Headlines News :
Home » , » Ramadan Bulan Rahmat, Maghfirah, dan Itqun Minan Naar

Ramadan Bulan Rahmat, Maghfirah, dan Itqun Minan Naar

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 15.43

PEWARTAnews.com -- Di awal Ramadan sering kita ikuti kajian bahwa Bulan Ramadan itu dapat  dikatagorikan menjadi 10 hari pertama (awal), kedua (tengah) dan ketiga (akhir). Pembagian ini merujuak pada Hadits Rasulullah saw, yang artinya : “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya ‘itqun minan naar (pembebasan dari neraka).” Setelah ditelusuri oleh para Ahli Hadits, bahwa matan hadits ini dzaif dan munkar. Karena itu kita perlu berhati-hati. Walaupun demikian hadits ini dzaif dan munkar, namun karena hadits ini tidak terkait dengan tauhid, melainkan sifatnya fadzailul a’mal, maka masih dibenarkan matan hadits ini untuk rujukan ummat Islam dalam meningkatkan amal sholehnya.

Pertama, awal Ramadan adalah rahmat. Para ulama memaknai sepuluh hari pertama bulan ramadhan sebagai rahmat, yaitu terbukanya pintu rahmat Allah SWT, yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang menunaikan shaum. Dalam khazanah tasawuf, rahmat itu ada dua macam, pertama rahmah dzaatiyyah, yaitu rahmat dan  angerah yang diberikan Allah swt kepada semua mahluk-Nya tanpa terkecuali. Kedua, rahmah khushushiyyah, yaitu rahmat dan kasih sayang yang Allah swt hanya diberikan kepada hamba-hamba Pilihan-Nya. Sepuluh hari pertama merupakan keistimewaan karena diturunkannya rahmat kepada hamba-hamba yang telah ikhlas dan ridha menunaikan shaum ramadhan dengan penuh keimanan kepada Allah swt. Salah satu rahmat dan kasih sayang Allah swt  yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang shaum dengan iman dan taqwa yaitu disediakan salah satu pintu masuk ke dalam surga yang tidak dilalui oleh siapapun kecuali para ahli shaum (Baabu Ar Rayyaan).Kita tahu bahwa di bulan Ramadan banyak keutamaan, bahwa pahala untuk ibadah wajib dan sunnah berbeda dibandingkan daripada di bulan lainnya, demikian juga kesempatan untuk beribadah. Keutamaan diberikan, karena seuatu amalan yang sangat berat dari tidak puasa menjadi puasa, yang membutuhkan adaptasi fisik, pikiran, emosi, dan spiritual. Jika berhasil melaksanakan puasa dengan baik, maka diperoleh keutamaan. Karena itu saying sekali jika tidak memanfaatkannya dengan baik, sampai tidak berpuasa tanpa udzur yang jelas.

Kedua, mendapatkan maghfirah. Maghirah dapat dimaknai sebagai ampunan dari Allah swt, yang dosa-dosa kita ditutupi oleh Allah swt. Berlimpahnya maghfiroh dari Allah ini memang tidak mengherankan, mengingat Allah SWT memiliki sifat Al-Ghaffar (Maha pengampun).  Kata Al Ghaffar terambil dari akar kata "Ghafara" artinya  "menutup" yang berarti Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya. Sedang Ada juga yang berpendapat dari kata "al ghafaru" yakni "sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka" yang berarti Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan, yakni terhapus dosa. (Ibnu Abbas). Asma Allah Al-Ghaffar juga dapat difahami dalam arti " Yang Maha Luas Ampunan-Nya". sebagaimana firman Allah SWT, " Sesungguhnya Rabb-mu sangat luas maghfirah-Nya (QS. At- Taubah:117). Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa mengerjakan ibadah (qiyam) pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah semata, maka diampunilah dosanya yang telah lalu (HR imam Bukhari dan Imam Muslim).

Berkenaan dengan maghfirah yang dijanjikan oleh Allah swt, maka pada sepuluh hari kedua Ramadan merupakan hari yang penuh dengan magfirah. Dengan terbiasanya kita dalam menjalankan ibadah wajib atau berpuasa, maka ibadah yang lain atau ibadah sunnah seperti shalat malam, berdzikir, membaca al- Qur’an dan amalan baik yang lainnya harus lebih diperbanyak dan harus lebih semangat lagi. Karena di waktu ini Allah swt banyak memberi maghfiroh kepada umat-Nya yang rajin beribadah . Serta Allah swt akan mengampuni dosa-dosa umat-Nya yang mau memohon ampun dengan taubatan nashuha atau memohon dengan penuh keikhlasan dan bersungguh–sungguh. Thuubu ilallaah taubatan nashuhaa. Dikuatkan lagi dengan, ud’unii astajib lakum. Untuk itu, janganlah kita menyia–nyiakan waktu ini. Semoga kita selalu mendapat magfirah dari Allah swt.

Ketiga, marilah kita memohon itqun minan naar. Itqun minan naar itu sangat penting, Karen asetiap do’a kita dalam memohon kebaikan daeri Allah swt, kita akhiri dengan “lindungilah kami dari siksa api neraka” (waqinaa adzaaban naar). Untuk kita bisa bebas dari siksa neraka maka kita harus bunuh api-api kehidupan, pertama api hawa nafsu, yang harus diselesaikan dengan nafsu yang diridloi oleh Allah swt; kedua nafsu syaithoniyah yang  dibunuh dengan puasa yang dilandasi dengan iman yang benar; dan ketiga api hasad dengki, dendam dan permusuhan, yang harus dijauhi dengan membiasakan diri dengan  husnudz dzon. Selain itu langkah nyata yang dapat dilakukan pada waktu sepeuluh terakhir Ramadan dengan tingkatkan amalan kita di antaranya: (1) Lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah (2) Banyak berdo’a, (3) I’tikaf di masjid, (4) Memperbanyak shalat malam, dan (5) Bersungguh-sungguh dalam meraih malam Lailatul Qadar.

Setelah kita ikuti sedikit uraian di atas, bahwa pembagian sepuluh hari pertama, tengah dan akhir, itu terutama untuk memdahkan dalam menjelaskan fokus penting dalam beribadah. Namun dalam praktetknya bahwa ketiganya, yaitu Rahman, maghfirah dan itqun minan naar itu seharusnya terjadi selama bulan Ramadan. Bahwa pada putaran sepuluh hari pertama, kita juga sudah bisa di samping melakukan mohon Rahmat,  kita juga melakukan amalan yang terkait dengan istighfar dan  amalan yang bisa mengantar kita untuk bisa menjauhkan diri kita dari neraka. Demikian pula pada pertengahan dan terakhir Ramadan kita bisa juga mengharapkan rahmah, terlebih-lebih pada waktu lailatul Qadar dan waktu-waktu puncak-puncaknya di akhir Ramadan, kita juga bisa menuntaskan istighfar di saat kita i’tikaf dan di saat lailatul qadar. Yang penting disini, bagaimana kita bisa memanaj waktu Ramadan dengan amal-amal yang terbaik. Momentum Ramadan adalah sesuatu yang terbaik, yang diberikan oleh allah swt, bagaimana kita bisa menjadi menang dan kembali  ke Fitra setelah maengakhiri Ramadan nanti. Semoga. Aamiin.


Yogyakarta, 6 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website