Headlines News :
Home » , » Panggil Saja "Mukaromah"

Panggil Saja "Mukaromah"

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 15.56

“Apabila ingat Makkah”, ingatlah selalu namaku, karena “Makkah selalu disambung dengan nama Mukarromah”. Semoga mudah teringat, terkenang dan senantiasa di doakan yang baik-baik”, (Mukaromah, 2019).

Tak dipungkiri, bahwa memanggil orang dengan menyebut namanya merupakan sentuhan psikologi yang amat sangat dalam. Orang akan merasa dihargai dan dihormati, karena namanya “terkenang”. Begitu kiranya untuk menggambarkan makna “panggilan” kepada orang lain. Maka dari itu saya selalu membiasakan diri kalau memanggil orang dengan menyertakan namanya. Tak hanya face to face, di WA ataupun medsos lain pun demikian pula. Selain menyebut nama, saya juga senantiasa mencocokkan nama orang yang saya sebut, dengan tulisan nama aslinya, untuk menghindari hal-hal yang kurang mengenakkan. Tidak ditambah, tidak pula dikurangi. Karena saya yakin, setiap nama mempunyai filosofi dan sejarah historis sendiri yang melatarbelakanginya.

Begitu pula denganku, merasa ada kesan tersendiri saat ada yang memanggil dengan sebutan”Mukaromah”. Kalau di WA, ada yang bertanya sesuatu tanpa memanggil namaku, hanya sebutan “mbak” saja, biasanya saya tanggepi “jenenegan, berbicara kalih sinten”? Hahahaha. Jadi, marilah bersama-sama untuk menebar energi positif kepada orang lain meski melalui hal yang sangat sederhana, yakni menyertakan namanya.

Namun terkadang, aku berpikir. Nama “Mukaromah” itu sulit diucap ya? Padahal Allah menyebut namaku dalam Qs. ‘Abasa, maupun do’a khatmil qur’an. Seringkali, saya tertawa lepas sambil geleng-geleng geli saat namaku dipanggil maupun ditulis orang dengan “kurang tepat”. Ada yang mengurangi, ada yang menambahi dan ada pula yang me-REVISI total. Ah, lucu pokoknya saya tidak bisa ngampet guyu. Selalu ku maklumi, dengan isyarat “anggukan dan seyuman”, namun disaat yang bersamaan, saya selalu minta untuk membenahi nya. Hahaha. Ada yang menulis namaku dengan menambahi huruf “H” didepan “K”, menjadi “MuKHaromah”. Ini fatal dalam kaidah makna. Karena arti namaku yang semula “Mukaromah” (yang dimuliakan), gara-gara ketambahan huruf “H” saja “Mukharomah” menjadi (yang diharamkan). Hahahaha. Bahkan ada yang menyebut namaku dengan “Warohmah”, “Karohmah”. Tak hanya itu, kadang ada pula orang yang saking fasihnya dan ke-arab-araban memanggil namaku malah salah kaprah. K nya dibaca H seperti yang tertulis Mukharomah itu. Aduh, tepuk jidat. Wkwkwk. Sebenarnya panggil apa adanya malah benar, begitu batinku.

Namun, biasanya orang yang paham betul bahasa arab dan paham agama, memanggil namaku dengan double R. “Mukarromah”. Hehehe. Aku suka dipanggil dengan panggilan tersebut, biasanya saya menilai orang yang memanggil demikian, fasih baca qur’annya. Agar namaku mudah dihafal, selalu ku tekankan kepada siapapun, baik kepada orang yang baru ku kenal saat “sama-sama saling memperkenalkan nama”, maupun kepada kawan-kawan yang akan berpisah lama, dengan “Kalau sampean ingat Makkah”, ingatlah selalu namaku, karena “Makkah selalu disambung dengan nama Mukarromah”. Harapanku, agar namaku mudah teringat, terkenang dan senantiasa di doakan.

Akan tetapi, innal insana mahaalul khatha’i, wa an-nisyan. Manusia merupakan makhluk tempat salah dan lupa. Manusia tak luput dari kelemahan diri, namun kelemahan itu bukanlah suatu hal yang mutlaq dan pasti. Kelemahan dapat diperbaiki dengan cara senantiasa muhasabatun nafs. Dalam artian, berusaha untuk tidak jatuh dilubang yang sama. Dalam konteks ini, boleh salah memanggil dan menulis nama orang, hanya jika sudah diklarifikasi oleh orang yang bersangkutan lain kali jangan sampai terulang kembali. Karena memanggil orang dengan menyebut namanya secara tepat, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwanya.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website