Headlines News :
Home » , » Kuliah Umum “Pendidikan Islam dan Revolusi Industri 4.0”

Kuliah Umum “Pendidikan Islam dan Revolusi Industri 4.0”

Written By Pewarta News on Minggu, 26 Mei 2019 | 06.42

Suasana usai kuliah umum berlangsung.
PEWARTAnews.com -- Senang rasanya dapat berdiskusi dengan Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag dari Medan dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh mahasiswa Pascarasajana FITK Yogyakarta pada Jum’at (22/3/2019). Pertama kali mengenal nama beliau saat membaca buku yang berjudul Islam Mazhab HMI dan NDP Interpretasi teks dan konteks yang gagasan-gagasannya sangat dinamis dan progresif. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk dapat menimba ilmu bersama beliau secara face to face guna menyambung sanad keilmuan.

Paparan beliau mengenai Pendidikan Islam, diawali dari Qs. Al Baqarah ayat 129 dan 151 yang merupakan salah satu ayat pendidikan sekaligus menjadi dasar lahirnya kurikulum 2013. Qs. Al baqarah ayat 129 merupakan doa Nabi Ibrahim yang amat visioner, dimana beliau berdoa kepada Allah agar generasi yang datang jauh setelah beliau mendapatkan ilmu, hikmah dan kebijaksanaan. Hal tersebut merupakan salah satu bukti cinta, kasih dan sayang yang beliau curahkan kepada generasi masa depan dengan memikirkan hidup mereka di zaman yang amat berbeda dari masa beliau. Dalam konteks Pendidikan Islam, Pendidikan harus mampu menjawab setiap tantangan zaman dan arus lanju globalisasi yang semakin tidak terbendung. Guru yang awalnya menjadi sumber satu-satunya pengetahuan, kini di era 4.0 harus memposisikan diri sebagai pem-filter terhadap literasi digital yang dikonsumsi oleh peserta didiknya. Sehingga, pembelajaran tidak hanya sekedar transfer of knowledge di ruang-ruang kosong, namun peserta didik harus dibekali dengan skill agar cerdas memilah dan memilih literasi digital yang kredibel dan validitasnya dapat dipertangganggungjawabkan, entrepreunership, ekstrakurikuler yang menunjang jiwa leadership dan team work serta internasionalisasi dan konektivitas. Karena peserta didik yang belajar tahun 1990 akan bekerja pada tahun 2020 – 2030. Sedangkan yang belajar pada tahun 2020 akan mengajar pada tahun 2030 – sampai suatu masa yang tak akan pernah ada yang tau. Oleh karena itulah, pendidik harus orientasi jauh ke depan untuk memikirkan masa depan bangsa, dengan memberikan wawasan, ilmu pengetahuan yang dinamis dan progressif serta inspirasi segar kepada regenerasi bangsa. Senada dengan Petuah Umar Bin Khattab “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”.

Dalam Qs. Al Baqarah ayat 151 Allah memberikan karunia besar kepada Nabi Ibrahim. Makkah yang tanahnya tidak produktif nan tandus, kini menjadi kiblat negara-negara lain serta menjadi tempat yang sangat menarik dikunjungi banyak orang, hal tersebut dikarenakan usaha dan doa dari Nabi Ibrahim dengan langkah pertama membangun SDM sebagai syarat pertama dalam membangun sebuah peradaban. Maka, Islam dimanapun tempatnya akan berkembang, asal mempunyai SDM yang berkualitas. Adapun pilar SDM Qur’ani ialah ta’lim (pengetahuan), tilawah (skill), dan tazkiyah (Integritas).

Ta’lim atau knowledge harus integrasi interkoneksi. Adanya doktrinisasi mengenai dikotomi ilmu dunia, ilmu akhirat, mind set bahasa arab merupakan bahasa surga, sedangkan bahasa inggris merupakan bahasa neraka begitu halnya dengan matematika yang hanya bermanfaat pada tataran dunia saja merupakan hal yang menghambat kemajuan peradaban. Sedangkan untuk menopang keilmuan yang baik dan berkualitas, harus diimbangi dan disinergikan dengan tilawah atau skill yang harus terus diasah dan dikembangkan, serta mampu mengkoneksikan suatu hal dan harus cerdas membaca zaman. Itulah mengapa, dalam tradisi lembaga pendidikan Islam di Indonesia, biasanya ketika guru mengahiri pembelajaran, peserta didik dibiasakan untuk membaca Qs. Al Ashr ayat 1-3. Ternyata, ayat tersebut merupakan ayat  tentang masa depan yang sangat menggetarkan. Yang mana, wa ‘amilu as-shaalihat mengandung makna menshalihkan diri dengan berkontribusi untuk kemajuan peradaban yang harus diimbangi dengan iman, ilmu dan amal (memiliki skill). Wa tawaa shau bil haqqi yang mengandung makna pentingnya kreativitas dan membangun jaringan. Wa tawa shau bi ash-shabr yang harus senantiasa berproses demi mencapai sebuah goal, visi atau target hidup. Yang terakhir adalah tazkiyah atau integritas yang utuh dan tidak split personality. Shalih ritual juga sosial, shaleh perilaku juga shalih fikiran. Karena orang yang hati dan jiwanya bersih, akan mudah menyerap dan mendapatkan ilmu. Dalam Islam dikenal dengan ilmu ladunni/khudhori/’irfani, yang dipertegas dalam Qs. Al Alaq ayat 5.

Tak hanya itu, Pendidikan Islam mempunyai tanggungjawab besar dalam membentuk kepribadian peserta didik yang memiliki spirit keislaman dan keindonesiaan. Maka, seharusnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Islam peserta didik harus diberi bekal dengan wawasan multikultural agar siap dan kuat mental terhadap berbagai macam perbedaan, jika pada masanya nanti hidup dalam masyarakat plural.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website