Headlines News :
Home » , » Ramadan Syahrut Tarbiyah

Ramadan Syahrut Tarbiyah

Written By Pewarta News on Jumat, 31 Mei 2019 | 18.56

PEWARTAnews.com -- Ramadan disebut Syahrut Tarbiyah (Bulan Pendidikan), karena Ramadan merupakan strategi komprehensif yang diharapkan mampu menghasilkan insan Kamil, tinggi taqwanya, cemerlang pikirannya, terkendali emosinya, terjaga ukhuwwahnya, dan sehat jasmani dan rohaninya. Jika tidak terjadi perubahan dan kemajuan yang berarti pada aspek-aspek itu, maka dipertanyakan amaliah Ramadannya. Wujuduhu ka adamihi, adanya seperti tidak adanya. Rambu-rambu untuk mengawal dan melaksanakan ibadah Ramadan memang sudah ada, namun akhirnya bergantung pada subjeknya, pribadi umat Islam sendiri. Apakah mereka ikuti dengan setia atau tidak?

Ramadan sebagai bulan pendidikan, dapat di dimaknai dan ditandai dengan aktivitas yang mampu mendorong peningkatan ketakwaan, kemampuan berpikir inovatif, kemampuan pengendalian diri, kemampuan relasi sosial, dan kesehatan jasmaniah dan ruhaniah. Ramadan meningkatkan ketakwaan dapat dilihat pada peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah khas yang tidak terjadi pada bulan yang lain, tapi di bulan Ramadan, misalnya puasa wajib, shalat Taraweh (qiyamul lail), tadarus Al Qur-an, i’tikaf, ZIS (zakat, infaq, shadaqah).

Ramadan meningkatkan kemampuan berpikir inovatif. Turunnya firman pertama, 5 ayat QS Al ‘Alaq, memberikan perintah membaca (IQRA’) baik ayat-ayat qauliyyah maupun ayat-ayat kauniyah. Di sini memberikan isyarat bahwa diharapkan mampu membaca tekstual saja, melainkan juga membaca kontekstual dengan memaknai, mengeksplorasi dan meneliti, apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al Quran, atau apa yang terkandung dalam ayat-ayat kauniyah. Demikian juga dituntut mengembangkan kemampuan inovasi untuk berikan solusi terhadap persoalan yang muncul tiada henti. Karena itu sering kita ikuti Bahtsul Masail terhadap issues yang up to date.

Ramadan meningkatkan kemampuan kontrol diri dengan mengandalkan kecerdasan emosional. Dengan puasa, kita latihan pengendalian marah dengan sabar, mudah memaafkan, menurunkan agresivitas, menjaga omongan untuk tidak menyinggung perasaan orang lain, menghindari konflik verbal dan fisik dan sebagainya.

Ramadan meningkatkan kompetensi relasi sosial dapat dipetik pelajarannya dari agenda buka bersama, yang semua orang di tempat berbuka saling sharing apa yang dimiliki. Perhatikan pada waktu berbuka, siapapun ingin berbagi, bahkan yang kaya melayani. Mengutamakan sholat berjamaah baik yang wajib maupun sunah. Agenda silaturahmi ke panti-panti untuk berbagi. Juga silaturahmi ke keluarga besar dan handai taulan. Membayar zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqah untuk untuk mustahiq. Ramadan juga mendorong berempati kepada cara hidup orang tak beruntung secara ekonomis dengan merasakan lapar dan dahaga.

Ramadan berkontribusi untuk perbaikan kesehatan fisik dan mental. Dengan melakukan perbaikan cara dan ukuran makan, sehingga pilihan makanan pun menyehatkan. Ramadan bisa juga mengurangi, beruntung lagi jika bisa menghilangkan kecanduan minuman dan kegiatan “ngrumpi”.

Ramadan akhirnya semakin membuktikan bisa menjadi solusi yang sangat dalam kehidupan kita. Ramadan hikmahnya tidak hanya untuk satu aspek, tetapi juga untuk banyak aspek, sehingga nilai edukatif terasa manfaatnya. Ramadan sengaja dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi strategi pendidikan yang ampuh antarkan Ummat Islam menuju Insan Kamil. Karena itu untuk mendapatkan Ramadan yang mendidik dan berhasil  perlu melibatkan peran jalur pendidikan informal,formal, dan non formal secara komplementair dan sinergis.


Yogyakarta, 10 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website