Headlines News :
Home » , » Hikmah Mudik

Hikmah Mudik

Written By Pewarta News on Selasa, 04 Juni 2019 | 10.33

PEWARTAnews.com -- Mudik merupakan agenda rutin tahunan yang menjadi milik bangsa Indonesia. Agenda yang dirindukan ummat Islam yang tidak bisa dihindari dari sikap pro dan kontra. Tapi buktinya agenda tahunan ini tidak bisa dibendung. Mudik yang utamanya ingin memenuhi hajat untuk bertemu dengan orangtua dan sesepuh, di samping sanak keluarga ternyata bukan terjadi di Indonesia saja. Setidak-tidaknya yang saya saksikan terjadi di Amerika Serikat dengan sebutan Thankgiving.

Sikap kontra terhadap agenda mudik diperkuat dengan berbagai alasan. Pertama, adanya mushibah dengan jumlah yang tidak sedikit baik yang wafat maupun yang luka, apalagi ada yang menjadi kurban satu keluarga. Kedua, terjadi pemborosan dan hidup konsumtif, yang sudah capek-capek uang diperoleh selama setahunnya dihabiskan beberapa hari saja. Ketiga, keamanan tempat tinggal selama mudik, jika tidak ada yang piket, belum sepenuhnya bisa dijamin, bahkan bisa kena resiko dibobol penjahat atau kebakaran, sehingga rawan atas dokumen-dokumen atau barang-barang penting. Keempat, dalam era digital, kita cukup silaturahim dengan menggunakan jasa medsos, baik teks maupun video call.

Sikap pro terhadap agenda mudik, didukung sejumlah alasan. Pertama, mudik membuat bisa sungkem langsung dengan orangtua yang telah melahirkan, mengasuh dan membesarkan kita. Kedua, mudik memungkinkan bisa ziarah ke orangtua atau leluhur untuk kirim doa sambil mengingatkan kita akan kematian. Ketiga, mudik membuat bisa silaturahim dengan keluarga besar, bahkan sangat efisien bisa bertemu dengan semua anggota keluarga besar yang tersebar di berbagai tempat. Pertemuan atau halal bi halal bisa diselenggarakan di tempat yang berbeda dari tahun ke tahun jika kedua orangtua sudah tiada. Keempat, mudik bisa menjadi momentum untuk bayar zakat dan bagikan shodaqah dan infaq untuk kerabat yang berhak menerima sambil silaturahim ke rumah. Kelima, mudik bisa dimanfaatkan untuk silaturahim ke guru-guru dan atau reuni dengan teman seangkatan atau semua teman alumni dari sekolah tertentu. Keenam, mudik bisa mengalirkan uang ke daerah baik terkait dengan transportasi, akomodasi, restoran, wisata, dan dibentur.

Lepas dari pro dan kontra, kita perlu membuat keputusan yang tepat. Waktu tidak pernah kembali lagi. Sadar akan kontra dan pro, jika kita jadikan mudik sebagai agenda tahunan yang produktif dan meaningful, kita perlu meminimalisir berbagai persoalan. Pertama, menyiapkan kendaraan dengan kondisi baik, sopir fresh, dan kecepatan di jalan standar dan semua pengguna jalan lainnya. Kedua, mengurangi belanja yang tidak perlu, meniadakan budaya boros, dan belanja di jalan seperlunya. Ketiga, pastikan listrik di-off kan, jika mungkin rumah dicarikan penjaga selama ditinggal dan ikut dilihatkan oleh tetangga yang tidak mudik, dan pastikan dokumen penting dipastikan tempatkan untuk memudahkan penyelamatan cepat jika terjadi apa-apa.

Beberapa poin penting telah  menjadi perhatian kita. Dengan melihat plus dan minusnya, akhirnya kembali kepada kita semua. Mau mudik atau tidak. Yang jelas kita perlu memperhatikan aspek lain yang tidak kalah pentingnya, sehingga kita tidak merasa kecewa di kemudian hari. Bahwa dalam budaya Jawa, ada ungkapan "Ojo Lali Mulo Bukane", yang maksudnya, bahwa kita jangan lupa asal usul kita. Boleh jadi dengan mudik, hati kita terjaga, tidak menjadi sombong dan semakin rendah hati (tawadlu). Kita muliakan orangtua sebagai salah satu wujud birrul waalidaiin.

Birrul walidain, atau berbakti kepada orangtua, berada dalam kedudukan yang tinggi setelah perintah shalat. Seperti yang yang tercantum dalam Alquran:  “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (QS. An-Nisa: 36). Demikian juga Rasulullah saw bersabda “Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain”, yang artinya “Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua”. (HR At Turmudzi). Seorang pria mendatangi Nabi saw, untuk meminta izin beliau agar diberangkatkan berjihad. Maka beliau bertanya, ”Apakah kedua orang tua Anda masih hidup?” Pria tersebut menjawab, "Iya”. Maka Nabi pun berkata, ”Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika memperhatikan uraian di atas saya ambil posisi bahwa Mudik itu agenda yang lebih banyak mashlahahnya daripada madharatnya. Mudik merupakan salah satu manifestarsi Tauhid sosial. Karena Mudik memiliki dukungan dalil naqli dan dalil aqli yang memadai dengan tetap memperhatikan madzaratnya dan mengantisipasi hal-hal yang mungkin dapat muncul di kemudian hari. Semoga Allah  swt meridloi niat kita. Aamiin.


Yogyakarta, 1 Juni 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website