Headlines News :
Home » , » Saya Bukanlah yang Terbaik

Saya Bukanlah yang Terbaik

Written By Pewarta News on Senin, 27 Mei 2019 | 13.07

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Sesuatu yang indah dan berharga, karakter seorang Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang tergambar di awal-awal kepemimpinan Islam  setelah ditinggal Rasulullah saw menghadap ke rahmatullah. Bahwa beliau tidak merasa berubah kepribadian atau gaya hidupnya, tidak merasa lebih gemilang, dan lebih tinggi daripada sahabat lainnya. Beliau benar-benar sangat tawadlu’, humble.

Selanjutnya, setelah ditetapkan sebagai khalifah, beliau merasa malu sambil tidak lepas mengarahkan pandangannya ke mimbar tempat Rasulullah saw selalu menyeru ke kaum Muslimin, mengajak mereka kearah kebenaran. Sesampai di mimbar, Abu Bakar hanya menaiki dua anak tangga saja, terus duduk dan tidak mau meneruskan ke tangga berikutnya, karena beliau tidak mau menduduki tempat sebagaimana Rasulullah duduki selama hidupnya. Itulah kontrol diri yang sangat terpuji pada diri Abu Bakar. Beliau idak merasa besar, agung,   dan berkuasa.  Setelah itu sambil menghadap ke semua khalayak, Abu Bakar menyampaikan ikrar dan janjinya sebagai berikut:

‘Hai Kaum Muslimin, saya telah diangkat sebagi pemimpin kalian, tetapi itu tidak berarti saya adalah yang terbaik di antara kalian. Maka jika saya benar, bantulah, dan jika saya salah, betulkanlah!
Ingatlah orang yang lemah di antara kalian menjadi kuat di sisiku, hingga saya serahkan haknya kepadanya! Dan ingatlah, orang yang kuat di antara kalian menjadi lemah di sisiku, hingga saya ambil yang bukan haknya daripadanya.
Taatilah saya selama saya mentaati Allah dan Rasul-Nya! Dan jika saya tidak taat, maka tak ada keharusan bagi kalian untuk mentaatiku!”.

Ikrar dan janji tersebut jarang ditemui pada waktu-waktu sebelumnya. Ini menggambarkan betapa Abu Bakar memiliki prinsip hidup yang sangat baik dan terpuji. Karena kehati-hatiannya, semua yang diikrarkan dapat diwujudkan dengan baik. Coba bandingkan dengan banyak pimpinan di dunia, pada awal kampanye atau awal jabatannya menyampaikan janji-janjinya, dan tidak sedikit janji-janjinya yang bisa dipenuhi, sehingga membuat rakyat terusik kemarahannya.

Pimpinan, bukanlah suatu keagungan, kelebihan, dan keistimewaan, melainkan pelayanan umum (khadimul ummah), yang sering kali ditemui kesulitan, kesusahan dan tanggung jawab. Juga  pemimpin adalah seseorang yang memiliki kewajiban memberikan bimbingan dan pengayoman,  bukan ketakaburan. Di sinilah pimpinan bukan segala-galanya yang merasa lebih mampu dan lebih besar daripada ummatnya. Mari kita juga ambil nilai dari kata hikmah Adigang, adigung, adiguna.

Pemimpin adalah suatu individu yang merupakan bagian daripada ummat, bukan ummat merupakan bagian daripada individu. Dengan posisi seperti ini menjadikan pemimpin itu  sama keberadaannya dengan ummat lainnya, yang menjadikan beda adalah pemimpin harus bisa mendahulukan kepentingan ummatnya dan mampu  memuliakan ummatnya.

Pemimpin bukanlah yang terbaik, namun karena ia seorang bijaksana, seorang yang shiddiq, yang memiliki kejujuran, kepercayaan, kebenaran dan kecerdasan. Kebesaran, kemerdekaan, kekuatan, dan ketenteraman yang ada pada pimpinan hakekatnya semuanya itu berasal dari rakyat, sehingga jangan merasa besar, sementara rakyatnya kerdil, jangan merasa merdeka, sementara rakyatnya terbelenggu, jangan merasa kuat, sementara lemah atau dza’if, dan jangan merasa tenteram, sementara rakyatnya susah dan galisah. Karena tugas pimpinan adalah membuat rakyatnya besar, merdeka, kuat dan tenteram.

Umumnya pemimpin itu sangat mengharapkan dan menginginkan posisi pimpinan.  Sebaliknya   Abu Bakar menerima jabatan Khalifah itu tanpa mengharapkan dan menginginkannya. Sebagaimana yang dinyatakan beliau, yaitu: “Demi Allah, tak pernah saya memimpikan menjadi pemimpin ummat, walau hanya sehari atau semalam pun! Dan tak pernah pula saya memintanya kepada Allah swt  baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Dan kalau tidaklah dengan meninggalkan jabatan itu berarti lari meninggalkan tanggung jawab terhadap agama dan keimanan, tentulah saya akan lari kemana di bawa kaki”.

Pernyataan Khalifah Abu Bakar sangat penting menjadi renungan bersama, bahwa posisi pimpinan harus benar-benar dipandang sebagai amanah. Karena itu tidak dapat dibenarkan bahwa posisi pimpinan diraih dengan jalan menghalalkan segala cara. Jika posisi pimpinan itu bukan karena untuk menyelamatkan agama dan ummat, maka sebaiknya tidak perlu dikejar-kejar atau dibela mati-matian. Itupun kalau berhasil diduga kuat akan berimbas pada perilaku-perilaku yang di luar prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik. Namun jika keinginan meraih posisi pimpinan itu untuk melindungi dan menyelamatkan agama dan ummat, maka perlu diupayakan dengan cara yang benar, mengikuti peraturan dann perundangan yang ada, dan mencapai dengan akhlaq mulia, tidak boleh dengan kekerasan dan tindakan tirani. Semoga pimpinan bangsa kita terjaga dan diluruskan niatnya, sehingga kehidupan dan masa depan ummat dapat diselamatkan. Aamiin.



Yogyakarta, 01 Mei 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website