Headlines News :
Home » » Akhirussanah Pondok

Akhirussanah Pondok

Written By Pewarta News on Selasa, 21 Mei 2019 | 22.22

Siti Mukaromah.
PEWARTAnews.com – “Tirakat terbesar sekaligus terbaik bagi orang yang mempunyai Al Qur’an adalah nderes” (Ny. Hj. Siti Syamisyyah DZ)

Selama berguru dengan Bu Ny. Syamsiyyah tak banyak tuntutan dan perintah yang beliau berikan kepadaku, maupun santri-santri yang lain selain daripada nderes (mengaji Al-Qur'an). Bahkan beliau pernah ngendiko dalam bahasa Jawa, “Nek puasa sunnahmu itu membuatmu malas dan ngantuk kala nderes, mending tidak usah berpuasa, cukup nderes sik mempeng (istiqamah) saja, itu tirakatmu sebagai penghafal Qur’an”.

Berdasar sepengatahuan penulis, setiap pondok pesantren memiliki tirakat-tirakatnya sendiri. Ada kiyai dan nyai (pengasuh pondok) yang mewajibkan/ndawuhi santri-santrinya untuk berpuasa ngrowot (tidak makan nasi), mutih, puasa daud atau puasa senin kamis. Namun di pondok pimpinan Bu Ny. Syamsiyyah tidak mewajibkan itu semua, hanya saja bu Nyai tak kenal lelah untuk terus memotivasi santri-santrinya agar sregep nderes. Sebegitu besarnya bu Nyai dalam memuliakan Al-Qur’an, maka beliau selalu mewanti-wanti (menaruh harapan besar) pada para santrinya untuk terus berangkat Ahad Pon. Ahad Pon merupakan rutinan semaan Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap 40 hari sekali yang bertempat secara nomaden (door to door). Harapannya, agar ikatan keluarga besar PP. An Ni’mah terjalin kuat, selain itu juga untuk saling ngrekso Al-Qur’an, dengan berproses bersama.

Dan seharusnya, Agenda rutin Ahad Pon Santri & Alumni PP. An Ni'mah juga digunakan untuk nostalgia kebersamaan kala dulu menjadi santri. Moment seperti ini juga seharusnya digunakan sebagai ajang untuk menyambung silaturrahim. Sebagaimana yang diketahui, bahwa silaturrahim menjadikan hidup kian berkah, melapangkan rizqi dan memperpanjang umur. Jika hal semacam itu disadari, tentu sepelik apapun keadaan dan kesibukan tak menjadi hambatan untuk tetap berangkat dan merajut kebersamaan kembali. Bayangkan, betapa bahagianya Almh. Bu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ manakala melihat santri-santri nya antusias untuk bersama-sama nguri-uri (menjaga dan merawat) amanah beliau.
Suasana saat Akhirusanah Pondok Pesantren An Ni'mah.

Saya yakin seyakin-yakinnya-nya (haqqul yaqin) betapapun keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat, tetapi kalau niat, azam dan ghirah menjadi patokannya, pasti Allah akan memberikan kemudahan dan kekuatan untuk sampai pada tujuan. Untuk memupuk semangat selain mengingat dan mengenang wajah bu Nyai, bisa dengan cara melihat keadaan diri. Bagi yang masih single, mumpung belum nikah. Bagi yang sudah nikah, mumpung belum punya anak. Dan bagi yang sudah menikah dan punya anak, mumpung masih ada peluang dan kesempatan yang Gusti Allah berikan, maka harus semangat menjaga amanah Almh. Bu Nyai untuk meramaikan majlis Ahad pon. Karena sedikitpun manusia tidak tahu kapan ajal menjemput. Padahal setiap harinya, kematian selalu mengintai manusia. Sekali lagi, karena “mumpung”, jadikan kata “mumpung” itu sebagai cambuk loncatan untuk semangat dalam segala hal, sesibuk apapun.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website