Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam Paradigma Mahasiswa

    PEWARTAnews.com – Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

    Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh setiap mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tak suka, mau tak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (Kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.

    Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (Kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

    Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.

    Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/pemasukan. Semestinya memang, bagi mahasiswa tipe ini harus sudah prepare tabungan sejak beberapa bulan sebelum KKN. Hal demikian-lah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

    Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar dll) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah salah satu bentuk jihad dan pengabdian akademik.

    Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, karena dua bulan bersama. Cukup untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter serta sifat individu satu dengan yang lain. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kawan dan kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tersno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya.

    Tak hanya itu, KKN juga merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis diorganisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi tidak untuk masyarakat atau dalam bahasa jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik atau tidak, itu yang paling dibutuhkan. Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan.

    Pun demikian bagi perempuan, seperti apapun (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun tipe karier) juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun Mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

    Selamat KKN bagi Civitas akademika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2016, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama ! Jadi, santai saja. Tidak usah sepaneng.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur'An

    PEWARTAnews.com – Manusia pada hakekatnya memerlukan pendidikan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal menuju matang dan dewasa. Pendidikan yang mampu memainkan fungsi humanisasi. Pendidikan yang menjaga fitrah manusia, yang diorientasikan untuk menjadikan insan sebagai hamba Allah dan khalifah fil ardzi.

    Berdasarkan QS Adz Dzariyah:56, bahwa “Aku tidak menciptakan manusia dan jin, kecuali untuk menjadikan tujuan akhir atau segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepadaku”. Artinya bahwa insan itu memang diciptakan untuk beribadah. Untuk bisa menjadi hamba Allah swt yang baik, taat dan bertanggung jawab, maka sangat diperlukan ikhtiar pendidikan yang benar dan efektif, yang orientasinya lebih ditekankan pada pembentukan karakter atau akhlaq.

    Berdasarkan QS Al Baqarah:30, bahwa “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan sorang khalifah di muka bumi”. Juga QS Hud:61, bahwa “Dan Dia yang menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menugaskan kamu untuk memakmurkan”. Untuk menjadi khalifah fil ardzi lebih banyak memerlukan ikhtiar pengajaran, di samping pendidikan. Yang selanjutnya khalifah bertugas dan bertanggung ikut menyejahterakan, memakmurkan atau membangun bumi sesuai konsep yang ditentukan oleh Allah swt. Karena itu peran khalifah perlu difahami secara luas, yang tidak hanya dibatasi di bidang politik saja, melainkan juga bidang ke agamaan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teleology maupun bidang-bidang lainnya.

    Dengan pendidikan yang baik, diharapkan sekali mampu menghasilkan hamba Allah yang taat dan tidak untuk kebaikan dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain atau ummat. Dalam waktu sama mampu menghasilkan khalifah filardzi yang mampu bertanggung untuk menjaga, melindungi, dan menyelamatkan yang tidak hanya keluarga saja, melainkan juga komunitasnya yang menjadi tanggung jawabnya. Menjadi khalifah tidak boleh memunculkan rasa kesombongan, melainkan wajib upayakan tampil dengan kerendahan hati atau tawadlu’. Khalifah adalah pelayan ummat (khadimul ummat).

    Adapun alat pendidikan yang ampuh, sebagaimana yang Allah swt contohkan tertuang pada QS Al Fatihah:2-3, bahwa ”Segala puji hanya milik Allah, Tuhan (yang mendidik) seluruh alam dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Untuk mendidik yang efektif sangat dibutuhkan keteladanan. Dalam hal ini Yangdalam mendidik akhlaq sangat menekankan keteladan. Keteladanan ini malah langsung diperoleh dari Tuhan (Al Khaliq), sebagaimana tertuang dalam QS Al Ahzab:21. Yang artinya sbb “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

    Quraish Shihab (1992) menegaskan bahwa Kekhalifahan mengharuskan empat sisi yang saling berkaitan, (1) pemberi tugas (Allah swt), (2) penerima tugas (manusia, bisa peròrangan maupun kelompok, (3) tempat atau lingkungan (manusia berada), (4) materi-materi penugasan yang harus dilaksanakan.
    Dalam konteks ini tujuan pendidikan atau kurikulum pendidikan harus dibuat dan dikembangkan sendiri/diciptakan sendiri, sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari luar, sehingga tidak sampai ambil kurikulum dan materinya dari negara luar, yang belum tentu pandangan hidup bangsa sama.

    Demikianlah beberapa hal terkait dengan pendidikan berdasarkan dalil naqli Al Qur-an yang di-support dengan beberapa matan Hadits yang relevan, sehingga praktik pendidikannya lebih bermakna dan kontributif bagi terwujudnya insan kamil.


    Yogyakarta, 26 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Perspektif Islam terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga

    Sonia Okta Alfira.
    PEWARTAnews.com – Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan suami istri pasti pernah dihadapkan masalah, mulai dari masalah yang sepele hingga masalah yang besar. Salah satu isu sentral dalam problematika rumah tangga suam istri adalah isu kekerasan, atau yang sering disebut dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

    Pengertian kekerasan dalam rumah tangga yang terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, adalah: Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis dan penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Mengingat Undang-Undang tentang kekerasan dalam rumah tangga merupakan hukum publik yang di dalamnya ada ancaman pidana penjara atau denda bagi yang melanggarnya, maka masyarakat luas khususnya kaum laki-laki, dalam kedudukan sebagai kepala keluarga sebaiknya mengetahui apa itu kekerasan dalam rumah tangga (Saraswati, 2004).

    Adapun bentuk kekerasan dalam rumah tangga seperti yang disebut di atas dapat dilakukan suami terhadap anggota keluarganya dalam bentuk diantaranya: (1) Kekerasan fisik, yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat; (2) Kekerasan psikis, yang mengakibatkan rasa ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, dan rasa tidak berdaya; (3) Kekerasan seksual, yang berupa pemaksaan seksual dengan cara tidak wajar, baik untuk suami maupun untuk orang lain dengan tujuan komersial, atau tujuan tertentu; (4) Penelantaran rumah tangga yang terjadi dalam lingkup rumah tangganya, yang mana menurut hukum diwajibkan atasnya. Selain itu penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasasi atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (Ciciek, 2005).

    Mengingat seorang laki-laki mempunyai pengaruh yang lebih besar dan memegang peranan penting dalam rumah tangga dan sekaligus sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, maka pelaku kekerasan dalam rumah tangga didominasi oleh kaum laki-laki, sehingga yang banyak menjadi korban kekkerasan dalam rumah tangga adalah perempuan.

    Deklarasi PBB tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan (1993) mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai berikut: semua tindak kekerasan berbasis gender yang mengakibatkan bahaya fisik, seksual, psikologis atau penderitaan terhadap perempuan termasuk ancaman serupa tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan kebebasan baik yang terjadi di ruang publik atau privat. Sekalipun Deklarasi PBB telah melindungi hak-hak asasi manusia khusunya terhadap perempuan, tetapi tetap saja hak-hak asasi manusia perempuan terabaikan seperti yang dialami para Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri, mereka disekap, dianiaya, dilakukan pelecehan seksual oleh majikannya, bahkan terjadi kekerasan terhadap fisik para TKW sehingga mereka kabur dari majikannya (Saraswati, 2004).

    Mitra Perempuan mencatat, perempuan yang mengalami kekerasan psikis menduduki urutan pertama kekerasan dalam rumah tangga (Anshori, 2014). Faktor-faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga, antara lain:

    Pertama, faktor budaya. Yang dimaksud budaya di sini adalah budaya yang patriarki . budaya patriarki adalah budaya di mana seeorang laki-laki dianggap lebih unggul dibandingkan seorang perempuan. Seorang perempuan tetap saja dianggap rendah meskipun berprestasi. Kuatnya bdaya patriarki dalam keluarga menjadi salah satu penyebab posisi suami istri tidak setara, sehingga sering kali memicu perselisihan. Perselisihan ini kerap diadikan alasan oleh suami untuk melakukan kekerasan terhadap istrinya (Muttaqin, 2005).

    Kedua, faktor internal pelaku. Ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan suami terhadap istri, pada dasarnya disebabkan oleh akumlasi berbagai faktor. Dalam hal ini, kadang istri yang menjadi KDRT, berpotensi mendorong suaminya sebagai pelaku untuk melakukan KDRT (Hadijah, 2007).

    Ketiga, faktor ekonomi. Yang dimaksud faktor ekonomi adalah hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi yang dapat memicu kekerasan. Misalnya bila seseorang yang berumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya, maka ia berpotensi untuk melakukan kekerasan dalm rangka memenuhi kebutuhan ekonominya tersebut (Daradjat, 1984).

    Keempat, pandangan agama yang disalahpahami sebagai yang menyudutkan perempuan. Sudah tentu, penyebab terjadinya KDRT bukan ajaran agama, khususnya islam baik yang yang disampaikan Al-Qur’an maupun hadis Nabi SAW. Namun demikian, KDRT bisa muncul dari adanya pemikiran dan pandangan yang salah paham terhadap nash-nash keagamaan, baik itu Al-Qur’an maupun hadis. Sebagai contoh adanya kesalahpahaman terhadap Q.S An-Nisa (4); 34, yang berbunyi:

    الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

    “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

    Terdapat tiga langkah yang dianjurkan sesuai ayat di atas untuk ditempuh suami mempertahankan mahligai perkawinan. Ketiga langkah tersebut adalah nasihat, menghindari hubungan seks, dan memukul (Shihab, 2000).

    Firman-Nya اهْجُرُوهُنَّ yang diterjemahkan dengan tinggalkanlah mereka adalah perintah kepada suami untuk meninggalkan istri, didorong oleh rasa tidak senang pada kelakuannya. Jelasnya kata ini tidak digunakan untuk tidak sekedar meninggalkan sesuatu, tetapi di samping itu ia juga mengandung dua hal lain. Yang pertama, bahwa sesuatu yang ditinggalkan itu buruk atau tidak disenangi dan yang kedua, ia ditinggalkan untuk menuju ke tempat dan keadaan yang lebih baik. Jika demikian melalui perintah ini, suami dituntut untuk melakukan dua hal pula. Pertama, menunjukkan ketidaksenangan atas sesuatu yang buruk dan telah dilakukan oleh istrinya, dalam hal ini adalah nusyuz dan kedua, suami harus berusaha untuk meraih dibalik pelaksaan perintah itu sesuatu yang baik atau lebih baik dari keadaan semula (Muttaqin, 2005).

    Kata فِي الْمَضَاجِعِ  yang diterjemahkan dengan di tempat pembaringan, di samping menunjukkan bahwa suami tidak meninggalkan mereka di rumah bahkan tidak juga di kamar, tetapi di tempat tidur. Dengan demikian suami hendaknya jangan meninggalkan rumah, bahkan tidak meninggalkan kamar tempat suami-istri basanya tidur.

    Kata وَاضْرِبُوهُنَّ yang diterjemahkan dengan pukullah yang mempunyai banyak arti bahasa, ketika menggunakan dalam arti memukul yang secara harfiyah berarti memukul di bumi., karena itu perintah di atas dipahami oleh ulama berdasarkan penjelasan Rasullullah SAW. Bahwa yang dimaksud memukul adalah memukul yang tidak menyakitkan. Ini temasuk langkah terakhir bagi pemimpin rumah tangga (suami) dalam upaya memelihara kehidupan rumah tangganya. Dalam konteks lain RasulullahSAW bersabda: “Tidaklah kalian malu memukul istri kalian, seperti memukul keledai? Malu bukan saja karena memukul, tetapi juga malu karena gagal mendidik dengan nasihat cara lain.” (Shihab, 2000).

    Oleh karena itu, adanya kekerasan dalam rumah tangga yang semakin tahun semakin menigkat ini bisa diatasi dengan saling pengertiannya suami istri dalam berumah tangga agar tidak terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan pertengkaran, kekerasan fisik bahkan perceraian. Agama dan budaya jangan lagi memperkuat kekerasan terhadap perempuan semakin langgeng. Padahal banyak perspektif keagamaan (agama manapun) yang lebih adil terhadap perempuan. Hanya saja perspektif seperti ini belum meluas, akses pengetahuan perlu lebih dibuka mengenai perspektif agama yang lebih adil untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Yang terpenting adalah mengubah cara berpikir menjadi lebih adil. Pernikahan anak usia dini sebenarnya juga bisa menjadi penyebab terjadinya KDRT, karena laki-laki maupun perempuannya masih dalam keadaan emosional yang belum stabil masih mempunyai ego yang sangat tinggi untuk mengatasi masalah yang dihadapi, untuk mengurus anak, dan mencukupi kebutuhan ekonomi dalam keluargapun masih sangat minim.


    Penulis: Sonia Okta Alfira
    Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

    Pendidikan Perdamaian (Part 2)

    PEWARTAnews.com – Hidup itu pada hakekatnya tidak bisa lepas dari kepentingan. Kepentingan bisa bersifat individual, bisa bersifat kolektif, atau bisa bersifat institusional. Kepentingan hadir dalam kehidupan kita bisa tampil dalam kesamaan, tapi ada juga yang tampil dalam perbedaan. Perbedaan yang bisa dimanaj dengan baik bisa menghasilkan rahmat dan karunia, sebaliknya perbedaan yang tidak bisa dimanaj dengan baik menimbulkan konflik. Konflik bisa menimbulkan malapetaka. Untuk menghindari kerugian dari konflik, maka sangatlah dibutuhkan Pendidikan Perdamaian.

    Pendidikan perdamaian merupakan proses mendapatkan nilai dan pengetahuan serta mengembangkan sikap, keterampilan dan perilaku untuk hidup secara harmoni terkait dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka ide pokok pendidikan perdamaian itu sangatlah penting. Karena pendidikan perdamaian dapat mempromosikan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang akan membantu orang-orang, sehingga mereka mampu mencegah terjadinya konflik, menyelesaikan konflik, dan menciptakan kondisi sosial yang kondusif menuju perdamaian. Nilai inti dari antikekerasan dan keadilan sosial adalah sentral pendidikan perdamaian.

    Pendidikan perdamaian dimaksudkan untuk memotivasi siswa bertanggung jawab terhadap perilaku dan tindakannya sendiri, mengatasi resolusi konflik, dan membuat pilihan keberlanjutan hidup yang baik dalam lingkungan kesehariannya yang dapat memperkaya koeksistensi dengan penuh kedamaian.

    Pendidikan perdamaian merupakan kunci untuk menegakkan suatu perdamaian yang disepakati dan memeliharanya untuk selanjutnya. David W Johnson (2005) menegaskan ada lima elemen penting dalam membangun perdamaian melalui pendidikan. Pertama, sistem pendidikan umum harus didirikan yang memiliki peserta wajib untuk semua anak dan pemuda, yang berasal dari kelompok yang konflik untuk bisa berinteraksi antara satu dan lainnya dan memiliki kesempatan untuk membangun suatu hubungan yang positif antara satu dan lainnya. Kedua, rasa kebutuhan bersama perlu ditegakkan yang melandasi perumusan tujuan bersama, pendistribusian keuntungan dari pencapaian tujuan, dan adanya suatu identitas bersama.

    Ketiga, siswa harus diajari suatu prosedur kontroversi yang konstruktif yang menjamin mereka tahu caranya membuat suatu keputusan dan melekat dalam wacana politik. Keempat, siswa harus diajari cara mengajak suatu negosiasi integratif dan mediasi sebaya untuk memecahkan konflik antar sesama secara konstruktif. Kelima, nilai kekeluargaan harus ditanamkan yang berfokus pada siswa untuk jangka panjang dalam masyarakat yang baik.

    Lori Bourne (2005) menyebutkan ada sepuluh cara untuk mengakomodasi perdamaian dalam kurikulum, diantaranya: 1) Mulai dengan mendefinisikan kata “perdamaian” bersama siswa; 2) Deklarasikan ruang kelas sebagai suatu “zona perdamaian”; 3) Ajari anak-anak tentang keterampilan resolusi konflik; 4) Jika ada acara tahunan, apa lomba puisi, pidato, menulis dsb, maka temanya adalah “perdamaian”; 5) Pendidikan perdamaian perlu disesuaikan dengan usianya, atau jenjang pendidikannya; 6) Ajaklah anak-anak berpartisipasi menjaga lingkungan, termasuk binatang dan tumbuhan yg ada di sekitar; 7) Ketika belajar geografi, sejarah, dan budaya, usahakan anak diajak utk respek terhadap keragaman budaya dan tradisi serta lingkungan; 8) Pertimbangkan memiliki sekolah yg diberi nama terkait dengan dunia internasional, sehingga anak dapat mengenal keragaman bangsa dan budaya; 9) Beri contoh yang baik dengan tidak adu mulut dengan pasangan di depan anak-anar. Jangan bikin gossip dan tunjukkanlah sikap yang baik; 10) Bikinlah liburan atau event khusus, yang diisi dengan agenda yang menyenangkan di sekolah atau di rumah. Untuk kegiatan bisa melibatkan semua untuk merencanakan, melaksanakan sampai ke monitoringnya.

    Perdamaian adalah suatu yang sangat dirindukan oleh semua. Karena itu semua orang dewasa dan anak-anak harus diajak terlibat dalam proses membangun perdamaian dimanapun adanya atau di permukaan bumi yang fana. Semua dijadikan subjek, terutama anak karena sangat berkentingan untuk mengawal perdamaian di masa mendatang.

    Dalam menghadap Indonesia belakangan ini, sangat potensial timbulkan konflik yang lebih besar. Untuk itu dibutuhkan good willingness semua pimpinan pada semua level untuk dapat menegakkan keadilan dan lebih utamakan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi atau kelompok atau golongan. Insya Allah hidup kita akan damai, sejahtera dan makmur.


    Yogyakarta, 24 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    "Memaafkan" dan "Memendam dalam Diam"

    Izha Muachy.
    Memaafkan

    Memaafkan tidak membuatmu lemah, tapi malah membuatmu menjadi diri dengan hati yang semakin lapang.

    Memaafkan bukan karena rasa kasihmu kepada manusia, tetapi lebih kepada rasa takutmu kepada Tuhan untuk balasan karena saling membenci.

    Seberapapun banyaknya kamu dihina, dicaci, dan di sakiti, jika untuk balasannya masih ada pilihan kata memaafkan, maka pilihlah kata itu.

    Jika kita mudah memilih kata membenci ketika marah atau disakiti, kenapa kita tidak mudah memilih kata memafkan ketika kita marah dan disakiti juga, maka belajarlah memaafkan sampai terbiasa ketika dalam keadaan marah dan disakiti sekalipun.

    Latihlah hatimu sendiri untuk terus belajar memaafkan ketika dalam keadaan terpuruk sekalipun, sampai bahkan dia tidak tau bagaimana cara membenci.

    Kenapa begitu mudah bagi manusia, untuk lebih memilih membenci dan menghancurkan hubungan baik hanya karena persoalan salah benar, suka tidak suka, nyaman dan tidak nyaman yang bahkan semua itu tidak bisa dijadikan standar dalam menilai orang lain.

    Yang pada akhirnya semua menjadi pilihan, tapi diriku lebih memilih memaafkan, karena Tuhanku maha pemaaf.


    Memendam dalam Diam

    Sakit, sedih, bahagia, sesak, resah sendirian
    Dan tarikan nafas panjang adalah obat
    Hembusan angin sore adalah ketenangan
    Duduk dibangku itu, sambil memejamkan mata itu menyenangkan
    Lebih menyenangkan dari pada bercerita kepada manusia
    Lalu sebenarnya apa baiknya bercerita kepada mausia
    Bukankah mereka juga mahluk yang dipenuhi dengan masalah
    Untuk mendapatkan solusi, bahkan merekapun pusing untuk solusi masalah mereka sendiri
    Kalau tidak di puji, yah di hina, itulah kita, atau gak ditertawain, Hahahaha.


    Penulis: Izha Muachy
    Alumni Universitas Respati Yogyakarta

    Rahmatan Lil ‘Aalamiin

    PEWARTAnews.com – Hari ini bertepatan tg 17 Ramadan 1440 H, saat turunnya firman Allah SWT yang pertama untuk Muhammad yang menandai kerasulannya. Adapun Muhammad diutus oleh Allah SWT, bukan untuk apa-apa, kecuali untuk rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah SWT tegaskan melalui QS. Al-Anbiyaa’ :lO7), yaitu “ WAMA ARSALNAAKA ILLAA RAHMATAN LIL’AALAMIIN “. Karunia untuk seluruh umat manusia, baik yang muslim maupun non muslim, seluruh makhluk hidup, baik manusia maupun hewan dan tumbuhan, baik makhluk hidup maupun makhluk mati apapun yang di sekitar kita. Begitu lengkapnya target amanahnya, maka sangat bisa difahami bahwa Muhammad itu Rasul terakhir sampai akhir zaman.

    Pada hakekatnya rahmat Allah SWT itu ada 4, yaitu (1) bersihnya aqidah (hablun minallaah), (2) indahnya ukhuwah (hablun minannaas), (3) mulianya kejadian manusia, dan (4) keseimbangan hidup (dunia-akhirat). Pertama, bersihnya aqidah. Kita nersyukur atas perjuangan Nabi Ibrahim as, yang telah berhasil terkukuhkan sebagai revolusioner terbesar dalam memperjuangkan kalimat tauhid, mengukuhkan Allah SWT yang patut dipertuhankan. “Huwallahu laailaaha Ilyas Huwa”, yang artinya “Dialah Allah tiada Tuhan kecuali Dia” (QS Al Hasyr:22-23). Karena itu Rasulullah ajak umat untuk tinggalkan ilah-ilah, apapun yang dipertuhankan, menuju Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Besar. Kita harus tinggalkan musyrik besar dan kecil menuju Insan bertauhid. Kita harus selamat dari pengaruh ilah materialisme, kapitalisme, pragmatisme, dan hedonisme.

    Kedua, indahnya ukhuwah islamiyyah. Pada hakekatnya kita yang bermain itu bersaudara, karena itu kita harus saling berdamai. Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya, yaitu “Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum, wattaqullaha la’allakum turhamuun” Sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10). Kita harus mengutamakan kesamaan daripada perbedaan. Kita harus mewujudkan persatuan dan kesatuan sesama akidah. Kita tidak boleh saling menyakiti. Kita harus hindari konflik yang tak berarti. Kita harus hindari prasangka jelek terhadap sesama muslim, sebaliknya utamakan prasangka baik. Damai dalam ukhuwah itu indah.

    Ketiga, mulianya kejadian. Manusia hakekatnya diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Yang kejadian dan hidup selanjutnya juga sangat dimuliakan. Disiapkan rizqi yang baik-baik dan diberi keutamaan di atas makhluk lainnya. Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam QS Al Isra:70, yang artinya : “...Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”. Bagaimana mulianya manusia yang telah tersediakan rizki yang baik-baik dan sangat luas, serta terbuka untuk diakses. Untuk disyukuri, sehingga tidak sepatutnya menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Jika kita menyadari betul keutamaan kita dibandingkan dengan makhluk lain, insya Allah hidup kita dalam kebaikan dan kemuliaan. Sekalipun demikian tetap saja masih ada yang menjadi terhinakan.

    Keempat, keseimbangan hidup (dunia-akhirat). Kita semua punya orientasi hidup. Mana yang harus diutamakan. Ada fokus dunia saja, ada yang akhirat saja, ada yang fokus dunia dan akhirat, dan ada yang tidak fokus dunia dan akhirat. Mari kita perhatikan firman Allah swt, pada QS Al Qashash:77, yang artinya “... dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika memperhatikan ayat tersebut, maka yang perlu menjadi orientasi hidup adalah kebaikan dunia dan akhirat secara seimbang dengan mengutamakan akhiratnya. Ingat hidup di akhirat itu lebih baik daripada hidup di dunia (QS Adzdzuha:4) dan hidup di akhirat itu lebih abadi daripada di dunia (QS Al A’la:17). Saya yakin bahwa hanya orang-orang yang beriman pada hari Akhir yang hidup selalu berbuat kebaikan dan jauh dari perbuatan yang merusak. Jika demikian hidupnya lebih dikehendaki oleh orang lain, bukan dihindari.

    Demikianlah sedikit renungan dan refleksi dari hari kerasulan Muhammad, yang kita tidak hanya mendapat rahmat-Nya yang dibawa Rasulullah, melainkan juga mu’jizat Al Qur-an yang isinya menjadi petunjuk hidup bagi kita (hudan linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaan). Semoga hidup kita selalu dalam ridlo-Nya. Aamiin.


    Yogyakarta, 22 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Memilih untuk Sendiri Tanpa Pacaran, Maka Berbanggalah

    Izha Muachy.
    PEWARTAnews.com – Sendiri, suatu kata yang mungkin untuk sebagian orang memuakan, bahkan mungkin sampai bisa membuat orang frustasi. Apakah kesendirian seseram itu? Kenapa kebanyakan orang khawatir dengan kesendirian dan khawatir tidak punya pasangan dan masih banyak lagi. Apakah semata kaitannya dengan kasih sayang dan apakah kasih sayang hanya didapatkan dari pasangan (pacar), bukankah masih ada teman, orang tua, Allah sang pemilik raga dan seisinya, dan bahkan diri kita sendiri pun bisa memenuhi kebutuhan diri kita sendiri (habluminafsi), bisa dengan cara memberikan kasih sayang kepada orang lain, tidak menyakiti dan membenci orang lain, jalan-jalan itu juga bagian dari pada kita menyayangi diri kita sendiri. Selain itu, yang lebih fenomenal di zaman modernisasi ini kebanyakan beranggapan bahwa kasih sayang yang lebih afdol adalah dari pasangan atau pacar.

    Pacaran, ini adalah kebiasaan yang sudah membudidaya di zaman sekarang, dan yang sebenarnya ini adalah salah satu dari strategi iblis untuk menghancurkan kita ke dalam dosa, bahkan Islam tidak memperbolehkan berpacaran, karena dengan berpacaran mendekatkan kita pada perbuatan yang dilarang oleh Allah, seperti perbuatan zina. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Allah dalam QS Al-Isra ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Inti sari dari QS Al-Isra ayat 32 diatas adalah Allah melarang kita untuk tidak mendekati apalagi melakuka zina karena zina adalah perbuatan yang keji.

    Berbicara persoalan cinta, rasa suka, tertarik kepada lawan jenis atau yang disebut ghoriza naun itu fitrah sebenarnya, dan semua orang berhak untuk mencintai siapapun, tapi rasa cinta yang kita miliki supaya berbuah pahala maka harus ditempatkan pada tempatnya supaya tidak menimbulkan dosa dan murka Allah.

    Maka ketika anda lebih memilih untuk sendiri sambil menunggu yang baik dari Allah dan tidak memilih jalan yang Allah tidak ridhoi, maka berbanggalah, karena sendiri tanpa pacaran itu artinya kita menghargai kehormatan dirimu sendiri yang bahkan Allah pun meghargai kehormatan kalian para perempuan, artinya kita tidak membiarkan cuma-cuma kehormatan yang berharga kepada para lelaki yang tidak bertanggung jawab dengan beralaskan cinta dan kasih sayang yang semu, bahkan tidak Allah ridhoi. Seberapapun kalian lama dan kuat mempertahakan hubungan kalian jika Allah tidak ridho, maka Allah pun punya seribu cara untuk memisahkan, begitupun juga sebaliknya. Hati-hati, Allah itu tidak menyukai hambanya yang berlebihan mencintai ciptaanya melebihi penciptanya (Allah).

    Kondisi demikianlah yang menyebabkan perlunya kita untuk belajar sabar, dan ridholah atas apa yang menjadi ketetapan dan ketentuan Allah. Jodoh kita sudah tercatat di kitab lauhul mahfudz-Nya Allah sejak ketika kita lahir, jadi buat apa sibuk menabung dosa dengan melakukan hal yang tidak Allah ridhoi, kalau kita semua sadar bahwa jodoh, rezeki, mati untuk masing-masing hamba sudah diatur sama Allah yang itu semua sudah menjadi ketetapan Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi menunggulah dalam sabar, sambil memperbaiki diri biar  sama-sama pantas untuk jodoh masing-masing kita, bukankah Allah sudah berjanji dalam QS An-Nur ayat 26, yang inti dari isi ayat tersebut adalah wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, begitupun juga sebaliknya.

    Jadi jangan sedih karena memilih jalan sendiri sambil berbenah diri, karena ketika sendiri dan terus menggantungkan harapan kepada Allah, maka percayalah kita tidak akan pernah terputus dari kasih sayang-Nya. Terakhir, berbanggalah dengan kesendirian sebelum halal dan percayalah kalian tidak kekurangan kasih sayang, karena kalian terus mendapatkan kasih sayang dari dia yang maha pemilik raga dan seisinya.


    Penulis: Izha Muachy
    Alumni Universitas Respati Yogyakarta

    Inovasi Pendidikan

    PEWARTAnews.com – Pada Era Revolution Industri 4.0, Inovasi merupakan fokusnya. Jika RI 3.0 bertumpu pada Knowledge Society, maka RI 4.0 bertumpu pad Innovation Society. Prinsip pembelajaran, dari learning by doing, menjadi learning by making. Suatu kemajuan yang menghentak semua, terlebih-lebih negara terbelakang dan berkembang. Bangsa Indonesia berada di semua era, sehingga tidak mudah mengikuti arus kemajuan, yang dalam waktu bersamaan harus mengatasi persoalan-persoalan yang ada. Gerakan inovasi di semua bidang tidak bisa dielakkan, utamanya inovasi pendidikan.

    Selama ini, kita lebih banyak mengadopsi inovasi pendidikan bangsa lain. Kita masih minim sekali untuk menghasilkan inovasi pendidikan. Kini dan mendatang kita sangat berkepentingan untuk bisa produktif dalam berinovasi, yang tidak saja orientasinya reaktif, melainkan juga proaktif dan antisipatif, sehingga kemanfaatannya bisa dirasakan selama mungkin. Hal ini menjadi sangat penting, karena selama ini kita hanya sebagai konsumen inovasi, yang kadang-kadang kemanfaatan hasil inovasi tidak optimal karena berbagai konteks harus dipertimbangkan.

    Dalam melakukan inovasi pendidikan, kita harus mempertimbangkan riset #1, riset #2, dan riset #3. Di antara ketiga riset, harus terjaga konsistensi dan koherensi, sehingga hasil inovasi dapat dirasakan manfaatnya. Riset #1, berkaitan dengan tataran fisolofis dan tataran makro,pandangan tentang sosok insan hasil pendidikan yang diharapkan. Dalam konteks Indonesia insan yang diharapkan adalah insan utuh yang Pancasilais, berimtaq, beriptek, dan bekakhlaqul karimah.

    Riset #2, berkaitan dengan tataran sistem pendidikan dan tataran messo, pandangan tentang manajemen pendidikan nasional dibangun dengan menyesuaikan target pendidikan, manusia Indonesia. Model dan isi Kurikulum seharusnya disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional yang menghasilkan manusia Indonesia dengan keunikannya. Kompetensi lulusan pendidikan di semua jenjang perlu diorientasikan untuk hadirnya sosok manusia Indonesia sebagai agen perubahan, berorientasi global dan berbasis local wisdom.

    Riset #3, berkaitan dengan sistem pembelajaran pada tataran mikro, pandangan tentang manajemen sekolah, budaya sekolah manajemen kelas, model pembelajaran, pengelolaan fasilitas pembelajaran, layanan konseling, hubungan sekolah dengan orangtua-masyarakat dan sistem penilaian pendidikan.

    Inovasi pendidikan perlu diupayakan, baik pada tataran konsep maupun implementasi perlu dikawal oleh para ahli dan praktisi sesuai dengan bidang dan levelnya. Konsistensi dan komitmen semua pihak harus diupayakan terus. Untuk memahami suatu inovasi pendidikan dapat diikuti detilnya berikut ini. Kita meyakini, bahwa kehadiran anak untuk menjadi sosok individu merupakan fungsi dari keturunan dan lingkungan, serta pengaruh teknologi dalam konteks waktu. Juga sosok individu yang berharga bukan hanya intelektual saja tapi yang lebih penting adalah moralnya.

    Menyadari akan impian individu yang ingin dihasilkan dari pendidikan, maka sistem pendidikan yang dibangun harus utuh, dengan hadirkan model kurikulum integratif, dengan mengakui potensi individu, tuntutan masyarakat, dan perkembangan teknologi. Sistem penilaian tidak hanya parameternya pencapaian kemajuan akademik saja, melainkan juga integritas moral, bahkan lebih penting ketika sisi individu yang bermoral itu lebih penting daripada akademik.

    Demikian juga pada tataran sekolah, perlu dibangun sekolah sebagai ujung tombak pendidikan yang mampu membangun program pendidikan untuk mencapai visinya yang harus sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Manajemen sekolah dan kelas harus seiring, sehingga memudahkan kepala sekolah dan guru dalam mengawal manajemen pembelajaran di sekolah dan kelas. Model pembelajaran juga memungkinkan model eklektik pembelajaran dengan menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Model penilaian juga utamakan sama nilai-nilai akademik dan nilai-nilai keagamaan, walaupun idealnya bisa nilai-nilai keagamaan untuk menentukan keberhasilan siswa.

    Inovasi pendidikan memang menjadi kebutuhan kita semua yang tidak hanya untuk eksis dan berhasil hidup di dunia tapi juga di akhirat. Apa arti inovasi, jika hanya berorientasi untuk dunia saja, apalagi bisa juga jauhkan dari Allah swt. Kita seharusnya tetap dan terus berinovasi pada era apapun, yang berorientas pada kebaikan dan kemanfaatan dunia dan akhirat. Kita bisa ambil spirit dari Hadits Rasulullah saw, yang artinya sebagai berikut, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.” Semoga kita terus beristiqamah dalam berinovasi yang selalu diridloi.


    Yogyakarta, 21 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Menulis dan Kesedihan

    PEWARTANEWS.COM -- Nurwahidah Saleh (25) sapaan Ida merupakan penulis pemula  kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan.

    Novel pertamanya diterbitkan oleh Kaki Kata Yogyakarta. Novel tersebut berjudul "Oleh Sebab Perjanjian Kakekmu".

    Ida juga pernah menjuarai lomba baca puisi di Batam.

    Meski hanya meraih juara 4 tapi itu tak membuat hatinya goyah untuk tetap jadi penikmat puisi.

    Selain novel, kumpulan puisi telah dimuat koran Go Cakrawala Makassar, dan cerita pendek dimuat dikoran Tanjungpinang Pos Batam. Serta puisinya dimuat dibeberapa media online, seperti www.pewartanews.com, edunews.com, suaralidik.com, dan Kompasiana.com.

     Ida sempat mengenyam pendidikan di Yogyakarta, yaitu di Akademi Manajemen Adminitrasi Yogyakarta, Jurusan Manajemen Administrasi Obat dan Farmasi.

    Sekarang Ida tinggal di Kabupaten Bantaeng Sulsel. Kesibukannya saat ini adalah menjadi wartawan Tribunbantaeng.com.

    Dari segi jurusan semasa kuliah dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakoni saat ini, memang jauh berbeda. Seharusnya ia bekerja di Instansi kesehatan atau dikantoran.

    Memang sudah dicoba yakni jadi karyawan di  RSBK Batam, tapi itu tak membuatnya betah akhirnya memilih risegn dan meninggalkan kota yang dekat dengan Singapure itu.

    Sebelumnya Ida pernah berkelana di Kalimantan Timur tepatnya di Sanggata. Selama tiga bulan ia memasukkan lamaran tapi tak ada satupun Rumah sakit atau perusahaan yang menerimanya.

    Untuk bertahan hidup dirantau ia rela bekerja di tempat minuman dan jual baju. Meski hanya diberi upah Rp 500 ribu perbulan. Uang itu digunakan bayar kosan  dan beli nasi. Ia harus memaksa diri untuk hemat.  Untuk penampilan pakaian dan make up tak penting baginya.  Hanya tampil sedehana.

    Tapi penderitaanya tak sampai disitu bahkan pernah ke kota Samarinda selama dua pekan, dengan seorang diri hanya bermodalkan keberanian dan nekad tinggal di kosan kayu, hampir dirubuh dimakan usia.

    Dikosan inilah ia harus menahan lapar  dan haus karena kehabisan uang. Untung saja Tuhan masih kasihan dengannya sehingga ada tetangga, selalu memberikan makan gratis. Meski Ida harus membalas degan cuci piring dan menyapu.

    Hanya tenaga dan kesabaran yang ia punya saat itu. Jika mengandalkan ijazah untuk bekerja ternyata belum terwujud.

    Jelang tiga pekan Ida mencari pekerjaan di Samarinda, tak ada hasil. Akhirnya membuatkan tekad untuk kembali di rumah orang tua dikampung.

    Sangat berat hatinya saat itu meninggalkan Samarinda sebab sebelum pamit kepada ibunya, Ida pernah berjanji bahwa tak pulang jika tak sukses. Namun ia tega membehongi orang tua sendiri.

    Tiba di Kampung tepatnya di Kecamatan Kindang, Bulukumba, Sulsel, bukan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya, tapi rasa malu sampai menusuk-nusuk jantung.  Cibiran tetangga tak pernah usai saat itu.

    "Masa  sarjana jadi pengangguran," kata tetangga.

    Hati Ida seperti disiram air panas, hampir tiap saat  menyeka hidung, bola matanya selalu memerah. Tapi itu semua disembunyikan di dapan sang ibu.  Cukuplah ia sendiri menanggung air matanya bagai bah yang terus -menerus mengalir. 

    Dua bulan jadi pengangguran dikampung. Kesibukan  tiap harinya cuci piring, bersihkan rumah kadang kekebun bantu sang ibu mencangkul. 

    Sejak Ida jadi anak yatim, ibunya sibuk mengurus kebun seperti menyiram cangkeh jika musim kemarau, memetik merica, dan menanam padi. Bahkan ibunya pun sibuk jadi penjual beras literan di Pasar.

    Itulah pekerjaan ibunya yang tak lulusan SD.  Tidak ada pilihan pekerjaan lain. Jarang sekali ibunya ada dirumah jika ingin bertamu maka datanglah pada pagi atau malam hari.

    Saat ini usia ibunya semakin menua, rambut ubannya pun hampir memenuhi kepalanya. Kadang kambuh asam uratnya.  Untuk itu sudah mengurangi aktivitas berat seperti ke kebun.

    Inilah salah satu motivasi Ida untuk semangat bekerja walau keliling  di rantau biar meski jatuh bangun dan biar rasaian gimana susahnya cari uang.


    Bantaeng, 26 Juni 2019
    Penulis: Nurwahidah Saleh
    Alumni Akademi Manajemen Adminitrasi Yogyakarta


    Guru Kreatif

    PEWARTAnews.com --  Guru kreatif saat ini dan mendatang sangat dibutuhkan untuk mendidik dan mengajar generasi emas yang penuh tantantangan. Guru yang diharapkan untuk mendidik, mengajar, membimbing dan melatih, sehingga lahir generasi yang lebih kreatif dan inovatif serta berkarakter. Kini di lapangan, kuantitas dan kualitas guru kreatif sangat terbatas, relatif belum membanggakan. Ke depan diharapkan sekali guru kreatif bisa meningkat secara signifikan.

    Persoalan guru kreatif bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman Rasulullah saw, sudah dianjurkan sekali perlunya guru kreatif, senagaimana sabdanya sebagai berikut, “Sesungguhnya anak-anakmu dijadikan (dididik) untuk jamannya bukan jamanmu, untuk generasinya bukan generasimu”, Ini menekankan betapa guru harus kreatif yang mampu menciptakan proses pembelajaran yang berbeda dari tahun ke tahun sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perubahan atau tantangan jaman. Dalam situasi yang demikian, berpikir divergen dan berpikir lateral sangat diperlukan.

    Guru kreatif adalah guru yang mampu membuat siswa berpikir besar dan melakukan berbagai hal yang inovatif untuk kesejahteraan kehidupan masyarakat. Guru yang selalu berusaha mencari metode-metode baru untuk mendapatkan pengetahuan baru dan mendiseminasikannya seefektif mungkin. Guru yang memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi alternatif terhadap persoalan yang dihadapi setiap hari tiada henti sehingga memberikan inspirasi.

    Paulo Freire, berpendapat, bahwa “Education will not change the world, it will change the people who are going to change the world.”  Sometimes teachers forget how powerful their words and actions can be for students. Ini menjelaskan bahwa guru kreatif  sangat diperlukan untuk bisa mengisi proses pendidikan yang mampu menghasilkan manusia yang bisa merubah dunia.

    Untuk menjadi guru kreatif tidaklah bisa terjadi secara instan, namun bisa diupayakan dengan berbagai cara.  Marisa Constanides (2015) menjelaskan ada delapan langkah untuk menjadi guru kreatif. Pertama, menjadi guru berpengetahuan. Kedua, berhubungan dengan guru-guru lain. Ketiga, menjadi kolektor ide-ide tentang mengajar. Keempat, sharing pembelajaran. Kelima, menghilangkan penghalang untuk berpikir kreatif. Keenam, mempraktekkan kreativitas. Ketujuh, memulai eksperimen dan merefleksikan cara mengajar kreatif. Kedelapan, menjadikan kreativitas sebagai suatu tujuan harian. Di antara langkah-langkah ini dapat diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan,

    Setelah guru kreatif dapat menunjukkan kinerjanya, maka upaya yang dapat dilakukan selanjutnya untuk dapat mengembangkan dan memelihara kreativitas guru sendiri adalah  berikut : (1) Sadari akan miskonsepsi kreativitas yang membatasi diri, (2) Lakukan eksperimen cara-cara mengajar yang baru di kelas, (3) Ambil risiko untuk mengekspresikan sisi kreatifmu(guru),  (4)  Perlakukan rencana pembelajaran sebagai bagian dari latihan kreatif, (5) Kembangkan ritual kreatif yang bersifat personal, (6) Buatlah latihan meditasi yang mendorong berpikir kreatif, (7) Carilah kesunyian, karena dapat memelihara kreativitas, (8) Jalan-jalan untuk cari inspirasi dari karya-karyakreatif, (9) Ganti kegiatan rutin menjadi kegiatan yang merangsang kreativitas, dan (10) Ubahlah lingkunganmu, sehingga mampu mendorong kreativitas.(Laurens Cassani Davis, 2018). Upaya-upaya ini harus dilakukan guru secara konsisten dan berkesinambungan. Guru tidak boleh boleh hanya bergerak panas-panas tahi ayam. Semangat di awal saja, melainkan harus terus menerus kembangkan ide-ide baru untuk pemecahan masalah.

    Untuk menghadapi tantangan RI 4.0, yang orientasinya belajar yang biasanya learning by doing, harus berubah menjadi learning by making. Karena itulah kehadiran guru kreatif merupakan kebutuhan yang mendesak. Semua guru tanpa terkecuali wajib menyesuaikan dengan tuntutan riil di lapangan. Guru tidak bida tinggal diam. Mereka harus mindset-nya, sehingga tidak menjadi beban. Gimana menurut Anda?  (Rochmat Wahab,

    Yogyakarta, 20 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pengaruh Game Online Terhadap Psikis Anak Muda Milenial

    Beberapa Generasi milenial saat main game online. 
    شبان اليوم رجال الغد                                   
    (Pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan). Apakah istilah ini masih releavan untuk keadaan pemuda saat ini?

    Di Era milenial ini, perkembangan teknologi sudah semakin maju, diantaranya media elektronik, salahsatunya handhpone. Perkembangan teknologi ini bisa membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat khusunya pada pemuda. Dampak positifnya teknologi memudahkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, dampak negatif dari teknologi sendiri seseorang akan bermalas-malasan karena teknologi memudahkan sesseorang dalam melakukan segala hal. Contoh kecilnya adanya aplikasi grab itu memudahkan orang melakukan sesuatu seperti  halnya grab food itu membuat orang malas untuk pergi mencari makan karena hanya mengeklik makanan yang kita inginkan nanti akan diantar. Tidak hanya itu masih banyak aplikasi-aplikasi lainnya seperti shopee, lazada dan lain-lain.

    Di zaman sekarang ini, game online sudah tidak asing lagi di telinga kaum remaja. Beberapa tahun terakhir  ini, banyak kaum remaja gemar bermain game online. Hal ini didukung dengan banyaknya game center dilingkungan sekitar yang menawarkan dengan harga yang terjangkau oleh kaum remaja.

    Game online merupakan bagian dari internet, di mana secara teoritis pengertian dari internet sendiri adalah jaringan komputer yang sangat luas yang menghubungkan banyak koneksi bisnis, institusi dan profesional. Internet membuat jumlah informasi yang begitu berlimpah menjadi semakin mudah untuk diakses lebih banyak orang lebih baik dari sebelumnya.

     Ketika internet menjadi alat yang bagus untuk berkomunikasi, ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana cara anak-anak menggunakannya. Sebagian besar internet hanya digunakan oleh para pelajar untuk bermain Game Online daripada mencari sesuatu yang lebih berarti dan berguna bagi masa depannya. Bukannya bermain itu salah, hanya saja jika cara menggunakannya salah, maka itu yang dilarang.

    Game online sendiri tidak lepas dari perkembangan teknologi komputer dan jaringan komputer . Meledaknya game online merupakan cerminan dari pesatnya jaringan komputer yang dahulunya berskala kecil sampai menjadi internet dan terus berkembang sampai sekarang. Oleh sebab itu, banyak remaja yang menyisihkan uang sakunya untuk bermain game online berjam-jam hingga lama-lamaan kecanduan game online. Akibat nya remaja melupakan hal-hal yang penting seperti belajar, beribadah, bahkan kesehatan pun dilupakan.

    Banyak penyebab yang ditimbulkan dari  game online, salah satunya disebabkan karena gamer tidak akan pernah bisa menyelesaikan permainan sampai tuntas. Selain itu, karena sifat dasar manusia yang selalu ingin menjadi pemenang dan bangga semakin mahir akan sesuatu termasuk sebuah permainan.Dalam Game Online apabila point bertambah, maka objek yang akan dimainkan akan semakin hebat, dan kebanyakan orang senang sehingga menjadi pecandu. Penyebab lain yang dapat ditelusuri adalah kurangnya pengawasan dari orang tua, dan pengaruh globalisasi dari teknologi yang memang tidak bisa dihindari.

    Bermain game online memang dapat berdampak positif, tetapi jika dibiarkan berlarut-larut hingga mengarah pada adiksi tentu akan memberikan dampak negative, diantaranya remaja tidak mempunyai skala prioritas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mendorong remaja untuk bertindak asosial, karena aktivitas bermain game online cukup menyita waktu berkomunikasi, baik berkomunikasi dengan keluarga maupun teman sebaya. Hal itu dapat menimbulkan kemalasan belajar, disebabkan kelelahan yang ditimbulkan setelah bermain game online, sehingga dapat memicu tindakan kekerasan, karena remaja mengimitasi tokoh secara berlebihan, sehingga memicu seluruh perilaku yang ditampilkan tokoh dalam permainan tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut berbahaya atau tidak. Perilaku imitasi yang berlebihan ini dapat pula memicu tindakan kriminal, tanpa sepengetahuan remaja, bahwa menyakiti orang lain secara fisik adalah suatu tindakan kriminal.

    Dampak positif dari game online sendiri adalah dapat mendorong remaja menjadi cerdas, karena pemain game online menuntut daya analisa yang kuat dan perencanaan strategi yang tepat agar bisa menyelesaikan permainan dengan baik. Kelebihan yang bisa diperoleh oleh remaja dalam bermain game online adalah meningkatkan konsentrasi. Game online juga bisa memberi rasa rileks dan juga bisa mengendurkan urat saraf dari berbagai kesibukan setelah bekerja.

    Adapun cara untuk mengatasi dampak negatif dari game online yaitu dengan mengurangi jam bermain game online dan lebih banyak mengisi waktu luang dengan membenahi dan mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan yang masih panjang karena terlalu banyak bermain game juga tidak ada gunanya. Sebaiknya bermain game online hanya semata-mata sebagai alat untuk melepas lelah dan penat jangan jadikan game online sebagai kebutuhan pokok yang harus dimainkan setiap saat.

     Perilaku pemuda zaman sekarang tidak mencermikan ungkapan pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan. Hal ini dikarenakan perilaku pemuda zaman sekarang lebih senang main game daripada belajar ilmu pengetahuan. Belajar ilmu pengetahuan sangat penting untuk diri kita maupun untuk negara karena dengan belajar wawasan kita akan luas. Indonesia membutuhkan pemuda-pemuda yang pantang menyerah dalam menggapai cita-citanya maupun cita-cita negara Indonesia.


    Penulis: Muhammad Hanif Mahzumi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo Semarang

    Kekayaan dalam Islam

    PEWARTAnews.com -- Umumnya setiap orang sangat menginginkan dapat meraih kekayaan. Kondisi ini merupakan suatu kewajaran. Sebab, mencari rizki atau meraih kekayaan menjadi kebutuhan bagi orang-orang yang ingin hidupnya lebih baik. Apalagi meraih kekayaan juga disyariatkan oleh Islam, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al Jumu’ah:10, yaitu,  “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan cari karunia Allah”. Ayat ini memperjelas bahwa untuk mencari kekayaan sangatlah dianjurkan.

    Di ayat lain, juga disebutkan, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”(QS. Al Mulk: 15). Di sini mempertegas bahwa kita diberikan kebebasan di bumi (di daratan, di lautan, atau dan di udara) untuk mencari rizki yang halal dan dengan cara yang halal pula, yang rambu-tambunya telah ditetapkan dalam dalil naqli, baik Al Kitaab (Al Qur-an) maupun As Sunnah (Al Hadits).

    Kekayaan yang difahami secara material tidak sedikit dapat menipu banyak orang, sehingga harus menghalalkan berbagai cara, apakah dengan berbuat curang dalam menimbang, menyuap untuk lamaran kerja atau promisi jabatan, melakukan korupsi, dan sampai main dukun atau pesugihan dan lain-lain. Singkat kata, yang penting kaya, tidak mau tahu cara yang ditempuh. Bahkan kekayaan yang diperoleh menjadikan mereka bermegah-megahan. Sampai-sampai Allah swt mengingatkan “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. kamu masuk dalam kubur.” (QS at-Takatsur:1-2). Betapa ruginya orang yang meraih kekayaan dengan cara yang jauh diridlo Allah, sehingga mereka lupa diri sampai kematian menjemputnya.

    Perlu difahami benar bahwa meraih kekayaan itu juga perlu dan sangat dianjurkan sepanjang kita dapat mengelola dengan baik, membersihkannya dengan membayar zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqah, serta untuk kepentingan sosial. Kekayaan juga bisa bermanfaat untuk tunaikan ibadah Haji dan Umrah, menjadi orangtua asuh untuk siswa dan mahasiswa, membangun tempat ibadah, tempat pendidikan atau pesantren dan sebagainya. Yang jelas kekayaan tidak digunakan untuk berpoya-poya atau maksiyat.

    Selain daripada itu yang sangat penting difahami salah satu hadits Raulullah saw, yaitu “Laisal Ghina an Katsratil Aradli, walakinnal Ghinaa Ghinan Nafsi”, yang artinya  “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa." (HR, Bukhari dan Muslim). Dengan memperhatikan lebih terhadap substansi daripada bentuk, maka yang dipandang Rasulullah tentang kekayaaan adalah kaya jiwa/hati  itu lebih berarti daripada kaya harta.

    Adapun Ghinan Nafsi dapat diartikan sebagai  kaya hati. Inilah kekayaan yang sesungguhnya. Bahwa insan yang telah ridla terhadap pemberian rizqi dari Allah swt, bahkan mampu menunjukkan sifat qanaahnya. Dalam kondisi  yang demikian, insan tidak seharusnya menampakkan sifat tamaknya atau hausnya terhadap harta dan jabatan. Atau sebaliknya tidak terlalu merasa down karena ketiadaan harta, sehingga dengan mudahnya menengadahkan tangan, tidak mau berjuang keras untuk mendapatkan nafkah. Justru merasa sedih dan terhina ketika belum bisa menunjukkan ketaatannya kepada Allah swt, sementata sudah diberi rizeki yang sangat cukup.

    Seyogyanya setiap insan tahu posisinya, ketika menjabat utamakan berbuat adil, ketika kaya membayar zakat, infaq dan shaqahnya melebihi dari nishabnya, ketika miskin tunjukkan kesabaran, ketika berposisi sebagai ustadz/kiai beramar ma’ruf nahi munkar, ketika berilmu mengamalkan ilmunya seprofesional mungkin, dan ketika menjadi pelajar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Semua orang dengan posisinya berbeda dapat beramal sholeh sesuai bidangnya akan membuat kaya hati.

    Khususnya bagi yang dalam kemiskinan, mereka tidak mudah berkeluh kesabaran. Sebab mereka ridlo terhadap apa yang telah diberikan kepadanya, bahkan mereka puas. Rasulullah saw bersabda “Dan puaslah akan bagian yang telah Allah berikan untukmu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya” (Hr.Bukhari). Betapa tingginya nilai orang-orang yang sabar menerima pemberian dari-Nya.

    Agama Islam tidak melarang para pemeluknya untuk meraih kekayaan, namun memberikan pembelajaran bahwa harta bukan segalanya untuk mencapai kemuliaan. Kemuliaan tidak terletak pada orang itu kaya atau bukan. Tapi kemulian ada dalam jiwa-jiwa yang mempunyai  iman dan taqwa kepada Allah swt. Ada suatu mahfudzat, yaitu : “Aadaabul mar-i khairun min dzahabihi”, yang artinya “Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.” Menjadi perhatian kita, memperbaiki akhlaq dapat memperkaya hati dan kaya hati jauh lebih berarti daripada kaya harta. Padahal sebenarnya kaya hati jauh lebih muah diraih daripada kaya harta, walau prakteknya tidak mudah bagi setiap orang, karena membutuhkan kesungguhan. Semoga Allah swt membimbing kita. Aamiin.


    Cengkaren, 14 Juni 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Peran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri Rohmatal Lil Alamin

    Salahsatu Kegiatan Pondok Pesantren.
    PEWARTAnews.com -- Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ajaran Islam sesuai dengan syari’at Islam. Pondok pesantren berfungsi untuk membentuk karekter seseorang menjadi karakter yang baik. Pondok pesantren mulai berkembang setelah abad ke 16, dimana dalam pondok pesantren tersebut mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi dan tasawuf.

    Pondok pesantren memiliki beberapa unsur yang ada didalamnya, diantaranya: a. kyai; b. santri; c. adanya bangunan; d. masjid; e. adanya kitab. Adapun metode pengajaran dalam pondok pesantren itu ada dua, yakni: a. bandongan; b. sorogan. Bandongan sendiri adalah proses pembelajaran yang dimana sang kyai membacakan atau dalam bahasa jawanya maknani kitab, semantara santrinya mendengarkan sambil mencatat isi dari kitab. Sementara sorogan adalah proses pembelajaran yang dimana santri membaca, sedangkan sang kyai mendengarkan sambil mengoreksi kalau ada salah dalam membaca (Haedari, dkk, 2004).

    Peran pondok pesantren bagi santri sangatlah besar, karena di pondok pesantren mengajarkan santri untuk bisa berkontribusi dalam melakukan berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya itu, pondok pesantren bisa menjadikan santri menjadi seorang santri yang berkarakter yang baik.

    Pengkajian pondok pesantren memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter. Tujuan umum dari pendidikan di pondok pesantren adalah untuk membimbing para santri agar menjadi manusia yang memiliki pribadi yang baik sesuai yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW. Tujuan khususnya adalah untuk mempersiapkan santri menjadi orang alim dan mendalam sisi ilmu agamanya serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, tujuan terpenting pendidikan pesantren adalah membangun moralitas agama santri dengan pengamalannya.

    Menanamkan dan membentuk karakter santri pastilah tidak mudah. Dari berbagai macam karakter yang diterapkan di pondok pesantren salah satunya adalah karakter tanggung jawab. Tanggung jawab bukan hanya milik para santri, namun hal tersebut menjadi milik setiap individu yang ada di dunia ini. Tanggung jawab menjadi sangat penting, agar seseorang tidak lupa akan tugas dan kewajibannya.

    Salah satu nilai yang menonjol di pesantren adalah karakter tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, lingkungan, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Para kyai dan ustadz bertanggung jawab memberikan pendidikan keagamaan kepada para santri, baik melalui kajian kitab maupun teladan nyata. Sementara para santri bertanggung jawab untuk belajar dan mengaji secara sungguh-sungguh serta mengamalkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan karena ilmu tanpa diamalkan itu seperti tanaman yang tidak berbuah. Dan ada ungkapan بلغوا عني ولو اية ( sampaikanlah padaku walau satu ayat atau huruf).

    Dalam pendidikan yang berkenaan dengan perkembangan dan perubahan pada santri dalam pesantren, pendidikan sangat berhubungan erat dengan pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan aspek-aspek kelakuan lainnya. Pada hakikatnya sikap manusia bersikap sosial yakni dapat mempelajari interaksi antar sesama manusia lainnya dan hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakam hasil hubungan kita dengan orang lain.

    Ada sebuah syi’ir tentang mencari ilmu, didalam kitab  تعليم المثعلم  di sebutkan :

    الا لا ثنا ل العلم الا بستة # ساءنبيك مجموعها ببيان
    ذكاء وحرص وصطبار وبلغة # وارشاد استاذ وطول زمان
    “Ingatlah, sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan 6 perkara yang aku terangkas secara ringkas, yaitu : 1. Cerdas 2. Rajin 3. sabar 4. Mempunyai bekal 5. Petunjuk guru (rasa takdim kepada kyai) 6. waktu yang panjang(Noor Aufa, hal 21).

    ثم لا بد من الجد والموا ظبة و الملا زمة

    Bagi orang yang mencari ilmu itu ada 3 syarat : a. rajin; b. besungguh-sungguh; c. tetap (istiqomah).



    Penulis: Muhammad Hanif Mahzumi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo Semarang

    Sekolah yang Aman dan Ramah

    PEWARTAnews.com -- Sekolah yang eksis dan fungsional selalu dirindukan oleh semua. Sekolah yang dicari, bukan sekolah yang dihindari. Sekolah yang memberikan kepuasan, bukan sekolah yang mengecewakan. Sekolah yang menyenangkan, bukan sekolah yang menakutkan. Yang demikian itu disebut sekolah yang aman dan ramah, bukan sekolah yang mengkhawatirkan dan tidak ramah.

    Kita bisa menyaksikan bahwa belakangan ini masih dijumpai cukup banyak sekolah yang belum memberikan jaminan aman dan ramah bagi semua anak, terutama anak berkebutuhan khusus, tak beruntung secara ekonomis, tak beruntung secara sosio kultural, tak beruntung secara geografis dan sebagainya. Kondisi inilah yang membuat sekolah belum bisa menjadi suatu lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, personal, intelektual, dan sosial anak.

    Untuk menciptakan sekolah yang aman dan ramah, guru merupakan salah satu faktor penting. Karena gurulah yang sangat menentukan model manajemen kelas yang mampu menciptakan lingkungan kondusif, sehingga tercipta kondisi aman dari berbagai kekerasan fisik, psikis, dan verbal. Siswa merasa terjamin aksesibilitasnya, sehingga terbantu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

    Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan sekolah aman, di antaranya (1) menegakkan kebijakan sekolah yang jelas dan memberikan penguatan pada pencapaian tujuan, (2) menilai sekolah, kelas dan dirimu sendiri, sehingga ada kesesuaian dengan kebutuhan sendiri dan visi sekolah, (3) mengusahakan sekolah aman untuk siapapun yang datang di sekolah, (4) mendorong siapa saja untuk melaporkan apa saja kejadian di sekolah, (5) perlu pendekatan yang lebih kepada anak, sehingga memungkinkan anak lebih terbuka dengan orang dewasa tentang dirinya di sekolah, (6) mengajarkan kepada tentang bias baik lewat isi kurikulum, bahan pembelajaran, maupun lingkungan belajar yang anti bias, (7) melibatkan orangtua, anggota keluarga dan masyarakat dalam mengawal keamanan sekolah, dan (8) memberikan bantuan bagi anak yang menjadi kenakalan. (ADL:2019)

    Selanjutnya dalam rangka mengupayakan sekolah yang ramah, maka sekolah seharusnya dapat mengorientasikan kepada kuantitas (aksesibilitas) dan kualitas (mutu dan rilevando). Terkait dengan kuantitas, sekolah wajib menfasilitasi aksesibilitas fasilitas akademik dan nonakademik. Terkait dengan kualitas, sekolah perlu menjadikan siswa berkualitas (sehat dan siap belajar), isi yang berkualitas (kurikulum dan bahan ajar), proses pembelajaran berkualitas (pendekatan pembelajaran yang tepat), lingkungan belajar berkualitas (fasilitas dan layanan), dan hasil pendidikan berkualitas(pengetahuan, sikap, keterampilan). Selain daripada itu sekolah juga harus ramah dengan bias gender, akses IT, akses ibadah, dan sebagainya.

    Dengan memperhatikan kondisi dewasa ini jumlah sekolah yang kurang aman dan ramah secara hipotetis semakin meningkat. Hal ini disebabkan adanya keterbukaan informasi dan pengaruh budaya bullying yang tidak mudah di-filter. Di samping pengawasan orangtua yang berkurang akibat kesibukan. Juga kurangnya kepedulian masyarakat terhadap penanganan kenakalan anak, karena semakin meningkatnya sikap individualis. Sementara itu anak sendiri memang berpotensi masalah sosial akibat dari posisinya di masa transisi. Kita tidak bisa biarkan kondisi yang demikian, karena kita harus lindungan dan selamatkan generasi emas.

    Kendatipun kondisi semua sekolah belum mampu tunjukkan dirinya sebagai tempat yang aman dan ramah untuk belajar, ke depan semua sekolah diharapkan mampu ciptakan sebagai tempat yang aman dan ramah, bahkan menyenangkan untuk bejar. Tempat yang sangat kondusif untuk tumbuh dan kembang anak. Untuk itu upaya melengkapi semua fasilitas akademik dan penunjang harus menjadi concern. Tidak ada keraguan sedikitpun bagi orangtua terhadap sekolah tertentu tempat anaknya belajar. Semoga.


    Yogyakarta, 19 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Menulis Merupakan Kerja Keabadian

    PEWARTAnews.com -- Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)

    Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Jika hal itu diselami lebih dalam, tentu tak hanya sekedar kata-kata biasa akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, yakni “menulis”).

    Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Karena menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya.

    Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Demikian halnya, tulisan dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Penulis seperti Fahd Pahdepie, Ahmad Fuadi, Tere liye, Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Fazlur Rachman, Prof. Komarudin Hidayat, Dr. Ahmad Gaus, Dr. Zainal Arifin, dengan  melalui karya-karya nya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal tersebut akan menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

    Oleh karena itu, seorang penulis disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya (Mukaromah, 2018). Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga boleh tiada, namun kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno dll yang mana pemikiran (karya) mereka “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.

    Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan, melalui spirit Membaca. Spirit itulah yang kemudian menjadi pijakan untuk melanggengkan karya, yakni menjadi nafas dan inspirasi untuk melahirkan tulisan. Sehingga, antara membaca dan menulis erat kaitannya. Tulisan akan lebih berkualitas, berbobot dan bernas manakala ditopang oleh wacana yang luas. Hal demikian, menunjukkan bahwa hidup tidak hanya sekedar hidup, namun juga mengoptimalkan segala potensi yang telah Allah anugerahkan untuk terus belajar dan haus akan ilmu pengetahuan.

    Sebagaimana Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat Nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan Islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah. Data UNESCO dan IPM mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis di semua kalangan

    Akhirnya, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban yang lebih baik dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis Untuk Keabadian ! “Jika kau Bukan Anak Raja pun juga bukan anak Ulama’ terkenal, maka menulislah (Imam Ghazali).


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menghadapi Kecemasan

    PEWARTAnews.com -- Hari-hari belakangan ini kecemasan membayangi kehidupan rakyat Indonesia, terlebih-lebih menghadapi 22 Mei, saat KPU RI menetapkan hasil Pilpres 2019. Fenomena yang muncul, ada yang saling mengklaim kemenangan, isu kecurangan, dan people power (menuntut kedaulatan rakyat). Kondisi ini membuat sikap masyarakat beragam, ada yang yakin tidak masalah, aman-aman saja, ada yang acuh dan tidak mau peduli, dan yang merasa cemas sekali terjadi chaos.

    Kita semua berharap bahwa KPU RI bisa bekerja profesional dan konstitusional, sehingga cenderung bisa memuaskan banyak pihak, walau diakui bahwa masih saja ada yang tidak merasa puas. Sebaliknya jika KPU tidak bekerja secara tepat, bisa jadi menimbulkan chaos. Karena hingga kini masih fivety-fivety, maka tidak bisa dihindari adanya kecemasan di antara kita. Tentang proporsi yang mengalami kecemasan itu relatif, tergantung kondisi masing-masing individu.

    Kecemasan tidak bisa dibiarkan, betapapun tingkat beban psikologisnya. Karena itu perlu ditangani sedini mungkin, sehingga tidak semakin berat. Apapun untuk mengatasi kecemasan, dapat dilakukan dengan cara (1) Ambil waktu istirahat, (2) Bikin hidup rileks (dengar musik, lihat TV, baca koran, dan), (3) Menghindar dari persoalan yang bikin stress, (4) Makan dengan gizi yang seimbang, (5) Jaga kesehatan dengan  ajeg, (6) Hilangkan dan batasi minim yang mengandung alkohol dan kopi, (7) Usahakan tidur cukup, (8) Upayakan latihan olahraga hingga merasa baik dan sehat, (9) Latihan pernapasan secara  rutin, (10) Usahakan selalu bekerja yang terbaik, tidak harus sempurna, (11) Jagalah sikap positif kepada siapapun, terutama yang menyebabkan stress, (12) Jika mungkin pelajari apa yang menyebabkan stress, terus berusaha memahaminya, dan (13) Usahakan berbicara dengan orang lain (terapis, konselor, psicologi klinis, psikiatris) yang dapat dipercaya untuk membantu mengatasi stress. (ADAA, 2010-2018).

    Upaya penanganan kecemasan yang masih ringan bisa dilakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Yang penting ada ikhtiar yang sungguh-sungguh. Ikhtiar lahiriah memang penting tetapi lebih efektif jika dibarengi dengan ikhtiar batiniah. Dengan banyak membaca kalimat thoyyibah, atau banyak dzikir. Ingat dengan banyak dzikir akan bisa tenangkan hati. Sebagaimana Firman Allah swt, yang berbunyi, “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub”, (Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (QS. Ar Ra’du : 28). Jika tenang hati, insya Allah akan terjadi proses recovery kecemasan secara berangsur-angsur.

    Sekompleks apapun yang membuat kita menjadi cemas, namun kondisi psikologis kita terbangun dengan baik, insya Allah kita bisa terhindar dari terjadinya stress. Jika kita sudah terrena stress, dengan membangun kekuatan iman dan integritàs pribadi solid, insya Allah secara perlahan-lahan stress akan berkurang hingga mendekati titik 0.


    Yogyakarta, 18 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pengaruh Modernisasi Terhadap Perubahan Gaya Berpakaian Mahasiswa

    PEWARTAnews.com -- Perubahan sosial merupakan gejala umum yang terjadi di setiap masyarakat di manapun juga. Perubahan sosial juga merupakan gejala sosial yang terjadi sepanjang masa, tidak ada masyarakat di dunia ini yang tidak mengalami perubahan. Perubahan terjadi sesuai hakikat dan sifat dasar manusia itu sendiri. Karena sifat manusia yang selalu aktif, kreatif, inovatif, agresif, selalu berkembang dan responsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sosial.

    Perubahan sosial yang kini dialami manusia sering disebut dengan era modernisasi. Secara umum modernisasi adalah proses menjadi masyarakat modern, perubahan dari tradisional menjadi masyarakat modern. Di era modernisasi tidak bisa lepas dari adanya westernisasi, di mana segala bentuk gaya hidup mengikuti atau meniru bangsa Barat. Mulai dari gaya hidup, gaya berpakaian, konsumerisme dan glamorisme, dan lain-lain. (Suharni, 2015).

    Perubahan gaya berpakaian mahasiswa misalnya nilai-nilai atau cara berpakaian yang lama tidak sesuai dengan zaman, hilang dan diganti dengan nilai-nilai atau cara berpakaian baru. Nilai tradisional diganti dengan modern, salah satunya contohnya adalah batik. Sekarang ini batik mulai tergeser posisinya akibat adanya kebudayaan luar yang lebih menarik. Bahkan batik dianggap sebagai sesuatu hal yang kuno, norak, bahkan ketinggalan zaman dan tidak layak untuk diikuti lagi.

    Sebagian besar mahasiswa sekarang ini berubah gaya berpakaiannya mengikuti era modernisasi di mana pada era ini gaya berpakaian cenderung mengikuti orang Barat. Mulai dari cara berpakaian mahasiswi yang bermewah-mewahan, memakai make-up kebarat-baratan seperti soflents, blush on, eye liner, mascara, dan lain-lain. Selain mahasiswi juga terjadi pada mahasiswa, sepeti style rambut kepirang-pirangan, celana sobek-sobek, dan lain-lain. Hal itu termasuk gaya hidup orang Barat yang ditiru oleh sebagian besar mahasiswa sekarang ini.

    Perubahan gaya berpakaian mahasiswa biasanya terlihat ketika masih menjadi mahasiswa baru, awalnya pakaian cenderung sederhana, tetapi setelah waktu perkuliahan berjalan satu semester banyak terjadi perubahan pada mahasiswa secara drastis. Perubahan yang terjadi pada mahasiswa tersebut berdasarkan pada modernisasi saat ini (Inkeles dalam Weiner, 1976).

    Modernisasi dan perubahan sosial merupakan dua hal yang saling berkaitan. Modernisasi pada hakikatnya mencakup bidang-bidang di mana yang akan diutamakan oleh masyarakat tergantung dari kebijakan pengasa yang memimpin masyarakat tersebut. Di mana teori modernisasi muncul pada pasca perang dunia kedua. Asumsi dasar teori modernisasi mencakup:
    (1) Bertolak dari dua kutub dikotomis yaitu antara masyarakat modern dan masyarakat tradisional; (2) Peranan Negara-negara maju sangat dominan dan dianggap positif, yaitu dengan menularkan nilai-nilai modern di samping memberikan bantuan modal dan teknologi (Budiman dalam Frank, 1984).

    Teori modernisasi yang merupakan sumbangan dari Daniel Lerner (1958), Neil Smelser (1959), Everett Hagen (1962), Parsons (1966), Marion Levy (1966), David Apter (1968), dan Eisenstadt (1973). Teori ini berasumsi:
    Pertama, Perubahan adalah unilier. Karena itu masyarakat yang kurang maju harus mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh masyarakat yang lebih maju, mengikuti langkah yang sama, atau berdiri lebih rendah di eskalator yang sama.

    Kedua, Proses perubahan melalui tahapan-tahapan berurutan dan tak satu tahap pun dapat dilompati, misalnya: tradisional-tradisional-modern; tradisional-mencapai syarat tinggal landas-tinggal landas untuk tumbuh terus-dewas-mencapai tingkat konsumsi massa.

    Ketiga, Mengajarkan progresivisme, keyakinan bahwa proses modernisasi menciptakan perbaikan kehidupan sosial universal, dan meningkatkan taraf hidup (Sztompka, 2004).

    Teori modernisasi ini berupa kemampuan yang semakin besar untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, berkembangnya kemajuan, bebas dari kekuasaan tradisional, terbuka dengan hal-hal baru, dan beraspirasi tinggi. Baik dalam hal sosial, budaya dan pengetahuan. Oleh karena itu, dengan adanya pengaruh modernisasi terhadap cara berpakaian mahasiswa yang sudah sebagian besar mahasiswi saat ini mengalaminya. Perlunya diri masing-masing untuk bisa terus menyaring segala bentuk perkembangan dan perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita, setidaknya kita terutama mahasiswa tentunya pemuda harus tetap membudayakan kebudayaan tradisional misalnya batik. Karena corak batik sekarang ini tidak juga ketinggalan zaman dengan adanya motif batik modern yang sangat menarik jika dipakai oleh berbagai kalangan dari orangtua bahkan anak muda di zaman modern saat ini.


    Penulis: Sonia Okta Alfira
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

    Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, dan Akhlaqul Karimah

    PEWARTAnews.com -- Ilmu amaliah, amal ilmiah, dan akhlaqul karimah sangatlah penting dalam kehidupan kita. Karena ketiga hal ini sangat diperlukan untuk kehidupan manusia di atas bumi, sehingga bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak bisa hanya fokus pada satu atau dua hal saja. Kita memerlukan ketiganya, karena ketiganya saling melengkapi dan mensupport, sehingga hidup kita relatif menuju sempurna, sesuai dengan fitrahnya.

    Kita hidup dunia ini untuk survaif dan bahagia, tidak bisa lepas dari ilmu. Tanpa ilmu kita sebagai insan tidak berarti dan tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ditegaskan juga oleh Rosulullah, bahwa barang siapa yang menghendaki (sukses/bahagia) dunia maka dengan dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki (bahagia) akhirat, maka dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki (sukses/bahagia) keduanya, maka dengan ilmu juga. Karena itu ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam kehidupan manusia. Bahkan Allah swt mengangkat derajatnya sejajar dengan orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah swt (QS Al Mujadilah:11), yang berbunyi  “yarfa’illaahul ladziina aamanuu minkum walladziina uutul’ilma darajaat, yang artinya Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Tetapi mengapa ada orang yang berilmu, sudah meraih gelar sarjana, master, bahkan doktor juga tidak bisa sukses hidupnya di dunia, bahkan menganggur. Inilah suatu persoalan yang patut ditelusuri. Jangan-jangan waktu menuntut ilmu niatnya salah dan usahanya kurang sungguh-sungguh.

    Begitu pentingnya ilmu, firman pertama dari Allah swt untuk Rasulullah saw mengandung pesan dan misi pentingnya menuntut ilmu. Bakan Rasulullah saw melalui sabdanya “Thalabul ‘ilmi fariidzatun ‘alaa kullio muslimin wa muslimatin”, yang artinya “Menuntut ilmu diwajibakan bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan (HR Ibnu Majjah). Bahkan begitu pentingnya, beliau berabda lagi, “uithlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”, yang artinya “Tuntutlah ilmu dari buaian ibu dampai ke liang lahat” (Mahfudzat). Hal ini menggambarkan bertap menuntuk ilmu wajib begi menjaga kehidupan. Memang belajar atau menuntut ilmu di sini tidak seharusnya dibatasi pada belajar akademik, melaionkan belajar kehidupan. Karena itu belajar atau menuntut ilmu bukan hanya meningkatkan pengetahuan, melainkan juga keterampilan, dan yang lebih penting adalah mendewasakan dan mematngkan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Yang semuanya itu sifatnya integratif.

    Ilmu yang kita pelajari dan kuasai tidaklah semata-mata untuk membuat kita pintar saja, melainkan ilmu yang kita pelajari baru berarti banyak, jika ilmu itu diamalkan untuk bisa memperbaiki kehidupan klita sendiri dan bermanfaat bagi kebaikan orang lain. Rasulullah bersabda , “Al ‘ilmu bilaa ‘amalin kasy syajari bilaa tsamarin”, yang artinya “Bahwa ilmu itu bila tidak diamalkan, sama saja dengan pohon yang tiada berbuah” (Mahfudzot). Ilmu yang sedikit akan segera musnah jika tidak diamalkan, sebaliknya ilmu banyak akan menjadi beban jika tidak diamalkan. Bahkan bisa diumpamakan, seekor keledai yang mengangkut banyak kitab, hanya menjadi beban, karena tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi keledai.

    Amal yang kita lakukan setiap hari, apakah terkait dengan ibadah khas maupun ibadah aam atau kehidupan pada umumnya baru berarti apabila dilandasi dengan ilmu yang jelas. Rasululullah saw bersabda, “Ad diinu huwal ‘aqlu, laa diina liman ‘aqla lahu”, artinya taka da agama bagi yang tak berakal.  Betapa pentingnya dalam amaliah agama itu didasari oleh pengetahuan tentang amaliah itu. Karena itu kita tidak boleh taqlid, ikut-ikutan orang lain beribadah. Setidak-tidaknya ya ittiba’, menjalankan ibadah mengikuti ijtihad para ulama’ dan kita mengetahui dalil naqlinya. Idealnya kita bisa berijtihad sendiri. Karena hasil ijtihad sendiri bila benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala. Namun untuk melakukan ijtihad tidaklah mudah, karena harus menguasai Bahasa Al Qur-an (Bahasa Arab), menguasai asbaabun nuzzul (sejarah turunnya ayat-ayat Al Qur-an), menguasai Asbaabul Wurud (sejarah turunnya Hadits), Mengetahui Nasakh Mansukh, dan seterusnya.

    Akhlaq merupakan akian kita dalam kehidupan sehari yang membuat kita menjadi manusioa yang baik. Perhatikan sabda Rasulullah saw, yaitu “Inna min khiyaarikum ahsanuhum khuluqa”, yang artinya bahwa “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang berakhlaq. Karena itulah Allah swt selain membekali ilmu kepada Rasulullah saw, juga membangkitkan Muhammad di atas bumi, semata-mata untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Saat itu kehidupan kaum Quraisy benar dalam kejahiliyahan, kebodohan dari sisi akhlaq, walaupun dari sisi ilmu dan sastra, mereka sangat unggul. Rasululllah saw hadir benar-benar dimakudkan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju ke alam yang terang benderang, yang penuh cahaya kehidupan dan keislaman. Dengan akhlaq mulia (akhlaqul karimah), diharapkan kehidupan kitra lebih bermartabat. Kehidupan yang dihiasi dengan dengan akhaq terpuji (akhlaq mahmudah) dan dijauhkan dari akhlaq tercela (akhlaq madzmumah).

    Setelah melakukan penelaahan tentang ilmu, amal, dan akhlaq dalam kehidupan kita, kini di momentum Ramadan, saat yang tepat untuk menyegarkan kembali dan melanjutkan untuk masa-masa berikutnya, dengan meneguhkan ilmu amaliah, amal ilmiah, dan akhlaqul karimah, sehingga maqam kita semakin baik dari waktu ke waktu. Ikhtiar perlu terus dilakukan, walau sekecil apapun, yang penting tetap istiqamah untuk menjaga p[ikiran, sikap, dan perilaku kita untuk tetap di jalan yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah swt. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, bukan golongan orang-orang yang merugi. Sekompleks apapun dunia yang di sekitar kita, sepanjang kita teguh menjaga Iman, Islam dan Ihsan, insya Allah, kita tetap dalam lindungan oleh-Nya. Aamiin.


    Yogyakarta, 14 Mei 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pengaruh Pemuda dalam Perubahan Sosial

    PEWARTAnews.com -- Peran mahasiswa yang terwujud dalam gerakan mahasiswa merupakan kegiatan atau aktivitas mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan berorganisasi dan mengasah kepandaian mereka dalam kepemimpinan. Semua itu telah terbukti dalam lembaran sejarah Indonesia. Pemuda merupakan unsur yang menarik dan esensial dalam suatu gerakan perubahan, maka menarik untuk dikaji. Karena di dalam jiwa pemuda terdapat kerelaan berkorban demi cita-cita. Di dalam pemuda terdapat api idealisme yang tidak menuntut balasan, baik berupa uang atau kedudukan. Di dalam pemuda terdapat semangat yang selalu membara. Bersama pemuda kita menentang segala kekuasaan yang sewenang-wenang. Bersama pemuda Indonesia akan ditentukan maju, diam atau tenggelam.

    Pemuda merupakan salah satu komponen dalam masyarakat. Munculnya gerakan baru atau kelompok umur muda sangat erat dengan perubahan sosial. Perubahan tidak selamanya berdampak baik tetapi juga bisa berdampak buruk. Mereka adalah golongan yang mempunyai banyak kesempatan dalam pembentukan individu dalam kehidupan bermasyarakat (Abdillah, 1994). Setiap perilaku masyarakat yang terjadi akan berdampingan dengan dampak baik maupun buruk. Beberapa dampak adanya perubahan sosial antara lain, seperti yang penulis sebutkan dibawah ini.

    Pertama, Perubahan yang diterima masyarakat kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan. Hal ini karena setiap orang memiliki gagasan mengenai perubahan yang mereka anggap baik sehingga perubahan yang terjadi dapat ditafsirkan bermacam-macam, sesuai dengan nilai-nilai sosial yang mereka miliki.

    Kedua, Perubahan mengancam kepentingan pihak yang sudah mapan. Hak istimewa yang diterima dari masyarakat akan berkurang atau menghilang sehingga perubahan dianggapnya akan mengancangkan berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegahnya, setiap perubahan harus dihindari dan ditentang karena tidak sesuai kepentingan kelompok masyarakat tertentu.

    Ketiga, Perubahan dianggap sebagai suatu kemajuan sehingga setiap perubahan harus diikuti tanpa dilihat untung ruginya bagi kehidupan. Perubahan juga dianggap membawa nilai-niali yang modern.

    Keempat, Ketidaktahuan pada perubahan yang terjadi. Hal ini mengakibatkan seseorang ketinggalan informasi tentang perkembangan dunia.

    Kelima, Masa bodoh terhadap perubahan. Hal itu disebabkan berubahan sosial yang terjadi dianggap tidsak akan menimbulkan pengaruh bagi dirinya.

    Keenam, Ketidaksiapan menghadapi perubahan. Pengetahuan dan kemampuan seseorang terbatas, dampak perubahan sosial yang terjadi ia tidak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perybahan yang terjadi.

    Berdasarkan uraian tersebut tentang penjelasan pemuda, perubahan sosial dan dampaknya maka didapat ada 3 indikator menurut Taufik Abdillah dalam “Pemuda dan Perubahan Sosial” dan Budiman dalam “Teori Pembangunan Dunia Ketiga” yang menjadi tolak ukur Pemuda sebagai Agent of Change, sebagai berikut:
    (a) Agent of Change dalam proses kehidupan adalah para individu yang mempunyai kualitas jiwa pikiran atau mentalitas positif dalam proses sosialnya (Budiman, 1995); (b) Pemuda merupakan satu fase dalam kehidupan; (c) Agent of Change ialah pemuda elite. Elite dalam hal ini bukanlah orang yang mempunyai kekayaan yang berlebihan dengan hartanya. Namun orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan hasil drai pendidikan yang dilaui di lembaga pendidikan formal (Budiman, 1995).

    Pemerintah dalam hal ini dituntut untuk menerapkan strategi jitu untuk mengoptimalkan peran anak muda dalam melakukan perubahan yang tidak lain adalah untuk mengangkat keterpurukan bangsa Indonesia, yang menjadi permasalah saat ini tidak sepenuhnya ada pada instrumen yang diberlakukan oleh pemerintah melainkan pada cara pandang atau perspektif kaum muda Indonesia yang masih jauh dari kesan positif, masih banyak kaum muda Indonesia yang mengkritisi kebijakan pemerintah secara anarkis dan terlalu mengedepankan arogansi mungkin hal tersebut bukan hal yang baru ditelinga kita belum lagi menyinggung gaya hidup kaum muda Indonesia yang telah jauh dari jati diri bangsa Indonesia prilaku westernisasi (kebarat-baratan), hendonisme serta sikap materialistik telah menjadi trend di kaum muda Indonesia hal ini tentu akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa dan negara meskipun tidak selamanya dampak globalisasi membawa pengaruh negatif bagi bangsa Indonesia tentunya dalam menyikapi proses globalisasi yang merupakan kelanjutan dari modernisasi perlu kebijaksanaan serta kematangan dalam mengambil kebijakan. Di sisi lain perhatian yang dilakukan pemerintah masih jauh dari kesan memuaskan hal ini dapat kita lihat diberbagai daerah terpencil di Indonesia khususnya wilayah timur Indonesia yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, serta berbagai sarana penunjang lainnya, perhatian penulis mungkin tertuju pada pengembagan intelektual kaum muda Indonesia yang masih sangat minim padahal pendidikan merupakan syarat penting yang harus dimiliki oleh kaum muda Indonesia dalam membangun bangsa dan negara yang maju (Amin, 2016).

    Pemerintah disibukkan dengan pembanguan fisik dan melupakan pembangunan mental masyarakatnya. Bukankah sudah jelas dalam naskah W.R Supratman dalam lirik lagu Indonesia Raya telah mengumandangakan konsep pembangunan “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya”. Artinya negara harus berfikir tentang pembangunan pola kehidupan dan mentalitas masyarakat mempersiapkan diri menghadapi kemajuan sebagai skala prioritas utama, selain menggencarkan pembangunan gedung dan jalan raya. Dengan demikian kjadi kesimpulannya adalah peran pemuda sebagai agent of change menjadi kecil dampaknya jika tidak dibarengi dengan dukungan fasilitas pembangunan mental dari pemerintah. Di akhir tulisan ini mungkin kita bisa belajar dari semboyan yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Toludo Ing Madyo Mangungkarso Tut Wuri Handayani, yang berarti pemuda harus berada pada barisan paling depan dalam melakukan perubahan sosial sebagai penggerak atau kreator perubahan, memaknai lebih jauh semboyan ini ada keharusan sikap tumpang tindih dan semangat berjiabaku dalam mengupayakan cita-cita mulia bangsa Indonesia. Jika semboyan ini di reaktualisasi niscaya masalah atau bahkan tantangan sesulit apapun akan mudah diatasi oleh kaum muda Indonesia (Amin, 2016).


    Penulis: Rizki Kurniasih
    Mahasiswa Sosiologi 4A UIN Walisongo Semarang - NIM: 1706026110

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website