Headlines News :
Home » , » Syarat Berhasilnya Menuntut Ilmu

Syarat Berhasilnya Menuntut Ilmu

Written By Pewarta News on Minggu, 09 Juni 2019 | 18.11

PEWARTAnews.com -- “Alaa laatanaalul ‘ilma illaa bisittatin, saunbika ‘an majmu’ihaa bibayanin. Dzukaain wakhirshin washthibaarin wabulghatin, wairsyaadzi ustaadzin wathuuli zamaanin”.

Ilmu adalah cahaya (Al ‘ilmu Nuurun) yang sangat diperlukan setiap individu dalam mengarungi kehidupan. Karena itulah menjadi wajib bagi setiap muslim pria dan muslim wanita, dengan kata lain bahwa menuntut ilmu bukan pilihan. Walaupun kewajiban, seharusnya menuntut ilmu tidak sekedar formalit├ás, melainkan harus berhasil. Untuk berhasilnya menuntut ilmu ada sejumlah sarat.

Berdasarkan buku Alala Tanalul ‘Ilma yang diterbitkan dari Ponpes Lirboyo Kediri, bahkan materi ini juga masuk dalam buku Ta’limul Muta’allim, ada enam sarat untuk berhasilnya menuntut ilmu, di antaranya: kecerdasan, motivasi,  kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama. Pertama, kecerdasan, yang dimaksudkan di sini bukan berarti setiap individu harus ber-IQ tinggi, tetapi kemampuan yang ada harus diasah secara kontinyu, sehingga bisa tampil dan berprestasi secara optimal. Ber-IQ tinggi tetapi tidak pernah dijaga, jadinya potensi unggul menjadi tumpul.

Kedua, motivasi, motivasi sangatlah penting untuk belajar ilmu agama, karena itu jika tindakan sungguh-sungguh, maka tidak mendapatkan apa-apa. Motivasi sebagai faktor non intelektual telah terbukti memberikan kontribusi cukup besar terhadap kebehasilan menuntut ilmu.  Dalam bahasa McLelland, need of achievement sangat penting untuk keberhasilan studi. Pada prakteknys bahwa ada beberapa kasus yang dapat dijumpai bahwa individu yang cerdas tidak didukung dengan komitmen akan tugas yang tinggi, maka akhirnya menjadi DO.

Ketiga, kesabaran, selama menuntut ilmu biasanya dijumpai berbagai ujian dan hambatan. Terlebih-lebih belajar ilmu agama yang tidak hanya untuk menghadapi ilmu saja, tetapi harus mengamalkannya. Untuk itulah dibutuhkan kesabaran selama menuntut ilmu. Jika tidak ada kesabaran, maka diduga keberhasilan hanya menjadi impian. Kita sering mengetahui, bahwa individu yang tidak siap menghadapi koreksi terhadap draft tugasnya, cenderung menjadi frustasi. Padahal dengan sabar dalam menghadapi koreksi dan kritik dapat betujung dengan akhir yang baik, sukses.

Keempat, biaya, bahwa biaya untuk menuntut ilmu itu memang diperlukan. Namun biaya tinggi bukanlah Janina’s untuk sukses. Memang biaya yang tiggi dapat memenuhi segala kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud bukanlah tergantung pada tingginya biaya, tetapi adanya biaya yang dapat mencukupi kebutuhan secara minimal. Biaya menuntut ilmu memang kini tidak tergantung pada diri sendiri atau orangtua/wali, boleh jadi biaya bisa dari beasiswa. Yang penting ada dana yang tersedia secara minimal untuk kesuksesan menuntut ilmu.

Kelima, bimbingan guru. Bimbingan dan petunjuk guru dalam menuntut ilmu itu penting sekali. Dalam belajar ilmu agama harus jelas sanadnya. Untuk menjadikan ilmu yang kita pelajari itu bermanfaat dan barakah, maka harus jelas kebenaran substansi yang dipelajari. Dalam kondisi seperti ini bimbingan dan petunjuk guru sangat penting. Karena ini sebagai guru/ustadz/kiai yang ingin menjamin ilmunya berkah, hampir tidak pernah lupa kiai itu berdoa untuk santrinya. Betapa mulia ilmu yang ada di santri/muridnya. Jika belajar ilmu tanpa bimbingan guru, maka secara tidak langsung dapat bimbingan dari pihak lain yang membuat ilmunya bisa menyesatkan. Karena syaitan tidak suka manusia itu belajar agama secara benar. Sungguh berarti bimbingan atau petunjuk guru. Dalam konteks ilmu umum, posisi sanad penyampai ilmu dari Rasulullah sampai penuntut ilmu. Dalam konteks ilmu posisi sanad dapat digantikan dengan sistem pengutipan untuk menghindari praktek plagiarisme.

Keenam, waktu yang lama. Untuk sukses menuntut ilmu sangat dibutuhkan waktu yang lama.  Bukanlah dengan cara instan. Bahkan ada salah satu ciri pekerjaan profesional yaitu dibutuhkan waktu yang lama studinya. Waktu yang lama bukanlah sekedar formalitas, tetapi waktu yang digunakan untuk belajar dengan sungguh-sungguh yang tidak hanya belajar bidang akademik, melainkan juga belajar kehidupan.

Keenam sarat untuk sukses menuntut ilmu ini awalnya dimaksudkan untuk ilmu agama, namun pada hakekatnya bisa bermanfaat untuk belajar ilmu umum. Menurut hemat saya semuanya sangat dibutuhkan juga untuk menuntut ilmu umum. Walaupun untuk konteks sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa pembelajar perlu mengusai kompetensi Abad-21, tanpa memandang bidang keilmuannya.


Yogyakarta, 6 Juni 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2019. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website