Headlines News :
Home » , » Ied Mubaarak

Ied Mubaarak

Written By Pewarta News on Kamis, 06 Juni 2019 | 21.00

PEWARTAnews.com -- Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil hamdu,

Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat Allah swt, berupa sehat jasmani dan ruhani serta hidayah Allah, pada hari ini kita semua ummat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri 1440 H bersama seluruh ummat Islam sedunia. Walaupun ada yang jatuh kemarin.

Pada hakekatnya hari raya Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas godaan nafsu selama Ramadhan. Setelah berhasill mengalahkan godaan nafsu, kita dapat kembali ke fitrah, kembali ke asal kejadian. Yang suci bersih seperti waktu lahir, tiada dosa. Rasulullah saw bersabda, “kullu mauludun yuuladu ‘alal fithrah, fainnamaa yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi”, yang artinya bahwa “Setiap kelahiran itu adalah fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan (anak-anak mereka) Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi." Diharapkan sekali semua anak dari lahir fitrah, selama proses hidupnya direfresh untuk fitrah dan kembali ke rahmatullah kapanpun tetap fitrah, yang disimbolkan dengan kain kafan, berwarna putih.

Jika kita bisa menjadi salah seorang yang kembali fitrah, berarti kita berhasil menjadi pemenangnya setelah berjihad memerangi hawa nafsi, yang jauh lebih berat daripada memerangi musuh di medan laga. Kita mendapat ampunan dan rahmat-Nya. Dengan begitu kita patut mendapatkan hari raya yang kita tunggu. Ingat bahwa pada dasarnya ada beberapa hari raya.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sahabat Anas bin Malik, bahwa “Bagi seorang mukmin terdapat lima hari raya. Pertama, setiap hari yang berlalu tanpa perbuatan dosa yang dilakukannya. Kedua, hari dimana seseorang meninggalkan dunia fana dengan membawa iman dan persaksian, serta terjaga dari tipu daya syaitan. Ketiga, hari di mana seseorang berhasil melewati shirat, terhindar dari kesusahan di hari kiamat, selamat dari gugatan-gugatan dan tuntutan malaikat Zabaniyah. Keempat, hari di mana seseorang memasuki surga dan selamat dari siksa neraka. Dan kelima, adalah hari di mana seorang bisa menghadap Allah”.

Jika kita perhatikan Hadits tersebut di atas, bahwa di antara 5 hari raya, selama hidup di di dunia kita hanya bisa merasakan satu hari raya saja, yaitu suatu hari yang berlalu tanpa melakukan perbuatan dosa. Hari ini yang umumnya orang meng-claim sebagai hari raya bisa dibenarkan selama hari ini kita bebas perbuatan dosa. Bahkan kita bisa merasakan hari raya setiap Hari, atau sebanyak hari yang kita bisa bebas dari dosa. Beruntung sekali jika sepanjang tahun kita bisa bebas dari dosa, sehingga kita bisa merasakan terus menerus.

Selain kita bebas dari dosa, yang kita peroleh dari puasa Ramadhan, kita meningkat taqwanya (QS Al Baqarah:183). Pada ayat ini tertulis TATTAQUUN. Jenis kata yang digunakan adalah kata kerja aktif (ing form). Karena itu taqwa tidaklah sebagai label saja, tapi menuntut tindakan taqwa yang terus menerus. Taqwa harus dijaga dan ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari di manapun dan kapanpun. Perilaku taqwa bisa diwujudkan baik dalam bentuk peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah (hablum minallah) dan muamalah (hablum minannaas).

Ibadah sebagai media relasi vertikal dan transendental bisa kita lakukan dengan mengikuti hukum syar’i, terutama ibadah khas. Ibadah khas pun tidak selalu otomatis bisa berterima, karena tergantung pada benarnya dan bersihnya niat. Bahkan ibadah aam kuncinya tergantung pada niatnya. Kelihatan tindakan biasa, misalnya meminggirkan di jalan yang diniati mengharapkan ridlo Allah swt. Maka perilaku ini pun punya makna bagi kehidupan kita. Diharapkan sekali untuk masa-masa selanjutnya ibadah kita menjadi meningkat.

Muamalah adalah sebuah hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri. Dalam hubungan dengan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban. Dalam arti luas muamalah merupakan aturan Allah untuk manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya dalam berinteraksi.

Bergaul dan berjamaah merupakan kebutuhan kita dalam berjamaah (QSAl Imran:3). Bahkan kita sebagai orang beriman itu bersaudara, harus terus aktif membangun kedamaian (QS Al Hujurat:10). Atas dasar itulah kini dan seterusnya perlu saling memaafkan. Karena manusia itu tempat bersalah dan lupa. Kita harus posisikan ukhuwah di atas kepentingan yang lebih kecil, personal. Dengan demikian, mari momentum saling memaafkan dan upaya rekonsiliasi secara sehat terus kita upayakan baik secara langsung dengan bersalaman melalui anjang sana dan acara halal bihalal, maupun kirim ucapan Ied Mubarak lewat medsos, semoga tidak mengurangi ke bermaknanya.

Demikian renungan ini dibuat untuk menyapa semua sahabat pembaca yang sedang mudik dan bercengkerama dengan orangtua, kerabat, dan teman-teman main dan sekolah waktu kecil dan remaja. Semoga banyak manfaat yang bisa kita  petik, untuk mengisi dan menjaga fitrah kita. Dengan kita terus bisa meng-update atau me-refresh ibadah dan muamalah, sehingga hidup kita diridloi-Nya. Aamiin.


Yogyakarta, 5 Juni 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website