Headlines News :
Home » , » Ramadan dan Revolusi Mental

Ramadan dan Revolusi Mental

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 16.14

PEWARTAnews.com -- Revolusi Mental di awal munculnya sebagai wacana bangsa sangat mengejutkan, karena di balik itu ada harapan dan semangat yang sangat terpuji. Keinginan untuk menjadikan individu  ummat atau rakyat melakukan reformasi karakter, perilaku dan peradaban. Namun apa yang terjadi belakangan, Revolusi Mental secara berangsur-berangsur hilang dari percakapan dan terlindas oleh derasnya arus pragmatism, hedonism, kepatilatisme, dan  materialism. Sebagai insan dan bangsa yang masih memiliki cita-cita, menurut kami bahwa Revolusi Mental masih relevan dengan misi Ramadan. Karena itu itu Ramadan saat ini seyogyanya dapat dijadikan suatu momentam untuk merefresh spirit Revolusi Mental untuk mengoreksi dan memperbaiki perilaku kita yang masih abaikan karakter bangsa yang pancasialis dan agamis.

Perilaku bangsa, terutama para pimpinan di semua level dan sektor secara lahiriyah seakan-seakan sudah ada kemajuan yang berarti, yang diindikasikan dengan kemajuan infrastruktur yang dalam batas tertentu baru memuaskan sejumlah fihak yang berkepentingan (stakeholders).  Walaupun  masih ada hal lain yang menjadi sorotan karena kurangnya relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah tertentu, sehingga di-claim terjadi potensi inefisiensi. Belum lagi mengingat beban yang akan dihadapi generasi penerus untuk membayar hutang. Juga dengan terbatasnya para fihak pengawal implementasi Revolusi Mental yang kurang disiplin dan sungguh-sungguh, sehingga masih terjadi juga  pelanggaran hukum, etika organisasi, dan integritas pejabat yang terwujud dalam pelanggaran KKN masih cukup banyak, apakah yang mengena eksekutif, legislative, yudikatif, dan politisi, dan lain-lainnya. Kondisi yang demikian ditambah dengan organisasi sipil yang mesih lemah dalam melakukan kontrol juga, yang mungkin dalam batas tertentu tidak melakukan kontrol sosial dan moral.

Ramadan 1401 diharapkan sekali dapat dijadikan momentum semua, terutama para pengawal moral semua sektor, terutama orarganisasi keagamaan dengan tanggung jawabnya yang sangat berat, yang seharusnya mampu menunjukkan jati dirinya sebagai institusi independen, dengan cara yang bijak. Kita menumbuhkan spirit Ramadan yang dipilih oleh Allah swt untuk menurunkan ayat pertama sebagai tanda kerosulan. Yang paling utama Rasulullah diperitahkan dan dibangkitkan di atas bumi semata-semtauntuk menyempurnakan akhlaq, Yang tertuang dalam hadistnya “Innamaa bu’itstu liutammimaa makaarimal akhlaaq” (HR Imam Bukhary).  Kondisi saat itu di Arab digambarkan dengan masyarakat jahiliyyah (dalam kebodohan). Kebodohan di sini bukan dimaknai bodo secara ilomu, melainkan bodoh dari sisi moral, sehingga merusak tata kehidupan. Yang digambarklan dengan membunuh hidup anak-anaknya dan semaraknya kehidupan maksiyat lainnya, serta menyembah berhala, patung-patung dibuat dan dipuji sendiri. Karena itu misi Rasulullah dihadirkan semata untuk mengeluarkan kehidupan yang gelap menuju kehidupan yang terang (fa akhrijna minadh dhulumaati ilan nuur). Upaya Rasulullah saw dikuatkan oleh Allah swt melalui firman-Nya dalam  QS. al-Baqarah: 257, yang artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Untuk dapat memperoleh hikmah sebanyak-banyaknya dari Ramadan 1440 H, kita dapat melakukan evaluasi diri terhadap perilaku kita secara personal dan institusional, sehingga dapat memperoleh gambaran tentang posisi perilaku religius kita. Dengan mengetahui kemajuan dan posisi kita, serta persoalan kita, insya Allah dengan semangat menuju kehidupan yang lebih baik di dunia dan di akhirat, kita bisa lakukan kendali diri dan control diri, serta manajemen diri yang kebih baik, sehingga kita bisa mengeliminir dan mungkin bisa meniadakan kebijakan dan perilaku yang tak bermanfaat dan merugikan orang atau fihak lain. Dalam waktu yang sama, kita memperbaiki kebijakan dan pelaksanaan aktivitas kehidupan dengan cara-cara berintegritas, baik dan terpuji, sehingga memberikan manfaat sebanyak-banyaknya, baik untuk memperbaiki akhlak dan perilaku kita sendiri dan institusi yang menjadi tanggung jawab kita.

Untuk mengimplementasikan Revolusi Mental secara bertanggung jawab dan untuk meraih kesuksesan besar, maka usaha kita harus bisa diwujudkan dalam bentuk Gerakan yang melibatkan semua, dengan keteladanan parta pimpinan formal dan informal, di samping berawal dari dukungan dan keterlibatan keluarga masing-masing, Mari kita jadikan spirit Ramadan yang memiliki misi propetik, kita jadikan modal utama untuik membangun bangsa berkarakter, berdaulat dan bermartabat. Mari bangga dengan bisa menjadi pemain kunci di manapun berada, dan merasa malu sekali untuk tidak mau peduli. Satu contoh yang dapat kita lihat, bahwa tujuh tahun yang lalu kondisi moral di China masih belum akui pentingnya perilaku moral, namun dua tahun lalu ketika saya melakukan resigning MoU dengan salah satu universitas  di China Selatan, di sana sudah terjadi perubahan yang sangat signifikan, bahkan terkesan sekali baru saja terjadi revolusi mental. Dari wilayah yang kumuh perilaku asosial, penyimpangan perilaku sosial, menjadi wilayah yang diwarnai dengan perilaku yang bermoral. Kondisi ini didukung oleh semua institusi, termasuk masyarakat yang menunjukkan ketaatan terhadap kesepakatan dan aturan yang ada.

Rasanya indah sekali jika Spirit Ramadan dapat mewarnai secara signikan implementasi Revolusi Mental di tanah air. Perilaku pancasialis dan agamis harus diwujudkan secara nyata oleh semua, bukan “panas-panas tahi ayam”. Semua terlibat mengawal dan mengimplentasikannya dalam bentuk gerakan. Insya Allah dengan menjadikan Indonesia bersih, berkarakter dan bermartabat akan membanggakan kita semua dan bangsa, serta seluruh manusia di muka bumi. Sebagai wujud rahmatan lil-alamin. Yang diuntungkan bukan makhluk manusia saja melainkan juga makhluk lingkungan fisika dan sosial, bahkan makhluk mati pun merasa mendapatkan kebaikannya. Semoga Allah swt membimbing kita semua dan meridloinya. Aamiin.


Yogyakarta, 7 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website