Headlines News :
Home » , » Love Yourself (Cintai Dirimu Sendiri)

Love Yourself (Cintai Dirimu Sendiri)

Written By Pewarta News on Jumat, 24 Mei 2019 | 11.02

Setelah percaya diri, kita akan dengan leluasa menikmati keindahan hidup.
PEWARTAnews.com -- Pernah dengar dong kalimata di atas "love yourself" atau "cintai dirimu sendiri’", entah dilirik lagu atau kalimat yang dibilang seseorang untuk kita, tapi biasanya sih dari lagu yah. Kalimat itu biasanya untuk menyemangati diri sendiri atau bahkan menjadi kalimat tanpa makna, lebih sedihnya mungkin terkadang menjadi angin lalu. Tergantung bagaimana seseorang menanggapinya.

Sedikit banyak orang yang selalu meremehkan diri sendiri entah dengan selalu merendah atau langsung menjudge diri sendiri akan sesuatu yang akan dilakukan, merendah memang baik tapi ada waktu tertentu tidak melulu merendah yang terkandang buat kita tidak percaya diri.

Mencintai diri sendiri bukan berarti menimbulkan kenarsisan diri yang berlebih, tapi bagaimana percaya diri atas apa yang kita miliki tanpa dibuat-buat, tanpa mengeluh, tanpa membandingkan dirimu dengan orang lain. Tidak akan ada habisnya ketika kita membandingakan diri kita dengan orang lain sebab setiap orang memiliki porsinya masing-masing yang diberikan pencipta.

Berhenti menghakimi takdir atas dirimu
Berhenti menghakimi tuhan atas ketidak sempurnaan yang kita rasakan
Bukankah semua orang tidak ada yang sempurna ? kalau kita terus mencari kekurangan diri sendiri dan selalu melihat kesempurnaan orang lain, dijamin kita tidak akan pernah melangkah maju.

“Enak yah yang tinggi badanya bagus, tidak seperti aku udah pendek, bulat, bantet, item lagi, untung hidup”. “Enak yah yang pendek, keliatannya manis, imut, menggemaskan, bisa make high hels sesuka dia, lah aku kalau make high hels malah dibilang orang, udah tinggi malah tambah pake high hels ngak tau diri banget, badan kok kayak tiang listrik”.

Lalu kalimat ini yang sering di ucap "bagus banget badannya kurus tinggi lagi kayak model, lah aku udah kayak gajah, sering dijadiin bahan ejekan karena gemuk dibilang sarang lemaklah, belum juga makan udah naik aja berat badanya”. "Enak yah yang gemuk makan banyak ketauan jadi daginglah, kalau aku walaupun makan banyak segitu-segitu aja, malah dibilang kurang gizi lah, badan tidak bisa nyerap makananlah, dan lain-lain”.

Kenapa harus selalu seperti itu, tidakkah kita pikir terlalu memusingkan dan membandingan kekurangan kita dengan orang lain yang kita anggap sempurna itu melelahkan, apa sih yang sebenarnya yang kurang dari kita, cantik? bukan! Badan bagus? bukan! Kaya? bukan! Lalu apa? Kita kurang bersyukur terhadap apa yang kita miliki, kita kurang bersyukur terhadap takdir yang digariskan untuk diri kita.

Yakin dan percayalah terkadang hidup yang kita miliki adalah hidup yang diinginkan oleh orang lain diluar sana. Tetap  yakin atas apa yang kita miliki, bersyukurlah atas apa yang kita punya, karena kalau sesuatu itu tidak digariskan untuk kita sekuat apapun kita usaha untuk mendapatkannya tidak akan pernah menjadi milik kita.

Saya teringat sesuatu yang pernah saya baca disebuah buku tapi lupa judunya apa, seperti ini “Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintai dirinya sendri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?”. Jadi sebelum diri kita sendiri meninggalkan diri kita, belajarlah menerimanya.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan entah yang akan beresiko terhadap diri sendiri atau sebuah kelompok sedikit banyak dari kita selalu menyalahkan diri kita sendiri, harusnya begini harusnya begitu yang tanpa kita sadari membuat diri kita tidak menyukai diri kita dan mulai membandingkan diri kita dengan yang orang lain, harusnya seperti dia atau lebih baik seperti dia.

Setelahnya orang lain juga ikut andil menyalahkan kita seperti “kamu sih” atau “tuhkan tau gitu aku aja tadi” malah ada yang lebih nyelekit “ngak pernah benar deh kalau sama kamu” atau “bisanya apa sih kamu ceroboh” dan pada akhirnya mental kita pun jatuh rasa percaya diri kita pun hilang. Padahal kalau kita yakin sama diri kita sendiri orang lain pun akan yakin sama kita.

Ingatlah tidak semua orang bisa melakukan apa yang kita lakukan. Tidak semua hal memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan yang sama, bisa jadi apa orang lain lakukan sebenarnya bisa juga kita lakukan cuman kurang yakin saja, begitupun sebaliknya apa yang tidak bisa oleh kita belum tentu orang lain bisa. Kita hanya perlu berusaha lebih keras saja.

Setelah percaya diri, kita akan dengan leluasa menikmati keindahan hidup.

Pada dasarnya orang lain hanya terbawa alur sugesti kita terhadap diri kita sendiri, kalau kita yakin terhadap diri kita, kalau kita percaya terhadap diri kita, yakinlah orang disekitar kita pun akan seperti itu terhadap kita karena semuanya dimulai dari diri kita.

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang punya hak atas dirimu untuk menghakimimu. Tidak ada seorangpun dibumi ini yang bisa mengatur dirimu.

Tidak ada. Semua orang punya pilihan untuk pergi atau tetap tinggal, juga dirimu, jadi sebelum dirimu benar-benar hilang maka mulailah menerima dengan lapang sembari terus berusaha lebih baik.

Mulailah mensugesti dirimu dengan hal-hal yang baik. Yakinkan dirimu bahwa kita bisa untuk semua hal, kalaupun kita belum bisa jangan bilang tidak, berusahalah dengan segala yang kita bisa. Tetap optimis jangan pesimis.

Semua orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada satupun orang yang terlewat dari sebuah kesalahan. Tidak saya, tidak juga kamu. Cuman pada porsinya masing-masing, kesalahan juga bagian dari proses untuk dewasa soal bagaimana kita bisa menanggapi dengan baik saja.

Terakhir tapi bukan yang terakhir, penulis kutip dari buku yang pernah di baca. "Belajarlah menerima, menyayangi dan mencintai diri kita sendiri dengan anggun hingga lelah pun iri melihat romantisnya kita dengan diri kita sendiri".


 Penulis: Nurkurniati, S.Par.
Mantan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Alumni Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website