dihadapan Allah dan orang-orang sekitar" (Mukaromah, 2019).

    “Eh sampean kok selalu bahagia sih”? Sapaan pembuka yang kawanku lontarkan kepadaku, setelah kami tak bersua selama setahun. Hahahaha, saya hanya tertawa lepas. Sebelum ku lanjutkan untuk membalas sapaan-nya, dia menyahut “Sepertinya sekarang sudah ada calon, ya”? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sebenarnya menjadi jawaban atas “curhatan” ia kepadaku. Kadang ketika aku mendengarkan curhatan-curhatan kawan, mereka sendiri –lah yang justru sudah mengetahui jawaban atas segala persoalan, kepelikan, bahkan masalah dalam hidupnya. Teringat kata dosen ku, Dr. Muqowim saat LVE (Living Vales Education), “jadilah pendengar” setia. Orang curhat bukan berarti ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, serta bagaimana mengatasi persoalannya. Namun sebenarnya ia hanya butuh untuk didengarkan. Just it.

    Adakalanya butuh masukan, itu hanyalah sebagai bentuk penguatan atas konsep dan problem solver-nya sendiri. Mayoritas orang terburu-buru untuk memberikan klaim, justifikasi, bahkan masukan yang terkesan “membijaki”, yang sebenarnya si pencurhat tidak terlalu membutuhkannya.
    Posisikan diri secara tepat dengan tidak gegabah untuk menyela pembicaraan, karena akan menghancurkan mood si pencurhat, bahkan akan mengacaukan jalan pikiran si pencurhat yang menyebabkan lupa apa yang akan dibicarakan. Dengan demikian, semua hal ada ilmunya, ada caranya, ada triknya, ada step-nya termasuk seni dalam berbicara dan mendengar. Untuk itulah, ku dengarkan curhatan kawanku ini dari A-Z, dan tidak akan pernah mungkin saya tulis dimanapun, karena hal tersebut merupakan privasi orang yang harus dijaga. Teringat pesan hikmah yang selalu dilontarkan senior sekaligus guru rohani-ku, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) kepada para Jama’ah Maiyah. Beliau mengatakan “Jadilah orang yang dapat membuat orang lain merasa aman ada dirimu dan mempercayakan segalanya kepadamu”. Pesan singkat itu, yang sampai detik ini masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

    Setelah ia selesai curhat, lalu ia bilang. Mengapa sampean diam? Aku hanya menyahut, karena sampean sudah mengetahui jawaban, nasihat bahkan hal apa yang harus sampean lakukan untuk mengatasi pesoalan itu. Dalam hidup memang selalu diuji dan dicoba Allah dengan berbagai macam hal yang (mungkin) kurang mengenakkan. Kalau menyangkut persoalan ujian dan atau cobaan, penulis selalu berhati-hati, untuk itu ku bedakan orientasi ujian dan cobaan, dengan tidak mengeneralisasikan/menganggap semua hal yang ada dalam hidup ini cobaan saja, atau bahkan ujian saja. Cobaan itu sifatnya sebagai “pengingat, kode, sentilan, atau dalam bahasa rambu-rambu lalu lintas berwarna “kuning” yang Allah berikan kepada hamba-Nya, dapat dibilang sebagai balasan atas kesalahan yang diperbuatnya. Sedangkan ujian lebih kepada peningkatan derajat yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya, untuk terus berusaha dan berproses.

    Lalu bagaimana cara membedakan antara ujian dan cobaan? Caranya adalah muhasabatun nafs/bermusahabah diri, dengan flashback ke belakang mengenai ucapan, perbuatan/tindakan yang pernah dilakukan kepada sesamanya. Sekiranya persoalan horizontal telah beres, ya mungkin kesulitan atau bahkan halangan dan  rintangan yang Allah beri itu sebagai ujian yang harus dilalui. Tidak ada sejarah orang hebat dan kuat yang terlahir instan, pasti ia ditempa dengan berbagai hal yang tidak mengenakkan bahkan menguras hati, tenaga, pikiran maupun emosi (perasaan). Segalanya Allah beri yang terbaik kepada hamba-hamba Nya, hanya saja terkadang hamba tersebut yang sok tau dan kurang peka terhadap sentilan Allah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, lambat laun akan sadar bahwa memang itulah yang terbaik untuk dirinya. Tak ada rumus pasti dalam hidup ini, selain daripada “legowo” (ikhlas dan ridho), bersyukur dan yakin. Jika dapat menggenggam 3 hal itu, ku yakin sepelik apapun persoalan hidup, dapat teratasi dengan baik.

    Kadangkala yang membuat diri terpuruk adalah sulit untuk menerima kenyataan bahwa realita tidak sesuai dengan ekspektasi dan orientasi hidup yang didasarkan pada menang-kalah, cepat-lambat. Hal semacam itulah, yang membuat diri terbelenggu karena sering “melihat, membandingkan, mencari kelemahan diri” dengan melihat kehidupan orang lain. Lalu penulis hubungkan sapaan ia mengenai 2 hal tadi kepadaku, mengapa selalu bahagia padahal bapak telah tiada dan butuh berapa bulan untuk bangkit? Sudah ada calon/pendamping hidup kah? Jawaban saya hanya simple, yakni hidup hanya sekali, rugi lah kalau isinya cuma dramatis dan melow-melow gitu? Hahaha. Makanya harus bahagia lahir dan bathin, dengan cara diciptakan bukan dicari. Hal tersebut hanya dapat terwujud jika benar-benar bersyukur atas segala nikmat dan anugrah-Nya. Lalu yang kedua, terkait dengan calon pendamping hidup, jawaban saya cuma bukan tidak dan iya, namun dengan kata-kata “yang penting yakin saja sama Gusti Allah”. Yakin bagiku melampaui rasio yang tak terdefinisi oleh kata-kata. Hanya ada satu kekuatan, pada saatnya nanti dipertemukan dan disatukan, itu karena frekuensi yang berbicara. Manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihannya dengan memantaskan diri sebaik mungkin, namun tetap Allah yang meng-ACC. Dan ACC Allah tidak terlepas dari doa, niat dan tujuan yang baik, restu orangtua dan benih cinta dan sayang yang Allah sematkan pada kedua insan tersebut. Namun andaikata sekarang belum diberi, itu artinya Allah masih ingin melihat kita berusaha untuk menyelesaikan segala urusan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.

    Yakin itulah yang akan mengantarkan manusia pada rasa optimis, penuh harap/raja’ yang hanya disandarkan kepada-Nya dan tidak akan menaruh sedikitpun rasa khawatir dan takut atas segala skenario kehidupan. Begitu halnya dengan curhatan ia, yang jika semua ku simpulkan, hanyalah butuh Ke-YAKIN-an yang kuat kepada Nya, percaya dan mempercayakan segalanya kepada Allah SWT. Obrolan ku tutup dengan “selamanya, kita seduluran, jangan sampai putus silaturrahmi”. Begitulah hidup, Silaturrahmi harus dijaga, dirawat dan dipupuk, karena kemudahan, keberkahan, kemurahan, rahmat dan kasih sayang yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya, tergantung dari ketepatan hati hamba tersebut dalam menempatkan dirinya dihadapan Allah dan orang-orang sekitar.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Membangun Sikap Tasamuh (Toleran)

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada hakekatnya kita dilahirkan di bumi sebagai makhluk yang unik, tidak ada satupun yang sama. Dalam diri kita ada potensi baik dan buruk. Potensi yang baik dapat menjadikan kita berperilaku terpuji. Potensi yang buruk bisa menjadikan kita memiliki perilaku tercela. Kedua potensi itu cenderung tarik menarik, tergantung kekuatan hati yang bisa menjadikan potensi baik menjadi dominan, dan sebaliknya potensi buruk yang dominan. Kita semua menghendaki hati mampu mainkan peran untuk bisa menjadikan potensi baik menguasai perilaku kita, dan bisa meminimalisir munculnya potensi buruk.

    Fitrah keunikan manusia, menjadikan adanya perbedaan karakter dan perilaku, bahkan pandangan hidup. Kita ingat bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang selanjutnya dijadikan bersuku—suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Di sini hakekatnya tidak sebatas mengenal, melainkan sampai pada saling respek, saling toleran (tasamuh) dan saling membantu, sehingga tercipta kehidupan yang bersatu dan damai. Kondisi yang berbeda  tidak mudah bisa dicapai dengan emosi, yang kadang-kadang mendorong munculnya rasa egosentris dan individualis, kecuali menggunakan hati yang lembut dan tulus. Disinilah sikap tasamuh memainkan peran yang sangat penting.

    Belakangan ini sedikit-sedikit muncul tuduhan intoleran terhadap orang atau kelompok lain yang tidak sejalan dengan pikiran dan perilakunya. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan, karena berpotensi adanya konflik, bahkan sampai tindakan teror. Padahal perbedaan adalah suatu keniscayaan, karena  membangun identitas juga menjadi kebutuhan sebagai wujud pribadi atau kelompok yang berkepentingan untuk terbentukan self identity. Yang penting perbedaan pikiran dan identitas harus dijadikan potensi untuk maju, bukan potensi untuk beradu. Ingat Hadits Rasululllah saw (walau belum ditemukan sanadnya yang sahih), bahwa IKHTILAFU UMMATI RAHMATUN, yang artinya bahwa perbedaan di antara ummatkun adalah rahmat, karunia. Atas dasar inilah sikap tasamuh harus terus digalakkan. 

    Berdasarkan kondisi yang ada setidak-tidaknya sikap tasamuh sangat diperlukan dalam tiga setting, yaitu tasamuh terhadap sebangsa dan sesama manusia di atas bumi, tasamuh terhadap sesama pemeluk agama Islam, dan tasamuh terhadap pemeluk agama selain Islam. Pertama, tasamuh terhadap sebangsa dan sesama  manusia menjadi kebutuhan kita untuk membangun persatuan dan kesatuan, demikian pula membangun perdamaian dunia, karena tidaklah dibenarkan adanya konflik antar suku dan ras dengan alasan apapun. Karena kita semua bersaudara. Landasan dalil naqli sudah jelas, bahwa kita tidak boleh saling mengolok (QS Al Hujurat:11) dan harus saling mengenal dan membantu (QS Al Hujurat:13). Apapun alasannya bahwa kita harus menghindari perilaku yang berpotensial menimbulkan konflik, sebaliknya kita harus terus tumbuhkan sikap dan perilaku yang mendorong ke arah toleran antar sesama.

    Kedua, tasamuh terhadap sesama pemeluk agama Islam. Kita sangat menghendaki kondisi tercipta dengan baik, apalagi disinyalir banyak pihak berkomentar bahwa Pemilu 2019 telah menjadikan ummat Islam renggang antara sesama golongan dan antar golongan muslim. Padahal sudah jelas-jelas dinyatakan oleh QS Al Hujurat:10 dan Hadis Rasulullah saw, sebagai berikut : “Kamu akan  melihat orang-orang yang beriman dalam saling menyayangi, saling mencintai, saling mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian lain pun akan merasakannya dengan tidak dapat tidur dan badan panas. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Kedua dalil naqli ini mengisyaratkan bahwa kita yang seiman harus terus bisa lakukan ishlah. Alasann yang paling kuat menjadi motivasi kuat adalah kita sama-sama setauhid. Tidak ada alasan untuk kita saling memisahkan.

    Ketiga, tasamuh terhadap pemeluk agama selain Islam. Bahwa Rasulullah saw telah memberikan banyak teladan dalam perilaku sehari-hari, bagaimana kita harus bersikap tasamuh terhadap orang-orang non muslim. Kita tidak boleh mencampuri urusan agama mereka, juga tidak boleh mengganggu  mereka dalam menunaikan ajaran agamanya,. Bahkan ditegaskan oleh Allah swt dalam firmannya di QS Al Kafirun:6, yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Disini menggambarkan bagaimana ummat Islam dan ummat non muslim harus saling menghargai toleransi. Bahkan ummat Islam pun diingatkan oleh Allah swt tidak boleh memaksa orang non muslim untuk menganut agama Islam. Juga ditegaskan dalam QS Al Baqarah:256, yang artinya “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan”. Untuk bisa saling menjaga toleransi, maka tidak boleh saling memaksakan untuk rebut penganut baru, terlebih-lebih yang masih punya status beragama.

    Demikianlah persoalan tasamuh atau toleransi yang harus kita jaga dan upayakan untuk tercipta kehidupan yang harmoni dan damai. Menurut hemat kami ada kalimat kunci yang bisa mendorong terciptanya tasamuh dan toleransi, yaitu terciptanya rasa keadilan dalam semua kehidupan, respek terhadap perbedaan apapun yang ada, dan munculnya kesadaran bersama sebagai sesaudara.


    Yogyakarta, 3 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Buku, Mahar, dan Upaya Membentuk Regenerasi Cinta Literasi

    Buku.
    PEWARTAnews.com -- Beberapa hari yang lalu, saat sama-sama menunggu DPS, penulis ngobrol dengan salah satu mahasiswi Pascasarjana asli Sulawesi Selatan. Obrolan kian menarik, saat penulis bertanya tentang kuantitas mahar disana. Pasalnya, penulis sering mendengar bahwa untuk mempersunting gadis Sulawesi itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mungkin sedikit atau banyaknya itu tergantung dari diri individu (latar belakangnya),  namun biasanya hal demikian sering disamakan dengan kondisi/tradisi disetiap daerah. Sebagai contoh, di Jawa untuk mempersunting tidak ada patokan tertentu, harus ini itu, persyaratannya begini begitu dan lain-lain. Namun berdasar pada info yang penulis dapatkan dari berbagai kalangan, baik diskusi maupun obrolan biasa dengan banyak orang, baik melalui guyonan atau pembelajaran formal di dalam kelas, di luar Jawa khususnya Sulawesi ada perbedaan mengenai mahar. Sehingga hal tersebut menyebabkan orang Jawa memberikan claim atau perspektif tersendiri terhadap orang Sulawesi.

    Bahkan tak jarang klaim dan perspektif tersebut akan berimplikasi pada cara pandang dan sikap dalam bertindak, seperti misalnya restu orangtua. Biasanya (orangtua) lelaki asli Jawa akan mikir 2x manakala anak lelakinya akan menikahi gadis Sulawesi, dengan dalih alasan mahar. Sebenarnya tidak hanya di Sulawesi, namun juga berlaku di daerah luar Jawa yang terkenal mematok harga tinggi untuk Mahar. Untuk itulah, penulis pengin mendapat komentar dari mahasiswi tersebut. Apakah kabar yang mematok mahar dengan kuantitas tertentu, benar adanya atau kah hanya sekedar tradisi yang sebenarnya dapat diubah dengan sama-sama saling legowo (tanpa patakon/batasan tertentu berdasar pada musyawarah dan kerelaan hati) ? Mahasiswi tersebut mengungkapkan bahwa sebenarnya memang begitu. Semakin tinggi pendidikan dan skill yang dimiliki oleh kaum perempuan, maka akan semakin tinggi pula daya jualnya (dalam bahasa kasar seperti itu), namun tetap hal semacam itu bukanlah sesuatu yang mapan, tapi dapat diubah dengan bersama-sama musyawarah. Mahasiswi tersebut memberikan contoh kongkrit, sebenarnya tidak hanya mahar mbak, namun juga ewuh (resepsi, biaya pesta) itu juga ditanggung oleh pihak lelaki. Namun sebenarnya, bisa kok kalau mau ditawar. Yang penting, cerdas saja dalam berkomunikasi dan meyakinkan orangtua si gadis, agar mantap dan yakin bahwa anaknya bersama dengan lelaki yang tepat. Karena tak bisa dipungkiri, pastilah setiap orangtua menginginkan anak nya tercukupi dari segi materi, agar hidupnya tidak nelangsa. Begitu penjelasannya.

    Kemudian, mahasiswi tersebut berbalik bertanya. Lalu bagaimana mbak dengan konteks di Jogja terkait dengan mahar? Ya biasa mbak, di Jawa itu tidak terlalu rumit dan tidak terlalu mahal-mahal amat. Hanya bermodal seperangkat alat shalat dan Al Qur’an saja sudah sah kok mbak. Simple kan. Ini sebenarnya yang menjadi persoalan, terkadang mahar hanya di lihat dari segi simbol, tanpa memaknai esensi yang terkandung didalam simbol tersebut. Betapa banyak suami yang menjadikan mahar seperangkat alat shalat dan Al-Qur’an tersebut sebagai bukti cinta dan keseriusan dalam membangun mahligai rumah tangga, namun lalai dalam mendidik isterinya untuk shalat bahkan mengkaji agama, demikian sebaliknya. Maka, mahar jangan hanya bernilai simbol, namun yang jauh lebih esensi daripada itu ialah value, aksiologi dan maknanya. Bahkan penulis rasa, jika memang kedua mempelai telah sama-sama kuat agama dan spiritualnya, maka mahar buku (buku bacaan dan atau Kitab Tafsir Al Misbah, Al Kasyaf, Al Maraghi, Al Ibriz, dll) malah lebih baik. Sehingga, kedua mempelai bisa mensinergikan pikiran dan hati, serta jiwa raga untuk bersama-sama menghidupkan tradisi intelektualitas dan spiritualitas melalui diskusi dan belajar bersama.

    Berdasar pada pengamatan empirik-ku, di daerah Bantul belum ada orang yang berani mahar buku dan atau Kitab, kecuali guru rohani dan literasi-ku, Pak Ahmad Lutfian Antoni (alm) yang pada saat itu beliau memberikan mahar Kitab Tafsir kepada isteri tercintanya. Seandainya, orang memahami mahar dengan substansial, tentu tidak akan pernah menjadikan sesuatu hanya bernilai simbol belaka, namun ada makna, inspirasi, amanah dan tanggungjawab yang dipikul atas mahar yang diberikan.

    Di Jawa juga masih sangat langka menjumpai orang yang mahar buku hasil tulisan bersama dengan pasangan-nya. Mungkin ada, namun hanya beberapa. Tentu hal demikian, akan membentuk milieu dan habit yang secara tidak langsung akan berimplikasi pada anak-nya (regenerasinya). Dengan melihat orangtuanya yang sering membaca dan menulis, maka anak akan mempunyai semangat melakukan hal yang sama, karena anak merupakan peniru hebat. Begitu halnya saat melihat karya kedua orangtuanya, ah pastilah penuh sejarah.

    Selain ikhtiar diatas, bagi kalangan single yang belum bertemu dengan jodohnya, mungkin bisa mengaplikasikan do'a dan jurus jitu saat memasuki toko buku. Saat melangkahkan kaki, selalu libatkan niat dan do'a agar suatu saat nanti dianugrahi Allah dengan memiliki pasangan hidup dan regenerasi yang cinta literasi. Biar bagaimana pun, tradisi intelektualitas dan spiritualitas harus sinergi. Karena sesungguhnya tugas hidup manusia hanyalah sederhana, yakni Beriman, Berilmu dan Beramal (Nurcholish Madjid). Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, dan Sampaikan dengan Amal.

    Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yunin.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Bangsa Indonesia patut berintrospeksi terhadap Global Competitiveness Index (GCI) tahun 2017, yang berada pada ranking 36, pada tahun 2018  turun cukup berarti  menjadi ranking 45. Yang menarik bahwa penurunan GDI ini relatif terabaikan. Ada apa dengan Indonesia? Menurut hemat saya, ada kejadian yang tidak konsisten. Di satu sisi, kita sedang bekerja keras untuk siap-siap berkompetisi, di sisi lain kita tidak merasa terkagetkan oleh penurunan ranking GCI. Semoga dengan momentum Hardiknas tahun 2019 ini, kita berangsur-angsur bangkit dengan spirit tema Hardiknas 2019, yaitu Menguatkan Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan. Padahal penurunan GCI ini bisa berdampak meluas, yang tidak hanya mengena internal  institusi pendidikan atau institusi yang mengurus birokrasi pendidikan, melainkan juga mengena masyarakat dan bangsa.

    Mari kita memahami tema ini dengan cermat dan kritis. Menguatkan pendidikan dapat dimaknai dengan menguatkan pendidikan keluarga (informal), pendidikan persekolahan (formal), dan pendidikan luar sekolah atau masyarakat (non formal). Ketiga jalur pendidikan harus dikelola dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa berkontribusi secara signifikan terhadap pembentukan individu sebagai wholistic person. Ketiga jalur pendidikan bisa saling melengkapi dan bersinergi dalam proses pendidikan, sehingga bisa saling menguatkan. 

    Dalam konteks pendidikan formal, sangat diperlukan penguatan dari 8 standar pendidikan (Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses Pendidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian, dan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan).  Walaupun belakangan ini wacana tentang 8 standar kurang menarik. Kiranya patut diduga bahwa persoalan penilaian yang menjadi parameter kualitas pendidikan tidak terlalu dianggap penting dan strategis, sehingga upaya untuk memperjuangkan semua standar menjadi melemah. Konsekuensinya gairah membangun kualitas pendidikan menjadi menurun. Ini tanda-tanda cukup memprihatinkan untuk generasi mendatang. Karena itu upaya penguatan pendidikan perlu dilakukan secara intensif.

    Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan digital, kiranya di antara 8 standar itu ada beberapa standar yang perlu mendapat prioritas penguatan tanpa memperhatikan standar lainnya, di antaranya standar isi, proses, penilaian, kompetensi lulusan, pengelolaan, dan pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang ada,  standar isi dan proses pendidikan perlu terus dilakukan adjustment, sehingga isinya relevan dengan kebutuhan individu, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan masyarakat, terutama untuk generasi millennial. Untuk menjamin kompetensi dan kualitas  lulusan setiap jenjang pendidikan, sangat diperlukan penyesuaian standar kompetensi lulusan dan penilaian, sehingga produk pendidikan memiliki bargaining position yang kuat. Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan, maka intervensi politik seharusnya dijauhkan sedemikian rupa, sehingga kepemimpinan akademik lebih menonjol. Dengan begitu Manajemen Berbasis Sekolah dapat dilaksanakan tanpa ada gangguan yang berarti. Selanjutnya, untuk membangun sekolah efektif sangat tergantung terutama pada kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Untuk itu perlu ada jaminan bahwa kepala sekolah dan guru harus menegakkan profesionalismenya sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Ingat bahwa adanya sinyalemen tidak ada bedanya kinerja guru yang bersertifikat pendidikan dan tidak bersertifikat  pendidikak harus dikoreksi. 

    Kebudayaan Indonesia yang adi luhung harus dijaga, bahkan ada upaya kuat untuk memajukan kebudayaan. Di samping ada nilai-nilai yang sama (common culture) di antara bangsa Indonesia, kita juga memiliki local wisdom yang harus kita konservasi dan kembngkan, sehingga memiliki relevansi yang tinggi. Kita patut bersyukur bahwa berkat orang-orang, terutama budayawan dan seniman, serta tokoh nasional  kreatif, mampu menkonservasi nilai-nilai dan budaya bangsa dan daerah, di samping mengembangkan dengann kreasi barunya, sehingga tidak kehilangan identitas.

    Memajukan kebudayaan seyogyanya, tidak hanya dilihat dari perilaku dan produk budaya saja, melainkann juga dicerahkan dengan kemampuan mencipta dan dilandasai dengan nilai budaya local dan nilai-nilaim religiusitas. Dengan begitu diharapkan mampu menfilter budaya-budaya asing yang tidak sejalan dengan budaya Indonesia dan daerah. Untuk memajukan kebudayaan Indonesia seharusnya dapat dilakukan melalui pendidikan di semua jalur. Demikian juga bisa dikemas melalui program kurikuler, kokurikuler, dan esktra kurikuler.  Dalam konteks kurikuler, memajukan kebudayaan tidak hanya melalui separated curriculum dalam bentuk suatu pelajaran tertentu, melainklan juga bisa melalui integrated curriculum dalam bentuk internalisasi nilai-nilai dan substansi budaya dalam mata pelajaran lainnya. Selain memajukan kebudayaan lewat pendidikan, bisa juga lewat sektor lainnya, misalnya lewat pariwisata, kesenian, industri kreatif, multimedia, dan sebagainya. Yang jelas bahwa dalam rangka memajukan kebudayaan, perlu sekali mempertimbangkan nilai-nilain edukatif, sehingga kebudayaan kita tidak kering nilai.

    Demikianlah sekedar refleksi terhadap Hardiknas 2019, semoga penggiat pendidikan dapat berikhtiar secara optimal dalam penguatan pendidikan dengan menjadikan nilai-nilai karakter dan religi menjadai kata kunci dlam membangun 8 standar. Merujuk kepada 8 standar tidak berarti membelenggu pikiran kita, melainkan sangat terbuka untuk ide-ide baru yang bisa menguatkan pendidikan, sehingga maqam pendidikan tetap terjaga yang mampu menghasilkan insan berkarakter, berperadaban dan berbudaya. Selanjutnya diharapkan penggiat kebudayaan diharpkan terus bisa berikhtiar memajukan kebudayaan, yang sarat dengan nilai-nilai edukatif dan moral atau religiusitas. Karena itu perlu terus secara kreatif  dan produktif berkarya dan mengeksposenya dengan tetap mengedepankan nilai-nilai budaya bangsa yang berkarakter dan berperadaban.


    Yogyakarta, 2 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website